''Berani-beraninya kamu menipuku!!!'' teriak laki-laki itu dengan sengit.
Carissa Xaviera yang akhirnya ketahuan karena telah memalsukan identitasnya dan masuk kedalam kediaman keluarga Syahreza dengan sebuah penyamaran.
Cucu laki-laki satu-satunya keluarga Syahreza, dan juga merupakan penerus utama perusahaan besar Syahreza Group gemar bercinta dengan beberapa perempuan yang tinggal di rumahnya. Namun ia bahkan tak sudi memandang wajah Carissa yang terlihat jelek di matanya.
''Tapi apa ini? Kenapa matanya terlihat cantik dan menawan?''
Akankah hatinya terjerat oleh Carissa? Berhasilkah dia mendapatkan Carissa setelah yakin dengan perasaannya?
Semua kisah perjalanan cinta penuh lika liku akan di ceritakan di novel kali ini. Ikuti dan rasakan semua emosi yang tercurah didalamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
“Pagi Bu Yanti, Pagi Nek . . .”
“Pagi, Risa. Mau kemana kamu pagi ini kok sudah rapi?”
“Oh, Risa mau keluar sebentar, Nek. Mau cek gedung untuk rencana usaha Risa nanti.”
“Gedung? Kenapa tidak bilang saja sama nenek? Nenek bisa memberikanmu gedung yang nenek punya. Kamu bisa memilih satu, Sayang.”
“Tidak, Nek. Risa ingin memiliki butik dengan usaha Risa sendiri.”
“Kamu akan pergi sendiri? Kenapa tidak mengajak Tama saja untuk menemani.”
“Risa pergi sama Kak Allen kok, Nek. Mumpung dia juga libur.”
“Allen?” tanya seseorang dari arah belakang. Dan, yup, tentu saja kemunculan orang itu membuat Risa cemberut.
“Kamu mau pergi sama Allen, Risa?” tanyanya sekali lagi.
“Iya, kenapa?”
“Tidak, tidak, tidak. Tidak boleh. Allen itu berbahaya, Risa.”
“Bukannya Mas Tama yang lebih berbahaya, hah!”
Deg! Tama gelagapan dengan serangan langsung dari Risa. Ucapan Risa membuat perhatian semua orang yang berada di ruangan itu terfokus kepada Tama. “Kenapa Tama yang lebih berbahaya, Risa?” tanya nenek Lita penasaran.
“Bukan, Nek. Itu . . .” Tama panik.
“Karena Mas Tama orang yang nyebelin, Nek.”
“Wah . . . kenapa kalian semua berkumpul disini?” tanya Allen saat ia sampai dilantai bawah. “Kamu sudah siap, Risa?”
“Sudah, Kak.”
“Sebentar, Len. Kenapa kamu tidak memberitahuku jika akan pergi hari ini dengan Risa?”
“Sejak kapan aku memberitahukan jadwal pribadiku padamu, Tama? Lagi pula ini hari minggu. Aku sedang tidak bekerja sebagai bawahanmu, kan?”
“Apa?” Tama terkejut dengan perlawanan Allen yang sebenarnya sudah sering ia dengar.
“Kita bisa pergi sekarang, Kak?” tanya Risa.
“Ayok!”
Risa mengecup pipi kanan dan kiri nenek Lita untuk berpamitan, lalu ia berjalan beriringan dengan Allen. Nenek Lita melirik cucunya yang dengan jelas memancarkan aura peperangan di rumah itu. Tatapan mata Tama begitu sengit melihat dua punggung yang berjalan keluar rumah.
“Bisa kamu kondisikan tatapanmu, Tama?” protes neneknya.
“Memangnya mata Tama kenapa, Nek?” ia menjawab sambil tetap terpaku kepada dua orang itu yang sekarang akan mulai memasuki mobil.
“Beraninya dia!” Tama menggeram saat melihat Allen bersikap manis pada Risa dengan membukakan pintu mobil untuk Risa.
