Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Nathan, ayo bangun! Katanya mau ngajak jalan-jalan." Bian sudah terlihat rapi dengan rambut tergerai dan wajahnya memakai bedak tipis serta liptin tipis. Gadis itu ingin menagih janji suaminya yang akan mengajaknya jalan-jalan.
"Hmmmm, aku masih ngantuk." Gumam Nathan khas suara seraknya.
"Kau sudah janji padaku, ayo bangun!" Bian tak tinggal diam, dia menyibakkan selimutnya menggerak-gerakkan tubuh Nathan.
"Bangun Nathan! Aku bosan di sini terus"
"Apaan sih Bi. Aku masih ngantuk, semalam kau menyiksaku sampai aku tidak bisa tidur nyenyak." Gerutunya mengingat jika dia tidak bisa menahan hasratnya saat berada di samping istrinya. Namun, Nathan berusaha untuk tidak menyentuh Bian karena ia sadar jika Bian pasti belum siap.
"Iisss, mana ku tahu kau tidak tidur. Pokoknya aku mau menagih janjimu!" Bian memberenggut kesal memanyunkan bibirnya. Nathan mengintip sedikit ingin tahu Bian sedang apa.
( Menggemaskan )
( Eh... ada yang berbeda, dia dandan? ) Nathan membuka lebar-lebar matanya memperhatikan penampilan sang istri.
Saking kesalnya pada Nathan, gadis itu sampai kehausan. Dia mengambil botol air mineral dan memimunnya.
"Kau sudah rapi gini mau kemana? terus ngapain kau pakai dandan segala?" Nathan mendudukkan tubuhnya mengernyit heran karena tidak biasanya ia melihat Bian dandan. Bian menoleh.
"Jalan-jalan lah, masa mau nyikat wc.."
"Ck, dengan berpenampilan seperti ini?" Nathan mendadak tidak suka istrinya berdandan keluar tanpa memakai warna hitamnya.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Tidak boleh! Pakai pewarna hitam mu lagi!"
"Kenapa tidak boleh? sekali-kali boleh lah jalan keluar dengan penampilanku yang asli." Jawabnya seraya meminum lagi airnya.
"Pokoknya tidak boleh! Kau terlalu cantik tanpa warna hitam dan aku tidak suka itu!" tungkasnya penuh penegasan.
Byuuuffff...
Bian yang belum menelan minumannya sampai menyemburkan air itu tepat ke wajah Nathan saking terkejutnya di bilang cantik. Nathan memejamkan mata menggeram kesal.
"Biaaaan..."
"Sorry, sorry, aku tidak sengaja!" Bian mengelap wajah Nathan menggunakan lengan bajunya sampai wajah mereka berdekatan.
"Kau pikir aku kesurupan apa sampai kau sembur segala?" sergahnya kesal melototi Bian.
"Ya maaf, abisnya kau mengagetkanku bilang aku cantik. Emangnya aku cantik ya?" tanyanya menatap mata Nathan serius.
Eh...
Nathan yang di tatap seperti itu malah tak berkutik dan tak bisa menormalkan detak jantungnya yang berdegup kencang di kala wajah Bian sangat dekat dengan tangan memegang pipinya. Matanya perlahan turun ke bibir lalu naik lagi menatap matanya.
"Ka-kau.." Nathan salah tingkah dan gugup. Namun, ia malah menarik tengkuk Bian mendaratkan sebuah ciuman lembut ke bibir merah menggoda.
*********
"Udah jangan cemberut, kau aman memakai warna hitam ini." Nathan tersenyum usil melihat wajah Bian di tekuk seperti itu. Ya, Bian kembali memakai warna hitamnya dan juga berganti pakaian karena Nathan mengancam akan melakukan tindakan lebih. Bian tidak bodoh dan ia belum siap.
"Ck, menyebalkan." Bian mencebik cemberut.
Nathan meliriknya lalu menggandeng tangan Bian membuat si empu terkejut. "Nathan, kau tidak malu menggandeng orang hitam sepertiku?"
"Tidak." Nathan mengajak Bian berjalan-jalan berkeliling ke tempat yang menurutnya seru. Bian hanya mengikuti kemana suaminya membawanya. Tak di pungkiri jika Fira merasa bahagia di saat bisa berjalan-jalan ke tempat yang tidak pernah ia jumpai.
Senyumannya tak pernah pudar, kebahagiaannya terpancar jelas dari raut wajah dan sorot matanya. Nathan selalu memperhatikan pergerakan Bian.
