NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Ditangkap?

Pukul lima pagi, alarm internal di kepala Carson selalu menyala tepat waktu tanpa perlu bantuan perangkat digital. Pemuda itu membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang samar oleh sisa kegelapan malam. Ia bergerak perlahan, melepaskan dekapan lengannya dari tubuh Nezha dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur nyenyak kekasihnya. Setelah memastikan Nezha masih terlelap dalam posisi nyaman, Carson turun dari tempat tidur dan melangkah senyap menuju panel kayu di balik lemari, kembali ke kamarnya sendiri untuk bersiap kerja.

Setengah jam kemudian, Carson sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Namun, sebelum ia meraih jaket dan kartu akses di atas meja, langkahnya berbelok menuju sudut dapur yang tersembunyi.

Carson berlutut di depan pipa ventilasi hangat di bawah meja. Dengan gerakan terlatih, ia menggeser penutup kompartemen palsu yang ia pasang di sana. Wadah plastik bekas jeli nutrisi itu ditariknya keluar.

Baru satu minggu.

Hanya tujuh hari sejak ia menyelundupkan beberapa butir biji tomat itu dari laboratorium sektor militer. Namun, apa yang ada di hadapan Carson saat ini sudah bukan lagi gundukan tanah dengan kecambah kecil. Melainkan, sebatang tanaman hijau setinggi tiga puluh sentimeter berdiri kokoh, daun-daunnya yang berbulu halus melebar dengan warna hijau pekat yang sangat sehat. Bahkan, di antara ketiak batangnya, gumpalan kuncup kecil berwarna kekuningan sudah mulai menyembul. Dalam hitungan hari, kemungkinan besar tanaman itu akan berbunga dan berbuah.

Carson mengambil sebuah botol pipet kecil dari kolong meja bagian dalam. Botol itu berisi cairan bening berkerlip kebiruan yang encer. Sebuah formula yang ia sintesis secara rahasia di sela-sela jam istirahat laboratoriumnya beberapa hari lalu. Menggunakan sisa ekstrak lignin dan hormon giberelin yang ia modifikasi sedemikian rupa, Carson berhasil menciptakan serum percepatan pertumbuhan.

Ia meneteskan tiga tetes cairan itu tepat di dekat akar tanaman tomat, lalu memercikkan sedikit air.

"Sebentar lagi," bisik Carson, jemarinya menyentuh helai daun hijau itu dengan ujung telunjuknya. "Tumbuhlah dengan cepat."

Carson mengembalikan wadah plastik itu ke tempat semula, memastikan suhu hangat dari pipa ventilasi akan mempercepat penyerapan formula tadi. Setelah merapikan kembali posisinya, Carson melangkah kembali melewati jalur panel rahasia, masuk ke kamar Nezha untuk mengecek kondisi kekasihnya sebelum ia berangkat.

Begitu panel kayu bergeser terbuka, Carson tertegun.

Nezha tidak lagi berada di atas kasur. Perempuan itu sudah berdiri di depan cermin, sedang merapikan kerah seragamnya yang kaku. Wajahnya tidak sepucat kemarin, bahkan matanya memancarkan binar energi yang sudah lama tidak Carson lihat.

"Nezha? Kamu sudah bangun?" Carson melangkah mendekat, keningnya berkerut dalam. "Kenapa kamu pakai seragam? Hari ini kamu harusnya istirahat di rumah saja."

Nezha berbalik, tersenyum lebar sambil mengancingkan lencana otoritas di dadanya. "Sekarang, aku sudah merasa jauh lebih baik, Carson. Sungguh. Rasa mualnya sudah hilang total sejak subuh tadi. Badanku juga rasanya enteng sekali sekarang."

Carson berjalan ke arahnya, menempelkan punggung tangannya ke dahi Nezha dengan protektif. "Hm, tidak demam. Tapi tetap saja, kehamilan minggu-minggu awal itu rawan, Nezha. Kamu tidak perlu memaksakan diri."

"Aku tidak memaksakan diri, Carson," sergah Nezha lembut, memegang tangan Carson yang berada di dahinya lalu menurunkannya perlahan. "Aku hanya tidak ingin izin kerja saja, Carson. Aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari apapun atau siapapun. Entah itu rekan kerja atau bahkan atasan di tempat kerjaku. Lagipula, hari ini bukan jadwalku untuk patroli di luar. Jadi, aku akan baik-baik saja."

Carson menatap mata Nezha, mencari celah keraguan di sana. Namun yang ia temukan justru semangat dan tekad yang keras kepala. Carson hanya bisa mengembuskan napas kalah. Ia tahu, berdebat dengan Nezha dalam mode seperti ini hanya akan membuang waktu.

"Baiklah," ucap Carson akhirnya, menyerah. "Tapi berjanjilah padaku. Begitu kepalamu mulai pusing atau mualnya datang lagi, segera istirahat atau izin pulang saja sekalian, detik itu juga."

Nezha terkekeh kecil, merapikan jaket Carson dengan gemas. "Iya, Suamiku yang cerewet. Aku janji. Sekarang ayo berangkat, nanti kamu terlambat."

