NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Gesekan Balas Dendam

Rencana balas dendam Aira sudah matang sejak jam makan siang di kantor. Kalau Papi dan Devan pikir bisa mengontrol hidupnya dengan notifikasi kartu kredit terhubung ke ponsel cowok itu, mereka salah besar. Aira bakal buktiin kalau ide mereka justru bakal bikin ponsel Devan menjerit histeris.

"Lihat aja lu, Devan. Gue bikin HP lu diserbu notifikasi sampai hang sekalian!" batin Aira membara sambil merapikan tasnya.

Begitu jam kantor usai, Aira langsung menyambar ponselnya dan menelepon Sandy. Nggak pakai lama, dua cewek itu langsung meluncur ke salah satu mall paling elit di kawasan Jakarta Selatan.

Target pertama mereka: restoran bintang lima bernuansa fine dining Prancis di lantai teratas mall.

"Seriusan lu mau traktir gue di sini, Ra?!" mata Sandy membelalak berbinar-binar melihat deretan menu bernominal fantastis. "Ini mah sekali makan bisa buat bayar apartemen gue, gila!"

Aira menyunggingkan senyum miring nan angkuh, melempar kartu kredit hitam yang baru diaktifkan Papi Surya ke atas meja. "Pesan apa aja yang lu mau, Ra. Wagyu A5, caviar, truffle, penutupnya pesen yang paling mahal! Tenang aja, malam ini seluruh tagihannya gue yang bayar."

Sandy langsung menepuk tangannya girang. "BHAKAKAK! Sumpah ya, ide balas dendam lu absurd tapi seru banget! Gue demen nih yang begini!"

Sepanjang makan malam itu, Sandy tak henti-hentinya menggoda Aira. Tiap kali pelayan datang membawakan hidangan kelas atas, Sandy sengaja mengangkat gelas wine-nya. "Mari kita bersulang untuk AIRA yang malam ini resmi jadi pahlawan kemanusiaan buat perut gue!"

"Diem lu, San! Makan aja yang banyak!" sembur Aira sambil menahan tawa, membayangkan raut wajah Devan di kondominium tiap kali notifikasi transaksi puluhan juta meluncur ke ponselnya.

Balas dendam Aira jelas nggak berhenti di meja makan.

Puas memanjakan lidah, misi utama dimulai: shopping spree tanpa rem!

Aira dan Sandy menyerbu deretan boutique merek ternama dunia. Dari fashion house Prancis sampai desainer Italia, semuanya disapu bersih. Aira menggesek kartunya tanpa mikir dua kali.

Baju gaun edisi terbatas? Gesek.

Sepatu heels hak tinggi bahan kulit asli buatan tangan? Gesek.

Satu set kosmetik, skincare, dan parfum yang harganya bikin elus dada? Gesek lagi.

"Ra, lu beneran mau beli tas yang ini juga? Ini warna keduabelas yang lu ambil lho!" ringis Sandy sambil membawa empat kantong belanjaan besar di tangan kiri dan kanannya.

"Beli! Biar sekalian Devan tahu rasa!" sahut Aira puas. Tiap kali mesin EDC berbunyi bip! dan struk belanjaan keluar, Aira merasa menang telak. Ia membayangkan Devan yang lagi duduk di rumah pusing tujuh keliling melihat deretan angka nol di notifikasi ponselnya.

Mereka memutari mall berjam-jam sampai toko-toko mulai bersiap tutup. Kaki mereka pegal, tapi rasa puas mengalir deras. Seluruh hasil jarahan malam itu dipindahkan ke bagasi dan jok belakang mobil sedan milik Sandy. Bagasi mobil Sandy sampai penuh sesak oleh puluhan paper bag mewah berlogo merek ternama.

"Pegal banget gila kaki gue!" seru Sandy sambil menghempaskan tubuhnya ke jok kemudi.

"Tapi seru kan?" pamer Aira sambil menyenderkan kepalanya, tertawa lepas—sebuah tawa yang sudah lama tidak terdengar dari mulutnya sepanjang minggu ini.

Sebelum jalan pulang, Sandy memutar mobilnya menuju sebuah gerai es krim drive-thru 24 jam di pinggir jalan utama. Mereka membeli dua porsi besar es krim cone rasa cokelat vanila, lalu memarkirkan mobil di pinggir jalan yang agak lengang di bawah lampu jalanan ibu kota.

