NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Di Bawah Kendali

“Jadi... sampai kapan Kak Doni mau nyimpen tumbler aku?”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Olivia ini sebenarnya hanya berniat untuk menggoda Doni. Dia bahkan tidak sepenuhnya yakin kalau tumbler-nya memang ada pada Doni. Tapi, karena Olivia memperhatikan dengan seksama bagaimana reaksi dan gerak-gerik Doni saat dia menyindirnya tadi, dia mencoba menggertak dan menyampaikannya dengan nada yang sangat yakin sampai membuat Doni mati kutu dan membenarkannya lewat reaksi paniknya.

Doni merasa dunianya runtuh detik itu juga. Pertanyaan Olivia yang teramat santai namun tajam itu bagaikan sebilah pisau yang menembus langsung ke jantung pertahanannya.

“M-maksud kamu apa, Liv? Aku nggak ngerti. Tumbler apa?” Doni mencoba terkekeh kaku, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Dia bolak-balik melirik ke arah meja kasir dan toilet, berharap Marcella segera muncul. “Kan tadi Cella udah bilang, tumbler kamu nggak ada di tas aku. Lagian aku juga… ga pernah lihat bentuk tumbler kamu kayak gimana”, Doni berkelit gugup.

“Kak Doni…” Olivia menyanggah alasan itu dengan nada rendah. Dia memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja, menatap Doni lurus-lurus tanpa berkedip. “Minggu lalu, Kak Doni nonton aku, kan? Kita bahkan sempet ngobrol di deket pagar pembatas tribun sebelum Kak Cella nelpon. Masa Kak Doni lupa?”

Napas Doni mendadak sesak. Lidahnya mendadak kelu. Namun, dia mencoba mengumpulkan pita suaranya untuk menjawab Olivia.

“Iya, aku inget, kok. Tapi, kita kan cuma ngobrol bentar doang, habis itu aku pulang. Nggak ada ngelihat tumbler sama sekali”, bohong Doni menghilangkan momen dimana dia tanpa sengaja memasukkan tumbler Olivia ke dalam tas ranselnya mengira itu miliknya.

“Apa iya?” Olivia mencoba meyakinkan Doni dengan nada manja sambil mengangkat kedua alisnya. “Tapi, kok… waktu aku balik ke bench mau minum, tumbler Chelsea-ku udah nggak ada, ya? Dan malam ini, Kak Cella bilang Kak Doni cuma ngintip doang dari luar GOR?” Olivia tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk Doni menegang. “Biar aku tebak…”

Doni membeku, tidak berani menyahut. Jantungnya berdegup sangat cepat menanti apa yang akan dianalisis oleh gadis belasan tahun itu.

“Kayaknya, ya… tumbler-nya aku bawa pas kita ngobrol. Terus, pas aku balik ke temen-temen aku di bench, aku lupa ngambilnya. Disitu aku yakin, pasti Kak Doni yang ngambil! Aku inget, Kak Doni kan fans Chelsea juga, sama kayak aku. Jangan-jangan…”

Keringat dingin mulai menetes dari pelipis Doni. Sedangkan Olivia memamerkan senyum kemenangan.

“Kak Doni pasti iri kan sama aku yang punya tumbler itu? Iya, aku tahu. Itu kan memang tumbler Chelsea edisi khusus yang dijualnya terbatas. Kak Doni pasti waktu itu nggak sempet belinya, kan? Makanya Kak Doni ngambil punya aku. Iya, kan?”, Olivia menopang dagunya, menatap Doni dengan tatapan meremehkan yang telak. “Tumbler aku sekarang pasti udah disimpan rapi di kosan Kak Doni. Dipajang. Dielus-elus. Dilihatin terus. Berasa punyanya sendiri.”

Skakmat! Doni mendadak lupa cara bernapas. Tebakan anak SMA di depannya ini seratus persen akurat tentang kronologi dan keberadaan tumbler itu di kamar kosnya, namun meleset total di bagian motif. Olivia mengira Doni mencurinya karena iri dan ingin mengoleksi barang langka tersebut.

