NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: BAYANG-BAYANG YANG MENGINTAI DI BALIK MAHKOTA

Kehidupan di Kediaman Pratama berjalan dengan riak yang seolah tenang, bak permukaan danau di pagi hari yang memantulkan kehangatan surya. Namun, Kirana tahu persis bahwa di bawah ketenangan itu, arus dalam tetap bergejolak pelan. Setiap kali ia memandang Aris yang sedang tertawa bersama Leo dan Maya di ruang tengah, ada pendar kebahagiaan yang berbaur dengan getar kecemasan yang samar di ceruk hatinya.

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam di mana kunci perak itu dilemparkan ke kegelapan taman. Kotak kayu jati milik Shinta kini tersimpan aman di balik pintu kaca perpustakaan pribadi, terkunci rapat bagaikan sebuah makam rahasia yang tak boleh diganggu. Rumah tangga mereka bertransformasi secara drastis; Aris tidak lagi menjadi pria berhati dingin yang memandang Kirana dengan tatapan curiga. Pria itu kini penuh perhatian, kerap membawakan kejutan-kejutan kecil—dari seikat bunga melati kesukaan Kirana hingga liburan singkat keluarga—dan tak segan menunjukkan kasih sayangnya di depan anak-anak maupun para pelayan.

Pagi itu, aroma wangi teh melati dan pancake hangat menguar di ruang makan utama. Kirana sedang sibuk merapikan kerah seragam sekolah Leo, sementara Maya duduk di pangkuan Aris, sibuk mengoleskan selai stroberi pada roti panggangnya hingga mengenai ujung hidungnya sendiri.

"Papa, lihat! Maya punya hidung stroberi!" seru bocah perempuan itu seraya tertawa melengking.

Aris terkekeh rendah, suara tawa hangat yang kini menjadi nada favorit Kirana setiap pagi. Pria tegap itu mengambil serbet kertas dan menyapu hidung Maya dengan penuh kelembutan. "Anak Papa kok centil sekali, sih? Ayo makan yang banyak, nanti terlambat masuk TK."

"Leo nanti ada latihan renang, Bu. Ibu datang, kan?" tanya Leo, matanya menatap Kirana penuh harap.

Kirana tersenyum manis, membelai lembut pipi putra sulungnya. "Tentu saja, Sayang. Ibu tidak pernah melewatkan latihan renang Leo. Nanti Ibu siapkan camilan cokelat kesukaanmu, ya?"

"Hore!" Leo mengepalkan tangannya gembira.

Di sudut meja, Aris menatap Kirana dengan pendar pemujaan yang tak lagi disembunyikan. Saat anak-anak sibuk menyantap sarapan mereka, Aris mengulurkan tangan melintasi meja, meraih jemari Kirana dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

"Terima kasih untuk pagi yang indah ini, Kirana," bisik Aris pelan, matanya berbinar hangat. "Setiap hari aku selalu bersyukur karena kamu ada di rumah ini."

Jantung Kirana berdesir hangat. Rasa sakit dan perjuangan berdarah-darah di masa lalu—saat ia dianggap sebagai wanita asing penjilat harta, saat ia harus menelan semua kata-kata pedas Aris dan penolakan mentah-mentah dari anak-anak—terbayar tuntas oleh kehangatan ini. Ia telah memenangkan pertaruhan terbesarnya. Ia telah menjadi ibu sejati dan istri yang dicintai.

Namun, takdir selalu punya cara unik untuk menyindir manusia yang terlalu cepat merasa aman.

Pukul sebelas siang, Kediaman Pratama mendadak sepi setelah Aris berangkat ke kantor dan anak-anak berada di sekolah. Kirana memutuskan untuk merapikan beberapa dokumen rumah tangga di ruang kerja Aris—tugas yang kini sepenuhnya dipercayakan padanya sebagai nyonya rumah.

Saat sedang menyusun folder laporan bulanan, pintu ruang kerja diketok pelan. Pak Wijaya melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak serba salah. Di tangannya, pria tua itu memegang sebuah amplop cokelat tebal tanpa perangko.

"Nyonya Kirana..." Pak Wijaya membungkuk sopan. "Ada dokumen yang diantarkan oleh kurir khusus. Kurir tersebut menegaskan bahwa dokumen ini bersifat pribadi dan rahasia, diperuntukkan khusus untuk Anda."

