Dibalik sikap ceroboh dan somplak di antara ketiga sahabatnya, Zahra menyimpan kisah hidup yang cukup memilukan. Masa kecil bersama Yudha di sebuah Panti Asuhan, membuat Zahra menganggap Yudha sebagai kakak bahkan Zahra sangat mengagumi lelaki itu dan berharap bisa menjadi pendamping hidup Yudha selamanya—kelak.
Di satu sisi, Zahra berusaha menghindar dari Arga karena tidak ingin 'sial' jika berada di dekat lelaki itu. Setelah sebuah penolakan terlontar dari mulut Zahra, Arga memilih untuk pergi.
Namun, bagaimana jika sebuah rahasia tentang Yudha terkuak dan hal itu membuat Zahra kecewa? Akankah Zahra bisa memaafkan Yudha, atau mengejar cinta Arga yang pernah dia tolak sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, tetapi Zahra masih sibuk bergelung dengan selimut. Beruntung hari ini akhir pekan, jadi Zahra bisa bangun siang apalagi semalaman dia tidak bisa tertidur lelap. Di saat masih terlelap dalam pelukan hangat selimut tebal, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk keras.
Zahra tidak menggubris meskipun dia sudah mulai terbangun. Membiarkan suara ketukan itu makin keras terdengar. Apalagi suara cempreng Zety yang terus saja memanggil namanya.
"Kalau elu enggak bangun juga maka gue yang akan jalan sama Mas Yudha-mu itu, Zae!"
Kedua mata Zahra sontak terbuka lebar mendengar nama Yudha disebut. Zahra menepuk kening karena baru saja mengingat kalau dirinya hari ini sudah berjanji akan ke panti. Dengan terburu Zahra turun dari tempat tidur lalu hendak berlari keluar kamar.
Gubrak!
"Aduh!" Zahra mengerang saat tubuhnya jatuh terjerembab di lantai karena kesandung selimut yang menjuntai. Zahra mendengkus kasar lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan sedikit terpincang karena kaki kanannya terasa sedikit nyeri. "Sial banget hidup gue."
"Kenapa elu, Zae?" tanya Zety saa pintu baru saja terbuka. Zety menggeleng melihat wajah sahabatnya yang berantakan dan mulut yang terus saja menggerutu.
"Jatuh kesandung. Sial banget. Gue sering sial gini kalau ada Tuan Arga," cerocos Zahra sembari mengusap lutut yang barusan mencium lantai.
"Emang ada Tuan Arga di sini," ucap Zety, dan itu mampu membuat tubuh Zahra mematung seketika.
"Ma-maksud elu?" tanya Zahra terbata.
"Ada Tuan Arga di depan. Lagi nungguin elu katanya mau nganter ke panti," tutur Zety.
"Tadi elu bilang Mas Yudha yang datang. Dasar mulut elu plin-plan banget, Suk!" Zahra mencebik kesal. Padahal itu untuk menutupi kegugupannya.
Zahra mendorong tubuh Zety sedikit kasar karena menghalangi jalan, lalu bergegas ke ruang depan untuk melihat sebenarnya siapa yang datang. Sementara Zety hanya menggeleng dengan sikap sahabatnya.
"Tu-Tuan Arga." Ucapan Zahra tercekat di tenggorokan saat melihat Arga sedang duduk santai di ruang tamu.
Mendengar namanya dipanggil, Arga bangkit berdiri dan menatap ke arah Zahra. Namun, senyum tipis tercetak di sudut bibir Arga saat melihat Zahra yang tampak menggemaskan ketika baru saja bangun tidur.
"Untuk apa Anda ke sini?" tanya Zahra ketus. Dia tidak menyangka kalau yang datang justru Arga. Pantas saja dirinya pagi-pagi sudah sial.
"Nona Rasya bilang hari ini kamu akan ke panti, dan menyuruhku untuk mengantarmu," jelas Arga santai.
Astaga. Beneran kurang ajar si Kurap. Bukannya gue udah bilang kalau bakal pergi sama Yudha, ngapain dia masih nyuruh Tuan Arga segala.
"Ehem!" Suara deheman Arga berhasil mengejutkan Zahra. Dengan lekat Zahra menatap Arga, begitu juga sebaliknya. Akan tetapi, beberapa detik selanjutnya Arga memalingkan wajah karena tidak mau makin terhanyut dalam pesona Zahra.
"Tidak perlu, Tuan. Saya sudah janji dengan Mas Yudha." Zahra menolak. Dalam hati Arga merasa panas saat Zahra memanggil nama lelaki brengs*k itu.
"Tapi perintah Nona Muda adalah titah yang tidak bisa diganggu gugat!" Arga berkata yakin. Zahra menghela napas panjang dan mengembuskan secara kasar.
"Tuan, lebih baik sekarang Anda pergi dan nanti saya yang akan bilang kepada Rasya. Dia pasti tahu kalau saya akan pergi dengan lelaki pujaan hati saya." Zahra mengusir.
Emosi Arga mulai naik ke ubun-ubun. Dia menatap Zahra tajam, tetapi gadis itu justru terlihat biasa bahkan menunjukkan raut wajah tidak suka dengan kehadirannya.
"Bisakah kamu menjauh dari lelaki brengs*k itu?" Zahra terdiam mendengar permintaan Arga.
sempat sempat menjadikan Arga tumbal setan👻👻👻