Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : DEWAN TIKUS TANAH
Ruang Sidang Utama kediaman Ouroboros tidak pernah dirancang untuk terasa hangat. Ruangan melingkar yang terletak di jantung bangunan ini hanya diterangi oleh lampu gantung antik berukuran raksasa, dikelilingi oleh dinding kayu gelap yang meredam suara.
Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari batu granit hitam menjadi pusatnya. Enam orang pria paruh baya—para Elder yang mengendalikan faksi logistik, keuangan, dan wilayah hukum organisasi—telah duduk di kursi masing-masing.
Di kursi tertinggi, Sang Ayah bersandar dengan ekspresi yang sulit dibaca, sementara Elara berada di sisi kanannya, didampingi Dante yang berdiri tegak di belakang kursi wanita itu.
Julian Vance duduk agak jauh di sudut, mengamati konstelasi kekuasaan ini tanpa suara.
"Kita di sini hari ini untuk membahas kekosongan mendadak di sektor barat," Elder Silas memulai pembicaraan, suaranya parau dan bergetar karena usia. Ia adalah kepala logistik tertua dan sekutu terdekat Adrian di masa lalu. "Adrian telah dicopot dari jabatannya tanpa sidang dewan. Kami menuntut penjelasan."
Elara memainkan jemarinya di atas permukaan meja. "Penjelasan yang Anda butuhkan, Elder Silas, sudah membusuk di dalam tanah dermaga barat bersama dengan jasad geng rival yang mencoba merampok kita."
"Adrian adalah putra organisasi ini!" potong Elder Marcus, pria bertubuh gempal yang menguasai jalur penyelundupan maritim. Ia menggebrak meja kecil di dekatnya. "Dia yang menumpahkan darah di lapangan sementara Anda, Nona Elara, hanya duduk di kamar yang nyaman. Menghukumnya menjadi pelayan bawah tanah tanpa persetujuan kami adalah penghinaan terhadap jasa-jasanya!"
"Jasa?" Elara menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis yang dingin terukir di wajahnya. "Apakah menjual cetak biru perimeter pertahanan barat kepada musuh sekarang disebut sebagai 'jasa' di dalam Ouroboros, Elder Marcus?"
Ruangan itu seketika menjadi senyap. Beberapa Elder saling pandang dengan cemas.
Elder Silas berdeham, mencoba mencairkan suasana. "Kami tidak melihat bukti nyata. Rekaman audio atau diska lepas bisa saja dimanipulasi. Kita semua tahu pengawal pribadimu, Dante, memiliki kemampuan untuk menjebak siapa saja. Bisa jadi ini hanya taktik kotor untuk mengamankan posisi Anda sebagai pewaris tunggal."
Mendengar namanya disebut dalam konspirasi, rahang Dante mengeras. Tangannya bergerak di dalam jas, namun ia mencoba untuk tetap diam, menunggu perintah dari Elara.
Julian yang menyaksikan dari sudut ruangan menumpu dagunya dengan tangan.
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬, batin Julian.
𝘗𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘨𝘪𝘵𝘪𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘌𝘭𝘢𝘳𝘢. 𝘊𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘯𝘦𝘬𝘢𝘵.
Elara tidak tampak terkejut. Ia justru menoleh ke arah Dante, memberikan isyarat mata yang sangat halus.
Dante melangkah maju ke area terang lampu gantung, lalu melemparkan sebuah folder tebal berisi cetak data, mutasi rekening rahasia dan log komunikasi satelit langsung ke tengah meja. Dokumen itu mendarat tepat di hadapan Elder Silas.
"Itu adalah aliran dana dari rekening cangkang milik geng rival yang masuk ke rekening luar negeri atas nama Adrian, dua jam sebelum penyerangan," suara Elara mengalun tenang.
"Dan kalau Anda buka halaman tiga, Anda bisa lihat nomor enkripsi yang dipakai Adrian untuk menghubungi informan musuh. Nomor itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang milik Anda sendiri... Elder Silas."
Skakmat.
Wajah Elder Silas yang tadinya kemerahan karena amarah langsung berubah pucat pasi. Tangannya yang keriput gemetar saat menyentuh kertas-kertas tersebut.
"K-Kau... ini fitnah!" gagap Silas, menoleh ke kanan dan kiri untuk meminta dukungan. Namun, para tetua yang lain mendadak memalingkan wajah, tidak ingin ikut terseret ke dalam jurang pengkhianatan. "
"Aku tidak pernah membawa senjata ke ruang sidang ini, para tetua yang terhormat," ucap Elara, suaranya merendah, penuh dengan ancaman. "Karena bukti yang aku bawa jauh lebih mematikan daripada peluru. Adrian tidak mati, karena aku masih berbaik hati menyisakan napasnya untuk bekerja sebagai budak organisasi. Tapi jika ada di antara kalian yang ingin menggantikan posisinya di sayap bawah tanah..."
Elara sengaja menjeda kalimatnya, menatap satu per satu mata para tetua di depannya.
"...pintu bawah tanah selalu terbuka lebar."
Tidak ada satu pun Elder yang berani bersuara. Bahkan Elder Marcus yang tadi menggebrak meja kini menundukkan kepalanya.
Sang Ayah, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya mematikan cerutunya di asbak perak. Ia berdiri, membuat seluruh Elder otomatis menegakkan tubuh mereka.
"Keputusan Elara adalah keputusan organisasi," suara Sang Ayah menggelegar dingin, menutup semua ruang diskusi. "Sektor barat kini sepenuhnya berada di bawah kendali Elara. Pertemuan selesai."
Para Elder bergegas meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, menyadari bahwa struktur kekuasaan Ouroboros telah bergeser sepenuhnya ke tangan Elara.
Saat ruangan mulai kosong, Julian Vance bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati Elara yang masih berdiri di dekat meja.
"Pertunjukan yang luar biasa, Nona Elara," Julian tersenyum miring, matanya melirik Dante yang berada di belakang Elara. "Anda memotong kepala ular yang mencoba melindungi Adrian bahkan sebelum mereka sempat menggigit. Tapi ingat... ular yang terdesak biasanya akan menyemprotkan racun terakhirnya lewat cara yang tidak terduga."
Elara menoleh sekilas pada Julian. "Ular yang kehilangan kepalanya tidak akan bisa menyemprotkan apa pun, Tuan Julian. Urus saja sistem digital Anda."
Julian tertawa rendah, membungkuk hormat, lalu berjalan keluar dari ruang sidang.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..