Kirana mengerutkan dahi, meletakkan pulpennya. "Dari siapa, Pak Wijaya? Apakah dari kantor Mas Aris?"

"Bukan, Nyonya. Kurir itu tidak menyebutkan nama pengirimnya. Namun... kurir tersebut datang menggunakan mobil bertanda khusus dari RS Medika Utama Bandung," jawab Pak Wijaya pelan.

RS Medika Utama Bandung.

Nama rumah sakit itu seperti cambuk yang melecut ingatan Kirana. Itu adalah rumah sakit tempat mendiang Kakek Hendra menyembunyikan rekam medis Aris dan berkas adopsi asli Leo dan Maya—tempat di mana seluruh benang kusut rahasia ini bermula.

Darah Kirana serasa berhenti mengalir. Jemarinya bergetar pelan saat menerima amplop cokelat tersebut dari tangan Pak Wijaya. "Terima kasih, Pak. Tolong biarkan saya sendiri sebentar."

Setelah Pak Wijaya melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Kirana berdiri membeku di tengah ruang kerja yang hening. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia merobek segel amplop cokelat tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah stopmap transparan dan selembar surat ketikan rapi di atas kertas berlogo kurator hukum. Kirana menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mulai membaca lembar demi lembar isi dokumen tersebut.

"Kepada Yang Terhormat, Nyonya Kirana Pratama,

Dengan diterimanya surat ini, kami memberitahukan bahwa berdasarkan Wasiat Tambahan Almarhum Tuan Hendra Pratama tertanggal 14 April 2023 yang baru saja dibuka oleh Notaris Publik pasca-penyelesaian audit aset keluarga, terdapat pengalihan hak wali amanat atas rekening dana abadi atas nama Leo Pratama dan Maya Pratama.

Sesuai dengan Klausul Wasiat Tambahan, hak wali amanat ini ditujukan kepada ibu kandung sah anak-anak tersebut, atau pihak yang ditunjuk secara eksplisit melalui Dokumen Pengakuan Biologis yang sah secara hukum.

Namun, terdapat inkonsistensi data hukum. Pihak ketiga atas nama Sheila Kusuma (mantan istri Tuan Aris Pratama) baru saja mengajukan permohonan klaim hak wali amanat dan pembatalan status adopsi anak-anak tersebut ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan, dengan melampirkan salinan surat pernyataan medis masa lalu.

Persidangan tertutup permohonan klaim akan dilaksanakan pada minggu depan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan."

Stopmap transparan itu terlepas dari genggaman Kirana, berserakan di atas lantai marmer. Tubuh wanita muda itu bergetar hebat, kakinya serasa tak sanggup lagi menopang berat badannya. Ia berpegangan erat pada tepi meja mahoni agar tidak luruh ke lantai.

Sheila Kusuma.

Nama wanita itu kembali muncul bagaikan hantu dari masa lalu yang merusak segalanya. Wanita yang dulu mencampakkan Aris saat pria itu terpuruk, wanita yang tega mengejar harta dan meninggalkan anak-anaknya, kini kembali untuk menagih klaim!

Bagaimana mungkin Sheila bisa tahu tentang dokumen itu? Apakah Sheila tahu bahwa Leo dan Maya bukanlah anak kandungnya bersama Aris, melainkan hasil dari rekayasa masa lalu Kakek Hendra? Ataukah Sheila mencoba menggunakan celah rekam medis Aris untuk mengancam kehormatan keluarga Pratama demi mendapatkan dana abadi triliunan rupiah tersebut?

"Tidak... Ini tidak boleh terjadi," bisik Kirana parau, tangisnya pecah dalam keheningan ruangan. "Ini tidak boleh menyentuh Mas Aris..."

Jika persidangan ini berjalan, jika Sheila membeberkan rekam medis kemandulan Aris dan status biologis Leo-Maya di depan hakim dan media, maka seluruh benteng kebahagiaan yang baru saja dibangun akan hancur lebur! Aris tidak hanya akan hancur secara emosional karena tahu kebenaran medisnya sendiri, tetapi kebanggaan dan harga dirinya sebagai pria akan terinjak-injak di hadapan publik. Dan yang paling kejam, Leo dan Maya akan menjadi korban dari trauma identitas yang teramat dalam.

