NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"Elara?!"

Dreven menatap layar tablet dengan dahi berkerut. Matanya memperhatikan setiap detail dalam rekaman itu, terutama ekspresi Elara yang begitu tenang saat berbicara dengan Leo.

Dia menyipitkan mata. Sejak kapan Elara punya uang sebanyak itu?

Dia tahu Elara bukan wanita biasa, tapi dari mana dia mendapatkan sumber dana sebesar ini? Setahunya, dia tidak memiliki bisnis besar atau aset yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah banyak—setidaknya itulah yang dia pikir selama ini.

"Tony," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Cari tahu semua tentang Elara. Semua aset, transaksi keuangan, siapa saja yang berhubungan dengannya, bahkan sekecil apapun detailnya. Aku ingin tahu dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu."

Tony mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Saya akan segera menyelidikinya."

Dreven menekan bibirnya. Elara... siapa kau sebenarnya?

Dengan cepat dia menghubungi Elara, namun panggilan selalu sibuk. "Kemana dia?" Gumamnya penasaran.

"Dia masih di hotel kan?" tanya Dreven pada Tony.

Tony langsung menghubungi penjaga yang memang tersebar di beberapa titik hotel.

"Beberapa orang sedang mengecek ke kamar nyonya, tuan."

Dreven mengangguk lalu menggerakkan kursi rodanya dan menatap ke arah pria paruh baya itu, "Jika tahu kau menjualnya pada istriku aku tak akan terlalu keras padamu. Permisi," katanya dengan datar lalu pergi.

Saat berjalan keluar dengan kursi rodanya, pikiran Dreven dipenuhi berbagai pertanyaan tentang Elara. Dia selalu menganggap wanita itu hanyalah seseorang yang terpaksa menikah dengannya. Tapi sekarang, dia mulai menyadari bahwa ada sisi lain dari Elara yang belum dia ketahui.

Saat menuju mobil, Tony menerima panggilan dan segera melaporkan, "Tuan, nyonya tidak ada di kamar hotel. Pengawalan kami juga tidak melihatnya keluar dari pintu utama."

Dreven berhenti di tengah langkahnya di kursi roda. Rahangnya mengeras. "Kau bilang apa?"

"Nyonya Elara... menghilang."

Tangan Dreven mengepal. Matanya menajam. "Kenapa kau seperti tikus kecil yang selalu ingin kabur, Elara."

---

"Kopi anda, nona." Suara pramugari tampak begitu ramah menyajikan kopi untuk Elara.

"Terima kasih," jawabnya pelan.

"Ini soda anda, tuan," kata pramugari pada Leo yang duduk di sebelah Elara.

"Oke."

Setelah pramugari itu pergi, Elara melirik ke arah Leo.

"Penjualan Villa ku sudah selesai?" tanyanya sambil menyeruput kopi panas itu.

Leo mengangguk sambil membuka tabletnya, lalu menyerahkan layar kepada Elara. "Sudah. Semua dokumen sudah ditandatangani dan dana sudah masuk ke rekeningmu."

Elara menatap angka yang tertera di layar dengan tenang, seolah jumlah itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan baginya. "Bagus," gumamnya, lalu mengembalikan tablet itu.

Leo menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap Elara dengan penasaran. "Kau seharusnya hidup nyaman menjadi nyonya Dastan, tapi kenapa aku lihat kau membutuhkan banyak uang?"

Elara tersenyum tipis, "karena aku tak selamanya menjadi nyonya Dastan. Ada hal lain yang harus aku kejar."

"Hal lain?" beo Leo.

Elara mengangguk, "kau akan tahu nanti, setelah aku mendapatkannya kau tak perlu hidup bersembunyi di apartemen kecil itu. Aku akan membalas jasamu."

Leo yang mendengar itu terkekeh lalu meneguk sodanya dengan kasar, "Kau membuatku merinding, seolah kau penguasa konglomerat besar."

Elara hanya tersenyum, dia berhutang banyak pada pria di sampingnya ini. Jika saja dia tak bertemu dengannya maka kehidupannya akan sulit apalagi di keluarga Roselyn dia tak bisa melakukan apapun. Perusahaan desain interior yang dia bangun dari nol berkat bantuan Leo adalah satu-satunya hal yang membuatnya bertahan selama ini.

"Tapi tenang saja, meskipun kau tak mendapatkan apa yang kau bilang tadi aku tetap akan membantumu. Kau satu-satunya wanita yang membuatku ingin hidup bebas," katanya dengan tawa kecil.

Elara melirik Leo dengan ekspresi penuh arti, lalu mengaduk kopinya dengan perlahan. "Kau bicara seolah aku ini malaikat penyelamat hidupmu."

Leo terkekeh sambil mengangkat bahu. "Bukan malaikat. Tapi... kau berbeda dari wanita lain yang kutemui."

Elara hanya tersenyum tipis, tapi tak menanggapi.

