Atas dorongan nenek Ari menikah lagi dengan Dilla wanita pilihan nenek. Namira rela dimadu karena belum bisa memberikan keturunan untuk Ari. Bahkan, pernikahan itu berlangsung di depan matanya.
Kehadiran Dilla merubah rumah tangga mereka, sejak hari itu Namira berbagi cinta dengan madunya, meskipun Ari berusaha berlaku adil namun tetap saja menyisahkan luka di hati kedua istrinya.
Bukan hanya cinta Ari yang berusaha dipertahankan, gelar seorang ibu dari bayi yang lucupun menjadi rebutan.
Sampai kapan Namira dan Dilla tinggal di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hargai Keputusanku
Namira lupa, ntah kapan terakhir kali ia bisa tidur nyenyak, ntah kapan terakhir kali tangan kokoh ini melingkari pinggangnya, mendekap tubuhnya hingga malam tadi ia tidak merasa kedinginan. Namira yang awalnya pura-pura tidur ternyata benar-benar terlelap larut dalam mimpi dan ketika membuka mata dilihatnya wajah Ari berada sangat dekat dengannya. Rahang tegas ini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus, biasanya Namira yang selalu cerewet agar suaminya ini membersihkan wajahnya. Kini, Namira sudah tidak mau mengomel lagi. Biarlah, ada istri lain yang akan memerdulikan dan mengurus suaminya, toh selama beberapa bulan ini Ari sudah terbiasa tanpanya.
Kelopak mata Ari sudah bergerak menandakan ia mulai terjaga dari tidurnya. Namira tidak siap melihat Ari keluar dari kamarnya. Akhirnya Namira cepat-cepat memejamkan mata lagi. Pura-pura tidur seperti semula, berharap Ari tidak tahu kalau ia sudah bangun lebih dulu.
Ari mengerjapkan mata, tersenyum melihat Namira masih tidur di dalam dekapannya. Ternyata malam tadi ia tidur di dalam kamar istri pertama. Ari membelai rambut halus Namira lalu mengecup keningnya dengan sayang. Kemudian mengendurkan pelukan lalu turun dari tempat tidur.
"Mas mencintaimu, sangat...." Ari menyelimuti Namira sebatas dada lalu meninggalkan Namira sendirian.
Suara pintu kamar dibuka dan ditutup kembali menyadarkan Namira kalau suaminya itu sudah keluar dari kamarnya, ia membuka mata, menyingkap selimut dan duduk bersandar di tempat tidur.
"Kamu yang meninggalkan aku, mas... kamu yang membuat jarak diantara kita. Kamu yang menginginkan semua ini, kamu yang tidak peka membuat aku harus menjauh perlahan. Aku di sini melihat, merasakan, menahan, menerima apapun yang terjadi di rumah ini. Tapi, tidak ada yang menyadari, tidak ada yang perduli kalau aku juga butuh ketenangan dan ingin menyendiri."
Masih terlalu pagi tapi, Namira sudah turun dari tempat tidur dan mengambil koper kemudian memasukkan beberapa pakaiannya.
Di kamar lain.
Ari sempat panik tidak melihat Dilla di kamar, hingga ia mendengar suara Dilla di kamar mandi, dilihatnya Dilla berdiri memuntahkan sesuatu dari perutnya.
"Masih mual?" Ari memijit cengkuk leher dan punggung Dilla.
Dilla menggeleng lemah.
"Tidurmu pasti nggak nyenyak, anak kita nakal kalau nggak ditemenin papanya," ucap Ari.
Dilla tersenyum
"Sudah lebih baik?" tanya Ari, ia membersihkan mulut Dilla dengan handuk kecil yang basah.
"Maaf aku terlalu merepotkan Mas Ari," ucap Dilla lirih.
"Sudah jadi kewajibanku, kamu tidur lagi ya!" Ari menggendong Dilla dan membawanya kembali ke tempat tidur, meletakkan bantal di punggung Dilla dan memastikan istrinya duduk dengan nyaman. "Tunggu di sini, aku ambilkan air hangat di dapur," ucap Ari.
Dilla mengangguk. "Makasih, Mas...."
Begitu Ari keluar kamar ia terkejut melihat Namira keluar kamar menarik koper warna biru miliknya, istrinya itu buru-buru menuruni anak tangga. Sontak Ari mengejar dan meraih pergelangan tangan Namira.
"Mau ke mana?" Ari merebut koper Namira tapi, istrinya ini tidak mau melepaskannya.
Namira pun terkejut, karena terlalu buru-buru ia tidak melihat keadaan sekitar hingga tidak tahu kalau Ari pun keluar dari kamar Dilla.