Entah kenapa dia tidak merasa risih wanita berwarna hitam itu berada di dekatnya meski banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan aneh.
Mungkin mereka menilai jika keduanya bagaikan langit dan bumi, jauh berbeda. Bian yang berpenampilan culun dengan rambut di ikat dua berponi tipis serta warna kulitnya yang hitam membuat semua orang menatap aneh padanya.
Nathan dengan warna kulit putih penampilannya bad boy tak lepas dari anting magnet yang selalu menempel di kedua telinganya serta kalung yang selalu tersemat di leher dan tato di lengannya terkesan tampan, macho dan juga keren.
Sejenak mereka berhenti untuk membeli minuman. Nathan sudah lebih dulu mendapatkan minumannya lalu ia segera meminumnya seraya menunggu Bian yang juga sedang membelinya.
"Nathan, kau ngapain di sini?" seseorang bertanya kemudian menghampiri pria berpakaian kaos warna biru serta celana jeans robek di bagian lututnya. Nathan menoleh.
"Eliza..!" Pria itu sempat terkejut, namun ia kembali memasang wajah biasa. "Bukan urusanmu."
"Iya sih, bukan urusanku. Itu urusanmu yang mungkin mengikuti ku karena belum bisa move on." ujar Eliza sangat percaya diri.
Nathan emang masih mencintai wanita di hadapannya tapi ia tidak mau terus berlarut dalam kesedihan.
Tak jauh dari sana, Bian memperhatikan interaksi keduanya saat ia baru selesai membeli minuman di salah satu penjual yang ada di pinggir jalan.
( Katanya sudah putus, eh ternyata masih berhubungan. ) ujarnya batinnya merasa kecewa lalu ia menghelakan nafas.
[ Anggap saja kulit Bian memakai warna hitam ya. ]
Bian membuang plastik minuman yang ia bawa namun, mata masih memperhatikan keduanya. Dia lebih memilih menghindar meninggalkan Nathan tak ikut campur daripada harus berada di antara dua insan yang masih belum tuntas hubungannya. Pikirnya.
Kembali lagi pada Nathan dan Eliza. Nathan tersenyum sinis mendengar rasa percaya diri Eliza begitu tinggi.
"Belum move on? hahaha terserah, yang penting aku sudah memiliki yang baru jauh lebih baik darimu."
( Karena ku memiliki Bian yang akan menjadi pengobat rasa sakit ku atas pengkhianatan mu. ) Nathan beranjak meninggalkan Eliza menyusul istrinya yang tak kunjung tiba.
Eliza menghentakkan kakinya kesal. "Sial, ku kira dia akan memohon-mohon tak ingin ku tinggalkan."
"Kemana Bian? tadi dia di sini?" matanya ia edarkan mencari Istrinya. Seketika hatinya risau. Nathan bertanya kepada orang-orang di sekitar mengenai kemana perginya sang istri. Di antara mereka ada yang menunjuk ke arah Utara, dan dengan segera Nathan menyusulnya.
**********
"Dasar pria kurang ajar, bisa-bisa dia enak-enakan pacaran di saat ada istrinya. Ck, semalam saja sok sedih, galau, lah sekarang, malah asik bersenda gurau." Sepanjang jalan mulut Bian mengomel kesal. Dia bingung harus kemana di tengah kota yang asing baginya.
"Kak Sean, aku tidak tahu harus apa? Tolong aku, Kak." lirihnya menunduk bingung.
"Halo, Baby." Bian menoleh ke samping, matanya membola ada orang yang ia butuhkan.
"Kak..!" pekiknya girang. Sean tersenyum mengusap pucuk kepala Bian.
"Aku akan ada untukmu, menjagamu, dan tak akan membiarkanmu sendirian." ( Karena kau adikku, adik yang aku sayangi dan ku cintai. )
Bian terharu merasa tersentuh akan sosok yang selalu menjaganya dari sejak ia masuk SMP. Gadis itu menghambur kepelukan Sean, pria yang sudah ia anggap sebagai Kakak, sahabat, dan juga pelindungnya.
"Aku ingin pulang, dia tidak menghargaiku. Rasanya dadaku sesak, Kak." Lirihnya meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan. Sean mengusap punggung Bian membalas pelukannya.
Di saat seperti itu, ada sepasang mata memperhatikannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan dan juga rasa marah melihat istrinya berpelukan dengan pria lain. Tangannya terkepal kuat sampai kuku-kukunya memutih.
"Dasar murahan..."
Bersambung....