Tiara lestari, seorang gadis desa yang baru merantau ke kota terpaksa menerima perjodohan menggantikan Shasa; sepupunya hanya karena kekonyolan Shasa yang tidak ingin di jodohkan dengan laki-laki yang di rumorkan mempunyai paras buruk dan sakit sakitan.
Satu minggu berada di kota situasi Tiara mulai sulit, bersekolah di SMA elit bersaing dengan murid berprestasi, dia harus bisa menggeser posisi Trisakti sekolah demi mendapatkan beasiswa ke jenjang sarjana.
Situasi makin rumit, tiga orang yang harus ia kalahkan; Jonathan ternyata seorang ketua Osis yang selalu bersikap baik padanya, Shasa; wakil ketua Osis sang sepupu yang selalu membencinya. Dan yang terakhir, Kenzo; si brandal sekolah orang itu tidak lain tunangannya sendiri yang indentitas aslinya tidak di ketahui murid yang lain, bahkan pertunangan merekapun sama sama di rahasiakan.
Akan seperti apa jadinya jika Shasa mengetahui kalau lelaki yang di jodohkan dengan Tiara sebenarnya adalah teman sekolahnya yang ia sukai?
Bisakah Tiara mendapatkan beasiswa tanpa mempengaruhi perjodohannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau memilih ku?
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Matahari sudah mulai bersinar menyinari celah celah gorden kamar yang di tempati Tiara.
Gadis itu benar benar terlelap dalam tidurnya.
"Emmm..."
Tiara menggeliat, membuka mata perlahan, mulai mengitari ruangan sampai kini benar-benar tersadar.
"Astaga. Aku ketiduran dari kemarin."
Tiara bangkit, malu bukan main. Bagaimana bisa dia tertidur sampai nyenyak seperti itu. Dan lebih parahnya lagi dia tidur di rumah orang lain.
"Paman pasti akan sangat marah karena kelakuan ku."
Tiara sudah turun dari tempat tidur, langsung melihat keadaan mencari tas dan seragamnya untuk bergegas pulang.
Cklek
Tiara membuka pintu kamar dengan perlahan, mulai keluar melihat ke sekitar mencari keberadaan Ze untuk pamit dan meminta maaf.
"Non Tiara sudah bangun, ayo Non! Ibu dan bapak sudah menunggu Non di meja makan."
Salah satu pelayan mendekati Tiara, langsung mengajak Tiara untuk sarapan bersama.
Sesuai perintah majikannya.
"Hei sayang, sudah bangun, sini duduk kita sarapan, Nak!"
Ze langsung menyapa Tiara, langsung menarik kursi kosong di sampingnya.
Agar gadis itu duduk di sana.
"Tante, Pak. Maaf atas ketidak sopan nan ku, dan terima kasih. Sepertinya aku harus segera pulang, Tan."
Bukannya menghampiri Ze untuk sarapan. Tiara malah terus berbungkuk untuk meminta maaf. Sungguh, kejadian kemarin di luar kendalinya. Jika mengingat nya Tiara sampai malu. Bisa-bisanya dia menangis tersedu-sedu di pelukan Ze. Seorang wanita yang bukan siapa-siapa nya.
"Tidak apa-apa, sayang. Kau adalah bahagia dari keluarga kita, jangan buru-buru pulang. Ayo sarapan dulu sini."
Ze kembali mengajak Tiara.
Tiara sampai tertunduk malu mendengar perkataan Ze, yang jauh dari kenyataan nya.
"Tan, Aku bukan lagi bagian keluarga ini. Aku harus tahu diri sebelum paman benar-benar memarahi ku."
Tiara hanya bisa bicara dalam hati, dia harus segera pulang karena sudah merasa tidak pantas lagi untuk berada di sana.
"Sini!"
Ze kembali berurusan mengajak, tapi Tiara masih diam tidak ada pergerakan.
"Tidak perlu memaksakannya, mungkin dia benar-benar mau pulang."
Kenan meraih tangan Ze, berbisik agar istrinya tidak terlalu memaksa Tiara.
"Dia ingin pulang pasti karena merasa kita tidak akan mengakuinya, Mas. Aku harus mengajaknya ke sini."
Ze masih kukuh, dia bahkan mau beranjak berdiri, tapi Kenan dengan cepat mencegahnya.
"Sayang, biar Kenzo yang menjelaskannya. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Bisa-bisa Tiara tertekan karena kita."
Ze mengerti, dia pun duduk kembali, pas sekali, Kenzo juga baru terlihat turun untuk ikut sarapan bersama.
