Ongoing
Apa yang terjadi padaku ? kenapa aku tidak merasakan sakit ditubuhku.. Reini sang gadis cantik yg populer dikalangannya.
🌺🌺🌺🌺
Mengisahkan perjalanan seorang lelaki bernama Tristan yg mencari teman masa kecilnya.
Pertemuan tidak terduga pun terjadi pada sebuah universitas ternama di kota London. membuat lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yg baru pertama kali membuatnya merasa nyaman.
Apakah pertemuan itu hanya kebetulan semata atau memang mereka dijodohkan oleh sang maha kuasa.
Yuk baca terus kisah mereka!!! jangan mau ketinggalan kelucuan dan keseruan setiap peran yg ada didalamnya.
OTHOR SAYANG KALIAN ❤️😀
Jangan lupa terus dukung karya Author supaya lebih semangat lagi !!! 🙏😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAM IBU
🍀🍀🍀🍀
Dalam mobil.
Pada saat Tristan fokus menyetir mengarah ke depan, masih sempatnya Rei mencuri pandanganya terhadap Tristan. meyakinkan dirinya bahwa tampang Tristan apakah benar seperti pangeran berkuda.
Ternyata benar adanya, Tristan seperti pangeran dinegri dongeng mempunyai dada berbidang lebar pantas saja rei tetap lekat menatap Tristan.
"Khem" Rei, kau besok tidak ada acara, kan?" berdehem terlihat salting krna Rei memperhatikannya sedari tadi.
"Enggak ada... memangnya kenapa?" tanya Rei tampak sedikit malu.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
"Emm... Sepertinya tidak ada! lagian, kau kan sudah membuat surat izin untukku. mau tidak mau aku harus dirumah," hikmadnya menyadarkan Tristan.
"Oh iya! apa kau melihat ponselku?barangku juga tertinggal sepertinya dikelas," seru Rei panik merogoh bajunya.
"Nih! terjatuh ketika kau pingsan tadi. dan juga barangmu sudah aku pindahkan keruanganku..." jawab Tristan menyodorkan ponsel Rei.
"Makasih Tristan.... kau yg terbaik," antusias Rei memuji Tristan.
Saat ponselnya diberikan pada Rei dengan antusianya membuka layar kunci setelahnya melihat ada sebuah pesan masuk Gisele, liona, dan juga panggilan dari ayah.
Bergerak cepat mulai dari membuka pesan Gisele pertama kali.
*Gisele* new message
Rei, maaf aku tak memberi mu kabar sedari malam. biasalah ada urusan mendadak yg sangat penting makanya tak bisa angkat telepon mu dan juga balas pesan mu.
Hmm, kebiasaan anak ini selalu buat aku khawatir! batin Rei ngedumel.
Rei melanjutkan membaca pesan kedua.
*Gisele*
aku tadi menghubungi liona bertnya padanya kau ada dimana karna aku sudah berulang kali menghubungimu apalagi pesan tak kau gubris. liona bilang kau pingsan Rei, apa kau baik-baik saja Rei?
Tidak pakai waktu lama Rei membalas pesan gisele agar temannya itu tidak bertambah cemas.
"Kelihatannya kau sedang asyik Rei. apa ada hal yg menyenangkan?" cibir Tristan melihat Rei asyik sendiri tanpa mengajaknya.
"Em... Gisele terlalu khawatir padaku! makanya dia mengirim pesan berulang kali, ada saja tingkah anak ini...." sarkas Rei pula.
"Aku juga khawatir padamu...." timpalnya lagi menatap Rei tajam.
Kau sampah Tristan! bisa-bisanya kau cemburu pada teman wanitanya?! dalam batin memvonis dirinya.
BLUSHH
Anggap saja Rei budeg tidak mendengar apapun dari mulut Tristan, berbuat cuek lekas menatap kembali ponselnya tak ingin menggubris Tristan lagi.
Dalam sehari kemungkinan aku harus bawa oksigen! tuhan... bagaimana bisa aku kenal dengan orang ini? batin Rei sudah mulai jengah.
*Gisele*
Rei, besok hari ulang tahun mu! apa kita perlu merayakannya diluar?
Setelah membaca semua pesan dari Gisele dia mulai tersadar bahwa besok memang hari spesial untuknya, bergegas membalas langsung pesan Gisele bahwa tidak perlu merayakannya dan menolak tawaran Gisele.
"Em.. apakah kau bisa mengantarkan ku kesuatu tempat? jika itu merepotkan mu kau bisa bilang tidak," menatap Tristan memastikan jawaban darinya.
"Kemana?" balas bertanya.
"Apa kau mau mengantar ku?" saling bertanya.
"Dengan senang hati tuan putri..." selorohnya tersenyum senang.
Dimatanya seorang lelaki kaya,mapan,apalagi dosen berada di tingkat paling atas. begitu mudahnya menuruti kemauan seorang murid sepertinya.
"Kita kearah mana Rei?" melajukan mobil dengan sedang.
"Kita lurus aja, diperempatan kamu belok kanan," ucap Rei memberi pertunjuk jalan.
Perempatan jalan.