Suasana kabin mobil hening. Cuma ada suara denting pendingin udara dan rintik gerimis tipis yang mulai membasahi kaca depan.

Aira menjilat es krimnya perlahan, menikmati rasa manis dingin yang membelai tenggorokannya.

Sandy menyenderkan lengannya di setir, melirik Aira dari samping.

"Ra..." panggil Sandy pelan.

"Hm?" Aira menoleh, mulutnya masih penuh es krim.

"Gimana... rasanya tinggal seatap sama Devan?" tanya Sandy. Murni pertanyaan dari seorang sahabat yang khawatir.

Gerakan tangan Aira yang mau menyuap es krim terhenti. Aira terdiam sejenak, lalu mendengus hambar. "Ya gitu. Bikin darah tinggi tiap hari. Cowok itu makin tengil, makin sok kegantengan, dan seneng banget bikin gue emosi."

Sandy menatap Aira lamat-lamat. Tatapan itu begitu dalam, membuat Aira merasa serba salah.

"Lu masih benci banget ya sama dia, Ra?" tanya Sandy lagi, suaranya lembut.

Aira membuang pandangannya ke luar jendela, menatap rintik hujan yang menempel di kaca. "Menurut lu? Setelah apa yang dia perbuat ke gue delapan tahun lalu? Menurut lu gue bisa langsung senyum dan lupakan gitu aja?"

Sandy menghela napas panjang, memutar tubuhnya agar bisa menghadap Aira sepenuhnya. Sandy tahu persis cerita itu. Ia bukan sekadar penonton luar.

Delapan tahun lalu, pasca-kejadian Devan memutuskan Aira secara sepihak di tengah hujan deras tepat di hari ulang tahun Aira yang ke-17, Aira hancur. Waktu itu, Mami Maya yang frustrasi dan panik luar biasa sampai menelepon Sandy sambil menangis, meminta Sandy datang ke rumah Hermawan.

Sandy ingat betul bagaimana kondisinya saat itu. Selama seminggu penuh, Aira mengurung diri di dalam kamarnya. Ia menolak makan, minum, dan cuma berbaring memeluk bantal sambil menangis sampai suaranya habis dan matanya bengkak parah.

Sandy-lah yang setia duduk di samping tempat tidur Aira saat itu, mengusap punggung Aira, menyuapinya makanan sedikit demi sedikit meski Aira selalu memuntahkannya lagi gara-gara stres.

Sandy tahu betapa dalamnya luka yang dirasakan Aira. Ia menyaksikan sendiri bagaimana sahabatnya yang dulunya ceria dan penuh energi mendadak berubah jadi sosok yang dingin, defensif, dan sulit percaya pada orang lain.

"Gue tahu, Ra," kata Sandy pelan, jemarinya terulur memegang tangan Aira yang terasa dingin. "Gue tahu seberapa parah sakitnya lu waktu itu. Gue ada di sana, Ra. Gue lihat sendiri gimana lu hancur gara-gara Devan."

Mata Aira memanas. Dada Aira berdesir hebat mendengar ingatan itu diputar kembali.

"Makanya gue paham banget kenapa lu pasang benteng setinggi itu sekarang," lanjut Sandy tulus. "Gue paham kenapa lu selalu ketus, selalu galak, dan berusaha keras buat nolak dia. Lu cuma takut sakit buat kedua kalinya, kan?"

Air mata yang sejak tadi ditahan Aira di sudut matanya mulai menetes satu. Aira menggigit bibirnya, menundukkan kepala.

"Tapi, Ra..." Sandy meremas pelan jemari Aira, suaranya makin lembut. "Sebagai sahabat lu yang udah kayak saudara sendiri... gue cuma gak mau lu menyesal nanti."

Aira mendongak pelan, matanya yang basah menatap Sandy bingung. "Maksud lu apa?"

"Gue gak membela Devan ya, demi apa pun tindakan dia waktu SMA itu brengsek banget," tegas Sandy. "Tapi... lu nggak pernah mikir ta, Ra? Cowok kayak Devan, yang dari dulu pintar dan terencana banget... masa iya dia mutusin lu cuma gara-gara alasan sepele 'bosen' kayak yang dia ucapin waktu itu? Apalagi lu lihat sendiri kan gimana tatapan dia ke lu pas acara pernikahan kemarin? Tatapan cowok itu ke lu tuh... nggak pernah berubah dari zaman SMA, Ra. Dia masih cinta sama lu."