“Kamu ingin pergi menyusul mereka?” tawar nenek Lita.
“Tidak, Nek. Aku juga sibuk hari ini. Biarkan saja mereka ingin melakukan apa.” Tama ingin kembali keruang kerjanya.
“Benarkah? Padahal nenek bisa beralasan jika nenek juga sedang mencari gedung untuk investasi.”
“Apa Nenek sedang mencari gedung?” dengan cepat Tama membalikkan langkahnya. “Ayo, Nek. Tama antar.”
“Dasar bocah cemburuan!” ejek nenek Lita.
***
“Apa-apaan ini, Tama?”
“Apa maksudmu, Allen?” jawab Tama dengan tenang. Dia tersenyum melihat Risa yang mendorong kursi roda nenek Lita, dan terlihat mereka berdua menikmati waktu mereka untuk melihat-lihat gedung.
“Kenapa kamu bersikap seperti anak-anak seperti ini?”
“Kenapa aku begitu? Aku hanya sedang mengantar nenek mencari gedung. Kamu dengar sendiri tadi kan nenek bilang apa?”
“Tapi kenapa harus disini?”
“Kenapa memangnya? Nenek mau mencari gedung dengan Risa. Apa salahnya?” Tama masih bermuka tebal.
“Kamu masih tanya apa salahnya? Kamu terang-terangan menggangguku, Tama.”
“Apa kamu merasa terganggu?” Tama menatap Allen dengan sengit, “Bukannya aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati Risa, Len?”
“Ah! Sabar! Kenapa tatapanmu seperti mau membunuhku, Tama?” Allen tiba-tiba merinding dengan kengerian sahabatnya itu. “Aku hanya menemani Risa saja mencari gedung.” Allen memilih langkah aman karena Tama terlihat serius.
“Sejak kapan kalian menjadi dekat seperti ini?”
“Kami tidak sedekat itu. Hanya beberapa kali saja mengobrol saat kami tidak bisa tidur saat malam.”
“Saat malam!” Tama melotot. “Pasti kamu sengaja setiap malam mencarinya untuk berbicara dengannya.” Tama mencengkeram kerah kemeja Allen.
“Tidak, tidak, tidak. Aku tidak sengaja, Tama!” Allen menggelengkan kepalanya dengan cepat karena Tama sudah semakin mengerikan.
“Apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Risa.
“Tidak. Aku hanya sedang merapikan kerah Allen saja.” Tama beralasan sambil berpura-pura menepuk-nepuk lembut kerah Allen.
“Benarkah, Kak?”
“Bener, Ris. Walau di luar jam kerja, Tama tetap memperhatikan penampilan bawahannya.” Jawab Allen kikuk.
“Jangan sampai kalian saling bunuh, ya.” Tambah nenek Lita.
“A-apa maksud, Nenek? Kita hanya sedang bercanda saja kok, Nek.” Jawab Tama terbata-bata. Risa nampak bingung karena kalimat yang baru saja di lontarkan oleh nenek Lita.
“Risa, setelah ini kamu masih mau melihat-lihat? Ini sudah hampir sore.”
“Masih ada dua tempat lagi, Nek.”
“Kalau begitu, nenek pulang dulu, ya. Badan nenek sudah tidak mampu.”
“Iya, Nek. Nenek harusnya tak perlu lagi mencari gedung lagi untuk investasi, suruh saja Mas Tama untuk mencarinya. Nenek harus banyak-banyak istirahat.”
“Betul, Nek. Harusnya Nenek tidak perlu memaksakan diri. Lebih baik Nenek pulang dan beristirahat.” Tambah Allen dengan senyum lebarnya.
“Benarkah, Allen? Kalau begitu, bisakah kamu saja yang mengantarkan nenek pulang ke rumah?”
“Ta-tapi, Nek, Allen masih harus mengantarkan Risa melihat gedung.”
“Biar Tama saja yang mengantar Risa. Toh, kemampuan negosiasi Tama tak diragukan lagi, kan? Siapa tahu nanti Risa ada yang cocok dengan gedungnya, jadi Tama bisa membantunya untuk negosiasi.”