Mata Tristan tak lepas dari rerumputan adapula pohon beringin terlihat sudah tua sengaja dibiarkan berimbun, tempat yg menjadi tujuan Rei menjadi pusat perhatian Tristan memperhatikan ruas jalan.
Kenapa Rei ingin kesini?!! batinnya mengerutkan dahi.
Saat mobil berhenti diarea parkir keluar secara bersama.
"Rei, kenapa kamu ke pemakaman ini?" tanya Tristan mengamati seluruh makam.
Sempat Rei tertunduk sejenak menatap kebawah seakan tak sanggup memberi jawaban atas pertnyaan yg dilontarkan Tristan padanya, lagi-lagi Rei menarik nafas membuangnya perlahan.
"Ini tempat peristirahatan ibuku," lirih Rei menahan air mata.
Seolah Tristan mengerti akibat pertanyaannya itu membuat Rei terlihat berusaha menahan air mata. Tangan itu ingin sekali memeluk dan mendekap Rei dengan sangat erat. namun, apalah daya Tristan tak mungkin melakukan hal sembrono yg akan membuat Rei tidak nyaman padanya.
"Yuk! kita sapa ibuku," seru Rei tampak memalsukan senyum.
Bukan hanya manggut mengikuti langkah Rei dari belakang, otaknya bekerja bagaimana supaya dirinya lekas mendapatkan Rei secepat mungkin, seakan tidak bisa menunggu lebih lama lagi, tekadnya kuat untuk terus berada disisi Rei apapun yg terjadi.
Sesampainya mereka dipemakaman sang ibu, Rei dan Tristan duduk secara serentak membungkukkan badan memberi salam atas kedatangan mereka.
"Bu, ini Rei Bu... maaf Bu! Rei baru bisa datang sekarang. maafkan Rei juga yg tidak sempat membawa bunga untuk ibu..." pekiknya air mata tidak terbendung lagi.
"Ibu baik-baik saja kan Bu disana? ibu sudah bahagia kan Bu?" cerocos Rei sendiri kian air mata mengalir.
"Ini teman Rei Bu.. namanya Tristan! dia yg hari ini sudah menjaga Rei, seperti halnya ayah menjaga Rei," timpal Rei menoleh Tristan sembari menyeka air mata.
Lelaki itu tak menyangka kalau Rei berkata seperti itu didepan makam ibunya.
Apakah ada secercah harapan untukku? batinnya berharap akan menjadi nyata.
Terlepas dari lamunannya punggung badan membungkuk langsung memberi salam kepada orang yg sudah dianggapnya sebagai ibu mertua.
*A*ku berjanji akan terus menjaga Rei disampingku Bu, restui aku untuk menikahinya menjadi istriku, aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia. batinnya mengatupkan kedua tangan didada.
"Rei... bukankah kau dari New York? kenapa ibumu dimakam kan ditempat ini?" tanya Tristan setelah selesai membungkuk.
"Ibuku berasal dari negara ini, tentu saja ayh memakamkannya disini. ibu meninggal ketika aku berumur 10 tahun, aku juga dibesarkan oleh tangan ayah sendiri... kami juga beberapa kali ketempat ini untuk menjenguk ibu. terakhir kali ayah membawaku kesini setelah sampai dilondon," suara lirih menceritakan kisahnya.
Sedikit banyaknya Tristan mengetahui kehidupan Rei setelah sang ibu pergi, sekarang gilirannya untuk menceritakan kehidupannya kalau sudah mendapatkan waktu yg pas, lagipula belum saatnya dia menceritakan semua kehidupannya pada Rei ditambah belum mendapatkan hati Rei sepenuhnya.
Bentuk kepeduliannya dengan menepuk pundak Rei secara perlahan agar Rei bisa peka bahwa ada seorang lelaki yg siap berada disisinya.
"Rei... apa kau sudah puas melepas kerinduan mu?" tanya Tristan membelai rambut Rei.
"Sudah," singkatnya masih belum peka arti perhatian Tristan terhadapnya.
Mereka saling bangkit dari tempat tumpuannya dan bergegas meninggalkan area makam itu.
Saat didalam mobil.
"Tristan... terimakasih karna kau selalu membuatku merasa nyaman dan tenang walah sesaat," ujar Rei dengan tulus.
Itu sudah seharusnya kulakukan untukmu Rei. karna aku mencintai mu, aku tak ingin kau menyimpan luka di hatimu lagi. aku akan membuat kau merasakan kebahagiaan bersamaku Rei dan akan melakukan apapun agar kau tak merasa kesepian lagi. batinnya berantusias sendiri.
"Apa kita akan langsung pulang?" tanya Tristan tersadar dari lamunan.
"Iya... rumahku tidak jauh dari tempat ini. kita keluar dari sini, lalu kau ambil kekiri, jalan lurus itu akan kelihatan rumahku," ucapnya panjang lebar menjelaskan.
Bukannya mendengar arahan Rei, malah Tristan sibuk menatap wajah cantik yg dimiliki makhluk bak boneka berada didekatnya.
"Baiklah.... Rei. apa kau mau aku pasangkan lagi salt beltnya?" celetuknya pula.
