Cerita ini merupakan penggabungan dua novel othor yang ketiga dan ke empat. Cinta dalam nestapa dan janda kembang. Mana yang belum tau silahkan mampir!
Ziara Puteri Hariawan
Gadis cantik mirip sang Ummi yang berdarah keturunan Aceh asli seolah dirinya selalu dipermainkan oleh Takdir.
Bagaimana tidak, setiap laki-laki yang berniat ingin menikahinya pasti berulah disaat mereka akan melangsungkan pernikahannya.
Ziara sering ditinggal begitu saja tanpa ada kabar ketupusan apapun dari pemuda itu hingga ia harus menahan kecewa berulang kali.
Hingga pada akhirnya Ziara pasrah akan keputusan sang Nenek yang menjodohkannya dengan salah satu kenalannya.
Zidan Putera Ar Reza
Kehidupannya pun sama seperti Ziara selalu di permainksn oleh Takdir. Akankah mereka sanggup bertahan dalam ikatan takdir yang membelenggu mereka menjadi sepasang suami istri?
Ataukah keduanya memilih mundur?
Inilah Kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat Anna
"Kamu itu bicara apa sih?? Ayo pulang!" tegas Jerry pada Anna sambil berlalu lebih dulu.
Anna menatap sendu pada suaminya itu. Ia tahu jika Jerry saat ini sudah mulai membuak hatinya. Tetapi semua itu tidak mungkin bisa berbalas karena ada satu hal yang tidak bisa Anna jelaskan kepada nya.
Tes.
Tes.
"Belajarlah dari kesalahan mu Anna.. Jadilah ibu yang baik untuk anak mu dan juga istri yang baik untuk suami mu. Abang sudah memaafkan mu. Kita berdua tidak berjodoh. Terima Jerry. Dia pemuda yang baik. Abang sangat mengenalnya. Pulanglah. Jerry marah padamu hanya sebentar." Ucap Zidan dengan suara yang begitu mengalun lembut hingga membuat Anna terisak dengan bahu berguncang.
"Titip Bang Jerry, Bang Zidan. Setelah bayi ini lahir. Nikahkan Putri dengannya. Mereka berdua cocok. Umurku sudah tidak lama lagi. Hidupku bertahan karena janin ini. Tolong.. Ingat pesan ku ini. Aku menyesal telah menipu mu Bang Zidan.. Maafkan semua kesalahan ku. Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu. Maafkan kesalahan ku Bang Zidan. Dan dokter Ziara gadis yang pantas mendampingi mu. Assalamu'alaikum .."
Deg!
Deg!
Tiga orang yang berdiri di dekat pintu itu mematung dan membeku di tempat mendengar ucapan Anna yang kini sudah berlalu meninggalkan ketiganya dengan tatapan yang begitu terkejut dan sangat shock.
"A-apa maksudnya itu?! Kenapa aku dijadikan ibu pengganti untuk anak si kampret sialan itu?! Yang kayak dia mau mati aja sih! Ck! Eh?" Putri mengatupkan mulutnya seketika saat melihat Zee dan Zidan kini menatapnya.
Putri jadi salah tingkah sendiri. "Jangan lihatin aku segitu nya napa?! Yang kayak aku ini buronan aja sih?!" katanya begitu kesal kepada Zee dan Zidan yang kini terkekeh mendengar ucapan nya.
"Ck. Kenapa pula kalian tertawa?! Apa ada yang lucu?! Kan benar yang aku bilang? Yang kayak si Anna itu ingin pergi saja dan tidak kembali lagi hingga aku yang menjadi tumbal untuk si kmpret sialan itu?! Enggak mau aku!" ketusnya sambil berlalu dan meninggalkan Zee dan Zidan dengan mulut menganga.
"Kampret sialan? Kapan si Jerry jadi kampret sialan??" gumam Zidan sambil terkekeh-kekeh.
Zee yang melihat kekehan kecil dari mulut calon suaminya itu terpana.
Deg, deg, deg..
Jantungnya berdegup begitu kencang.
Zidan yang sadar jika dirinya sedang di tatap malah menoleh pada Zee yang kini sedang menatapnya.
Deg!
Deg!
Tatapan keduanya bertemu. Spontan saja keduanya menunduk.
Zee berjalan melewati Zidan. Zidan tersenyum. Ia mengikuti Zee yang sudah lebih dulu berjalan ke depan di mana Putri sedang menunggu mereka di taman yang sudah di siapkan oleh Putri baru saja.
"Duduk disini Zee." Katanya pada Zee yang mengangguk setuju.
Ketiganya pun duduk. Tak lama setelahnya yang baru saja dibicarakan nongol yang semakin membuat Putri semakin kesal padanya.
"Nah kan? Kan kan? Si kampret sialan datang!" ketusnya pada Jerry yang kini juga menatapnya dengan kesal.
"Kau yang Nini lampir!" balas Jerry menatap kesal dan malas pada Putri.
Zee memandang kedua orang itu dengan tatapan yang entah seperti apa.
Setelahnya keduanya terkekeh-kekeh yang membuat dua orang itu semakin kesal pada Zee dan Zidan.
"Diam kalian!" ucap keduanya begitu kompak.
Zee dan Zidan tertawa mendengar kekompakan keduanya.
"Cocok nih kalian berdua. Cocok seperti kata Anna tadi. Kan wasiatnya sudah ada?" goda Zee pada keduanya yang membuat kedua orang itu menjawab kompak dan saling melengos.
"Ogah!!"
Buhahaha...
Keduanya tertawa bersama karena kelakuan dua sahabat serta adik bagi keduanya.
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud, no. 2130; Tirmidzi, no. 1091. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).