Takdir benar-benar sedang tertawa sinis padanya. Kirana mengira dengan terkuncinya kotak kayu jati milik Shinta, masalah ini telah selesai. Namun ternyata, rahasia adalah bom waktu. Sewaktu-waktu, orang lain yang memegang sumbunya bisa menyalakannya tanpa ampun.

Sore harinya, hujan gerimis menyiram kota Jakarta. Kirana duduk di tepi tempat tidur kamar utama, menatap keluar jendela kaca yang tertutup embun. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap. Surat panggilan persidangan dari Pengadilan Agama itu telah ia sembunyikan di dalam tas pribadinya yang terkunci.

Pintu kamar terbuka pelan. Aris melangkah masuk, sudah melepaskan jas kantornya. Wajah pria itu memancarkan kelelahan kerja, namun begitu melihat Kirana duduk sendirian dalam remang kamar, raut wajahnya mendadak melunak penuh rasa cemas.

"Kirana?" Aris mendekat, berlutut di hadapan istrinya yang terpaku. Ia menangkup kedua tangan Kirana yang terasa dingin bagaikan es. "Kamu kenapa, Sayang? Pak Wijaya bilang kamu tidak keluar dari kamar sejak siang. Kamu sakit?"

Kirana menatap wajah tampan suaminya. Garis rahang Aris, tatapan matanya yang kini begitu hangat dan penuh kasih—semua ini adalah hal yang paling ingin dilindungi Kirana di dunia ini. Pria ini telah melewati masa-masa penderitaan yang teramat kelam akibat pengkhianatan Sheila di masa lalu. Ia tidak akan sanggup melihat Aris hancur untuk kedua kalinya.

"Aku... aku tidak apa-apa, Mas," bisik Kirana gagap, memaksa bibirnya membentuk senyuman tipis. "Cuma agak pusing sedikit. Mungkin karena perubahan cuaca."

Aris mengerutkan dahi, menempelkan punggung tangannya di dahi Kirana. "Badanmu tidak panas, tapi tanganmu dingin sekali. Aku panggilkan dokter pribadi kita, ya?"

"Tidak usah, Mas! Tidak perlu!" potong Kirana agak cepat, membuat Aris sedikit terkejut. Kirana menyadarkan diri, lalu memegang lengan Aris, mengusapnya lembut. "Maksudku... aku hanya butuh istirahat. Kamu tidak perlu cemas, Mas Aris."

Aris menatap Kirana lekat-lekat. Intuisi bisnisnya yang tajam menangkap ada sesuatu yang tidak beres pada raut wajah istrinya, namun ia mengingat janjinya pada malam pelemparan kunci perak dulu: ia telah berjanji untuk percaya sepenuhnya pada Kirana dan tidak akan mencecar istrinya dengan prasangka.

Aris menghela napas panjang, mengecup kening Kirana dengan lembut. "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, kamu harus janji bilang padaku, ya? Kita ini suami istri, Kirana. Suka dan duka rumah tangga ini milik kita bersama."

Setiap kata ketulusan yang diucapkan Aris terasa seperti sembilu yang mengiris dada Kirana. Maafkan aku, Mas... jerit Kirana dalam hatinya. Ada duka yang harus kupikul sendiri, agar kamu bisa tetap tersenyum.

Malam harinya, saat seluruh isi rumah telah terlelap dalam tidurnya, Kirana melangkah perlahan menuju balkon lantai dua. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya yang hanya dibalut piyama sutra.

Ia mengeluarkan ponselnya, menatap sebuah nomor yang tertera di sudut dokumen hukum tadi siang. Nomor kontak pengacara hukum Sheila Kusuma.

Dengan jari bergetar, Kirana menekan tombol panggil.

Setelah beberapa kali nada dering, panggilan itu terhubung. Suara wanita yang dingin, tajam, dan penuh dengan nada kemenangan bergaung di seberang telepon.

"Halo, Kirana... Atau harus kupanggil Nyonya Pratama yang terhormat?" suara Sheila terkekeh sinis, penuh keculasan.

"Sheila..." bisik Kirana, suaranya menahan emosi yang meluap-luap. "Apa yang mau kamu lakukan? Mengapa kamu mengajukan gugatan klaim itu?"

"Oh, kamu sudah terima suratnya, rupanya?" Sheila tertawa mengejek di seberang sana. "Kenapa kamu kaget, Kirana? Bukankah sudah saatnya kebenaran diungkapkan? Aku ingin hakku! Aku ingin bagian dari dana abadi anak-anak itu! Mengapa aku harus membiarkan wanita miskin dari panti asuhan sepertimu menikmati kekayaan Keluarga Pratama dan menguasai anak-anakku?"