"Tidak perlu! aku bisa sendiri," kelabakan memasang belt.
*C*ukup sudah! lama-lama aku bisa kena serangan jantung! Rei ngedumel dihatinya.
"Ini rei kau minum dulu." Tristan menyuguhkan sebotol air mineral.
"Dari mana kau mendapatkan air ini?" tanya Rei menerima air itu.
"Minum saja Rei..." titahnya pada Rei.
Glekk. Tanpa banyak bertanya lagi Rei menghabiskan dalam seteguk air mineral itu.
"Sudah?" tanya Tristan memastikan kembali mengamati botol air minum telah kosong.
Namun Rei tidak menjawab sepekan dari pertnyaan Tristan sudah cukup malu Rei sepanjang hari dibuat Tristan.
Rasa gemas timbul dibenak Tristan melihat tingkah Rei terpampang jelas dimatanya, seolah ingin menerkam seperti harimau melihat daging didepan mata.
............
Setibanya mereka sampai didepan pagar rumah Rei dia langsung membunyikan klakson memberi pertanda mobil akan masuk kedalam.
Pak pon bergerak secepat mungkin berlari menuju pagar dan bergegas membukanya.
Halaman rumah.
"Tristan, terimakasih sekali lagi karna sudah memberi tumpangan dan menyempatkan waktu kemakam ibuku," timpal Rei sembari sibuk membuka salt belt.
"Apa kau tidak membiarkan ku masuk? aku haus," selorohnya mencari alasan.
"Baiklah.... ayo masuk," seru Rei terpaksa terima permintaan Tristan.
TING,TONG,,, bel berbunyi berulang kali.
"Iya.... tunggu sebentar...." sahut Bik Lis dari dalam rumah.
Ceklek,,, pintu dibukakan.
"Eh, non Rei sudah pulang?" riuh Bik Lis terlihat bahagia.
"Iya bik... Rei agak lama pulangnya! karna Rei tadi ada keperluan sebentar," menjelaskan dengan hikmad.
"Loh, baju non kok beda? bukannya non tadi memakai baju kampus! dan lagi ini...." melirik orang yg belum di kenalnya.
"Iya bik... tadi Rei gak sempat mau ganti baju lagi. dan juga ini teman Rei dikampus," timpal Rei memperkenalkan wujud Tristan.
Karna dirinya sudah diperkenalkan maka dia membungkuk kan badan perlahan dengan sopan.
"Oh! iya non? Oalah... kok hanya berdiri didepan pintu! silahkan masuk tuan, non Rei..." antusias memberi jalan untuk mereka masuk kedalam.
"Bik. buatkan minum untuk Tristan ya bik..." pinta Rei sopan.
"Tuan mau minum apa? biar bibi buatkan?" tanya Bik Lis membungkuk pelan.
"Apa aja boleh bik," seru Tristan sungkan.
"Baiklah, bibi tinggal dulu ya non, tuan..." membungkuk pelan berlalu pergi.
"Tristan... silakan duduk dulu! aku mau pergi kekamar, tak apa ya aku tinggal sebentar?" ucapnya Rei pula.
"Iya... tapi jngn terlalu lama," pinta Tristan tersenyum manis.
Perbincangan selesai, Rei bergegas pergi kekamar meninggalkan Tristan diruang tamu.
"Silahkan diminum tuan tehnya..." menyuguhkan minuman pada tristan.
"Makasih bik," sungkannya.
"Sama-sama tuan..." ucap Bik Lis berlalu pergi.
Ting. new message
Terdengar bunyi ponsel sekali membuat Tristan merogoh saku celananya.
*Ibu*
Tristan kamu dimana nak? Apa kamu lupa janji kamu pada ibu kemarin lusa?
Astaga!! aku sampai lupa ada janji sama ibu mau membelikan ibu perhiasan!! batinnya terjingkat memukul jidat.
Masih keburu membalas pesan yg dikirim oleh ibunya diseberang sana.
*anakku*
Iya Bu. ini aku segera jalan kerumah.
Ibu Maria sekedar membaca pesan yg Tristan kirim padanya, hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya itu.
Apa yg selalu dikerjakan anak ini diluar sana sampai-sampai tidak ingat dengan janjinya sendiri! gumam Ibu Maria disebrang.
..........
"Bik...." panggilnya melangkah pintu keluar.
"Saya tuan? apa ada yg ingin tuan minta?" menyahut sembari panik berlari kedepan.
"Tidak ada bik... saya mau buru-buru pulang! ada urusan mendadak. tolong sampaikan pada Rei karna gak sempat pamit padanya," titahnya pada bik lis.
"Baik tuan? akan bibi sampaikan pada non Rei..." ucap Bik Lis pula.
"Makasih bik," seru Tristan berlalu pergi.
...............
bersambung....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤭😚
🥰😍 MAMAK SAYANG KALIAN 🥺❤️
bisa aja lu cari alasan Rick 😂
makasih thor sdh kasih tau aku😅
knp kok sewot gitu, cuma gegara di blng keras kepala
baunya sampe kesini ya, cptn Rick pergi, bisa"kamu nanti yg bauu