Ruhi amat sangat mencintai uang, karena itulah ia dipilih kakek Bizar untuk menikah dengan cucunya, Asraf.
Dua manusia berbeda generasi, mampukah mereka bersatu? atau malah berhenti ditengah jalan.
Kisah Ruhi dan Asraf di mulai...
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - Bisakah Aku Mempercayai Mu
Baru sebentar Asraf menyesap bibir wanita itu, namun buru-buru ia lepas.
Rasanya aneh dan sangat tidak nyaman, bibirnya tidak selembut bibir Ruhi dan aroma Alkohol begitu kental menyelimuti mulutnya.
"Kenapa?" tanya wanita itu lembut tepat ditelinga Asraf. Tangannya bergerak mengelus-elus pangkal paha Asraf naik turun, ingin memancing hasrat sang tuan muda.
Asraf menoleh, lalu tersenyum dan mulai mendekat untuk berbisik.
"Menyingkirlah."
Tangan wanita itu langsung terdiam, merasa terintimidasi dengan suara dingin Asraf. Takut-takut ia menarik tangannya kembali lalu duduk dengan mengambil jarak.
"Kenapa lo? mau yang perawan?" tanya Angga dengan terkekeh keras, merasa lucu melihat Asraf yang berhenti ditengah jalan.
"Minggir-minggir." Usir Doni pada kedua wanita yang mengapit Asraf, dengan setengah sadar ia duduk di samping Asraf.
"Lo kenapa? pasti ada masalah kan?" tebak Doni dan Asraf masih setia berdiam diri.
Asraf tidak peduli dengan ucapan angga dan Doni, seolah itu hanyalah angin lalu yang tak terdengar oleh telinganya. Fokusnya kini hanyalah pada gadis kecil bernama Ruhi.
Ia mengacak rambutnya frustasi, merasa geli sendiri. Tertarik pada gadis buduk itu.
"Gue balik." ucap Asraf sambil beranjak bangkit, Doni dan Angga terkejut, sedangkan Sam tidak peduli, karena ia sedang bercumbu.
"Tunggu!" cegah Angga.
"Gue anter lo ke depan." ucap Angga lagi, lalu keduanya berjalan keluar Club, sementara Doni hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Pasti ada masalah dengan kakek Bizar. Batin Doni.
Kini Asraf dan Angga sudah berapa di depan Club, keluar dari hingar bingar di dalam sana.
"Lo kenapa?" tanya Angga, dia masih sadar, karena sebagai pemilik Club tidak mungkin kan dia ikut mabuk.
"Kakek suruh gue nikah," jawab Asraf jujur. Asraf, Angga, Doni dan Sam adalah teman sejak masa kuliah dulu.
Namun kakek tidak menyetujui pertemanan mereka, karena menganggap teman-teman Asraf memberikan pengaruh yang buruk.
Tapi Asraf tidak peduli, seberapa besar usaha Bizar untuk memutus pertemanan mereka, Asraf pun akan semakin berusaha untuk menemui teman-temannya ini.
"Yaudah, nikah aja, apa susahnya?" tanya Angga apa adanya.
"Menikah bukan akhir dari segalanya As, masih banyak yang bisa terjadi, lo masih bisa nikah lagi dan punya 2 istri atau cerai, gampang. Jangan lo Pusingin."
Asraf terdiam, sedikit membenarkan ucapan Angga.
Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya kini adalah ia tertarik pada gadis pilihan Kakek. Jika seperti ini rasa-rasanya ia sudah jatuh ke permainan Bizar dan Bizar akan memanfaatkan ini untuk mencari kelemahannya.
Entah apa yang akan terjadi jika Bizar mengetahui semua tentang Asraf, mungkin Bizar akan menghapusnya dari daftar ahli waris dan menyerahkan semua hartanya pada Aksa.
"Gua pamit lah, pusing." pamit Asraf dan Angga tak.bisa mencegah lagi.
Asraf kembali mengemudikan mobilnya di jalanan kota Jakarta. Pikirannya menerawang jauh ke ujung sana, menerka-nerka bagaimana jadinya jika ia menikah dengan Ruhi.
Bisakah aku mempercayaimu? Batinnya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas kepergian Asraf tadi, Ruhi buru-buru kembali ke ruang rawat Randu. Memeriksa ponselnya dan berniat menyimpan nomor sang calon suami.
"Lok kok yang miscall ada 2 nomor." gumamnya bingung.
Yang mana nomor om Asraf? Batinnya bertanya-tanya.