Mendengar kata 'suami' terucap dari mulut Nezha, seketika membuat hati Carson luluh. Raut wajahnya yang semula khawatir, berubah menjadi tersipu malu. Meskipun di antara mereka tidak ada ikatan pernikahan, tapi dengan sadar, Nezha bersedia memanggilnya sebagai seorang suami. Tekad di dalam hatinya semakin bulat. Dia harus segera mencari cara agar bisa keluar dari negara kejam itu sebelum terlambat.

...***...

Satu jam kemudian, Carson sudah mengantre di gerbang pemeriksaan Sektor Militer. Suasana pagi itu seperti biasanya. Mulai dari suara bising yang berasal dari deru mesin kendaraan taktis, bau asap knalpot hibrida, hingga barisan pekerja yang berdiri kaku menunggu pemindaian biometrik.

Tepat dua antrean di depan Carson, sesosok pria dengan jas lab kedodoran dan rambut berantakan sedang sibuk mengomeli petugas pemindai.

"Aduh, Pak, tolonglah. Bapak kan sudah sering melihat saya, masak iya harus diperiksa setiap hari sih," gerutu Avnan, tangan kanannya memegang tablet sementara tangan kirinya sibuk merogoh saku celana. "Masa setiap pagi wajah tampan saya harus disinari laser merah ini terus? Kulit saya bisa radiasi, tahu!"

"Ini prosedur standar Sektor Militer, Saudara Avnan. Mohon diam dan tatap lensa sensor," jawab petugas gerbang dengan nada monoton tanpa ekspresi.

Carson yang melihat kelakuan Avnan hanya bisa menggelengkan kepala samar. Ia melangkah maju begitu antrean bergerak. "Avnan. Berhentilah membuat keributan jika kamu tidak mau berakhir di ruang interogasi."

Avnan menoleh, matanya langsung berbinar begitu melihat Carson. "Eh, Carson! Nah, ini dia penyelamat hidupku! Carson, bilang sama petugas kaku ini kalau aku ada pekerjaan mendesak. Jadi, aku harus segera tiba di laboratorium secepat mungkin!"

Petugas gerbang mengabaikan ocehan Avnan, beralih menatap Carson. "Kartu izin Anda, Saudara Carson."

Carson menyodorkan kartu perak miliknya ke atas pemindai digital. Alat itu berdesing halus, memancarkan lampu hijau yang menandakan akses diterima. "Akses valid. Silakan masuk," ucap petugas.

"Tuh, lihat! Carson saja lancar jaya begitu!" Avnan mendengus, akhirnya melangkah melewati gerbang setelah mesinnya mengeluarkan bunyi klik tanda lolos. "Giliran aku, ada aja yang diperiksa. Gak mesin, gak petugasnya, sama saja, pilih kasih!"

"Itu karena aku tidak banyak bicara sepertimu Avnan," sahut Carson datar, mulai melangkah menyusuri koridor beton menuju pusat laboratorium bioteknologi.

"Sialan kamu, ya—"

"Berhenti di tempat!"

Sebuah seruan lantang bernada dingin memotong kalimat Avnan. Suara langkah sepatu bot militer yang berat dan serempak berdentum di koridor, menggema di dinding-dinding beton.

Carson menghentikan langkahnya. Dari arah berlawanan, empat orang petugas berseragam hitam legam dengan zirah taktis lengkap, atribut khas dari Satuan Keamanan Dalam Sektor Militer, berjalan cepat ke arah mereka. Di pundak komandan pasukan itu, tiga balok perak berkilat menandakan pangkat yang lumayan tinggi.

Avnan yang tadinya mau mengomeli Carson langsung bungkam, tubuhnya mendadak kaku melihat moncong senjata yang tergantung di dada para petugas tersebut. "Eh... ada pemeriksaan mendadak ya, Pak Komandan?" tanya Avnan dengan suara yang tiba-tiba menciut.

Komandan pasukan itu sama sekali tidak melirik Avnan. Matanya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada Carson. "Apa benar Anda saudara Carson?"

Carson mempertahankan ekspresi datarnya, meski di dalam hati, sensor bahayanya langsung berteriak waspada. "Benar. Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Tanpa memberikan penjelasan apa pun, komandan itu memberikan isyarat tangan pendek ke dua anak buahnya. "Amankan target."

Dua petugas berbadan tegap langsung maju dengan cepat. Sebelum Carson sempat memproses situasi, tangan kanannya ditarik paksa ke belakang punggung, disusul dengan tangan kirinya. Bunyi klik logam yang dingin dan berat bergema di koridor.

Borgol magnetik militer kini telah mengunci kedua pergelangan tangan Carson dengan sangat erat.

"Tunggu! Apa-apaan ini?!" Carson refleks memberontak kecil, namun cengkeraman petugas di pundaknya seperti jepitan besi. "Atas dasar apa Anda menahan saya? Saya tidak melakukan pelanggaran apapun!"

