Keyra Alzein terpaksa mengubah penampilannya menjadi cupu, merelakan diri menjadi bahan bully-an di SMA Dirgantara demi misi kebebasan dan kejanggalan kematian saudara kembarnya yang bunuh diri satu tahun yang lalu.
Namun, siapa sangka ia malah jatuh cinta pada sosok Ketos seperti Devano.
Disaat Keyra yakin akan perasaannya, satu kenyataan pahit mengusik dimana ia tahu bahwa Devano adalah cinta pertama Arin.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Jejak kamar Arin
Wajah kusut Aron dan Noah tak membuat niat Rafael dan Keyra surut untuk membantu putranya. Terbiasa melakukan sesuatu dengan cepat membuat Rafael langsung tanggap saat sang putra minta dijodohkan dengan putrinya Bram.
"Kami pulang dulu, Bram! Dev, motor kamu titip sini saja, kamu naik mobil Papa," ujar Rafael memberi kode sang putra agar menurut.
"Tapi Pa, besok buat sekolah?"
"Ya, biar Papa anter kamu kesini, sekalian bareng Keyra," usul Momy Devano.
"Nah benar tuh, jadi Om juga gak khawatir kalau Keyra bakalan telat." setuju Bram.
Wajah Noah dan Aron semakin tak bersahabat mendengarnya, akan tetapi mereka juga enggan bicara.
"Yaudah," Pasrah Devano.
Setelah memastikan Rafael dan keluarganya pulang, Noah dan Aron ikut pamit undur diri.
"Kita pulang," pamitnya pada Bram. Keyra dan Aron masih perang dingin, keduanya sama-sama egois dengan sikap masing-masing. Meski begitu, Aron tetap menyiapkan kado terbaiknya untuk Keyra.
"Ar..." Panggil Keyra.
Aron menoleh, "hm?" singkatnya.
"Gak jadi," ujar Keyra.
Jika sudah seperti itu, Aron yakin Keyra ingin berbagi cerita dengannya.
"Apa gue harus ikhlasin elo sama Devano agar hubungan kita tetap baik-baik saja?" pikir Aron berkecamuk. Ia sungguh tak ingin kehilangan sahabat seperti Keyra.
Hati dan pikiran Aron sedang berperang, dan ia butuh waktu untuk berfikir saat ini.
***
Keyra naik ke lantai atas, bukan ke kamarnya! Melainkan ke kamar Arin. Jantung Keyra berdegup kencang saat memasuki kamar tak berpenghuni itu.
"Rin, sorry! Tapi gue butuh sesuatu buat mastiin! Gue yakin, masih ada sisa jawaban dari pertanyaan di kepala gue. Lho tau kan Rin, dari dulu kita nggak terlalu dekat?" gumam Keyra.
Langkah pelannya menelisik kamar Arin, tak ada yang berubah! hanya warna sprei yang selalu berganti beberapa hari sekali dan kebersihan seluruh ruang. Itupun dilakukan oleh ART, dimana tiap malam bibi selalu pulang ke rumahnya.
Keyra membuka laci satu persatu, tiga kotak teratas kosong, hanya ada beberapa benda kesayangan Arin.
Hingga matanya tertuju pada box diatas lemari, Keyra sedikit kesusahan meraihnya. Tak kehabisan akal, ia menggeret kursi kecil di depan cermin rias milik Arin. Tiba-tiba bulu kudunya meremang, membayangkan sekelebat wajah saudara kembarnya berada di cermin.
Mendadak Keyra berubah menjadi cewek penakut.
Segera ia merapatkan kursi ke lemari dan menaikinya. Tangannya yang panjang meraih box diatas meski kesusahan dan harus berjinjit.
Brakk!
Tubuhnya limbung, box itupun menimpa kepala hingga isinya pun berceceran.
"Breng sek!" makinya sambil mengusap kepalanya.
Beruntung box itu bukan berisi barang-barang berat, sehingga sakit yang dirasakannya pun tak seberapa.
"Apa ini? Ck!" decaknya menahan kesal.
Lembar demi lembar Keyra membuka buku itu, sebuah buku diary peninggalan Arin.
Kata-kata manis entah mengapa terdengar menyakitkan di telinga. Memang benar, hal yang paling sulit itu cemburu pada orang yang sudah tiada.
"Ck!" ia menutup buku itu dengan kasar setelah melihat foto saudara kembarnya bersama Devano. Ia meninggalkan kamar itu setelah membereskan semuanya. Kini bukan hanya kamar Arin yang habis ia buat kacau, hatinya pun sangat kacau sekarang.
"Gue gak mau menjalin hubungan sama orang yang masih berjalan sama masalalunya sekalipun itu Arin, saudara gue sendiri!" keluhnya frustasi.
