NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 21

Ren melangkah perlahan, mendekati nakas tempat jemari Aiko masih memegang erat tusuk konde miliknya. Dengan gerakan tenang, Ren mengambil benda tajam itu dari tangan Aiko, lalu meletakkannya kembali ke atas meja kayu.

​"Kau tidak pandai berbohong, Aiko," ucap Ren dengan suara rendah, matanya menatap lurus ke dalam mata Aiko yang berair. "Gemetar tubuhmu itu bukan karena dinginnya hujan."

​Aiko menahan napas, bersiap jika pria di hadapannya itu akan mencengkeram rahangnya lagi. Namun, Ren justru berbalik, membuka kancing kemeja hitamnya yang basah dan melemparnya menuju keranjang pakaian kotor di sudut kamar, memperlihatkan punggungnya yang penuh dengan guratan luka dari masa lalu.

​"Paman Kaito baru saja mengirim tiga eksekutor ke ruang interogasi," Ren berbicara membelakangi Aiko, dengan suaranya yang terdengar datar. "Dia ingin memastikan Harada mati sebelum fajar. Sayangnya, Daichi jauh lebih cepat mematahkan leher mereka."

​Jantung Aiko mencelos. "Lalu... Harada?"

​"Hidup," Ren memakai kaos hitam bersih, lalu berbalik menatap Aiko. "Dan dia mulai berbicara. Harada mengatakan, belasan tahun lalu Kaito tidak memiliki uang sebanyak itu untuk menyuap pengawal gerbang paviliun barat. Aku yakin ada klan besar lain yang mendanainya saat itu."

​Ren menyeringai tipis, sepasang matanya berkilat penuh dendam. Cepat atau lambat aku akan menemukan siapa klan besar yang mendanainya saat itu."

Tubuh ​Aiko terpaku, di balik selimut kedua tangannya meremas kain dengan sangat kuat. Jangan, Ren... jangan cari tahu lebih jauh... batinnya menjerit parau.

**

Pagi hari, Aiko duduk diam di tepi tempat tidur, dengan pandangannya yang terlihat kosong pada lantai kayu. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Ayahnya masih terngiang jelas di kepalanya, Rasa bersalah yang teramat besar kini menghantuinya, membuat setiap tarikan napasnya terasa begitu berat.

Srak.

Pintu geser penghubung ruang pakaian terbuka. Ren melangkah masuk dengan setelan kemeja abu-abu gelap tanpa dasi, melipat bagian lengannya hingga ke siku. Rambut hitamnya sedikit basah.

Ren menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Aiko. Dengan matanya yang menyipit tajam, mengamati Aiko yang tampak berbeda dari biasanya.

"Kau tidak menyentuh sarapanmu," ucap Ren, dengan suaranya yang memecah keheningan.

Aiko sedikit tersentak, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan mata Aiko melembut, dipenuhi rasa iba dan penyesalan yang coba ia sembunyikan.

"Aku... belum lapar, Ren," jawab Aiko dengan suara pelan, di susul kepalanya yang menunduk kembali.

Ren terdiam sesaat, Pria itu mengembuskan napas pendek, lalu berjalan mendekati meja kerja di sudut kamar dan mengambil sebuah map dokumen.

"Bersiaplah. Kau akan kembali ke kampus hari ini," ujar Ren datar.

Aiko mendongak cepat, matanya melebar. "Ke kampus? Tapi... bukankah situasi di rumah ini sedang berbahaya? Pamanmu..."

"Berada di dalam rumah ini terus-menerus hanya akan membuat kepalamu pecah karena tertekan," potong Ren cepat. "Aku tidak butuh sekutu yang kehilangan akal sehatnya karena terus mengurung diri di kamar. Pergilah dan rasakan kembali kehidupan normalmu."

Jantung Aiko berdenyut aneh. Ia tahu Ren mengatakannya dengan kalimat yang kaku, namun tindakan pria itu jelas untuk kebaikannya. Rasa bersalah di dalam dada Aiko semakin mencekik. Kenapa kau harus bersikap baik padaku, Ren? Jika kau tahu siapa ayahku... kau pasti akan membenciku, batin Aiko menjerit parau.

"Aku akan tetap memenuhi janjiku, kau tidak akan berkeliaran tanpa pengawasan," lanjut Ren, sembari melirik ke arah pintu luar.

"Masuk."

Pintu geser terbuka, dan sesosok pria melangkah masuk dengan cengiran lebar. Aiko hampir tidak mengenali pria itu jika bukan karena garis wajahnya. Itu Daichi. Namun, hari ini ia tidak mengenakan setelan jas hitam formalnya. Daichi pagi ini mengenakan jaket denim longgar, celana jins, dan sebuah ransel yang tersampir di satu bahunya. Ia terlihat persis seperti mahasiswa pada umumnya.