Meskipun salah paham, Doni tidak bisa membela diri. Jika dia mengaku kalau dia sebenarnya hanya tidak sengaja mengambilnya karena bentuknya mirip, Olivia pasti tidak akan percaya dan menganggapnya hanya sekedar mencari-cari alasan saja. Remaja yang sudah yakin akan sesuatu ini, pasti tidak akan mempercayai alasan lain, meskipun itu adalah kebenarannya.

Olivia memajukan wajahnya sedikit lagi, menurunkan nada suaranya hingga nyaris berbisik di antara kebisingan kafe.

“Kenapa diem, Kak? Kenapa Kak Doni harus bohong ke Kak Cella?” Olivia memiringkan kepalanya, menatap Doni dengan tatapan meremehkan yang telak. “Kak Doni takut ya, kalau Kak Cella tahu pacarnya yang anak kuliahan ini ternyata hobi mencuri barang orang lain karena iri? Apalagi itu barang adiknya sendiri”, Olivia semakin menginterogasi. “Atau... Kak Doni sebenarnya takut Kak Cella tahu kalau Kak Doni bela-belain dateng ke GOR minggu lalu... cuma demi nonton aku?”

Double kill! Dua tuduhan itu dilemparkan Olivia seperti dua buah ranjau yang siap meledakkan hubungannya dengan Marcella kapan saja. Di mata Olivia, Doni sekarang adalah pencuri berdarah dingin sekaligus pria mencurigakan yang diam-diam memperhatikannya.

Olivia memang tidak terlalu yakin dengan masalah tumbler Chelsea-nya yang memang sebenarnya tersimpan rapi di kamar kos Doni. Tapi bagi Olivia, fakta bahwa Doni berbohong soal kehadirannya di dalam GOR sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pria di depannya ini sedang menyembunyikan sesuatu.

Doni merasa merana tak berdaya. Anak SMA di depannya ini benar-benar sedang mempermainkan mentalnya.

“Eh, makanan kita udah dateng. Pas banget!”

Suara riang Marcella mendadak memecah keheningan yang mencekik itu. Marcella kembali dari toilet tepat bersamaan dengan seorang pramusaji yang membawa nampan berisi pesanan mereka.

Olivia langsung menarik kembali tubuhnya, bersandar di kursi dengan santai seolah tidak terjadi apa pun. Wajah mengintimidasinya lenyap dalam sekejap, berganti dengan senyuman bahagia seorang adik saat melihat semangkuk mi goreng spesial porsi jumbo diletakkan di depannya. "Makasih, Kak", ucap Olivia ramah pada pramusaji itu.

Doni menghembuskan napas lega yang sudah sejak tadi ditahannya. Tangannya yang gemetar di bawah meja perlahan dia naikkan untuk meraih sendok. Di sampingnya, Marcella mulai menyantap potongan kecil cheesecake favoritnya itu dengan riang. Namun bagi Doni, makanan di depannya malam itu tidak memiliki rasa sama sekali. Tenggorokannya terlalu tercekat oleh rasa takut.

Drrt... drrt...

Ponsel Doni yang tergeletak di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tanpa nama. Doni melirik sekilas, dan jantungnya kembali terasa akan keluar dari tubuhnya saat membaca baris pesan yang muncul di layar:

Tenang aja, Kak. Rahasia Kak Doni aman sama aku. Tapi syaratnya, besok sore Kak Doni harus jemput aku pas aku selesai latihan basket. Jangan telat, ya? 😉

Walaupun tak ada nama tertera di bagian pengirim, tapi Doni sekilas sudah langsung tahu itu siapa. Mereka sudah pernah menghabiskan waktu bertukar pesan sampai tengah malam, tapi Doni memang sengaja tidak menyimpan namanya untuk berjaga-jaga siapa tahu Marcella memeriksa ponselnya.

Doni perlahan mendongak dengan wajah pucat. Di seberang meja, Olivia sedang mengunyah mi goreng-nya dengan santai sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Doni, tepat di depan Marcella yang masih sibuk dengan makanannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!