Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transformasi Di Rest Area
Cahaya matahari sore yang menerobos paksa gumpalan awan kelabu itu tidak sekadar menerangi kabin mobil, melainkan membawa serta gelombang panas yang magis. Percikan cahaya keemasan, yang kini sudah sangat familier bagi Kinanti, kembali muncul dan menari-nari di atas permukaan bulu jingga milik Arkan.
Meong—
Suara erangan kecil itu terputus saat tubuh gembul si kucing oranye mendadak memanjang secara eksponensial. Kinanti bertindak cepat dengan refleks yang sudah terlatih selama seminggu terakhir. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela samping, menutup matanya rapat-rapat sambil meraba-raba kursi belakang untuk mengambil tumpukan pakaian cadangan yang selalu ia bawa di dalam tas kerja besarnya.
"Pak Arkan! Ini sweter hitam dan celana training longgar saya! Pakai ini dulu!" seru Kinanti panik, melemparkan bundelan kain itu ke arah kursi penumpang tanpa menoleh sedikit pun.
Suara gemerisik kain yang bergesekan dengan kulit, disusul erangan napas berat seorang pria dewasa, memenuhi kabin sedan sport yang mendadak terasa begitu sempit. Struktur interior mobil yang dirancang untuk kenyamanan berkendara kini harus menampung tubuh atletis seorang pria dengan tinggi 185 sentimeter yang sedang berusaha memakai pakaian wanita berukuran oversized.
"Kinanti... sweter ini terlalu ketat di bagian bahu," keluh sebuah suara bariton yang berat dan serak. Arkananta Mahardika telah kembali.
"Sudah untung saya bawa baju ganti, Pak! Pakai saja dulu yang ada!" balas Kinanti, masih setia menatap wiper mobil yang sudah berhenti berputar. "Apa Bapak sudah selesai? Saya sudah boleh menoleh?"
"Tunggu sebentar... celana ini... talinya macet." Terdengar suara embusan napas frustrasi dari Arkan. Seorang CEO yang biasa menandatangani kontrak miliaran dolar kini harus kalah telat oleh tali celana training karet. "Oke. Sudah. Kamu bisa berbalik."
Kinanti membuka matanya perlahan dan menoleh. Pemandangan di sebelahnya hampir membuat ia meledakkan tawa jika saja ia tidak ingat pria di hadapannya adalah bosnya sendiri.
Arkan duduk dengan canggung di kursi penumpang yang sudah dimundurkan maksimal. Sweter rajut hitam milik Kinanti yang biasanya terlihat longgar dan jatuh di tubuh gadis itu, kini melekat ketat seperti baju selam di tubuh kekar Arkan, mencetak jelas siluet otot dada dan bahunya yang bidang. Lengan sweter itu bahkan menggantung menggantung menggantung menggantung beberapa senti di atas pergelangan tangannya.
"Jangan tertawa, Kinanti Amalia," ancam Arkan dengan tatapan mata elangnya yang tajam, meskipun wajahnya sendiri kini sudah bersemu merah menahan malu.
"Saya tidak tertawa, Pak Arkan yang terhormat," ujar Kinanti sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba meredam kedutan di sudut bibirnya. "Bapak terlihat... sangat siap untuk kelas senam aerobik sore ini."
Arkan mendengus, memalingkan wajahnya ke luar jendela melihat orang-orang yang mulai berlalu-lalang di area parkir rest area pasca-hujan. Namun, kekesalan di wajahnya perlahan memudar ketika ia melihat pantulan dirinya di kaca. Ia menatap telapak tangannya sendiri—jemari panjang yang kokoh, bukan lagi cakar berbulu jingga.
Ia benar-benar kembali menjadi manusia, jauh lebih cepat daripada biasanya. Biasanya, pasca-hujan deras, ia membutuhkan waktu minimal satu hingga dua jam dalam kondisi ruangan yang benar-benar kering dan hangat untuk bisa bertransformasi kembali. Namun kali ini, proses itu terjadi hanya dalam hitungan menit setelah hujan mereda.
Arkan menoleh kembali ke arah Kinanti. Tatapannya berubah menjadi sangat serius, mengunci manik mata gadis itu. "Transformasi tadi... terlalu cepat."
Kinanti ikut meredakan senyumnya, menyadari keanehan yang sama. "Benar, Pak. Biasanya Bapak harus meringkuk di dalam selimut wol dulu di kantor sampai tubuh Bapak benar-benar hangat."
Arkan tidak menjawab. Pandangannya beralih ke kursi belakang mobil, tepat ke arah kotak beludru hitam yang menyimpan Serat Jayaning Mahardika. Ia mengulurkan tangannya yang panjang, meraih kotak tersebut, dan meletakkannya di atas pangkuannya. Saat kotak itu dibuka, aroma wangi kayu cendana yang lebih pekat dari sebelumnya menguar keluar.
Aksara Jawa kuno di halaman pertama yang tadi siang mereka baca bersama Eyang Widya kini tidak lagi meredup. Guratan tinta emasnya tampak berkilau lembut, seolah baru saja selesai ditulis ulang dengan tinta yang segar.
"Takdir akan menguji kalian sendiri... Ketika situasi mendesak kalian untuk memilih antara ego masing-masing atau keselamatan satu sama lain, di sanalah ketulusan itu akan diukur," Kinanti menggumamkan kembali kalimat Eyang Widya dengan nada ngeri sekaligus takjub. "Pak... apa kejadian di jalan tol tadi... adalah ujian pertamanya?"
