NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.

"Emm... kalau itu... mungkin karena ayahku," jawab Cedric berusaha tenang, meski detak jantungnya mulai tak beraturan. "Ya, kau tahu sendiri, Ayah adalah Wali Kota Luminara. Mereka pasti tidak mau berurusan dengan masalah hukum atau politik jika macam-macam denganku. Apalagi ayah mereka adalah kolega lama ayahku."

"Aku mengerti sekarang, Tuan Cedric. Terima kasih atas penjelasannya," jawab Elisa sembari menganggukkan kepalanya pelan, tampak menerima untaian alasan logis tersebut tanpa menaruh curiga sedikit pun.

"Pantas saja ketiga pemuda asing tadi langsung memilih mundur begitu melihat kedatangan Anda."

"Oh iya, El," Cedric bergegas memotong, buru-buru mengalihkan topik pembicaraan sebelum sepasang mata cokelat gelap gadis itu mulai menggali lebih dalam ke arah yang berbahaya.

"Bagaimana rencana dan langkahmu sekarang? Apakah kau mau aku mengantarmu langsung menuju ke panti asuhan baru milik Tuan Alan Pendragon sekarang, atau kau lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuhmu terlebih dahulu di rumah ini? Mengenai urusan pekerjaan di restoran sore nanti, jangan cemaskan hal itu. Hari ini aku resmi memberikanmu hari libur khusus. Aku tahu kau sudah melewati hari yang teramat melelahkan, El. Kau membutuhkan napas dan ketenangan sejenak."

Elisa terdiam seribu bahasa, keraguan dan ketakutan yang mendalam terpancar jelas dari binar matanya. Sejujurnya, saat ini jiwanya sedang didera oleh rasa trauma dan ketakutan yang hebat jika ia harus dipaksa melangkahkan kaki keluar dari rumah ini sendirian. Ada sebuah intuisi ketakutan di kepalanya bahwa ketiga pemuda misterius tadi pasti sedang mengawasi setiap pergerakannya di luar sana dari balik bayangan kota.

Elisa melirik sekilas ke arah jam dinding kayu yang berdetak konstan di ruang tamu; jarum jam telah menunjukkan tepat pukul dua siang. Artinya, masih tersisa waktu sekitar tiga jam lagi sebelum jadwal sif kerjanya di restoran mewah milik Cedric dimulai.

"Tidak usah memberikan libur, Tuan. Aku akan tetap masuk bekerja seperti biasa sore nanti," ucap Elisa dengan nada suara yang agak ragu, lalu menatap langsung ke arah sepasang mata hijau zamrud Cedric dengan seulas tatapan memohon yang kentara.

"Soal kepindahanku ke panti asuhan baru, aku bisa menaiki bus kota ke sana setelah sif kerjaku berakhir nanti malam. Evelyn sudah sempat mengirimkan pesan berisi alamat lengkapnya kepadaku. Tetapi... bolehkah aku menumpang untuk beristirahat di kamar tamu rumah ini sebentar saja?"

"Tentu saja boleh, Elisa. Bukankah sejak awal aku sudah sering bilang kepadamu bahwa kau bisa menganggap rumah ini seperti rumah pribadimu sendiri?" jawab Cedric, mengulas senyuman lembut yang menenangkan.

Namun, sedetik berikutnya, raut wajah tampannya kembali berubah menjadi sangat serius dan tegas. "Tetapi mengenai keputusanmu untuk pergi sendirian nanti malam, aku sama sekali tidak setuju. Aku teramat khawatir jika fisik manusiamu kembali berpapasan dengan mereka di jalanan distrik sepi, El. Apakah kau benar-benar merasa sanggup menghadapi kepungan makhluk-makhluk itu lagi tanpa adanya bantuan dari siapa pun?"

Elisa menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan, kedua bahu kecil manusianya merosot lesu menatap lantai marmer.

"Iya juga, apa yang Anda katakan ada benarnya... tapi aku tetap ingin masuk bekerja, Tuan Cedric. Aku tidak mau terlihat lemah atau bolos dari tanggung jawabku hanya karena kejadian gila yang kualami tadi pagi."

"Baiklah, aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi pada kekerasan kepala manusiamu itu," tutur Cedric, akhirnya memilih mengalah pada tabiat keras kepala sang gadis yatim piatu.

"Tetapi aku memberikan satu syarat mutlak; kau harus berangkat menuju ke restoran bersamaku nanti sore. Jangan pernah berani pergi sendirian tanpa pengawasanku."

"Baik, Tuan Cedric. Aku setuju. Aku hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam saja untuk mengistirahatkan tubuh ini. Rasanya seluruh persendian tulangku mau patah," gumam Elisa lirih.

Rasa lelah fisik yang luar biasa kini benar-benar menghantam seluruh permukaan ototnya setelah dipaksa berlari berkilo-kilo meter di bawah kejaran vampir.

"Silakan gunakan kamar di lantai atas, El. Aku berjanji tidak akan mengganggu waktu istirahatmu. Aku harus pergi keluar sebentar untuk mengecek kesiapan restoran," ucap Cedric.

