Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012
Wedang Jahe
Jarinya berhenti di kontak Sari.
Rayhan menatap nama itu selama beberapa detik. Dalam hidupnya sebagai polisi, ia pernah menelepon Sari untuk banyak hal. Saksi hilang. Laporan visum. Korban perempuan yang butuh pendampingan. Pernah juga untuk bertanya apakah seorang anak kecil di TKP sebaiknya diberi boneka atau makanan dulu.
Tetapi belum pernah untuk ini.
Ia menekan tombol panggil.
Sari mengangkat pada dering ketiga. Suaranya terdengar waspada. "Siap, Pak. Ada kasus?"
Rayhan melihat pintu kamar Kiara yang tertutup. "Bukan kasus."
"Ada apa, Pak?"
Hening sebentar.
"Kalau perempuan nyeri haid, apa yang harus dilakukan?"
Di ujung telepon, tidak ada suara.
Rayhan menunggu.
"Pak?" Sari akhirnya bicara pelan. "Ini pertanyaan medis atau pertanyaan... rumah?"
"Jawab saja."
Sari batuk kecil. Rayhan yakin ia sedang menahan banyak pertanyaan. "Kalau nyerinya masih normal, kompres hangat di perut, minum air hangat, bisa wedang jahe atau kunyit asam. Jangan kopi dulu. Makan sedikit sebelum obat. Kalau sampai pingsan, demam, atau darah terlalu banyak, bawa ke dokter."
Rayhan mencatat di aplikasi notes.
"Berapa lama kompres?"
"Lima belas sampai dua puluh menit. Jangan terlalu panas. Dan, Pak..."
"Apa?"
"Jangan suruh dia banyak bergerak. Biasanya orang lagi haid itu sensitif. Kalau Bapak ngomong seperti interogasi, bisa dimarahi."
Rayhan terdiam.
Sari menambahkan cepat, "Izin bicara apa adanya, Pak."
"Diterima."
"Satu lagi. Jangan bilang 'cuma haid'. Itu kalimat paling berbahaya."
"Aku tidak sebodoh itu."
"Bagus, Pak."
Panggilan berakhir. Rayhan berdiri di lorong beberapa detik, lalu turun ke dapur.
Ia membuka kulkas. Jahe segar ada di laci sayur karena ART keluarga Tan selalu mengisi dapur seminggu sekali, meski Rayhan lebih sering memasak sendiri. Gula aren ada. Serai ada. Ia mencari resep cepat di ponsel, membaca tiga versi, lalu memilih yang paling sederhana.
Jahe digeprek.
Air mendidih.
Gula aren masuk pelan.
Aroma hangat menyebar di dapur, mengganti dingin malam dengan sesuatu yang lebih lembut. Rayhan mengecilkan api, lalu mengambil botol kompres hangat dari lemari obat. Ia mengecek suhu dengan punggung tangan, seperti mengecek susu bayi, lalu merasa tindakannya sendiri agak konyol.
Tapi pintu kamar Kiara masih tertutup.
Dan itu membuatnya terus bergerak.
Ketika ia mengetuk pintu, suara Kiara terdengar kecil dari dalam. "Iya?"
"Aku bawa minum."
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka sedikit. Kiara muncul dengan wajah pucat dan rambut berantakan. Selimut masih melilit bahunya.
"Kak Rayhan belum tidur?"
"Minum dulu."
Ia menyerahkan mug berisi wedang jahe. Kiara menerimanya dengan dua tangan. Uap hangat menyentuh wajahnya.
"Ini..."
"Wedang jahe."
Kiara menatap mug, lalu menatap Rayhan. "Kak Rayhan bikin?"
"Tidak mungkin mug itu masak sendiri."
Dalam kondisi lain, Kiara mungkin tertawa. Malam itu ia hanya tersenyum kecil, lemah tapi nyata.
Ia menyesap sedikit. Rasa pedas hangat turun ke tenggorokan, menyebar ke dada, lalu perlahan ke perut yang masih nyeri.
"Enak," bisiknya.
Rayhan tampak seperti baru mendapat laporan operasi berhasil.
"Kompres." Ia mengangkat botol hangat yang dibungkus handuk kecil. "Sari bilang lima belas sampai dua puluh menit. Jangan terlalu panas."
Kiara hampir tersedak minumannya. "Kak Rayhan tanya Sari?"
"Iya."
"Jam berapa ini?"
"Belum jam satu."
"Kak Rayhan membangunkan polwan tengah malam buat tanya nyeri haid?"
"Dia belum tidur."
"Kak Rayhan!"
Wajah Kiara yang pucat kini mulai berwarna. Rayhan merasa itu perkembangan yang baik, meski penyebabnya rasa malu.
