NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Duda Pengacara

Menikah Dengan Duda Pengacara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Happy reading

❄️❄️❄️

Byur!

Splash!

Keduanya jatuh dengan posisi yang tidak wajar, Azkia berada di bawah dengan tangan merangkul leher Arkanza sementara Arkanza berada di atas memegang sisi Bathtub.

Keduanya diam tidak ada yang membuka suara. Mata keduanya saling beradu menyiratkan keheningan. Debaran jantung Azkia berdetak lebih cepat saat wajah itu terlalu dekat dengan wajahnya.

"Kamu ingin menggodaku nona Azkia." Bisik Arkanza berhasil menarik kesadaran Azkia dari keterdiamannya.

"Siapa juga yang mau menggoda Anda tuan Arkanza yang terhormat!" Ucap Azkia mencoba mendorong tubuh Arkanza menjauh, tapi bukannya menjauh tubuh itu semakin mendekat.

"Jangan bergerak." Tegur Arkanza bukannya membuat gadis itu berhenti bergerak melainkan semakin berusaha mendorong Arkanza menjauh."saya bilang jangan bergerak, jangan bergerak, apakah anda tuli!" Tekan Arkanza seketika membuat Azkia berhenti.

"Jangan bilang anda bernafsu pada saya tuan Arkanza?" Ejek Azkia mendapatkan pelototan tajam dari pria itu.

"Siapa yang mengatakan itu, nona Azkia. Ada terlalu percaya diri juga ternyata." Jawab Arkanza tersenyum sinis."Jangankan bernafsu berpikir menyentuh anda saja saja jijik," jawab Arkanza membalas senyuman mengejek Azkia dengan senyuman simpul.

Terlihat tidak mengejek tapi berhasil membuat harga diri Azkia jatuh.

"Sialan! pria sialan! Dia sudah mengatakan aku menggodanya, giliran aku menjawab dia malah mengelak." Umpat Azkia dalam hatinya menatap tajam pria itu.

Arkanza bergerak pelan, memposisikan tubuhnya untuk berdiri dari posisinya walaupun agak kesulitan karena lantai yang lincin

"Cepat keluar dari sana!" Ucap Arkanza tapi tidak membuat gadis itu bangun.

"Tolong anda keluar dulu."

"Untuk apa? Bukannya ini kamar mandi saya, kenapa malah anda yang menyuruh saya keluar." Jawab Arkanza cuek."Cepat keluar dari sana, sebelum saya mengangkat mu dan melempar mu keluar."

"Baik, baik!" Kesal Azkia. Azkia bangun dari posisi nya sambil melingkarkan tangannya di tubuhnya, saat Azkia berhasil berdiri baju yang dia kenakan menempel tubuhnya hingga membuatnya sangat ketat dan memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya. Karena pakaian Azkia sangat tipis dan kentara berwarna putih sehingga Air yang menetes mengalir ke leher jenjangnya yang menetes turun ke dada yang tertutup oleh kain berwarna hitam yang terlihat sangat jelas.

"Ssstt, aku menyesal tidak menuruti perkataan gadis ini." Batin Arkanza saat merasakan desiran aneh dari tubuhnya."Jangan sampai kamu menyentuhnya, Arkanza. Dia hanya gadis yang tidak pantas untukmu." Berbeda dengan batin, sesuatu yang tersembunyi mulai terlihat sehingga pria itu bergegas keluar dari kamar mandi.

Azkia agak kebingungan melihat kepergian Arkanza. Tapi dia tidak memperdulikan itu, yang terpenting dia bisa bebas dari tatapan sombong dari pria itu.

Bergegas Azkia mengambil handuk yang berada di dalam kamar mandi itu dan dengan cepat mengenakannya, setelah itu barulah dia melangkah keluar dari kamar itu.

Azkia melirik ke sekitaran kamar tapi dia tidak menunjukkan jejak Arkanza."Kemana dia…? apa keluar? Biarkan saja…Sebaiknya aku ganti baju ." Ucap Azkia sambil melangkah keluar dari kamar itu.

Azkia turun ke lantai bawah dengan handuk yang dikenakannya, karena pakaian nya terlalu ketat dan juga basa jika dia keluar tanpa melapisi nya.

"Khilva sudah bangun bi?" Tanya Azkia saat dia sudah masuk kedalam kamar Vatha.

"Masih belum non, masih tidur." Jawab bi Mina membuat Azkia melirik ke arah tempat tidur, di sana dia melihat Khilva masih tidur di posisinya yang sama.

"Saya mandi dulu bi, kalau misalnya nanti Khilva cari tolong sampaikan ke dia kalau saya masih di kamar mandi."

"Baik, non."

Azkia mengambil pakaiannya dalam tas yang dia bawa semalam, tidak banyak hanya dua lembar. Mungkin nanti siang dia akan kembali ke kontrakannya untuk mengambil pakaian, mengingat dia akan tinggal di rumah itu.