"Kenapa masih diam? Ayo!"
Kenzo langsung mengajak Tiara untuk bergabung dengan orang tuanya.
"Aku harus segera pulang, apa kau tahu di mana tas, sepatu dan seragam ku?"
Tiara bertanya dengan begitu pelan. Semakin lama dia di sama, akan semakin sakit pula hukuman yang akan di terimanya.
"Sarapan dulu, nanti aku akan mengatur mu pulang."
Kenzo masih kukuh, dia sampai mau meraih tangan Tiara, tapi Tiara dengan cepat menghindarinya.
"Akh, kenapa kau keras kepala sekali."
Kenzo makin jengkel. Kenapa Tiara tidak mau menurutinya. Tiara malah memasang wajah ketakutan seolah ada sesuatu yang di sembunyikan nya.
"Aku benar benar harus pulang, Ken. Bisa kau ambilkan barang barang ku?"
Tiara kembali meminta bantuan, tolong lah untuk kali ini dengarkan permintaannya. Karena semakin Kenzo mencegahnya, semakin sakit pula hatinya karena bergelut dengan ancaman Shasa.
" Sini! Kau ingin barang barang mu kan?"
Kenzo melangkah pergi, mengajak Tiara agar gadis itu mengikutinya.
Sebenarnya dia bukan ingin memberikan barang Tiara, dia hanya ingin bicara berdua dengan Tiara tanpa di lihat kedua orang tuanya.
Kenzo berhenti, dia langsung berbalik menatap Tiara dengan penuh tanya.
"Kenapa kau menghindari ku?"
Kenzo langsung bertanya, dia benar-benar ingin tahu apa sebenarnya alasan Tiara.
Apa benar karena dia tidak nyaman bersamanya, atau ada seseorang yang menekan nya.
"Aku tidak menghindari mu. Aku menjalani hidup yang memang seharusnya begitu."
Tiara langsung tertunduk, dia tidak ingin mata mereka saling bertemu. Dia tidak pandai berbohong dan menyembuhkan sesuatu.
"Kau tunangan ku, seharusnya kau tidak menghindari ku."
Kenzo kembali bersuara. Berbicara seolah Tiara tidak sepantasnya mengabaikan nya.
"Bisakah kau jangan mengungkit tentang pertunangan, kau sendiri yang bilang akan memutuskan hubungan ini, kenapa sekarang kau terus membahasnya. Aku sudah menganggap pertunangan ini tidak pernah terjadi."
Tiara bicara dengan begitu lirih, itu semakin menyakitinya, di saat dia harus mengakhiri nya, Kenzo malah terus membahasnya.
"Semudah itu kau mengatakan itu? Asal kau tahu, aku akan tetap menganggap mu sebagai tunangan ku."
Kenzo kembali menegaskan. Terserah apa yang Tiara katakan, dia tidak akan melepaskannya. Dari pada dia bertunangan dengan Shasa.
"Stop, Ken. Bisakah kau jangan terus membahas ini. Semakin kau terus begini aku akan semakin terluka. Jadi bisakah kau tidak membahas pertunangan lagi. Kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa."
Tiara sampai meninggalkan suaranya.
Semakin Kenzo mengakuinya itu terasa semakin sakit karena pada akhirnya Kenzo harus bertunangan dengan Shasa bukan dengan dirinya.
"Kenapa?"
Kenzo berusaha bertanya. Dari tadi perkataan Tiara terus berbelit-belit, dia tidak bisa menyimpulkan apa sebenarnya yang membuat dia menghindarinya.
"Kau tidak akan mengerti, kau hanya cukup menghindari ku saja."
Tiara menjawab datar, dia tidak bisa mengatakan kalau keluarga pamannya lah yang menyuruh dia menghindarinya.
"Iya aku tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi, makanya kau harus menceritakan semuanya pada ku. Agar aku bisa sedikit lebih mengerti tentang diri mu."
Kenzo semakin mendesak Tiara, dia tidak tega melihat Tiara menanggung kesedihan nya seorang diri, walau terkadang dia membenci Tiara tapi dia masih punya hati, dan ingin membantunya.
"Sudahlah, Ken. pembicaraan ini tidak perlu di perpanjang, aku harus segera pulang."
Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan, semakin Kenzo peduli padanya semakin sakit pula hatinya karena lelaki itu tidak akan bisa terus mempedulikannya.
"Apa itu karena, Sahsa?"
Kenzo berusaha menebak, dia akan terus bicara sebelum Tiara membuka kebenarannya.
