Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005
Sekolah
Kevin tidak menoleh sampai ia menghilang di ujung koridor.
Seline hanya sempat melihat Anton menyerahkan map tipis itu, lalu keduanya berjalan menjauh dengan langkah cepat. Ia tidak tahu kabar apa yang membuat pria sedingin Kevin berhenti sejenak, tetapi malam itu ia belajar satu hal lagi tentang rumah Hartono. Ada terlalu banyak pintu tertutup, dan sebagian besar bukan untuk orang seperti dirinya.
Pagi berikutnya, pintu tertutup pertama yang harus ia hadapi bukan milik Kevin, melainkan milik masa depan Darren.
"Sekolah?" Tante Chen mengulang, seolah kata itu baru pertama kali didengarnya. Ia duduk di ruang kecil sayap timur, memeriksa daftar belanja rumah tangga di tablet. "Tentu saja nanti diurus."
Seline berdiri di hadapannya. Darren menunggu di luar ruangan bersama Bi Zheng karena Tante Chen berkata pembicaraan orang dewasa tidak perlu didengar anak kecil.
"Maaf, Tante. Tahun ajaran sudah berjalan. Kalau terlalu lama, Darren tertinggal."
"Dia baru datang kemarin, Seline." Tante Chen tersenyum tanpa mengangkat mata dari layar. "Jangan terburu-buru. Lagipula sekolah di Jakarta tidak semudah itu. Harus ada berkas, rekomendasi, biaya..."
"Saya membawa rapor dan dokumen Darren." Seline mengeluarkan map plastik dari tasnya. Ujung map itu sudah sedikit kusut karena ia jaga sepanjang perjalanan dari Surabaya. "Nilainya bagus. Di sekolah lama, dia selalu masuk tiga besar."
Barulah Tante Chen menatap map itu.
"Bagus saja tidak cukup untuk masuk sekolah bagus di Jakarta."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi Darren yang berdiri di luar mungkin tetap bisa merasakannya dari balik pintu. Seline menahan napas.
"Kalau Tante bisa merekomendasikan sekolah yang sesuai, saya akan mengikuti."
"Sekolah biasa dulu saja. Tidak perlu langsung yang mahal."
Seline meremas ujung map. Ia tahu maksud Tante Chen masuk akal di permukaan. Namun ia juga tahu Darren. Anak itu terlalu cepat belajar, terlalu lapar pada buku, terlalu sering menyembunyikan kecewa agar kakaknya tidak merasa gagal.
"Tante," ucap Seline lebih pelan, "saya tidak meminta sekolah mahal untuk gaya. Darren butuh tempat yang bisa mengejar kemampuannya. Saya bisa membantu biaya secara bertahap."
Tante Chen mengangkat alis. "Dengan apa?"
Panas menjalar ke wajah Seline.
Ia punya uang dari pekerjaan ilustrasi daringnya, tetapi jumlahnya tidak cukup untuk terdengar meyakinkan di rumah ini. Menyebutnya di depan Tante Chen hanya akan membuka pertanyaan lain. Ia menelan jawaban itu.
"Saya akan mencari cara."
"Seline." Suara Tante Chen melembut, justru membuatnya lebih menyakitkan. "Tante mengerti kamu sayang adikmu. Tapi tinggal di rumah ini sudah cukup menjadi bantuan besar. Jangan langsung meminta terlalu banyak."
Seline menunduk.
Ia ingin berkata bahwa ia tidak meminta untuk dirinya. Ia ingin berkata bahwa Darren bukan barang tambahan yang bisa diletakkan di kamar belakang sambil menunggu nasib baik. Tetapi ia ingat ucapan semalam, orang yang benar belum tentu langsung menang.
"Ada apa ini?"
Suara pria dari pintu membuat Tante Chen menoleh. Om Richard masuk dengan kemeja lengan pendek, wajahnya ramah dan sedikit bingung melihat suasana ruangan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Tante Chen cepat. "Seline hanya bertanya soal sekolah Darren."
"Oh, itu penting." Om Richard mengambil map dari tangan Seline sebelum istrinya sempat menahan. "Darren sebelas tahun, kan?"
"Iya, Om."
Om Richard membuka rapor. Alisnya terangkat. "Nilainya bagus sekali."