“Tapi Allen juga pan . . .”
“Allen? Kamu menolak mengantarkan nenek pulang?”
“Tidak, Nek.” Akhirnya Allen menyerah. “Risa, maaf ya, aku tak bisa mengantarkanmu ke gedung berikutnya. Aku harus mengantar nenek pulang.”
“Baik, Kak. Tak apa, terima kasih untuk waktunya seharian ini.”
“Ayo Allen, kita pulang!” ajak nenek Lita. Dengan lemas dan wajah cemberut, Allen mendorong kursi roda milik nenek Lita.
“Kamu juga bisa langsung pulang aja, Mas. Aku bisa melihat gedungnya sendirian.”
“Mana bisa begitu? Tadi kan nenek sudah menitipkanmu padaku.”
“Mana ada!”
“Iya, kok. Maksud nenek secara tersirat memang seperti itu maksudnya.”
“Udah, Mas pulang aja sana!” Risa meninggalkan Tama dan berjalan sendirian.
Tama menyusul Risa dari belakang, “Nggak bisa gitu, dong! Aku akan menemanimu. Sekalian kita makan malam, ya.”
“Ogah!”
“Masih marah?”
“Siapa yang marah?”
“Tuh, lagi marah.”
“Enagak!!!”
Begitulah pertengkaran kecil itu berlanjut sampai akhirnya Risa selesai melihat gedung yang akan dipakainya untuk membuat butik kecil. Kedua insan itu, akhirnya memilih untuk makan malam di salah satu resto.
“Kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita?” tanya Tama disela-sela suasana makan malam mereka berdua.
“Maksudnya?”
“Tentang keinginanmu itu.”
“Butik? Itu rencana yang baru saja terpikirkan saat Kak Allen memberikan saran.”
“Allen? Jadi kamu ingin membuat butik semata-mata hanya karena saran dari Allen?”
“Ya, enggak, lah. Ngapain lakuin saran orang kalau kitanya nggak suka. Mas kan tahu sendiri aku di bidang apa, jadi ya, karena memang aku yang ingin, bukan gara-gara Kak Allen.”
“Ohh...” nada bicara Tama terlihat lega.
“Kenapa memangnya kalau aku mengikuti saran Kak Allen, Mas?”
“Bukan apa-apa. Hanya saja Allen tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Allen bukan laki-laki baik seperti kelihatannya.”
“Lalu siapa laki-laki yang baik?”
Tama menunjuk dirinya dengan penuh percaya diri, “Aku! Aku laki-laki terbaik didalam rumah itu.”
“Benarkah?”
“Benar!”
“Tapi, kok sampai ada gosip miring tentang Mas, ya, dirumah itu?”
“Gosip apa-an?”
Risa sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan tama, “Gosip kalau Mas Tama berbuat mesum sama perawat nenek sebelumnya.” Bisik Risa. Dan hal itu sukses membuat Tama tersedak makanannya.
Setelah menenggak satu gelas air putih dengan susah payah, sorot mata Tama tajam menatap ke arah Risa, “Kamu mendengar hal itu dari mana, Ris?” tanyanya dengan khawatir.
“Hanya selentingan-selentingan aja, saat aku baru masuk kedalam rumah itu.”
“Dan kamu percaya?”
Risa menatap langsung kedua mata Tama, “Aku akan memilih untuk mempercayai Mas Tama. Jadi disini aku yang akan tanya, apa gosip itu benar, Mas?”
Tama terdiam sepersekian detik, ia menimbang-nimbang jawaban apa yang harus ia keluarkan.
“Tentu saja itu tidak benar.”
“Berarti aku percaya jika gosip itu salah.”
“Kamu percaya begitu saja? Kenapa kamu mau mempercayaiku?”
“Entahlah. Hanya saja, hatiku berkata ingin percaya padamu, Mas,”
semangat dengan cerita barunya y...