Azkia keluar dari kamar mandi. Penampilannya juga jauh lebih rapi dan dia sudah terlihat jauh lebih segar. Baru saja dia keluar, Azkia langsung disambut oleh Khilva yang entah sejak kapan berdiri dekat pintu.

"Loh kifa kenapa berdiri disitu, sayang?" Tanya Azkia berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Khilva.

"Ladi nunduin unda, katana unda ladi mandi, matanya kifa tunduin discini." Jawab gadis kecil itu.

"Kifa mau mandi juga?"

"Iyaa, kifa na mandi, tapi unda Yan manditan." Minta gadis kecil itu yang terlihat memohon. Mata bulatnya yang sangat lucu membuat Azkia terkekeh kecil Apalagi saat berkedip-kedip. Terlihat seperti boneka.

"Baiklah, ayo kita mandi." Ajak Azkia sambil berdiri dari posisinya.

"Iyaa, unda. Ayo!" Gadis kecil itu terlihat bersemangat saat azkia akan memandikannya.

🍂🍂🍂🍂🍂

Siang harinya Azkia kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Zayn yang sampai sekarang masih tenang dalam tidurnya. Kata perawat yang menjaga Zayn, tadi pagi ada pergerakan tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda ayahnya itu bangun.

"Papa, maaf Azkia baru datang." Ucap Azkia memandangi wajah tenang Zayn."Papa tau, gadis kecil yang sering Azkia ceritakan kini semakin manja saja. Dia begitu lengket dengan ku hingga aku merasa gemas. Papa cepat-cepat bangun, agar aku bisa mengenalkan mereka pada papa." Lanjutnya lagi.

Di tengah-tengah keheningan menatap sang papa, suara ponselnya berdering. Tertera nomor asing di sana.

"Anda di mana?" Suara dingin itu membuat Azkia memutar matanya malas, rasanya agak kesal mendengar suara itu.

"Saya berada di ruangan papa, emangnya kenapa?" Tanya Azkia.

"Keruangan kedua orang tua saya sekarang. Saya ingin berbicara penting dengan anda."

"Oke saya kesana." Walaupun malas meninggalkan papa nya, tapi Azkia harus tetap ke ruangan mertuanya. Entah apa yang ingin pria itu bicarakan sampai menyuruhnya ke sana. Padahal tadi setelah dia mengantar Khilva ke ruangan nyonya Zafina, dia langsung ke ruangan itu dan tadi dia juga sudah meminta izin.

"Waktu hanya sepuluh menit."

Tut...Tut...

"Apa sepuluh menit!!" Ucap Azkia kesal."Papa, Azkia tinggal dulu sebentar ya, nanti Azkia ke sini lagi." Ijin Azkia.

Walaupun ayahnya tidak sadar, tapi Azkia tau kalau ayahnya itu mendengar apa saja yang dia katakan.

Tidak ada ancaman tapi waktu yang dia berikan sangat singkat membuat Azkia bergegas keluar dari ruangan ayah nya.

………

Azkia membuka pelan pintu utama dengan sopan, kedatangannya langsung disambut oleh pekikan Khilva.

"Unda na Kifa!" Pekik Vatha seraya turun dari tempat tidur. Gadis kecil itu berlari menghampirinya dan memeluk Azkia dengan senang."Unda na, kifa. Kifa Lindu!" Padahal mereka belum lama berpisah, tapi gadis kecil itu sudah rindu saja.

"Iyaa, bunda juga rindu sama kifa." Jawab Azkia meladeni kemajaan Khilva. Arkanza sendiri tidak terlalu memperhatikan, pria itu tetap fokus pada laptop di pangkuannya.

"Terlambat tiga menit." Ucapnya santai membuat semua orang melihat ke arah nya.

"Apa yang terlambat tiga menit Arkanza?" Tanya Zafina bingung.

"Dia." Jawab Arkanza melirik Azkia sekilas sementara Anugraha dan Zafina hanya menggeleng kecil dengan sikap dingin pria itu.

"Azkia sudah datang, lalu apa yang ingin kamu bicarakan Arkanza pada kami." Tanya Anugraha membuka pembicaraan.

💧💧💧

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like, vote dan subscribe biar author makin semangat buat update lagi.

Salam manis dari author😉

1
Lisa
👍👍 Azkia..semangat yaa 💪
Lisa
Setuju Kak..Azkia harus bersikap tegas terhadap Arkanza..
Ulfa Zahra: okey kak
total 1 replies
Sak
jangan mau kalah Azkia. lanjutkan Thor
Ulfa Zahra: siap kak
total 1 replies
Lisa
😊😊👍 biar kapok tuh si Arkanza
Sak
Nggak apa-apa Vatha masih ada bunda mu di rumah..
Lisa
Kasihan banget y Vatha..punya papa model kyk gitu 🤭
Ulfa Zahra: harus banyak banyak sabar kak
total 1 replies
Lisa
Kasihan 2 anak itu..moga aj papanya mau membuka hatinya utk wanita lain.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!