NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

"Mereka tidak mau ibu baru," ujar Hugo parau, merasa bersalah pada putrinya.

Nyonya Malinda mendekat, menatap putranya dengan sorot mata penuh pengalaman hidup. "Kamu seorang ayah, Hugo. Kamu tidak akan paham bahwa ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dibicarakan oleh seorang ibu dan anak perempuannya."

Ibunya menjeda kalimatnya, memastikan Hugo mendengarkan dengan baik. "Apa calonmu ini tidak sanggup menjadi ibu untuk mereka?"

Sebagai seorang ibu yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, Nyonya Malinda tahu betul apa yang mungkin terjadi pada cucu-cucunya jika tumbuh dewasa tanpa figur ibu.

Dia tahu Jenny mulai beranjak remaja, dan ada banyak hal emosional maupun perubahan fisik yang tidak akan bisa diceritakan Jenny kepada seorang ayah ataupun nenek yang sudah ringkih. Jenny butuh pegangan wanita yang lebih muda dan cekatan.

Hugo terdiam. Pertanyaan ibunya tentang apakah Asia sanggup menjadi ibu yang baik membuat sang Kapten kembali teringat pada sosok wanita yang baru saja menandatangani kontrak dengannya. Wanita yang lugas, praktis, dan penuh perhitungan.

"Dia sanggup, Bu," jawab Hugo akhirnya, memantapkan keyakinannya sendiri. "Dia wanita yang kuat."

"Jadi bawalah dia kesini. Kenalkan pada ibu. Kamu juga butuh pemulihan untuk kakimu. Ada banyak hal yang harus dilaksanakan agar semua baik-baik saja. Memang sulit di awal, tapi ibu selalu berdoa agar baik kedepannya."

"Ya. Aku akan membawanya kesini."

***

"Halo, saya Asia." Asia mengulurkan tangan, mencoba memberikan impresi pertama yang profesional dan sesopan mungkin.

Nyonya Malinda menerima uluran itu dengan hati senang. Dari wajahnya terlihat beliau bahagia, seolah beban berat yang selama ini ada di pundaknya mendadak terangkat hanya dengan melihat kehadiran wanita muda di hadapannya ini.

"Aku sudah menunggu kamu datang. Ayo, aku kenalkan pada anak-anak," ajak Nyonya Malinda ramah, langsung menuntun langkah Asia untuk masuk lebih dalam ke rumah besar tersebut.

Anak-anak? Dia pasti bocah nakal itu, batin Asia. Seketika ingatan Asia kembali pada kejadian di toko mainan waktu itu, di mana ia harus berhadapan dengan salah satu anak Kapten Hugo yang sangat menyebalkan.

Nyonya Malinda mengajak ke ruang makan yang sudah disiapkan untuk jamuan kedatangan Asia. Ruangan itu tampak begitu rapi, dengan meja panjang yang di atasnya telah tertata berbagai hidangan mewah, khusus disajikan untuk menyambut kehadirannya malam ini. Namun, atmosfer di sekitar meja makan tersebut terasa begitu sunyi dan dingin, seolah-olah makanan yang mengepul hangat itu tidak mampu mencairkan ketegangan tersembunyi yang mendominasi seisi rumah.

Ada dua bocah. Yang laki-laki itu bocah super aktif dan menyebalkan di gerai makanan waktu itu. Lalu satunya ... Siapa? Asia mengernyitkan dahi diam-diam, menatap seorang gadis remaja yang duduk tegak dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat di sebelah anak laki-laki tadi.

"Dia Jenny, putri pertama Hugo," bisik Nyonya Malinda lembut, memperkenalkan sosok gadis itu kepada Asia.

Putri pertama? Jadi pria ini punya dua anak? Kenapa aku tidak tanya, batin Asia merutuki kecerobohannya sendiri. Ia benar-benar terkejut karena selama ini ia mengira Hugo hanya memiliki satu anak, dan kini ia menyadari bahwa tantangan yang harus dihadapinya di rumah ini ternyata berlipat ganda.