Hingga saat pesawat mengalami getaran hebat, Leo segera memposisikan tubuhnya sebagai pelindung untuk Elara hingga wajah mereka hampir tak berjarak.

Elara membeku sesaat, bisa merasakan napas Leo begitu dekat. Mata mereka bertemu, dan dalam sepersekian detik ada sesuatu yang berkilat di sana—sesuatu yang tak bisa diartikan dengan kata-kata.

"Tenang, hanya turbulensi," bisik Leo, masih mempertahankan posisinya.

Elara menelan ludah, lalu menyingkirkan wajahnya pelan. "Aku tidak selemah itu sampai harus kau lindungi seperti ini."

Leo tersenyum kecil, lalu duduk kembali dengan santai. "Bukan soal lemah atau kuat. Refleks saja."

Elara tak menanggapi, hanya kembali menatap keluar jendela. Tapi di dalam kepalanya, satu hal mulai mengganggunya—kenapa dia merasa aneh saat melihat tatapan Leo tadi?

Tapi melihat Leo tampak biasa saja setelah kejadian tadi akhirnya Elara menghela nafas. Dia terlalu banyak berpikir.

Hingga saat pesawat landing di pagi hari, Elara bisa tersenyum karena akhirnya sampai dan bisa istirahat di rumah.

"Mau aku antar?"

Elara menggeleng, "Aku sudah pesan taksi. Bahaya juga jika ayah mertuaku ada di mansion dan melihatmu."

Leo mengangkat bahu dengan santai. "Baiklah, kalau begitu hati-hati. Jika ada masalah, kau tahu harus menghubungi siapa."

Elara tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Terima kasih, Leo."

Tanpa menunggu lama, dia segera melangkah keluar dari bandara dan masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya. Saat mobil mulai melaju, Elara melihat pesan dan ratusan panggilan dari Dreven.

Elara mendesah pelan dan berniat mengabaikannya, namun saat dia ingin mematikan ponselnya lagi telepon Dreven masuk.

Dengan enggan dia mengangkatnya.

"Bagus, kau pulang tanpa mengabariku?!" Suara Dreven langsung menyambutnya dengan keras.

"Aku tak ingin mengganggu liburanmu dengan teman-temanmu. Jadi nikmatilah disana selama mungkin dan aku akan istirahat di rumah," jawabnya dengan tenang lalu mematikan panggilan sekaligus ponselnya.

Saat sampai di mansion, supir taksi itu berhenti lalu menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh Elara.

"Pak, tunggu sebentar ya. Uang cash saya kurang, saya akan mengambilnya di dalam."

Supir taksi itu mengangguk, tapi tepat saat Elara akan turun dia melihat ayah mertuanya berdiri di depan pintu.

Dan saat Elara benar-benar keluar, Raviel menghampirinya, "Dimana cecunguk itu?"

Elara menatap datar sudah tidak heran dengan panggilan sayang orang tua itu, "Masih di Dubai. Ayah punya uang? Tolong bayar taksi ku ya," katanya sambil mengambil kopernya dan berjalan masuk.

Raviel menatap Elara yang masuk begitu saja, tapi melihat taksi yang menunggu dia langsung mengeluarkan beberapa lembar uang.

"Tuan ini terlalu banyak."

"Ambil saja."

Supir taksi itu tersenyum cerah, "Terima kasih, tuan," katanya sebelum pergi.

Raviel mengangguk dan kembali masuk ke dalam dan melihat Elara yang bersandar di sofa dengan santai.

"Ada apa ayah mertua mampir? Bahkan tahu jika aku pulang," tanyanya tanpa basa basi.

Raviel menatap Elara dengan dingin, "kau benar-benar tak seperti menantuku yang lain. Apa kau tak ingin menjilat ku untuk mendapatkan posisi?"

Elara terkekeh pelan lalu mengambil teh yang diberikan pelayan untuknya dan meminumnya sejenak sebelum menjawab, "Ayah, kau serius bertanya seperti itu? Kita sudah saling membuat kesepakatan."

Raviel menghela nafas lalu duduk dan menerima teh dari pelayan juga, "Ada yang mencarimu."

"Siapa? Keluarga Roselyn? Buat apa mereka mencariku, pasti hanya ingin mendapatkan uang darimu," kata Elara santai sebelum mengetahui siapa yang Raviel maksud.

"Bukan."

"Lalu?"

"Mata-mata Astreo Group."

BRUSH!!!

Elara langsung menyemburkan tehnya tanpa disengaja saat mendengar hal itu.

Raviel segera mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap wajahnya yang terciprat teh dari Elara.

"Dimana? Apa mereka mengetahui keberadaanku? Kau memberitahunya? Hei jawab!"

Raviel menatap dalam Elara sebelum akhirnya bertanya, "Kau... pewaris yang dicari Astreo Group?"

Bersambung...

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!