"Selamat pagi, Nyonya Muda!" sapa Daichi dengan nada jenaka, memberikan bungkukan formal yang terasa aneh dengan pakaian kasualnya.

"Daichi...?" Aiko mengerjapkan mata tidak percaya.

"Mulai hari ini, Daichi akan menjadi mahasiswa pindahan di kelasmu. Tugasnya adalah memastikan tidak ada satu pun tikus klan Barat atau orang-orang Kaito yang mendekatimu," tutur Ren tegas. "Jangan protes. Ini syarat, jika kau ingin keluar dari gerbang kediaman ini."

Aiko tidak berniat protes sama sekali. Ia justru mengangguk patuh tanpa bantahan sedikit pun. "Baik. Aku mengerti, Ren. Terima kasih."

Ren sempat tertegun selama satu detik melihat kepatuhan Aiko yang tidak biasa, sebelum akhirnya ia menguasai ekspresinya kembali dan mengangguk samar.

**

Suasana Universitas Kyoto siang itu cukup ramai. Begitu Aiko melangkah masuk ke koridor fakultasnya, seorang gadis berambut pendek langsung berlari dan memeluknya dengan erat hingga Aiko hampir terhuyung ke belakang.

"Aiko! Astaga, kau ke mana saja?!" seru Hana dengan wajah panik sekaligus lega. "Kenapa kau tiba-tiba menghilang! Aku menghubungimu berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif!"

Aiko tersenyum tipis. "Maaf, Hana. Paman jauhku... maksudku waliku, dia memintaku beristirahat di rumah selama beberapa hari."

"Ah, wali protektif yang super tampan waktu itu?" Hana menyipitkan mata, lalu berbisik menggoda. "Yah, kalau punya wali seperti dia, dikurung di rumah sebulan pun aku tidak akan protes."

Aiko hanya bisa tersenyum canggung, tidak tahu harus merespons apa.

Saat mereka berjalan menuju ruang kelas, perhatian Hana mendadak teralihkan oleh kerumunan mahasiswi di dekat papan pengumuman. Di sana, Daichi terlihat sedang berdiri dengan gaya supelnya, tertawa bersama beberapa mahasiswa, seperti dia sudah berkuliah di sana selama dua tahun.

"Aiko, lihat deh! Katanya ada mahasiswa pindahan baru dari Tokyo. Namanya Daichi. Lumayan lucu juga sih orangnya, tipe-tipe social butterfly," ujar Hana menyenggol lengan Aiko.

Aiko hanya bisa membatin dalam hati, menahan tawa sekaligus ngeri mengetahui bahwa pria "lucu" yang dibicarakan Hana adalah tangan kanan pemimpin Tachibana-gumi yang tanpa ragu membunuh orang lain. Begitu mata Daichi menangkap keberadaan Aiko, pria itu memberikan kedipan mata rahasia yang sangat cepat, sebelum kembali fokus mengobrol dengan teman-teman barunya.

Kuliah berjalan dengan tenang hingga jam istirahat tiba. Saat Aiko sedang merapikan buku-bukunya di atas meja, sebuah bayangan tinggi berhenti di depan mejanya.

"Aiko? Kau sudah masuk kuliah?"

Aiko mendongak dan mendapati seorang pria berwajah ramah dengan kacamata berbingkai tipis sedang tersenyum menatapnya. Nakamura Seian. Ketua angkatan mereka yang terkenal pintar dan selalu bersikap hangat pada semua orang.

"Ah, Seian-kun," Aiko membalas senyumannya dengan sopan.

Seian meletakkan sebuah buku catatan di atas meja Aiko. "Ini catatan kuliah sosiologi selama kau tidak masuk tiga hari kemarin. Aku sengaja merangkumnya untukmu karena tahu dosen itu pasti akan mengadakan kuis minggu depan."

"Benarkah? Terima kasih banyak, Seian-kun. Ini sangat membantu," ucap Aiko tulus.

Dari barisan kursi paling belakang, Daichi yang sedang berpura-pura memainkan ponselnya langsung menajamkan pandangan. Matanya yang semula jenaka berubah menjadi dingin dan penuh perhitungan, mengamati setiap gerak-gerik Seian yang berdiri terlalu dekat dengan Nyonya Mudanya.

Tanpa membuang waktu, jemari Daichi bergerak cepat di atas layar ponsel, mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimkannya langsung ke nomor pribadi sang Bos.

[Laporan, Bos. Ada seorang mahasiswa bernama Nakamura Seian yang mencoba mendekati Nyonya Muda di kelas. Dia memberikan buku catatan dan tersenyum terlalu lama. Perlukah saya mematahkan jarinya?]

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!