Sebelum melangkahkan kaki besarnya keluar melewati pintu ruang tamu, Cedric berjalan menuju ke sebuah lemari kayu di lantai atas, mengambil sepotong setel pakaian perempuan yang masih tampak baru, lalu menyerahkannya dengan sopan kepada Elisa.

"Pakai saja ini, El. Ini adalah sepotong pakaian milik Ibuku yang tertinggal di sini, kurasa ukuran kainnya akan pas membungkus tubuh kecilmu. Mandilah terlebih dahulu menggunakan air hangat sebelum kau tidur, gaun hitammu itu pasti terasa sangat tidak nyaman karena basah oleh sisa keringat bukan? Aku pergi dulu ya, sampai jumpa nanti sore."

"Terima kasih banyak atas segala kebaikan dan kemurahan hatimu, Tuan Cedric. Anda benar-benar pria yang sangat baik," ucap Elisa dengan ketulusan yang membuncah dari dasar hatinya.

Cedric hanya membalas untaian kalimat pujian itu dengan seulas senyuman lebar yang menawan serta sebuah lambaian tangan hangat.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil mewah milik Cedric yang dihidupkan di halaman depan, sebelum akhirnya kendaraan roda empat itu perlahan bergerak menjauh, meninggalkan interior rumah berlantai dua itu dalam keheningan atmosfer yang damai dan sejuk.

****

Setelah selesai membersihkan tubuhnya dengan siraman air hangat dan berganti pakaian, Elisa kini berdiri tegak di depan sebuah cermin besar yang melekat di dinding kamar tamu. Ia menatap lurus ke arah pantulan visual dirinya sendiri dengan sepasang mata yang memancarkan rasa takjub yang mendalam.

Saat ini, tubuh manusianya telah terbungkus sempurna oleh sepotong gaun berwarna hijau daun tanpa lengan, yang panjang helaian kain sutranya jatuh sedikit di bawah lutut. Gaun antik tersebut tampak begitu elegan, anggun, sekaligus manis, membentuk siluet lekuk tubuhnya dengan tingkat presisi yang sempurna.

"Gaun ini... indah sekali," gumam Elisa pelan dengan suara berbisik.

Ia mulai menggerakkan sisir kayu untuk merapikan helaian rambut cokelat bergelombangnya yang masih menyisakan sedikit kelembapan pasca mandi, lalu mencepolnya ke atas dengan rapi, menyisakan beberapa helai anak rambut yang jatuh membingkai manis di kedua sisi wajah rupawannya.

Tanpa adanya seulas riasan bedak kosmetik maupun sapuan lipstik di bibirnya, Elisa saat ini memancarkan seberkas kecantikan murni yang teramat sakral—sebuah definisi mutlak dari pesona estetika alami yang sanggup membuat makhluk apa pun terpesona dalam sekali pandang.

Ia lantas melangkahkan kakinya, menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas permukaan ranjang empuk yang berselimut kain putih bersih, lalu melepaskan sebaris desahan frustrasi.

"Niat hati ingin mengistirahatkan tubuh dan tidur, tetapi sepertinya sepasang mataku sama sekali tidak bisa diajak berkompromi untuk terpejam," gerutunya kesal pada keheningan kamar.

Guyuran air hangat dan dingin dari bak mandi tadi seolah-olah telah menghapus total seluruh rasa lelah fisik yang sedari pagi menghimpit struktur tulangnya.

Alih-alih merasa mengantuk atau lelah, Elisa saat ini justru merasakan seluruh letupan energinya telah pulih kembali secara instan, seakan-akan stamina tubuh manusianya baru saja diisi ulang kembali ke setelah pabrik yang maksimal.

"Aku merasa sangat bosan. Aku tidak bisa hanya diam merenung saja di dalam kamar sepi ini," ucapnya seraya bangkit berdiri dari atas kasur.

Elisa akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya keluar dari area kamar tamu. Mengingat Cedric sebelumnya telah memberikan izin lisan kepadanya untuk menganggap rumah megah ini sebagai rumah pribadinya sendiri, ia memberanikan diri untuk berjalan berkeliling sebentar demi mengusir rasa jenuh.

Sepasang kaki telanjang manusianya melangkah perlahan menuruni anak tangga, menuju ke arah area dapur minimalis yang remang. Jemari tangannya bergerak menyentuh permukaan meja marmer hitam yang tampak mengilap dan teramat bersih, tanpa menyisakan setitik debu fana pun di permukaannya.

"Tuan Cedric benar-benar merupakan sosok pria idaman yang sangat sempurna. Tidak salah lagi," gumam Elisa dengan rona wajah yang mendadak semringah penuh kebahagiaan.

"Dia adalah sebuah paket lengkap yang dinantikan semua wanita; berwajah tampan, mapan secara finansial, dan sangat jago merawat kebersihan rumah. Dia... benar-benar sangat cocok untuk dijadikan sebagai jodoh masa depanku..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!