Aku selalu mencintaimu setiap hari dari awal pertemuan kita. Rain Khadija. Jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sosok laki-laki yang menjadi suaminya. Mereka menikah di usia muda. Rain teramat mencintainya sementara Ragga Hadiwijaya dengan segala dendam masa lalunya terus menyakiti dan menyangkal cintanya.
Akankah Rain bertahan dalam pernikahan yang terus membuatnya jatuh cinta pada suaminya sementara Ragga terus menjauhinya? Rain cukup bahagia walau hanya bersanding tanpa dicinta Ragga. Rain yakin Ragga akan mencintainya seperti saat menjadi sepasang kekasih dulu.
Ini karya pertamaku, mohon dukungannya yaa. 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syaesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rain Ingin Sendiri
Sampai jam 07:00 Rain belum juga keluar kamarnya. Dia baru terlelap setelah adzan shubuh tadi. Perkara patah hati memang membuat siapa saja gila tak terkecuali Rain. Ibu mengetuk pintu Rain tak ada jawaban. Untuk pertama kalinya Rain mengunci pintu kamarnya. Sementara di kamarnya Rain tidur dengan nyenyak. Sisa-sisa tangisan menggenang di ujung matanya. Ibu membiarkan saja mungkin Rain butuh waktu. Lagipula sekolah juga libur tidak mengapa jika Rain masih ingin tidur.
Sementara di kediamannya Ega yang baru selesai mandi membujuk Bibi untuk berkunjung ke rumah Rain.
"Bibi malas A, Aa sendiri aja atuh!" Bibi yang asyik nonton TV enggan diganggu.
"Aku nggak enak sama Ibunya kalau datang sendiri." Bibi tak mau menjawab.
"Ayolah, Bi!"
Bibi menghela nafas panjang
"Lagian mau ngapain sih A ke sana? Aa mau menyatakan cinta?"
Ragga bingung "enggak lah Bi siapa juga yang menyimpan perasaan buat Rain?"
Ragga masih enggan jujur.
"Ya udah kalau engga ngapain ke sana lagian kata Ibunya Rain, Rain itu mau dijodohkan dan Rain udah setuju."
Ragga mendadak seperti di bom bardir. Rasanya seperti ditembak dari berbagai arah "Bibi jangan bercanda dong bi."
Bibi menggeleng "Bibi nggak bercanda A, semalam Ibu Rain nelpon Bibi curhat panjang lebar." Ega yang sedari tadi berdiri menjatuhkan badannya di samping Bibi. Ega mengusap wajahnya kasar. Berlalu meninggalkan Bibi. Ega segera mengambil ponselnya di kamar dengan cepat menghubungi Rain. Naas, Ponsel Rain tidak aktif, Ega tidak tahu saja bahwa Rain sedari malam mematikan ponselnya dan melemparnya ke atas lemarinya. Ega tidak tahu saja Rain sekarang sedang meratapi nasibnya. Batinnya yang tersiksa dan hatinya yang hancur sebelum berperang. Ega mengusap wajahnya kasar. Dia segera berlari. Dia akan menemui Rain. Harus bertemu Rain masa bodoh dengan Bibi yang tidak mau menemaninya. Ega berlari melewati Bibi tanpa pamit. Bibi hanya tersenyum devil
"Dasar tuan muda labil."
Sesampainya di rumah Rain, Ega dengan cepat mengetuk pintu, Ibu yang memang sedang duduk di ruang tamu segera membukakan pintu.
"Tan, Ega pengen ketemu Rain. Tolong Tan izinin." Ega mukanya yang memerah dan nafasnya tersengal-sengal memohon dengan raut frustasi.
"Rain belum bangun Ga, Kamu bisa tunggu Rain sampai bangun."
"Ya udah Ega tunggu di teras ya Tan." Ega berbalik duduk di kursi teras. Sementara Ibu pergi ke dalam membuat Ega minuman. Tak lama Ibu kembali membawa Teh manis hangat untuk Ega lalu kembali masuk ke dalam dalam. Ega duduk termenung dengan bayang-bayang wajah Rain yang selalu tersenyum. 'Apa loe yakin dengan keputusan loe Rain?' 'Apa loe nggak berniat bilang sejujurnya tentang perasaan loe?, lagian kenapa Tante tega banget pengen ngejodohon Rain'.
1 jam sudah Ega menunggu tapi Rain masih belum keluar kamar. Merasa kasihan Ibu menghampiri kembali Ega di luar.
"Nak, Rain belum juga bangun. Memangnya ada keperluan apa?" Ega mengumpulkan keberaniannya menjawab pertanyaan Ibu.
"Apa benar Tante mau jodohin Rain?" Ibu Rain mengangguk
"Iya benar, Tante nggak mau Rain merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan."
Ega menggeleng "apa Tante nggak mau denger dulu pendapat Rain dan membiarkan Rain dengan pilihannya?" Tante tertawa pelan.
"Siapa yang Rain pilih. Rain bukanlah seperti gadis kebanyakan yang berani mengungkapkan perasaan terhadap lawan jenis."
Ibu Rain kukuh pada pendiriannya. Ega hampir putus asa.
"Mungkin ada laki-laki yang membuat Rain jatuh cinta apa Tante tidak kasihan terhadap Rain? bisa saja sekarang Rain sangat terpukul dengan perjodohan ini."
Ibu Rain menggeleng "jalaupun ada yang membuat Rain jatuh cinta apa iya laki-laki itu akan membalas. Jadi, Tante rasa sebelum perasaannya terlalu dalam dan laki-laki itu malah tidak menyukai Rain, lebih baik Rain Tante jodohkan."
Ega berdiri. "Biar Ega yang bangunin Rain, Ega ingin bicara dengan Rain."
Tanpa mendapat persetujuan Ibu Rain, Ega masuk dan saat hendak ingin mengetuk pintu Rain, Rain ternyata sudah bangun dan hendak keluar kamar. Jadilah mereka berhadapan. Beberapa menit mereka saling pandang. Lihatlah Rain Rambuynya yang diikat acak-acakan dan mata sembab yang bengkak dan merah. Hidungnya yang mungil ikut merah dengan sisa-sisa air mata di pipinya. Ega sedikit kaget melihat penampilan Rain, Raib terlihat sangat frustasi. Entah mengapa Ega ingin sekali menarik tubub Rain ke dalam dekapannya. Ingin sekali Ega menghiburnya dan membuat wajah sendu itu kembali tersenyum. Akankah Ega nekad melakukannya mengingat Ibu Rain sudah berdiri di belakang Ega?
simak terus kelanjutannya. Like, komen dan vote yaa 😊