Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: GANG
Doa harapan Ara tulus tanpa niat terselubung. Berbeda dengan niat hati seseorang yang kini sudah stand by di perempatan gang sempit dengan tanah becek. Mobil yang ditumpangi dua orang lawan jenis masih tertutup rapat. Wajah keduanya terlihat tegang.
"Apa kamu yakin disini janjiannya?" tanya sang supir mengamati sekitarnya dari dalam mobil.
"Benar." Wanita itu mengulurkan selembar kertas mini agar sang supir bisa membacanya lagi. "Awas saja jika main-main dengan ku. Ku cincang sampai tak berbentuk."
Sang sopir melihat dari kaca spion tengah. Seorang wanita berjalan mendekati mobil mereka. "Itu kali orangnya?"
"Kenapa beda dari semalem? Kita tidak salah orang 'kan?" Wanita itu mengambil ponselnya, lalu mendial sebuah nomor.
Panggilannya langsung tersambung, dan benar saja wanita yang berhenti di samping mobil memegang ponsel dan menjawab. "Kamu dimana?"
Tanpa menjawab. Kedua penumpang di dalam mobil membuka pintu, lalu turun meninggalkan mobil. Kini ketiganya saling berhadapan satu sama lain dengan tatapan saling memandang.
"Ayo, ikuti Aku!" ajak wanita berkuncir kuda dengan pakaian olahraganya seraya melambaikan tangan.
Tak ingin percaya begitu saja, sang pria menghadang wanita itu dengan merentangkan kedua tangannya. "Tunggu! Jelaskan dulu, ngapain kamu ngajak ketemuan di tempat sepi seperti kuburan?"
"Sayang! Biarkan saja Anggun lewat. Aku percaya dia tidak akan bertindak ceroboh. Apalagi mencelakai model papan seperti ku. Benar begitu kan?" Hazel melirik ke Anggun, membuat wanita itu mengeluarkan jurus andalannya yaitu senyuman buaya.
"Aku datang menepati janjiku. Orang yang akan membantu kalian. Tidak ada di jalan ini, tapi ada di salah satu pintu sepanjang gang. Apa kalian mau ketuk pintu satu persatu?" jelas Anggun, membuat kekasih Hazel menurunkan tangannya.
"Ayo!" ajak Anggun berjalan melewati pria di depannya, dan diikuti Hazel bersama sang kekasih.
Ketiganya berjalan menyusuri gang sepi. Berjalan beriringan tanpa ada percakapan. Hazel tak segan menggandeng tangan kekasihnya untuk mengurangi rasa cemas akan kesunyian di sekitarnya. Setelah berjalan selama sepuluh menit dari tempat parkir mobil. Akhirnya Anggun berhenti di depan sebuah pintu besi bercat biru.
Ketukan pintu dengan nada ketuk tiga dua empat seperti kode untuk penghuni di dalam sana. Bunyi kunci terbuka, membuat Anggun mendorong pintu seperempat seraya melambaikan tangannya kepada Hazel dan sang kekasih model itu untuk masuk terlebih dahulu.
Tanpa pikir panjang, keduanya masuk. Barulah Anggun yang terakhir masuk sekaligus mengunci pintu besi agar tidak ada yang mengintip. Keadaan di dalam ternyata cukup remang dengan banyak barang berserakan di lantai. Bungkus snack, kaleng minuman bersoda, bahkan botol miras pun tak luput mengotori ruangan pengap itu, Hazel menutup hidungnya menggunakan sapu tangan.
"Kalian tunggu sini! Aku akan bangunkan dia." Anggun melangkah dengan santainya menghindari setiap sampah yang berserakan.
Melihat betapa mudahnya Anggun berjalan di dalam keremangan. Menyadarkan Hazel bersama kekasihnya. Jika wanita di depan mereka pasti sangat sering mendatangi tempat kotor dan bau yang kini mereka pijak.
"Apa kamu lihat bagaimana caranya berjalan?" tanya sang kekasih Hazel setengah berbisik.
Hazel menarik lengan sang kekasih, "Sebaiknya kita bahas itu nanti saja, sayang. Sekarang fokus dulu apa yang ada, okay."
Dari keremangan terdengar suara langkah kaki kembali mendekat, tapi kali ini bukan hanya satu. Semakin dekat suaranya, membuat Hazel dan sang kekasih tidak sabar melihat siapa yang dibawa Anggun. Hingga satu lampu di tengah ruangan menyala bersamaan suara langkah kaki berhenti.
"Jadi, berapa bayaran yang akan kudapatkan per kepala?"
Sukses bwt karyanya