Rekam jejak itu cukup membuktikan bahwa memang mereka adalah sepasang kekasih sebelumnya. Lalu Keyra mengaitkan satu persatu, kalau tak salah ingat Devano babak belur disaat Moza dan Ferdy mengakui kesalahannya. Seketika ia mengatupkan bibirnya rapat, "apa Devano marah hebat setelah tahu fakta dari Moza?"
Drrrtttt...
Bunyi ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Keningnya mengkerut saat mendapati nomor baru mengirim pesan padanya.
"Besok pagi aku jemput, sampai ketemu."
Keyra yakin itu pasti nomor Devano, karena meski mereka sering jalan pun laki-laki itu tak memiliki nomor ponselnya.
Tak berniat membalas, ia memilih tidur dan mengabaikan pesan itu. Benar saja, diseberang sana seseorang tengah mendumel karena pesan singkatnya tak berbalas.
"Padahal udah dimanis-manisin, masih aja gak luluh," gerutu Devano.
Ia menatap layar ponselnya beberapa waktu, bahkan ia memelototinya demi mendapat balasan dari Keyra. Namun, hasilnya tetap nihil. Tak ada balasan, kosong seperti hatinya saat ini mendadak hampa.
***
"Selamat berjuang, Papa udah bantu-bantu dikit! Yang gigih ngejarnya, cewek suka cowok yang tegas dan mau usaha!"
Wejagan Rafael begitu mereka sampai di depan kediaman Bram. Devano mengangguk pamit kemudian turun, meminta satpam dan menjelaskan maksud kedatangannya untuk mengambil motor sekaligus mengajak Keyra pergi sekolah bersama.
"Eh, Devan! Ayo masuk dulu, Keyra-nya masih di atas." Bram tersenyum ramah menyambut pemuda itu.
Devano mengangguk, "iya Om."
Tak berselang lama, Keyra turun. Wajahnya kusut tak seperti biasa, dan lagi ia kembali memakai kacamatanya.
Semalaman memikirkan hubungan Arin dan Devano berhasil membuatnya tak bisa tidur.
"Aku berangkat, Pa!" pamit Keyra.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Bram.
Keyra menggeleng lalu melirik Devano, saat itulah kedua mata mereka bertemu.
"Aku sarapan di kantin aja," ujarnya sekali lagi.
Bram mengangguk.
Keyra naik ke boncengan Devano, ia sempat melambaikan tangannya pada Bram yang mengantar mereka sampai teras.
"Harusnya lo gak perlu repot-repot," sungut Keyra.
Devano meliriknya dari spion, "motor gue kan ada di rumah lo. Lagian kenapa sih? Di weha gak dibales? Marah?" cerca Devano.
Keyra bisa melihat jika laki-laki itu tengah menatapnya lewat spion.
"Gue gak ada hak buat marah," ketusnya.
Devano menggelengkan kepalanya, apakah ia gagal lagi?
Perasaan kemarin gadis itu sudah mulai luluh, kenapa sekarang berubah lagi.
Sampai di parkiran Keyra langsung turun, ia bahkan mengabaikan Devano yang tergesa menyamai langkahnya.
"Key, lo kenapa sih? Kok jadi marah ke gue, salah gue apa?" cercanya tak sabar.
"Ra, plis lah! Jangan childish."
'as-
Keyra menghentikan langkah, lalu membalikkan badan menghadap Devano. laki-laki itu tampak menghela napas lega, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama saat kedua tangan Keyra dengan keras mendorongnya hingga Devano mundur beberapa langkah.
"Keyra!" sengaknya. Devano sungguh tak mengerti kenapa gadis itu berubah.
"Apa?" balasnya.
Bahkan area parkir mereka saat ini menjadi pusat perhatian para siswa dan siswi yang berlalu lalang.
"Lo kenapa sih?" tanya Devano seolah minta penjelasan.
"Lo mau tau kenapa? Jawabannya gue gak mau jalan sama orang yang masih terjebak di masalalunya. Gue katakan sekali lagi, gue gak mau pacaran sama orang yang hatinya pasing tertaut sama masalalu meskipun itu saudara kembar gue sendiri, paham!" Kesalnya membalikkan badan, Keyra langsung berlari meninggalkan Devano.
"Oh shi*tttt," umpat Devano.
***
manissss bangeeeet 😘😘😘😘
terima kasih ka
maaf ya ka mimah aku banyak nuntut.abis suka bgt sama sama devano dan keyra.pokoknya novel2 ka mimah keren2 semua 👍👍👍👍👍
Key ngmbeknya jangn lama2 keburu Devano di gondol yg lain😁😁🤣
seperti temen ku yang kembar. ya begitu sikap dan sifatnya. 🤭🤭🤭
kalau ngambek suka ngilang ya, 😁😁😁
CATAT ITU!!!!!!