Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Si Imin Gagal Meeting
Ricky melangkah dengan tegap keluar dari pintu lift apartemen menuju unitnya. Gara-gara meeting dengan perempuan seksi, kepalanya benar-benar nyut-nyutan.
Bagaimana tidak, posisi kursinya ada di samping sofa panjang yang Laura dan Arya duduki. Sehingga saat pembicaraan berlangsung, pemandangan perempuan berpakain mini dres tanpa lengan itu terpampang jelas. Tidak mungkin dirinya berucap tanpa melihat lawan bicaranya. Meski fokus bicara dengan menatap matanya, tetap saja paha mulus tak terbungkus itu tertangkap oleh sudut mata.
Ah, benar kata Changcuter, wanita racun dunia.
Ricky menghela nafas dan menghembuskannya dengan keras saat tiba di depan pintu unitnya. Ia membukanya dengan kartu akses yang disimpan di tasnya.
"Assalamualaikum."
Hening. Tak ada jawaban. Tapi Ricky melihat sepatu istrinya ada di dalam rak sepatu. Itu artinya Safa sudah pulang.
Ricky memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa. Telentang bebas, setelah menyimpan sepatunya. Ia membuka kemeja dan kaos dalam serta celana panjangnya karena merasa gerah dan lengket karena keringat. Dibiarkannya pakainnya itu teronggok di karpet. Hanya pakaian dalam yang tersisa menempel di tubuh bawahnya.
Pintu kamar terbuka. Safa keluar dengan dress rumahan yang panjangnya selutut. Wajahnya tampak segar dengan aroma parfum lembut menguar dari tubuhnya.
"Astagfirullahal'adziim. Kirain ada tuyul." Safa berseru sambil menghampiri Ricky yang sedang rebahan dengan hanya memakai underwear. Mencium tangan sang suami yang kemudian bangun dari tidurannya.
"Mana ada tuyul gagah begini." Ricky malah memamerkan otot lengannya. Bergaya seolah atlet binaraga.
"Ya ampun. Aa kayak anak kecil ih. Kalau ada orang lain jangan buka baju sembarangan tempat gini!" Safa geleng-geleng kepala sambil mengomel memungut pakaian yang teronggok di karpet.
"Ya nggak dong, Mofa. Aku berani gini karena cuma ada kita berdua." Ricky mengecup pipi Safa. "Aku suka kalau pulang disambut istri yang udah dandan cantik dan wangi gini." Ricky mengecup sekilas bibir pink muda istrinya itu.
"Tapi aku yang gak suka kalau Aa cium-ciumnya belum mandi." Safa memanyunkan bibirnya, tanda protes.
Ricky tertawa pelan, menjawil bibir yang manyun itu dengan gemas. "Iya deh. Aku mandi dulu."
"Aa udah solat magrib?" Safa menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 7.
"Sudah. Tadi di jalan." Ricky pun melangkahkan kakinya dengan penampilan kayak Tarsan menuju kamar.
"Aa, lain kali jangan sholat di jalan lagi ya! Bahaya."
Seruan Safa membuat Ricky berhenti melangkah, membalikkan badannya.
"Maksud aku di Masjid, bukan di jalan raya, Mofa. Ishh jadi pengen gigit ya!" Ricky menggeram, gemas dengan kejahilan istrinya.
Safa hanya terkikik. Ia berlalu ke dapur dengan membawa pakain kotor milik suaminya itu.
****
Usai makan malam, keduanya duduk santai dengan TV yang menyala menayangkan Ftv ikan terbang. Safa menonton sambil menyenderkan kepalanya di bahu Ricky yang sedang asyik membuka Tabnya, mengkaji email yang masuk.
"Kenapa sih ceritanya gitu melulu. Istri pertama tersakiti oleh istri kedua, kalau gak gitu mertua yang jahat sama menantu, atau suami yang memilih istri siri. Ihh bikin esmosi jiwa." Safa menggerutu sendiri mengomentari jalan cerita 'Ku Menangis' itu. Ia memilih mengganti ke chanel berita.
"Ngomel ke siapa sih, Mofa." Ricky menaruh Tabnya di atas meja. Tangannya berganti bergerilya, menyusup ke dalam dress sang istri.
"Itu tadi sinetron ikan terbang, ceritanya bikin naik darah."
"Kalau memilih tontonan atau bacaan tuh yang bisa menghibur bikin happy bukan malah bikin pusing atau marah-marah. Apalagi sampai kepikiran terbawa mimpi. Garansi deh, bangun tidur kepala jadi berat." Ricky memberikan sarannya, dengan wajah yang kini terbenam di dada Safa.
Safa membenarkan perkataan suaminya itu. "Iya Aa. Makanya aku ganti ke chanel berita, tapi sama aja membosankan. Penangkapan koruptor gak abis-abis. Mending ngapain ya?" Safa mengetuk-ngetuk remote ke pelipisnya. Tidak ada tayangan yang sreg untuk ditontonnya.
"Mendingan kita meeting di kamar." Ricky mendongakkan wajah. Menaik turunkan alisnya dengan senyum penuh arti.
"Nanti ah, masih siang juga." Safa menggeser tubuhnya menjauh dari Ricky.
"Ini malam, Mofa. Lihat tuh ke jendela, langit begitu gelap juga." Ricky membalas kejahilan yang dilakukan istrinya tadi.
"Maksudku ini baru jam 8, Aa Iky. Terlalu awal untuk tidur." Safa yang kini gemas. Memencet hidung bangir suaminya itu.
Tak sabar dengan negosiasi yang alot. Ricky mengggendong tubuh Safa, membawanya ke kamar. Safa hanya bisa pasrah, melingkarkan tangannya di leher Ricky.
"Tunggu! Aku pengen pipis dulu ya!" Safa menahan wajah Ricky yang akan menuju area favoritnya.
"Jangan lama!" Ricky mendesah berat. Hasratnya yang mulai naik, terjeda interupsi.
Safa bukannya ingin pipis. Tapi ia merasa tidak nyaman dengan tubuh bawahnya yang lembab. Dan ia merasa curiga tamu bulanannya datang.
Tak berselang lama, Safa keluar dari kamar mandi. Ia mendekati Ricky yang tidur telentang hanya mengenakan celana boxer.
"Aa, maaf gak bisa dilanjut. Aku kedatangan tamu bulanan."
"Ah bohong ya. Tadi kan sholat Isya." Ricky tidak percaya. Dikiranya Safa hanya mencari alasan saja untuk menolaknya.
Safa memutar bola matanya, jengah dengan tuduhan suaminya itu. "Nih pegang kalau gak percaya."
Safa mengarahkan tangan Ricky ke bagian intinya dari permukaan bajunya. Benar saja, tangan Ricky meraba ada bantal yang mengganjal, yaitu pembalut.
Ricky hanya bisa mengurut pelipisnya seperti saat di kantor.
Dasar tamu gak ada akhlak. Bertamu kok sekarang, besok pagi kan bisa.
Ricky menggerutu di dalam hatinya dengan wajah penuh penuh kekalahan.
Meeting si Imin ditunda minggu depan.