"Lepasin, aku mau pergi!"
"Pergi?" Ari gelisah melihat tatapan Namira lebih tajam dari biasanya. "Pergi ke mana bawa koper sebesar ini? Lagipula ini masih terlalu pagi, sayang. Jangan bercanda!"
"Aku serius, Mas! Aku mohon biarkan aku pergi. Aku butuh ketenangan, aku butuh kedamaian, aku butuh kenyamanan, aku butuh hari-hariku yang sudah lama hilang!" Tanpa sadar, Namira mengeraskan suaranya, ini untuk pertama kali ia tidak mau mendengarkan Ari.
Ari tercengang mendengarnya, tangannyapun mengendur sampai melepaskan tangan Namira. Ucapan Namira terasa seperti ribuan jarum yang menancap di hatinya.
Ari meraih kedua bahu Namira.
"Ini tempatmu, rumah kita, semua yang kamu butuhkan ada di sini. Bersamaku seperti pertama kali kita melangkahkan kaki di rumah ini. Tidak ada yang hilang, sayang...."
Namira tersenyum sinis. "Tidak ada yang hilang tapi, semua sudah berubah Mas. Rasa itu tetap ada tapi untuk orang yang berbeda." Namira mengerjapkan mata berusaha menahan air matanya.
"Apa karena Dilla?" tanya Ari, suaranya hampir tidak terdengar.
Namira menggeleng pasti. Bagaimana bisa ia menyalahkan Dilla sementara dari awal ia setuju suaminya menikah lagi. Padahal, sedari awal ia sudah tahu resiko berbagi cinta. Semua ini akan terjadi karena sejatinya tidak ada wanita yang mau berbagi. Tapi, atas nama cinta Namira melakukan itu dan cinta itu juga yang sudah menyakitinya.
"Aku pergi, Mas...." Masih satu langkah tiba-tiba kopernya sudah berpindah tangan.
Ari menghempaskan koper Namira sampai membentur dinding kamar Dilla. Wajah dan matanya memerah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat.
Namun, nyali Namira tidak menciut sedikitpun, ia tetap membalas menatap mata suaminya.
"KAU tidak bisa pergi tanpa ijinku!!!" Ari benar-benar marah, ia mencengkram tangan Namira dan menariknya sampai Namira tergesa-gesa mengikuti langkahnya.
"Hargai keputusanku, Mas...!"
Tangan Ari yang sudah memegang kenop pintu kamar Namira mengendur, ia berbalik arah melihat Namira.
"Aku selalu menghargai keputusanmu, bukan? Aku selalu menghargai keputusan nenek yang menyakitkan, meskipun kamu bilang cintamu hanya untukku tapi, demi kebaikan aku tetap berusaha membujuk dan mendekatkan kalian sampai cintamu benar-benar terbagi! Selama aku tidak pernah minta apapun tapi, hari ini kumohon hargai keputusanku!"
Ari kehilangan kata-kata, genggamannya mengendur membuat Namira mudah melepaskannya.
Dilla terkejut mendengar keributan di luar kamar memutuskan mencari sumber suara, ia pun terdiam mendengar pembicaraan antara suami dan istri pertamanya.
"Jangan pergi, Mbak," ucap Dilla dari ambang pintu kamar.
Suara Dilla memutuskan pandangan Ari dan Namira. Tanpa bicara apapun lagi Namira meraih koper miliknya.
"Bukankah Mbak juga menantikan anak ini?" Dilla masih berusaha mencegah Namira. "Kenapa kehadirannya malah membuat mbak pergi dari rumah?"
Namira menghembuskan napas panjang, lalu melihat Dilla. "Tidak ada hubungannya dengan anak itu, justru aku bahagia dengan kehadirannya. Hanya saja saat ini aku memang butuh waktu untuk sendiri. Kamu jangan khawatirkan apapun, tetap fokus menjaga kandunganmu. Jangan takut karena aku tahu Mas Ari selalu ada 24 jam untukmu."
Sebelum pergi Namira memeluk Dilla, ntah seperti apa hatinya saat ini, cemburu, gelisah, bahagia semua masih bercambur di hati.
Dilla pun begitu, ia bahkan menangis dan menyalahkan diri sendiri.
"Anak ini anak Mbak juga...."
"Aku tahu, kuharap kalian terima keputusanku ini. Aku hanya ingin sendiri sebentar saja...."
Namira melepaskan pelukannya, ia tidak mau melihat Ari karena takut cinta ini menahannya lagi.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Ari melihat punggung Namira semakin mengecil di matanya.
***
Semua akan indah pada waktunya😢🙏🤗
makasih kak thor dalam penulisan nya 😘😘