"Hei! Hei, Pak! Sebentar dulu!" Avnan yang melihat rekan kerjanya diringkus langsung panik luar biasa. Tablet di tangannya hampir saja jatuh begitu saja. "Ini pasti salah paham, Pak! Carson ini hanya anak baru di sini! Kenapa dia tiba-tiba diborgol begini?!"

"Diam, Saudara Avnan! Jangan mencampuri urusan Satuan Keamanan jika Anda tidak ingin ikut diseret," gertak salah satu petugas dengan nada mengancam.

Komandan pasukan menatap Carson dengan tatapan menghakimi. "Anda dituduh melakukan tindakan sabotase data dan pencurian material organik terlarang dari server utama Sektor Militer. Kami memiliki perintah langsung untuk membawa Anda ke Ruang Interogasi Tingkat Atas."

Jantung Carson berdegup kencang bak genderang perang. 'Pencurian material organik? Apakah biji tomat itu ketahuan? Atau cairan modifikasi yang kubuat?'

Carson mencoba menekan kepanikannya, otaknya berputar cepat mencari celah untuk tetap terlihat tenang. "Saya menuntut bukti. Saya tidak pernah menyentuh server utama di luar batas otoritas saya!"

"Simpan pembelaan Anda untuk di ruang interogasi," sahut komandan itu dingin. Ia berbalik arah. "Seret dia."

"Carson! Carson!" seru Avnan, ia bingung harus berbuat apa saat melihat tubuh Carson didorong paksa oleh dua petugas bersenjata untuk berjalan mengikuti langkah sang komandan. "Pak! Tolong periksa lagi datanya! Carson! Aku akan laporkan ini ke Profesor Malikh! Bertahanlah dulu!"

Carson tidak menyahut. Dengan kepala tegak namun hati yang berkecamuk hebat, ia diseret menyusuri koridor dingin sektor militer. Di dalam kepalanya, bukan keselamatan nyawanya sendiri yang ia takutkan, melainkan satu hal, jika ia tidak kembali malam nanti, bagaimana nasib Nezha dan rahasia yang susah payah mereka sembunyikan?

1
Rudy satria
kapan avnan di rekrut jadi anggota tim cari jalan kapur carson,jangan lama²😅
Rudy satria
semoga carson bisa menemukan jalan keluar,supaya kita bisa ketemu emm tapi kalo udah keluar jangn ke negara Konoha ya carson pemerintah nya sama,sama² menindas rakyat🤭🤭
ririma: waduh, kayaknya carson juga bakal mikir dua kali kalau mau pindah ke sana kak😅
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir bg
Rudy satria
mudah²n kalo
i ini panglima berbuat baik
Rudy satria
semakin kuat kalo avnan mau di ajak gabung,hancurkan negara yang memiliki peraturan di luar loh 😅😅😅
Rudy satria
iiih ternyata teman👏👏
ririma: yeayy👏🏻
total 1 replies
kabur ke luar negeri aja🤭
berati udah gak ada lagi hiburan model gituan, hambar banget idupnya, apa maen sendiri juga bakal kena pasal?🤭
berati orang-orang di sini gadak yang nikah juga kah?
ririma: yap,,
total 1 replies
jadi buron dong ya
ririma: iya kalau ketahuan tapi kak, untungnya sejauh ini masih aman kak
total 1 replies
wkwk, baru juga pembukaan🤭
halo kak, aku mampir🤭
Rudy satria
nah bylla itu penuh misteri yang tak terduga,mudah²n si dia kekasih avnan,mereka berempat kalo bersatu bisa semakin kuat dan mungkin mereka bisa menembus pertahanan pemerintah
Rudy satria
mudah²n si itu bylla,dan juga mudah²n bylla mendukung dan tidak menangkap Nessa+carson
Rudy satria
👏👏🥳🥳keren, sebelum nya saya slalu baca yang retingnya sudah tinggi atau pembacanya banyak itu di pastikan bagus,nggk sengaja ngeklik novel yang mungkin author nya baru merintis sungguh karyamu keren Thor semoga saya bisa ngawal sampai kamu sukses,saya yakin dengan cerita yang rumit saja bisa di pahami saya yakin kamu bakal sukses semangat terus Thor🥰🥰🥰🥰
ririma: maaf kak, irl lagi sibuk soalnya, sekarang uda up kok, bisa langsung di cek yaa😊
total 3 replies
Rudy satria
benar² pejabat yang kurang teliti pantes gampang di tipu,selamat carson semoga bisa dapat jalan keluar👏👏
Rudy satria
astaghfirullah ikut deg,deg,degan aku,untung komandan militernya masih keturunan Konoha jadi bisa di tipu😅😅😅
Rudy satria
apakah panglima,beneran percaya atau malah sudah menuju apartemen carson
Devi..
seru dan unik ceritaanya thor..semoha bisa berlanjut smpai selesai ceritanya😊
ririma: terima kasih banyak kak🥰, aamiin semoga ya kak
total 1 replies
Devi..
serius kyk d konoho TNI.nya diistimewakan..😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!