Arkan menutup kotak beludru itu kembali dengan perlahan. "Kamu mengorbankan keselamatanmu sendiri dengan melepas sabuk pengaman dan melompat ke kursi pengemudi saat mobil ini oleng. Kamu bisa saja membiarkan saya menabrak pembatas jalan, menyelamatkan dirimu sendiri di kursi penumpang. Tapi kamu tidak melakukannya."
Arkan mencondongkan tubuhnya ke arah Kinanti. Jarak yang dekat di dalam kabin mobil membuat Kinanti kembali bisa merasakan aura dominan sang CEO, meskipun pria itu sedang mengenakan sweter wanita yang kekecilan.
"Kamu melakukan itu bukan karena tugas sekretaris, kan?" tanya Arkan, suaranya melembut, menyisakan ketulusan yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
Kinanti tertegun. Jantungnya kembali berdegup kencang, kali ini bukan karena takut kecelakaan, melainkan karena keintiman emosional yang mendadak tercipta di antara mereka. Ia menatap mata hijau Arkan yang kini memantulkan bayangan dirinya sendiri.
"Saya... saya hanya tidak bisa melihat Bapak terluka," jawab Kinanti jujur, suaranya nyaris berbisik. "Saat melihat Bapak berubah dan mobil ini kehilangan kendali, saya tidak memikirkan tentang PT Mahardika Megah, atau tentang jabatan Direktur Operasional saya. Saya hanya memikirkan... saya harus menyelamatkan Arkan."
Mendengar jawaban itu, sebuah senyuman tulus—bukan senyuman sinis atau senyuman bisnis—mengembang di wajah tampan Arkan. Ia mengulurkan tangannya, kali ini telapak tangan manusianya yang besar dan hangat mendarat di atas puncak kepala Kinanti, mengacak rambut gadis itu dengan pelan dan lembut.
"Terima kasih, Kinanti. Sumpah kuno ini sepertinya mulai mengenali ketulusanmu," kata Arkan hangat.
Suasana romantis yang baru saja terbangun itu tiba-tiba buyar ketika sebuah ketukan keras kembali terdengar di kaca jendela pengemudi.
Tok! Tok! Tok!
Kinanti dan Arkan sama-sama tersentak kaget. Kinanti menoleh dan mendapati seorang petugas keamanan rest area berdiri di luar sambil memegang payung yang sudah dilipat, menatap ke dalam kabin dengan pandangan penuh selidik.
Kinanti menurunkan kaca mobilnya beberapa sentimeter. "Ya, Pak? Ada yang bisa dibantu?"
Petugas keamanan itu melongokkan kepalanya, matanya langsung tertuju pada Arkan yang sedang berusaha menyembunyikan ukuran tubuh raksasanya di balik sweter hitam wanita. "Maaf, Mbak, Mas. Mobilnya sudah parkir di sini cukup lama dari semenjak badai tadi. Kami hanya ingin memastikan tidak ada masalah. Dan... maaf, Mas-nya itu tidak apa-apa? Kok bajunya sepertinya... agak kurang pas ya?"
Wajah Arkan seketika menggelap sewarna awan badai tadi. Harga dirinya sebagai salah satu dari sepuluh eksekutif muda paling berpengaruh di Asia versi majalah bisnis internasional hari ini resmi terkubur sedalam-dalamnya di parkiran rest area jalur tol.
Kinanti langsung memasang wajah tersenyum paling ramah dan profesional yang ia miliki. "Ah, tidak apa-apa, Pak! Ini... ini suami saya sedang mengikuti tantangan konten media sosial dari saya. Kalah taruhan, jadi harus pakai baju saya sepanjang perjalanan pulang. Ini tren anak muda zaman sekarang, Pak!"
Petugas keamanan itu mengerjap-erkerjap, lalu mengangguk-angguk maklum dengan ekspresi geli. "Oh... konten toh. Zaman sekarang ada-ada saja ya taruhannya. Ya sudah, kalau tidak ada masalah medis atau mogok, silakan dilanjutkan penjelajahannya. Tapi hati-hati, jalurnya masih licin pasca-hujan."
"Baik, terima kasih banyak, Pak!" Kinanti segera menaikkan kaca mobilnya kembali.
Begitu kaca tertutup rapat, Kinanti tidak bisa menahannya lagi. Ia meledakkan tawa lepas yang begitu nyaring hingga tubuhnya terguncang-guncang. "Hahaha! Suami... tantangan konten... Hahaha! Pak Arkan, maafkan saya, tapi muka Bapak tadi benar-benar tak ternilai harganya!"
Arkan hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri, mengembuskan napas pasrah yang sangat panjang. "Kinanti, setelah kita sampai di Jakarta, saya akan memastikan tim legal perusahaan menambahkan klausul kerahasiaan tingkat tinggi tentang hari ini ke dalam kontrak kerjamu."
"Siap, Bos Besar!" sahut Kinanti di sela-sela tawanya yang mulai mereda. Ia menyalakan mesin mobil kembali. "Sekarang, giliran saya yang menyetir sampai ke apartemen Bapak. Bapak duduk manis saja dan nikmati sweter baru Bapak."
Mobil sedan hitam itu kembali meluncur membelah aspal jalan tol yang basah, menuju gemerlap lampu malam Jakarta yang mulai menyala satu per satu di cakrawala. Di dalam kabin, meskipun rahasia besar dan kutukan kuno masih menggelayuti pundak mereka, ada rasa aman baru yang tercipta. Gerbang kutukan itu mungkin belum sepenuhnya hancur, namun retakan pertamanya telah muncul sore ini, dipicu oleh ketulusan seorang gadis yang menolak membiarkan "singa" kesepian itu menghadapi badainya sendirian.