NovelToon NovelToon
Usia 40+, Rayuan Sang Mafia

Usia 40+, Rayuan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Mafia / CEO
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vlaucia Campos

Di usia empat puluh, Antonella pikir hidupnya sudah selesai dikhianati—sampai ia memergoki suaminya sendiri bersama sang sekretaris. Perceraian mengubahnya: dari istri yang patah hati menjadi wanita baru yang tajam, berani, dan tak takut pada siapa pun.
Termasuk pada Don Enrico Costello—mafioso paling ditakuti di seluruh Italia.

Ketika utang judi sang mantan suami membuat putri semata wayangnya terancam, Antonella melakukan hal yang tak pernah berani dilakukan siapa pun: ia menatap langsung mata sang Don dan menawarkan dirinya sebagai gantinya. Seorang guru berusia empat puluh tahun, di tengah dunia penuh darah, senjata, dan kuasa.

Enrico terbiasa ditakuti. Ia tak pernah mencintai, tak pernah tertawa, tak pernah mengizinkan seorang wanita pun terlalu dekat. Tapi wanita satu ini menolak gemetar di hadapannya—malah membuatnya ingin membunuh sekaligus tertawa di saat yang sama. Dan untuk pertama kalinya, es di hati sang Don mulai retak.

Di antara dua bocah lelaki yang haus kasih sayang, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan gairah yang membakar setiap malam, Antonella menemukan bahwa "dibawa oleh seorang mafioso" mungkin justru awal dari hidup yang selalu ia impikan—dan pertaruhan paling berbahaya yang pernah ia ambil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengumuman

Rapat.

Rinaldo kembali ke kantor.

"Antonella sudah di rumah," lapor Rinaldo.

"Bagus! Bagaimana kelakuannya?" tanya Enrico.

"Baik. Dia bersama putri dan saudarinya, menyuguhi makan siang untuk para pengawal di garasi, dan memaksaku makan siang bersama mereka. Semuanya berkelakuan baik, seperti makan siang antarteman, obrolan yang santai. Tak ada keributan, tak ada tangisan, dan dia sama sekali tak berusaha tinggal di sana."

Bella, kau akan membuatku gila... batin Enrico.

"Bagus sekali," ujar Enrico.

"Enrico, akui saja kau menyukai Antonella. Dia mengusikmu seperti tak pernah bisa dilakukan wanita mana pun sampai hari ini," kata Rinaldo.

Frederico tertawa. "Nah, karena Rinaldo sudah bilang begitu dan dia masih hidup, aku boleh ikut bicara juga. Sudah jelas terpampang di wajahmu kalau kau jatuh cinta, Enrico."

Dante ikut tertawa. "Aku cuma mau bilang, aku setuju!"

"Kita berangkat ke rapat," kata Enrico.

Enrico

Mereka sahabat-sahabatku, dan percuma berdebat dengan mereka. Aku sudah kenal betul.

"Sebelum kita berangkat," kata Frederico, "ceritakan dulu pengumuman apa yang mau kausampaikan."

"Betul, kau belum bilang," timpal Dante.

"Ayo, bicara, Enrico," desak Rinaldo.

"Aku akan menikahi Antonella," kata Enrico.

Ketiganya tertawa. "Sudah kami duga!"

"Aku ini pria beristri, jadi aku bilang," ujar Rinaldo, "kau bakal repot! Pria yang jatuh cinta itu menderita, dan jangan kira karena kau seorang Don ada yang berubah."

"Dia sudah tahu?" tanya Frederico.

"Belum," jawab Enrico.

Frederico tertawa. "Aku ingin sekali melihat reaksinya."

Dante dan Rinaldo tertawa. "Aku juga."

Enrico melirik sinis.

"Ya sudah, tidak jadi," kata Frederico.

Sesampainya di rapat.

Enrico

Aku berusaha datang tepat waktu—aku orang yang menghargai waktu dan tak menoleransi keterlambatan. Tak lama semua sudah hadir.

"Selamat sore, Tuan-tuan," kataku.

"Selamat sore, Don," sahut mereka semua.

"Aku memanggil rapat ini karena dua alasan. Yang pertama, untuk mengabarkan bahwa semua kiriman kita berjalan tanpa masalah sedikit pun, dan bisnis kita dalam kondisi luar biasa!"

"Lalu bagaimana dengan si pengkhianat itu? Katanya ada pengkhianat," tanya Marco.

"Sudah terkubur di bawah tanah," jawabku.

Francisco tersenyum. "Dia mendapat akhir yang setimpal."

"Kapan kiriman berikutnya?" tanya Marco.

Kelewat penasaran... batinku.