Setelah tahu kalau Shasa putrinya Pak Arya dia bisa langsung tahu kalau Shasa pasti ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi pada Tiara. Sampai wanita itu terus berusaha menghindarinya.
"Kau sudah mengetahuinya?"
Tiara kaget, dia langsung menatap Kenzo untuk memastikan. Jika Kenzo sudah mengetahuinya, pamannya pun pasti sudah membicarakan semua keinginannya.
Dia benar benar malu jika harus terus di sana.
"Iya, aku tahu. Aku tahu kalau putri Pak Arya adalah Shasa."
Kenzo langsung menjawab, melihat reaksi Tiara yang begitu kaget dia bisa langsung tahu kalau Shasa lah penyebab nya.
"Syukurlah kalau kau sudah mengetahuinya. Aku tidak perlu repot-repot untuk menjauhi mu, karena kau juga pasti tahu kalau Shasa lah yang lebih pantas bertunangan dengan mu."
Tiara sampai menundukkan kepalanya. Tersenyum ketir mengatakan semua faktanya.
Suaranya sampai begitu lirih, dia memang seharusnya tidak pantas berada di sini.
"Ikuti aku!"
Kenzo langsung menarik tangan Tiara, membawanya menaiki tangga menuju kamarnya berada. Dia tidak terima mendengar perkataan Tiara, apa semudah itu dia melupakan pertunangan dengan nya?
"Hei, apa yang akan kau lakukan?"
Tiara sampai kaget, Kenzo terus menariknya tanpa tahu mereka mau ke mana.
Brakk....
Kenzo membuka pintu kamar nya dengan begitu keras, melepaskan tangan Tiara dan dia menuju sebuah lemari untuk mengambil sebuah kotak cincin dari lacinya.
Kenzo kembali menghampiri Taira, tanpa pikir panjang dia langsung meraih tangan Tiara dan memasangkan cincin itu di jari manisnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Tiara benar benar kaget. Bukannya itu cincin yang waktu itu Pak Kenan berikan, kenapa semudah itu Kenzo memasangkan cincin itu di jari manisnya.
"Jangan pernah melepaskan ini, apapun yang terjadi, kau adalah tunangan ku, tidak ada wanita lain yang bisa mengambil ini dari mu."
Kenzo bicara dengan begitu tegas. Dia sudah hampir gila, dia sendiri tidak sadar apa yang di lakukan nya. Yang jelas dia hanya ingin mengikat Tiara agar gadis itu percaya kalau dia akan memilih nya.
"Ken?"
Tiara tidak percaya, dia langsung menatap Kenzo dengan penuh pertanyaan. Benarkah dia akan mempertanggung jawabkan apa yang dia katakan. Atau Kenzo hanya sekedar mengerjai nya.
"Aku memang tidak bisa memberikan cinta, tapi aku akan berusaha untuk menjaga mu."
Kenzo bicara sambil memalingkan muka, kenapa dia merasa geli sendiri mengatakan itu di depan Tiara. Jujur dia mengakui Tiara sebagai tunangannya bukan karena apa-apa, dia hanya merasa Iba saja padanya.
Tiara langsung menunduk melihat cincin yang tersemat di jarinya. Walau masih banyak kegelisahan, tapi dia begitu bersyukur Kenzo mau ada untuknya.
"Terima kasih banyak."
Tiara bicara dengan lirih, dia juga tidak terlalu berharap lebih, bisa mendapatkan perhatian Kenzo saja itu sangat beruntung bagi nya.
Walau tidak tahu akan terjadi hal apa untuk kedepannya.
"Ayo turun, kita sarapan dulu. Jangan terus menanyakan di mana seragam mu, karena seragam mu sudah aku buang."
Kenzo kembali mengajak Tiara keluar, dia berjalan terlebih dulu agar Tiara mengikutinya. Untung saja Tiara tidak menyadari isi kamar nya yang begitu berantakan. Kalau tidak itu pasti akan menjadi bahan ledekan nya.
"Apa? Kau membuang seragam ku."
Tiara kaget, Tiara sampai cemberut, kesal sendiri lelaki itu masih terlihat biasa saja dengan ekspresi tanpa dosa walaupun sudah membuang seragam nya.
"Jangan terkejut seperti itu, hanya sebuah seragam saja kau terlihat seperti kehilangan nyawa mu."
Kenzo menggerutu, memasang senyum kecil melihat ekspresi Tiara. Tiara yang menjengkelkan dan selalu sesukanya padanya kini kembali terlihat jelas di guratan wajahnya.