Berniat ingin membatalkan perjodohan dengan bersandiwara bersama seorang wanita yang tak sengaja ia tabrak.
Siapa sangka, bahwa ternyata wanita itulah yang akan di jodohkan dengan nya.
Bagai buah simalakama, nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah terlanjur mengatakan ingin menikah dan mencintai wanita tersebut.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah keduanya setelah menikah?
Akankah rasa cinta itu tumbuh? Atau malah harus berakhir setelah keduanya menemukan cinta sejati masing-masing?
Yuk, simak kisahnya om dokter Bastian dan gadis bar bar Denisa.
follow IG mommy : @Mommy_Ar29
Follow TikTok : @Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara nakal
Ipar Lucknat
'Bas, kamu lagi sama Nisa gak? Aku hubungi dari tadi gak aktif. '
Bastian
'Ada di Apartment. Dia lagi dapet, jangan ganggu! '
Ipar Lucknat
'Cie elah. Perhatian, uhuy. Enggak kok, aku juga mau ke Apartment nanti sore. Kalau dia gak ikut kamu, ya udah aku ke sana sekarang! '
Bastian
'Ra, jangan repotin dia! '
Ipar Lucknat
'Astaghfirullah, kenapa kamu suudzon terus si Bas! '
Bastian
'Bukan suudzon, tapi emang fakta nya kamu selalu begitu! '
Ipar Lucknat
'Tau ah, ngomong sama kamu gak ada habisnya. Capek aku ngalah terus. Bye! '
Bastian hanya menghela nafas nya sedikit berat. Ingin rasanya ia mengumpat kasar sahabatnya yang kini menjadi kakak ipar nya tersebut. Mendengar bahwa ia akan ke Apartment, membuatnya sedikit merasa resah dan gelisah. Apartment mereka bersebelahan dengan Calvin juga, ia hanya sedang berpikir bagaimana kalau dia benar ke sana dan bertemu dengan Anne dan Nisa.
Seperti sebelumnya, dulu Kiara pernah datang saat hamil baby twin K, ketiga wanita itu seperti habis berpesta, keadaan apartment nya sangat berantakan dan berujung dirinya yang membereskan karena ia memang tidak bisa melihat rumah kotor.
Oke dulu memang ia di bantu oleh Nisa untuk membereskan nya, tapi kini keadaan istrinya sedang sakit. Dirinya harus bekerja lembur hari ini, oh Tuhan, Bastian tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Apartemen nya nanti saat pulang bila memang jadi Kiara akan datang.
Bastian calling Nisa
'Hallo.'
"Kalau nanti Kiara datang, jangan bukakan pintu. Kamu saja datang ke sebelah, pokoknya jangan biarkan dia masuk apartment kita! mengerti! " ucap Bastian to the point namun Nisa hanya terdiam.
"Nisa, kamu mendengar ku kan? " ulang Bastian saat Nisa sejak tadi hanya diam.
'Hem, mereka sudah disini, " bisik Nisa begitu pelan yang mampu membuat Bastian langsung menghela nafas kasar, 'Tapi tenang aja. Aku janji, kejadian dulu tidak akan terulang. Aku, aku sudah bisa bersih bersih kok, tenang saja. Janji beneran deh, oke pokoknya sebelum kamu pulang rumah sudah rapi. Oke, iya Oke yah,'
"Baiklah, tapi kalau sampai aku pulang dan—"
'Iya Bas, iya... pokoknya kamu pulang semua rapi seperti semula. Ya udah aku udah di panggil sama kak Anne, bye bye kerja yang rajin biar duitnya makin banyak! muach! "
Deg!
Bastian langsung menganga saat mendengar ucapan terakhir dari Nisa. Bukan masalah uang banyak bukan, tapi kata terakhir. Apa itu? Bastian seketika langsung menyentuh bibir nya, senyum nya terbit jantung nya berdetak kian cepat.
Hanya seperti itu, mengapa bisa seperti ini? batinnya.
"Dasar gadis nakal, sudah mulai berani sekarang! " gumam Bastian mengulum senyum, "Beraninya dia mencium ku lewat telepon. ckck!"
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Bastian langsung tersadar dari lamunan nya. Masih dengan senyum mengembang, ia menghela nafas nya panjang lalu menyuruh orang itu agar masuk.
"Ada apa dokter Widhi? " tanya Bastian saat melihat rekan kerja nya masuk.
"Apakah dokter Bastian sudah makan? jadwal operasi malam ini jam delapan, apakah dokter Bastian tidak ingin makan dulu? " tanya nya, "Di depan rumah sakit, ada Cafe baru buka. Tadi siang anak anak dari sana dan bilang makanan nya lumayan. Apakah dokter Bastian tidak mau mencoba nya? "
Bastian melirik jam di tangan nya, masih pukul setengah enam sore. Dan ia memang belum makan, "Baiklah, ayo."
Bastian melepaskan jas putihnya, menggantung nya di tempat biasa, lalu melepaskan dia kancing kemeja nya dan melingkis lengan kemeja, ia berjalan mendahului dokter Widhi sambil terus tersenyum membayangkan kembali bagaimana suara Nisa yang tadi sempat mencium nya. Walau hanya lewat sebuah panggilan telepon.
'Astaga Bas, sadar. Sadar jangan sampai kamu gila dan kehilangan konsentrasi hanya gara gara suara gadis nakal itu. ' gumam nya terkekeh sendiri sambil menggelengkan kepala.
.
.
.
.
Holaaa semuanya maaf yah kalau mommy lama update nya. Mommy masih sakit, dan kemarin sore baru berobat. Alhamdulillah sekarang sudah mendingan, tapi mommy masih harus istirahat, makanya mommy gak bisa update sebanyak biasanya. Sekali lagi maaf yah, love you semuanya....
dulu pas kia ngidam kn om Abas yg repot