"Belum tahu," jawabku. "Alasan kedua, aku akan menikah lagi. Seperti kalian tahu, dalam mafia kita punya aturan, terlebih bagi seorang Don. Aku harus menaatinya persis, dan aku selalu menjunjungnya serta bersikap sangat jelas soal itu. Aku pun menuntut hal yang sama dari semua anggota. Kalian tahu betul bahwa pernikahan pertama seorang Don harus dengan perempuan yang sudah dijanjikan padanya. Aku melakukan persis seperti yang seharusnya: aku menikahi seorang perempuan suci yang dijanjikan padaku sejak ia berusia tujuh tahun. Namun untuk pernikahan kedua, tuntutan seperti itu tak ada—cukup ia dipilih olehku. Dan aku sudah menentukan pilihanku: aku mengambil seorang istri sebagai ganti hutang seorang bajingan keparat."

"Tapi aku punya seorang putri yang juga janda dan berasal dari kalangan mafia," kata Marco. "Anda bisa menikahinya. Lagi pula dia tahu bagaimana seharusnya seorang istri berperilaku di lingkungan seperti kita."

"Bisa saja, tapi aku tak akan melakukannya! Seperti sudah kubilang, ini pengumuman," ujarku.

"Tapi—" Marco hendak membantah.

"Apa aku melanggar aturan sialan itu?" tanyaku.

"Tidak!" sahut mereka.

"Kalau begitu, kau sedang menentangku?"

"Aku cuma merasa bahwa—"

"Kalian tahu aku benci ditentang."

Saat itu juga Marco ambruk. Enrico melepaskan satu tembakan telak, membunuh Marco di hadapan semua orang.

"Ada lagi yang masih ragu?" tanya Enrico.

Tak seorang pun bersuara.

"Bagus begitu. Sebentar lagi kalian akan menerima kabar kapan dan di mana pernikahanku digelar."

Rapat pun bubar. Beberapa orang menyeret jasad Marco keluar dari ruangan.

Mereka kembali ke kantor.

"Perlukah membunuh Marco?" tanya Frederico.

"Ya," jawab Enrico. "Dia pengkhianat, bajingan keparat. Menurutmu kenapa dia bertanya soal si pengkhianat dan soal kiriman berikutnya? Dan kalian lebih tahu dari siapa pun bahwa aku benci ditentang, apalagi di depan anggota yang lain. Kalau tak kubunuh, dia akan terus mengusikku. Sebelum menentangku, harusnya dia berpikir dulu."

"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Dante.

"Kita ke kantor di rumahku, bicarakan kiriman berikutnya," jawab Enrico.

"Kenapa tidak di sini saja?" tanya Rinaldo.

"Firasatku bilang ada orang dalam yang pernah masuk ke kantorku."

"Tapi tak ada yang berbeda, lagi pula hanya kita yang punya kuncinya," kata Frederico.

"Meski begitu, kita periksa rekaman kamera. Aku merasa kita sedang diawasi."

"Baiklah," kata Dante. "Kau tak pernah keliru. Kau selalu punya bakat membaca orang."

"Kalau aku berada di posisi ini, aku harus pantas menyandangnya," ujar Enrico.

"Aku cuma mau bilang sekali, setelah itu akan kusangkal selamanya," kata Frederico. "Kau memang hebat, Enrico. Tak pernah salah."

Mereka pun akhirnya tertawa.

Enrico

Aku sangat pandai membaca orang. Berkat itu aku lolos dari maut berkali-kali. Kata orang itu bakat yang kumiliki—entahlah, yang jelas selalu berhasil, dan sekarang aku mencium bau pengkhianatan di antara para anggota. Kadang mereka menjual diri. Tapi Marco bukan satu-satunya. Seseorang telah menaruh sesuatu di ruanganku, dan akan kutangkap bajingan yang melakukannya.

Antonella

Soreku berlalu secepat kilat. Aku menghabiskan waktu bersama Anastácia, dan begitu waktunya tiba, aku pergi menjemput anak-anak bersama Fernando dan para pengawal yang bahkan sudah mulai terbiasa denganku. Syukurlah aku tak berpapasan dengan Rosa—dia sedang mengerjakan tugas lain yang diberikan Ana, dan diam-diam aku bersyukur untuk itu.

Sesampainya di rumah.

Enrico

Begitu kami tiba, Ana menyambut kami. Kami langsung menuju kantor, dan aku meminta Ana membawakan kopi.

Ketika ia kembali, aku bertanya, "Mana Antonella?"

"Dia pergi bersama Fernando menjemput anak-anak dari sekolah," jawab Anastácia.

Aku suka itu—dia merawat mereka. Bagus untuk diketahui, batinku.

"Dan Rosa?" tanyaku.

"Aku menyuruhnya membereskan beberapa lemari dapur, mestinya sebentar lagi selesai," jawab Anastácia.

Ia keluar, dan mereka pun kembali mengobrol.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!