Seline merasakan tenggorokannya menghangat. "Dia suka belajar, Om. Kalau bisa, saya ingin dia masuk sekolah yang baik. Saya tahu ini merepotkan, tapi saya mohon Om pertimbangkan."
Ia tidak menangis. Ia hanya membungkuk sedikit, cukup rendah untuk menunjukkan permintaan, tidak cukup rendah untuk menyerahkan harga dirinya.
Om Richard menatapnya lebih lama. Mungkin ia melihat sesuatu yang Tante Chen tidak ingin lihat. Seorang kakak perempuan berusia delapan belas tahun yang datang dengan dua koper tua, tetapi membawa rapor adiknya seolah membawa dokumen perusahaan paling penting.
"Pelita Harmoni masih punya kelas akselerasi," kata Om Richard. "Kepala sekolahnya teman lama saya. Saya bisa telepon."
Tante Chen langsung berkata, "Richard, sekolah itu mahal."
"Bisa pakai nama keluarga Hartono dulu. Urusan biaya nanti saya atur." Om Richard tersenyum kepada Seline. "Darren ikut tes penempatan. Kalau nilainya masuk, dia sekolah di sana."
Seline hampir tidak percaya. "Terima kasih, Om."
"Jangan berterima kasih dulu. Dia tetap harus lulus tes."
"Dia akan belajar."
Pintu terbuka sedikit. Darren yang rupanya tidak tahan menunggu mengintip dari balik bahu Bi Zheng. "Aku pasti lulus, Om."
Om Richard tertawa. "Nah, itu baru semangat."
Tante Chen tersenyum, tetapi senyum itu tidak menyentuh matanya. "Kalau begitu, terserah kamu saja."
Urusan sekolah bergerak lebih cepat setelah Om Richard turun tangan. Siang itu juga, ia menelepon seseorang. Sore harinya, jadwal tes penempatan Darren sudah keluar untuk dua hari kemudian. Seline menyalin alamat sekolah di buku kecil, memastikan rute, jam, dan dokumen yang dibutuhkan.
Di teras samping, Darren duduk dengan buku matematika terbuka. Ia belajar seperti orang yang sedang menyiapkan diri untuk perang.
"Jangan terlalu tegang," kata Seline, menaruh segelas susu di sebelahnya. "Kamu masih punya dua hari."
"Aku tidak boleh gagal."
"Boleh gugup. Tidak boleh menyerah sebelum mulai."
Darren mengangguk serius.
Sebuah suara ringan datang dari arah garasi. "Kalau butuh diantar, aku bisa."
Seline menoleh. Jason Hartono berdiri di dekat tangga, memakai kaus putih dan jaket tipis, kunci mobil tergantung di jarinya. Wajahnya jauh lebih terbuka daripada Kevin atau Wilson.
"Ko Jason," Seline menyapa.
Jason tersenyum. "Aku dengar Darren mau tes di Pelita Harmoni. Jalurnya lumayan ribet kalau belum biasa. Aku bisa antar kalian. Kalau nanti diterima, aku juga sering lewat sana pagi-pagi."
Darren langsung menatap Seline dengan harapan yang terlalu jelas.
Seline ragu. "Kami tidak ingin merepotkan."
"Tidak repot. Aku memang keluar pagi." Jason berjongkok sedikit agar sejajar dengan Darren. "Kamu suka matematika?"
"Suka."
"Bagus. Di sekolah itu, anak yang suka matematika biasanya disayang guru."
Darren untuk pertama kalinya tersenyum lepas sejak tiba di rumah Hartono.
Seline melihat senyum itu, lalu pertahanannya melemah. "Kalau Ko Jason benar-benar tidak repot, kami berterima kasih."
"Deal."
Jason mengangkat kunci mobil seperti memberi janji kecil. Setelah beberapa menit berbicara soal sekolah, ia pamit karena harus pergi. Mobilnya bergerak keluar dari garasi samping, tetapi sebelum mencapai gerbang, ia melambat.
Di balik kaca depan, Jason melihat ke arah teras tempat Seline masih berdiri di samping Darren.
Ia menatap cukup lama sampai klakson pendek dari mobil lain membuatnya tersadar.
Barulah Jason menekan gas, membawa pergi pandangan yang belum sempat ia beri nama.