"Anak-anakmu?!" bentak Kirana, suaranya tertahan agar tidak membendung tangis. "Di mana kamu saat Maya menangis histeris mencari ibunya?! Di mana kamu saat Leo ketakutan di tengah malam?! Kamu mencampakkan mereka demi pria lain dan uang! Kamu tidak punya hak menyebut diri sebagai ibu mereka!"

"Tutup mulutmu, Kirana!" nada suara Sheila mendadak mengeras, penuh dengki. "Kamu cuma ibu tiri! Kamu cuma wanita pengganti yang beruntung! Kamu pikir Aris benar-benar mencintaimu? Jika Aris tahu isi rekam medis itu, jika Aris tahu bahwa dia mandul dan Leo-Maya adalah hasil rekayasa Kakek Hendra dengan Raymond Wijaya... kamu pikir Aris akan tetap mempertahankanmu? Dia akan hancur dan membenci semua orang di rumah itu, termasuk kamu yang menyembunyikannya!"

Airmata Kirana menetes deras menembus pipinya. Kata-kata Sheila tepat menembus jantung pertahanannya.

"Apa yang kamu inginkan, Sheila?" tanya Kirana parau, suaranya bergetar pasrah. "Sebutkan angka... Sebutkan apa yang kamu mau, tapi batalkan gugatan itu. Jangan hancurkan Mas Aris dan anak-anak."

Di seberang telepon, Sheila terkekeh dingin—sebuah kekehan puas seorang pemenang.

"Aku tidak butuh uang kecil darimu, Kirana," desis Sheila tajam. "Aku ingin lima puluh persen dari aset dana abadi anak-anak. Dan yang paling penting... aku ingin kamu angkat kaki dari Kediaman Pratama! Tinggalkan Aris, tinggalkan rumah itu. Jika kamu benar-benar mencintai Aris seperti yang kamu agung-agungkan, maka berkorbanlah! Tinggalkan dia sebelum persidangan minggu depan, atau aku akan membeberkan seluruh berkas medis itu ke seluruh media nasional!"

Panggilan telepon itu terputus secara sepihak.

Kirana menggenggam ponselnya erat-erat, dadanya naik turun oleh napas yang memburu parau. Tubuhnya luruh berlutut di atas lantai balkon yang dingin dan basah oleh sisa air hujan. Hatinya hancur berkeping-keping.

Sindiran takdir begitu nyata meremukkan jiwanya. Ia baru saja menyandang mahkota cinta seorang ibu. Ia baru saja merasakan kehangatan pelukan seorang suami dan tawa riang anak-anak yang menganggapnya sebagai pahlawan kehidupan mereka. Namun kini, untuk mempertahankan kebahagiaan orang-orang yang dicintainya, ia dihadapkan pada pilihan paling kejam: bertahan dan menyaksikan rumah tangga ini hancur oleh kebenaran yang kejam, atau pergi menyepi dan membiarkan dirinya kembali dianggap sebagai wanita pendusta yang meninggalkan rumah tangga.

Inikah harga dari sebuah ketulusan? batin Kirana menjerit histeris ke arah langit malam yang gelap tanpa bintang. Haruskah seorang ibu tiri menyerahkan seluruh kebahagiaannya sendiri agar anak-anak dan suaminya tetap selamat?

Kirana menundukkan kepalanya sangat dalam, terisak-isak sendirian di tengah dinginnya malam Jakarta. Perjuangan melawan benteng prasangka belum berakhir. Kali ini, musuhnya bukan lagi kecurigaan Aris, melainkan bayang-bayang kejam dari masa lalu yang siap menelan seluruh hidupnya.

Dan waktu yang dimilikinya hanya tinggal tujuh hari sebelum persidangan itu dimulai.

Akankah Kirana memilih berkorban sendirian dan melangkah pergi meninggalkan Aris dan anak-anak demi melindungi rahasia tersebut? Ataukah sebelum batas waktu itu tiba, Kirana akan menemukan keberanian baru untuk melawan ancaman Sheila dan berdiri tegak mempertahankan takhta cintanya sebagai ibu dan istri sejati di Kediaman Pratama?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!