"Dia polisi. Terbiasa siaga."
"Bukan berarti siaga untuk haidku."
"Sekarang iya."
Kiara menutup wajah dengan satu tangan. "Aku nggak sanggup."
Rayhan meletakkan botol kompres di meja kecil. "Aku tunggu di luar. Kalau terlalu panas, panggil."
"Kak Rayhan."
"Hmm?"
Kiara menurunkan tangan. Matanya masih malu, tapi suaranya lebih lembut. "Terima kasih."
Rayhan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. "Tidur setelah minum."
Malam itu Kiara tertidur dengan botol hangat di atas perut dan aroma jahe masih tertinggal di lidah. Nyeri tidak hilang sepenuhnya, tetapi tidak lagi menggigit seperti sebelumnya. Saat terbangun sebentar menjelang subuh, ia menemukan mug kosong sudah diambil dari meja kecil, sementara botol kompres diganti dengan yang baru, suhunya hangat pas, tidak menyengat.
Rayhan tidak mengetuk.
Tidak membangunkannya.
Hanya mengganti apa yang perlu diganti, lalu pergi lagi.
Pagi harinya, Kiara bangun lebih lambat dari biasa. Di meja kecil dekat pintu, ada bubur ayam dalam kotak kertas, air hangat di tumbler, dan sticky note dengan tulisan Rayhan yang rapi.
Makan sebelum obat.
Tiga kata. Tidak romantis. Tidak berbunga-bunga.
Tetap saja membuat Kiara duduk di tepi ranjang sambil tersenyum bodoh.
Ia mengambil ponsel dan mengetik pesan.
Kiara:
Wedang jahenya membantu. Terima kasih, Kak Rayhan.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Rayhan:
Nyeri berkurang?
Kiara:
Berkurang.
Rayhan:
Jangan masuk kantor hari ini.
Kiara:
Aku bisa kerja dari rumah.
Rayhan:
Itu bukan jawaban iya.
Kiara hampir tertawa. Ia akhirnya mengirim foto bubur yang sudah dimakan setengah.
Kiara:
Sudah makan. Puas?
Rayhan:
Lumayan.
Di Polda, sebelum masuk ke ruangan unit, Rayhan sempat berhenti di kantin kecil. Ia tidak biasa membeli minuman kemasan manis. Hari itu ia mengambil dua botol kunyit asam, lalu mengembalikannya karena ragu mana yang lebih baik.
Sari kebetulan lewat dan melihat wajah atasannya di depan kulkas minuman.
"Pak, yang itu terlalu asam. Kalau buat nyeri haid, yang merek sebelah lebih enak diminum hangat."
Rayhan menatapnya.
Sari mengangkat dua tangan. "Saya tidak tanya siapa orangnya."
"Bagus."
"Tapi kalau Bapak mau, saya bawa satu yang biasa saya minum. Masih ada di loker."
Rayhan diam sejenak, lalu mengangguk. "Terima kasih."
Di ruangan unit, pagi itu berjalan seperti biasa selama kira-kira sepuluh menit.
Lalu Sari masuk membawa dua map dan satu kantong kecil berisi kunyit asam kemasan.
"Pak Rayhan," katanya di depan meja Aldi dan Fajar, "kalau orang rumah Bapak masih nyeri, ini bisa dicoba. Tapi jangan dicampur obat sembarangan."
Semua suara berhenti.
Aldi yang sedang minum kopi tersedak.
Fajar mengangkat kepala dari berkas. "Orang rumah?"
Rayhan menatap Sari.
Sari baru sadar meja sekitar mereka terlalu sunyi. "Saya... maksudnya, yang semalam Bapak tanyakan."
Aldi meletakkan gelas dengan sangat pelan. "Pak, semalam Bapak tanya apa?"
"Kerja," kata Rayhan.
"Siap, Pak." Aldi menunduk, tetapi mulutnya gagal diam. "Cuma... Bapak tanya Sari soal apa?"
Rayhan membuka berkas. "Aldi."
"Siap, diam."
Fajar berbisik, sama sekali tidak pelan, "Nyeri haid?"
Aldi membelalak. Sari menutup wajah dengan map.
Dalam tiga detik, kabar itu bergerak lebih cepat daripada laporan operasi.
Pak Rayhan, kaunit reskrim yang bisa membuat tersangka menangis hanya dengan menatap, menelepon polwan tengah malam untuk bertanya cara merawat perempuan yang nyeri haid.
Ketika Rayhan mengangkat kepala, seluruh ruangan pura-pura sibuk.
Terlambat.
Ia sudah mendengar semuanya.