Jenny duduk di kursi ruang tengah dengan tatapan matanya yang tajam. Dia yang sudah tahu akan ada mama baru menunjukkan sikap tidak sukanya terang-terangan. Suasana di ruangan itu langsung membeku, seolah bersiap menghadapi badai yang dibawa oleh Nyonya Malinda dan Asia.

Hugo hanya bisa mengepalkan tangan di saku celananya, tidak sanggup menatap tatapan menghakimi dari putri sulungnya. Di tengah keheningan yang mencekam itu, perhatian semua orang tiba-tiba teralih ke lantai.

Nero yang memegang mainan mendongak. "Hei, kamu yang suka mainan anak-anak itu kan padahal sudah tua kan?" Nero ingat pertemuan pertama mereka.

Kata-kata polos namun menohok itu menggantung di udara. Nyonya Malinda sempat tertegun, sementara Hugo menegang di kursinya, terkejut dengan daya ingat putranya yang berusia enam tahun itu.

Nero yang memegang mainan mendongak. "Hei, kamu yang suka mainan anak-anak itu kan padahal sudah tua kan?" Nero ingat pertemuan pertama mereka.

Asia tersenyum formal sambil menggeram dalam hati. Nih anak.

"Kalian sudah bertemu rupanya." Nyonya Malinda terkejut. Namun ada nada lega pada suaranya.

Bagi Nyonya Malinda, fakta bahwa cucunya sudah pernah berinteraksi dengan Asia meskipun dengan cara yang aneh bisa menjadi celah baik agar rencana pernikahan kontrak ini berjalan lebih lancar dari dugaannya. Keheningan kembali merayap di ruang tengah saat suasana canggung itu justru beralih menjadi ketegangan baru di antara anak-anak Hugo.

Jenny menatap tajam Nero. Dia juga tidak menyangka kalau Nero tahu wanita ini.

Tangan Jenny yang bersedekap di dada semakin erat. Sorot matanya yang tadinya hanya tertuju pada Asia, kini beralih pada adiknya dengan tatapan penuh selidik dan tidak percaya. Dia merasa kecolongan karena ada rahasia kecil yang tidak ia ketahui di rumah mereka sendiri.

"Jenny, beri salam pada tante Asia," pinta nyonya Malinda halus. Beliau tahu cucu perempuannya menolak perempuan manapun masuk ke rumah ini.

Nyonya Malinda mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak pekat di ruang tengah tersebut. Ia memberikan isyarat pandangan mata, menuntut kepatuhan dari remaja kelas 3 SMP itu.

Tapi gadis ini diam. Dia bahkan hanya menatap tajam pada Asia.

Sikap defensif Jenny begitu kuat. Ia menolak bergerak seinci pun dari posisinya, membiarkan keheningan yang menolak itu menantang otoritas neneknya dan kehadiran Asia secara terang-terangan. Suasana ruang tengah yang luas itu mendadak terasa begitu menyesakkan.

"Jenny!" sentak Hugo tidak sabar.

Suara Hugo yang meninggi membuat suasana semakin menegang. Rahangnya mengeras, mengekspresikan rasa frustrasi dan tekanan berat yang sedang dipikulnya di bawah kendali ibunya.

"Hugo ...," pinta nyonya Malinda. Asia sempat menoleh cepat pada pria itu. Dia yang tahu pria itu sopan dan baik sedikit terkejut. Namun dia paham.

Asia menyadari bahwa perubahan sikap Hugo yang mendadak kasar adalah bentuk dari rasa frustrasi dan ketidakberdayaan seorang ayah yang terhimpit keadaan. Rasa bersalah Hugo kepada anak-anaknya telah berubah menjadi ledakan emosi yang sulit ditahan.

Jenny mendengus kesal.

Suara dengusan itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan, menunjukkan penolakan mutlak dari sang anak sulung yang merasa dikhianati. Sebelum situasi menjadi semakin runyam dan meledak, Asia memutuskan untuk bergerak.

"Tidak apa-apa." Asia mengambil alih.

Dengan nada suara yang sengaja dibuat tenang dan profesional, Asia melangkah sedikit ke depan. Ia tahu betul posisinya dalam kontrak ini, dan ia tidak berniat memperkeruh suasana atau memaksa anak-anak itu menerimanya secara instan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!