Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi buronan
Zia menggeleng kuat-kuat, air mata mulai membasahi pipinya yang kemerahan. Di tengah deru mesin oksigen yang mulai melemah, ia justru melangkah maju, menghancurkan jarak hingga menyentuh kemeja Arkan.
"Aku tidak peduli jadi buronan, aku tidak peduli soal sekolah!" isyak Zia sambil mencengkeram kerah baju Arkan. "Om bilang aku aset paling berharga, kan? Investasi terbesar Om? Mana ada pengusaha yang meninggalkan asetnya begitu saja di gudang berdebu?!"
Arkan terdiam. Di situasi hidup dan mati ini, keberanian bocah SMA di hadapannya selalu berhasil meruntuhkan logika dinginnya. Ia menghela napas, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik Zia ke dalam pelukannya.pelukan yang posesif dan menyesakkan.
“Kamu benar-benar keras kepala, Bocil,” bisik Arkan di puncak kepala Zia. "Baiklah. Kalau aku harus membakar dunia untuk membawamu lari, maka akan kulakukan."
Arkan melepaskan Zia, lalu jemarinya menari di atas keyboard server tua dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Layar monitor yang tadinya menampilkan wajah disembunyikan ibunya, kini tertutup oleh ribuan baris kode berwarna merah darah.
“Zia, berdiri di belakangku. Pegang pinggangku erat-erat,” perintah Arkan.
Saat Arkan menekan tombol Enter yang terakhir, sebuah ledakan magnetik kecil terjadi di panel pintu. Percikan api menyambar, dan pintu baja itu terbuka paksa. Bersamaan dengan itu, seluruh sistem listrik di area sekolah padam total.
Dalam kegelapan, Arkan berbalik. Ia tidak langsung lari. Ia justru menangkup wajah Zia, mencari bibir gadis itu dalam kegelapan dan menciumnya dengan gairah, sebuah ciuman yang menandakan bahwa mulai detik ini, hidup mereka bukan lagi milik hukum, melainkan milik satu sama lain.
"Ayo pergi," ajak Arkan sambil menarik tangan Zia keluar dari sana.
Mereka muncul ke permukaan tepat saat helikopter mulai menderu di atas langit sekolah. Arkan tidak membawa Zia ke mobil tua tadi. Ia justru menuju ke arah motor sport hitam milik si "kurir" yang ternyata telah ia lumpuhkan dan sembunyikan di semak-semak sebelumnya.
“Naik,” perintah Arkan sambil memakai helmnya.
Zia naik ke belakang, memeluk pinggang Arkan seerat mungkin. Arkan memacu motor itu menembus pagar sekolah, melesat ke jalanan Jakarta yang mulai kacau karena padamnya listrik secara massal akibat virus yang baru saja ia lepaskan.
"Om! Kita mau ke mana?!" teriak Zia di balik angin yang menderu.
"Ke bandara pribadi! Kita ke Swiss malam ini!" balas Arkan.
"Tapi besok aku ada ujian Sejarah, Om!"
Arkan tertawa,tawa yang jarang sekali Zia dengar. Tawa yang terdengar sangat bebas dan nakal. "Zia, lupakan sejarah sekolahmu! Mulai malam ini, kita akan menulis sejarah kita sendiri sebagai pasangan paling dicari di dunia!"
Dua jam kemudian, mereka sudah berada di dalam jet pribadi yang meluncur di atas awan, meninggalkan kerlip lampu Jakarta yang sedang kacau . Di dalam kabin yang mewah, Arkan duduk di sofa kulit sambil melonggarkan dasinya, sementara Zia duduk di pangkuannya, masih mengenakan gaun biru dongker yang kini sedikit robek di bagian bawah.
"Jadi," Arkan memperhatikan paha Zia yang terekspos karena robekan gaun itu. "Kamu baru saja bolos ujian paling penting dalam hidupmu untuk melarikan diri dengan seorang kriminal. Bagaimana perasaanmu, Nona Arkana?"
Zia melingkarkan lengannya di leher Arkan, menatap pria itu dengan keberanian yang baru. "Nilai Sejarahku mungkin nol, tapi nilai romansaku dengan CEO paling berbahaya di dunia ini terungkap... A plus ."
Arkan tersenyum tipis, lalu menarik Zia lebih dekat. "Jangan senang dulu. Di Swiss nanti, aku akan menyewa guru privat terbaik. Kamu pikir bisa lolos dari belajar hanya karena kita buronan? Tidak di bawah pengawasanku, Sayang."
Zia merengut, tapi hatinya menghangat saat Arkan mengecupnya dengan lembut. Di luar jendela, bintang-bintang tampak tenang, tidak tahu bahwa di dalam pesawat itu, seorang "Singa" baru saja mencuri masa depan seorang gadis SMA untuk dijadikan ratu di kerajaan bayangannya.
Pesawat jet itu membelah awan dengan keheningan yang kontras dengan kekacauan yang mereka tinggalkan di bawah sana. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya terdengar deru mesin pesawat yang tenang.
Arkan menarik Zia lebih rapat ke dalam dekapannya, menyegel tubuh mungil gadis itu dengan jas tuksedonya yang masih menyisakan aroma parfum cendana dan sedikit bau bubuk mesiu.
