Masih dalam area bacaan 25 tahun ke atas.
Apa yang terjadi ketika masa pubermu datang, dimana secara psycologi kamu masih labil.
itulah yang dialami seorang pemuda, ketika dalam mencari jati diri, Barno hanyut dalam lingkungan kehidupan yang mengarahkan nya ke petualangan cinta, yang di penuhi gejolak batin.
Dua wanita yang termasuk sepupunya sendiri, Ia terjebak dalam perasaan.
**************
Barno hanya diam, bingung mau menjawab apa. Ia tidak menyangka kalau Suhut akan menagih janjinya beberapa hari yang lalu. Semua itu berawal dari kekesalannya akibat ejekan temannya itu, yang menyatakan kalau dirinya adalah pria cupu dalam hal bergaul dengan wanita.
"Hei, gimana? Kau bilang sudah punya pasangan bebas kemarin. Jadi nggak kita tukar pasangannya," tanya Suhut dengan bibir menukik kebawah, memancarkan sebuah ejekan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uncle Jo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
&&@&@&@&@&&@
Setelah pulang kuliah Barno langsung pulang kerumah. Keadaan rumah kosong karena Butet masih bekerja, dan pulang sekitar jam 16:30 sore nanti. Setelah mengganti pakaian, Barno pun makan siang, setelah itu ia menonton tv sambil berbaring di sofa, hingga akhirnya ia ketiduran.
Sekitar jam empat sore Barno terbangun. Ia pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena masih jam empat sore, berarti Butet masih belum pulang. Karena merasa sendirian saja di dalam rumah, Barno pun dengan santai keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat, ia menuju kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. .
Akan tetapi, ketika Barno menuju kamarnya yang melewati ruang tengah. Ia terkejut ketika melihat Anggi berdiri tepat menghadapnya dengan mata melotot.
"Aaaaaaaaa…! Apa yang kau lakukan? Kenapa pula kau keluar telanjang bulat!" jerit Liana sambil menutup matanya dengan tangan, wajahnya ia palingkan ke arah kiri.
"Ini, kan rumahku! Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini, kenapa pula kau masuk tanpa suara?" bentak Barno tak mau kalah sambil menutupi tubuhnya bagian bawah dengan handuk
"Tapi apa kau harus telanjang di rumahmu sendiri, Setaaaan!" Liana mengumpat seraya mengintip dari celah jari-jarinya.
"Ya nggak lah kampret. Ini karena rumah lagi kosong aja. Mana kak Butet, kenapa cuman kau yang ada di sini?" tanya Barno dengan nada tinggi.
"Oh, dia lagi ngobrol dengan seseorang di luar. Aku juga tidak tau siapa orang itu!" jawab Liana menoleh ke arah luar jendela.
"Aku tidak berpikir kalau kau bakalan datang ke sini!" ucap Barno kesal.
Saat Liana kembali berpaling ke arah Barno, tiba-tiba mata gadis itu melotot ke arah selang-kangan Barno, dimana pusaka antik milik sepupunya itu menonjol di balik handuk.
"Pu–punya kau i–tu!" Liana berubah menjadi gagap melihat tonjolan di handuk Barno.
Sadar kemana arah mata Liana memandang, Barno pun langsung memeriksa ke bawah, dan ia sungguh kaget melihat benda di antara pahanya menonjol. Tidak ingin jika Liana sampai berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya. Barno pun panik, dan berteriak kepada gadis itu sambil berlari menuju kamarnya.
"A–apa yang kau pikirkan. Ini bukan karena kau. Ini hanya karena aku baru mandi!"
BRAK!
Brano langsung menutup pintu kamarnya dengan kuat, lalu menyandarkan punggungnya di pintu kamar. Ia begitu kalut karena takut jika Liana berpikir, kalau miliknya itu menonjol karena melihat dirinya. Jika memang seperti itu, Barno merasa sangat malu jika nanti harus bertemu dengan sepupunya itu lagi.
"Arrrgggghhhh! Kenapa jadi kayak gini, sih!"
Hingga sampai malam tiba, semenjak kejadian keluar dari kamar mandi, Barno masih berada di dalam kamar karena Liana masih belum pulang. Ia tau itu karena dengan jelas masih mendengar suara sepupunya itu tertawa bersama Wina. Namun, beberapa saat kemudian, suasana di ruang tengah terasa hening, tidak ada lagi suara tawa dan canda. Karena merasa haus, Barno pun keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.
Keheningan ternyata tidak selamanya menggambarkan kesunyian. Yap. Saat Barno keluar dari kamar, ternyata Liana masih berada di ruang tengah, Gadis itu yang memakai atasan tanktop kaos dan bawahan rok pendek, duduk di sofa menonton sebuah drama percintaan. Kedua lututnya ditekuk ke perut, sehingga ketika Barno keluar dari kamar dan berjalan melewatinya, dengan jelas melihat celana da-lam gadis itu. Sadar kemana mata Barno melirik, Liana pun langsung menurunkan kedua kakinya dengan wajah kesal, bibirnya juga mengerucut.
Barno yang menyadari kalau dirinya ketahuan sedang melirik celana dal-am, langsung berpaling dan dengan santai berjalan menuju kulkas. Setelah mengambil air mineral, Barno langsung meneguk. Akan tetapi, matanya kembali melirik ke arah Liana yang sedang tertawa, dan ia menyadari betapa sepupunya itu terlihat cantik ketika tertawa.
Setelah selesai minum, Barno kembali masuk ke kamarnya dan melewati Liana dengan wajah cuek. Interaksi yang begitu dingin tercipta diantara mereka, dan itu benar-benar terasa canggung. Rasa kantuk kini telah hilang, semua itu karena wajah Liana yang tersenyum manis, dan juga tertawa lepas menari-nari di kelopak matanya.
"Arghh. Aku rasa aku sudah gila. Kenapa pula aku bisa terbayang dengan wajahnya. Arggghhh … kampret!" batinnya.
Kemudian Barno pun teringat dengan suara des-ahan yang terdengar ketika Suhut meneleponnya, sewaktu ia berada di motel bersama Erna. Ingatan itu membuat pikirannya semakin kacau, dan hatinya pun selalu bertanya-tanya. Apa benar Suhut telah melakukan s3xs bersama Liana?
Semakin ia memikirkan hal itu, akal sehatnya pun semakin kacau, sesuatu yang tidak seharusnya ia pikirkan, tiba-tiba muncul dalam benaknya. Barno mulai kepikiran, bagaimana rasanya jika ia bisa melakukan hubungan s3xss dengan Liana, hayalannya itu pun menimbulkan rasa penasaran dalam hatinya.
#&@&@&@&@&&@
*Argon* , kurus panjang, susan 🙏🙏🙏