Aira menggelengkan kepalanya cepat, mencoba menolak kenyataan itu. "Nggak, San! Dia cuma akting! Dia tuh cuma mau ngontrol gue—"

"Ra, kadang orang punya alasan tersendiri yang terpaksa harus mereka sembunyiin demi melindungi orang yang mereka sayang," potong Sandy tenang tapi menohok. "Gue nggak minta lu langsung maafin Devan atau langsung buka hati lu malam ini. Enggak. Tapi tolong... jangan sampai rasa benci dan dendam lu membutakan mata lu sendiri. Buka mata lu dikit aja, Ra. Lihat usaha dia sekarang. Jangan sampai nanti pas lu sadar... semuanya udah keterlaluan dan lu cuma bisa menyesal."

Kalimat Sandy ... meluncur begitu jujur, begitu tulus, tanpa ada niat memojokkan.

Tes... tes...

Air mata Aira menetes makin deras, mengalir membasahi pipinya tanpa bisa ditahan lagi. Isakan pelan keluar dari tenggorokannya.

"G-gue cuma... gue cuma takut, San..." bisik Aira serak, suaranya bergetar hebat. "Gue takut kalau gue luluh... dia bakal buang gue lagi kayak dulu... Gue gak sanggup kalau harus ngerasain sakit yang sama lagi..."

Melihat Aira menangis sesenggukan seperti anak kecil, hati Sandy ikut mencelos. Tanpa kata-kata lagi, Sandy langsung menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya.

Aira menyandarkan kepalanya di bahu Sandy, memeluk sahabatnya erat sambil menangis kencang. Luapan emosi yang dipendamnya sejak hari pernikahan akhirnya pecah.

Sandy mengusap-usap rambut panjang Aira dengan lembut, menepuk-nepuk punggung sahabatnya. "Nggak apa-apa, Ra... tumpahin aja semuanya. Menangis aja sepuas lu."

"Makasih ya, San..." bisik Aira di tengah isakannya, suaranya tenggelam di bahu Sandy. "Makasih udah selalu ada buat gue... Dari dulu sampai sekarang..."

"Sama-sama, Cewek Manja," bisik Sandy terkekeh pelan meski matanya sendiri ikut berkaca-kaca. "Ingat ya, mau apa pun keputusan lu nanti... mau lu mau lanjut perang sama Devan atau mulai damai... gue bakal tetap ada di samping lu. Gue selalu dukung lu, Ra. Lu itu udah kayak adik sekaligus saudara gue sendiri."

Mereka berpelukan cukup lama di dalam mobil, membiarkan rintik hujan di luar menjadi saksi ketulusan ikatan persahabatan mereka.

Satu jam kemudian, mobil sedan Sandy berhenti di pelataran parkir kondominium tempat Devan tinggal.

Aira sudah merapikan makeup-nya yang sempat luntur gara-gara menangis tadi. Meski matanya masih sedikit kemerahan, raut wajahnya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Beberapa petugas valet dan security gedung langsung sigap membantu memindahkan puluhan kantong belanjaan Aira dari bagasi mobil Sandy ke atas troli khusus barang penthouse.

"Makasih ya, San... buat semuanya," kata Aira sambil berdiri di samping jendela mobil Sandy.

Sandy menyunggingkan senyuman hangat, mengedipkan sebelah matanya. "Sama-sama, Nyonya Argawinata. Pulang sana, temuin suami lu. Dan ingat kata-kata gue tadi ya."

Aira cuma menyunggingkan senyuman tipis tanpa menjawab, melambaikan tangannya saat mobil sedan merah Sandy perlahan keluar dari pelataran gedung.

Aira berbalik melangkah menuju pintu lobby, berjalan di samping troli yang dipenuhi puluhan kantong belanjaan.

Awalnya, Aira berniat pulang membawa kantong-kantong belanjaan ini dengan raut wajah puas dan angkuh buat memamerkan keberhasilannya. Tapi setelah obrolannya dengan Sandy di dalam mobil tadi... ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.

Langkahnya menuju lift terasa agak berat. Aira menatap jemarinya sendiri, memikirkan reaksi apa yang bakal ditunjukkan Devan begitu pria itu melihat tumpukan belanjaan bernilai ratusan juta ini di depan matanya.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!