“Kenapa menatap begitu?” tanya Arkan, matanya tetap terpejam namun ia tahu Zia sedang memperhatikannya tanpa berkedip.
"Aku cuma sedang berpikir," Zia memainkan kancing baju Arkan yang terbuka dua teratas. "Om itu benar-benar gila. Om menghancurkan jaringan listrik satu kota hanya supaya aku tidak perlu menjawab soal sejarah tentang Perang Dunia?"
Arkan membuka matanya, tatapan tajamnya kini berubah menjadi intens yang membuat napas Zia tertahan. Ia menangkap tangan Zia yang nakal dan mengecup punggung tangannya.
"Aku menghancurkan kota itu karena mereka mencoba menyentuh milikku, Zia. Dan soal ujianmu..." Arkan meraih sebuah tablet dari meja samping dan memberikannya pada Zia. "Aku sudah meretas sistem sekolahmu. Nilaimu sudah masuk. Straight A . Kamu lulus dengan predikat terbaik."
Zia membelalakkan matanya. "Hah?! Tapi aku kan belum ujian!"
"Itu hadiah karena kamu sudah berani memaki orang kepercayaan ibuku di bawah tanah tadi," Arkan menurunkan tipis, lalu wajahnya serius kembali. "Tapi jangan pikir kamu bisa bersantai. Di Swiss nanti, kamu akan belajar manajemen aset. Aku butuh seseorang yang bisa mengelola yayasanku saat aku sedang... 'sibuk' di balik layar."
"Ih, Om! Aku kan mau kuliah Seni!" protes Zia sambil mencubit pinggang Arkan.
Arkan mengerang kecil, lalu dengan gerakan cepat, ia mengurung mereka hingga Zia berbaring di sofa kulit yang luas dengan Arkan mengurungnya di bawah. "Seni bisa menunggu. Tapi saat ini, prioritasmu adalah menjadi istri dari pria paling berbahaya di Eropa. Itu butuh latihan mental, Sayang."
Esok paginya, jet mereka mendarat di sebuah landasan pacu pribadi di pegunungan Alpen yang tertutup salju. Sebuah kastel modern berbahan kaca dan baja berdiri kokoh di tepi tebing, dikelilingi oleh hutan pinus yang sunyi.
"Ini rumah kita?" tanya Zia takjub saat mereka turun dari pesawat. Udara dingin Swiss langsung menusuk kulitnya, namun tangan hangat Arkan segera menggenggamnya.
"Ini bukan sekadar rumah. Ini The Nest . Tempat ini memiliki satelitnya sendiri dan tidak terdaftar di negara mana pun," Arkan menuntunnya masuk ke dalam gedung yang terlihat seperti markas superhero sekaligus hotel bintang lima.
Di dalam, pelayan-pelayan berseragam rapi menyambut mereka dengan persetujuan. Namun, Arkan tidak membiarkan siapa pun mendekati Zia. Ia menggendong Zia ala bridal style ke kamar utama yang menghadap langsung ke puncak menuju gunung yang mendinginkan.
Arkan menurunkan Zia di atas tempat tidur berseprai sutra putih. Ia berlutut di depan gadis itu, melepaskan sepatu hak tinggi Zia yang sudah kotor karena kejadian semalam.
"Om..." Zia memanggil pelan, dengan perlakuan lembut pria yang biasanya hanya tahu cara mengaturnya.
Arkan menatap dari bawah. "Zia, aku tahu ini bukan masa muda yang kamu impikan. Kamu seharusnya pergi ke pesta prom, belajar di perpustakaan, dan bertemu dengan laki-laki sebayamu yang bodoh itu."
Arkan menggosok pergelangan kaki Zia dengan ibu jarinya. "Tapi aku egois. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke dunia yang tidak bisa menjamin keamanannya. Apa kamu menyesal?"
Zia menunduk, lalu menarik kerah baju Arkan agar pria itu naik ke tingkat yang sama dengannya. Ia mengecup hidung Arkan dengan manja. "Menyesal? Aku punya CEO jenius yang rela jadi buronan internasional demi aku, punya jet pribadi, dan sekarang tinggal di kastel salju. Laki-laki sebayaku mana ada yang bisa kasih itu? Mereka paling cuma bisa kasih boba."
Arkan terkekeh, suara rendahnya terdengar begitu seksi di telinga Zia. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zia, membisikkan sesuatu yang membuat wajah gadis itu merah padam.
"Kalau begitu, mari kita mulai pelajaran pertama sebagai buronan, Nona Arkana. Pelajaran pertama, Bagaimana cara membuat tunanganmu tidak ingin keluar dari kamar ini selamanya."
Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi halus dari jam tangan Arkan. Bukan sinyal bahaya, melainkan sebuah pesan video yang masuk ke layar besar di kamar mereka. Wajah mama Dian muncul di sana, tampak tenang di sebuah ruangan mewah yang tidak dikenal.
"Selamat menikmati bulan madumu, Arkan. Tapi ingat, protokol 'The Ghost' punya fase ketiga. Dan fase itu... ada di dalam darah Zia sendiri."
Arkan membeku. Ia menatap Zia yang tampak bingung. Rahasia apa lagi yang diungkapkan ibunya tentang gadis yang sangat ia cintai ini?
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