Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan di persimpangan kabut
Angin hutan bertiup rendah, menerbangkan helai-helai daun kering di antara Shen Xianle, Lin Cang, dan Junwei. Kehadiran Junwei yang tiba-tiba di mulut gua rahasia itu laksana sebuah jangkar yang menghentikan seluruh pergerakan rombongan keluarga Lin.
"Junwei..." gumam Xianle.
Dadanya berdenyut hangat. Inti Magnolia Spiritual di dalam tubuhnya memberikan sinyal kerinduan yang mendalam pada sosok pria berjubah putih itu—pria yang telah mempertaruhkan nyawa menyelamatkannya saat ia terhempas dari tebing maut.
Namun, tepat ketika Xianle hendak melangkah maju, bisikan wanita misterius yang ia dengar di dalam lorong makam tadi mendadak terngiang kembali, memotong kehangatan itu dengan kejam.
Jangan percaya siapa pun di tempat ini...
Langkah kaki Xianle langsung tertahan di udara. Ia menarik kembali kakinya, menatap Junwei dengan sepasang mata yang mendadak dipenuhi kilatan selubung curiga.
Bagaimana bisa Junwei tahu pintu keluar rahasia ini? pikir Xianle, naluri bertahannya mulai bekerja. Jalur ini adalah rahasia keluarga Lin, bahkan para penyerang tadi harus mengintai dari dalam. Tapi dia... dia sudah berdiri di sini seolah-olah sedang menunggu kami mengantarkan Fragmen Magnolia langsung ke tangannya.
Junwei menyadari perubahan tatapan Xianle. Sudut matanya menyipit samar, namun ekspresi wajahnya tetap tenang. "Kau terluka, Xianle?" tanyanya lembut, melangkah satu langkah mendekat.
"Berhenti di sana," desis Xianle dingin, tangan kanannya refleks meraba gagang belati di pinggangnya.
Junwei menghentikan langkahnya. Ada kilatan kekecewaan yang lewat begitu cepat di matanya sebelum kembali datar.
Lin Cang yang melihat reaksi Xianle langsung mengambil kesempatan. Ia melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Xianle seolah bertindak sebagai perisai. "Junwei, apa maumu? Tempat ini adalah wilayah terlarang keluarga Lin. Bagaimana kau bisa menembus formasi pelindung luar?"
Junwei tidak memandang Lin Cang. Sepasang matanya tetap terkunci pada Xianle. "Formasi pelindung tempat ini sudah hancur sejak Gerbang Surga Terlarang bergetar, Lin Cang. Aku ke sini bukan untuk berdebat denganmu. Aku ke sini untuk mengambil apa yang seharusnya dilindungi."
Tangan Junwei bergerak perlahan menuju seruling bambu hijau giok di pinggangnya.
Gerakan sederhana itu membuat puluhan pengawal keluarga Lin langsung mencabut pedang mereka. Suara gesekan logam bergema memecah kesunyian hutan berkabut.
Xianle semakin mengerutkan keningnya. Kecurigaannya membubung tinggi. Mengambil apa yang harus dilindungi? Apakah yang dia maksud adalah Inti Magnolia di tubuhku, atau fragmen di tangan Lin Cang? Apakah selama ini dia menyelamatkanku dari tebing hanya demi memanfaatkan kekuatanku di saat seperti ini tiba?
"Junwei," suara Xianle terdengar bergetar namun tajam. "Siapa kau sebenarnya? Dan bagaimana kau bisa tahu persis kami ada di sini?"
Junwei menatap Xianle lurus-lurus. "Aku tahu karena energi spiritual di tubuhmu terhubung denganku sejak malam di bawah tebing itu, Xianle. Aku meruntuhkan mantra pelindung luar karena merasakan bahaya mendekatimu."
"Kebohongan yang indah," potong Lin Cang dengan kekehan sinis. "Xianle, jangan dengarkan dia. Dia adalah orang asing yang muncul entah dari mana saat kau sekarat. Apakah kau tidak berpikir itu terlalu kebetulan? Dia menginginkan kotak ini. Dia menginginkan warisan ibumu!"
Xianle berdiri di tengah-tengah dua pria itu, merasakan kepalanya berdenyut hebat. Bisikan gaib di kepalanya, peringatan Lin Cang, dan kemunculan Junwei yang terlalu tepat waktu menciptakan badai ketidakpercayaan di dalam benaknya. Xianle merasa bahwa pria yang mengobati lukanya di bawah tebing itu memiliki agenda tersembunyi yang sangat mengerikan.
"Cukup," kata Xianle dengan nada rendah yang sarat akan penekanan. Ia menarik belati kembarnya, mengarahkannya tepat ke arah Junwei, lalu perlahan menggeser bilahnya ke arah Lin Cang. "Aku tidak akan ikut dengan siapa pun. Dan aku tidak akan memercayai siapa pun dari kalian sebelum aku mendapatkan kebenaran yang utuh."
Junwei menatap bilah belati yang mengarah kepadanya tanpa rasa takut, hanya ada tatapan dingin yang mendalam. "Kau berhak mencurigaiku, Xianle. Tapi hutan ini sudah dikepung. Jika kau tetap tinggal di sini bersama Lin Cang, kau hanya berjalan menuju kematian yang direncanakan."
Belum sempat Xianle mencerna ucapan Junwei, lolongan serigala yang memekakkan telinga bergema dari segala penjuru hutan. Kabut tipis di sekitar mereka mendadak berubah menjadi hitam pekat, membawa hawa kematian yang sangat familiar.
Tikus-tikus pengintai dari cabang terlarang Klan Serigala Hitam telah mengepung mereka dalam jumlah yang jauh lebih besar.