"Kayaknya ini deh." Dengan ragu-ragu, Ruhi memilih nomor dengan angka ujungnya 21 untuk disimpan sebagai Om Asraf dan mengabaikan nomor 00 dalam log panggilannya itu.
Ruhi tersenyum ketika nomor itu sudah tersimpan dalam kontak ponselnya.
Bismilah. Batinnya, seolah meyakinkan hati bahwa semuanya akan baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Asraf kini sudah sampai di rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Merasa lelah ia langsung merebahkan diri di ranjang, ekor matanya melirik jam dinding. Jam itu menunjukkan waktu jam setengah 12 malam. Ia lelah, namun matanya tak bisa terpejam, entah kenapa ia selalu memikirkan tentang Ruhi Ruhi Ruhi dan Ruhi.
Tak ingin berlarut-larut dalam pikirannya sendiri, akhirnya Asraf mencoba menghubungi Ruhi. Jika mendengar suara jelek Ruhi mungkin khayalannya tentang gadis itu akan langsung hilang.
"Kenapa di tolak lagi?" keluh Asraf, bercampur kesal, karena panggilannya selalu di tolak oleh Ruhi.
"Wah! berani-beraninya dia menolak panggilan ku."
"Lihatlah, aku akan buat perhitungan dengan mu besok!"
Asraf melempar asal ponselnya di atas ranjang, kini hatinya malah berubah jadi kesal.
"Gadis tidak tahu diri!"
"Sudah jelek banyak gaya."
Asraf terus menggerutu, mencaci maki Ruhi terus sampai matanya sayu. Lambat laun ia tertidur, dengan menyebut nama Ruhi sebagai pengantar tidur.
Ru ... hi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Ruhi terbangun dengan wajah berseri, entah kenapa mendapat kecupan di dahi dari Asraf semalam membuat suasana hatinya menjadi sangat bagus. Ia lebih suka dikecup di dahi dari pada di bibir.
Lain halnya dengan Ruhi, jika Ruhi terbangun dengan wajah berseri maka Asraf terbangun dengan wajah kusut, kepala pusing dan raut wajah cemberut.
Sampai bangun pun ia masih merasa kesal ketika mengingat Ruhi selalu menolak panggilannya semalam.
Rasa-rasanya ia ingin sekali segera menemui Ruhi dan menjewer telinganya.
Gadis nakal!
Jam 6 pagi, Asraf sudah rapi. Terlihat lebih tampan dan mempesona ketika memakai setelan jas kerja.
Buru-buru ia keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"Anda mau kemana Tuan?" tanya Leni, buru-buru ia menyusul Asraf yang berjalan cepat ke garasi mobil.
"Kantor bunda." jawabnya sambil berlalu.
Leni mengernyit bingung, jam segini ke kantor? memangnya dia yang membuka gerbang perusahaan?
Merasa aneh bercampur curiga.
Apalagi yang akan kamu lakukan Nak? Batin Leni penuh teka-teki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi-pagi sekali, Asraf sudah sampai di rumah sakit. Tanpa mengulur-ngulur waktu ia langsung berjalan menuju ruang rawat Randu.
Tok tok tok, Assalamualaikum.
"Siapa pagi-pagi kesini?" tanya Ruhi pada Rina, dan sang ibu hanya mengedikkan bahu.
Ruhi membuka pintu itu, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat Asraf berdiri di sana dengan sangat tampannya.
Asraf menarik Ruhi keluar, kemudian melongok melihat Rina.
"Bu, saya bawa Ruhi sebentar." pamitnya dengan sangat tidak sopan, tapi Rina menanggapinya dengan tersenyum, merasa lucu kemudian mengangguk sebagai jawaban.
Asraf melirik Randu yang ternyata masih tidur, setelah itu ia menutup pintu dan membawa Ruhi pergi.
"Mau kemana sih Om?"
"Bukannya aku sudah bilang, hari ini aku akan menemui mu dan membicarakan tentang kesepakatan kita." Asraf melirik sebentar, keduanya terus berjalan dengan Asraf menarik tangan Ruhi.
"Tapi tidak sepagi ini juga Om, aku saja belum mandi." keluh Ruhi.
"Aku sudah biasa melihat wajah jelek mu, jadi tidak pakai mandi pun tidak masalah."
Hih! Ruhi mengepalkan tangannya yang bebas, kemudian membuat gerakan seolah meninju kepala om om ini.
Krik.. kriik.. 🤣🤣😅😅