NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebahagiaan ibu

Karena perutku sudah terasa lapar sekali, aku pun mengambil beberapa macam makanan. Potongan daging panggang, sayuran segar, serta sepotong kue dan buah, lalu membawanya ke meja di sudut yang agak sepi. Di sana aku duduk sendirian, menyantapnya perlahan. Tak ada teman di sampingku, tak ada Vina maupun Bagus. Aku memang sengaja tak mengundang mereka ke acara ini, tak ingin melibatkan sahabat dan temanku dalam urusan pelik yang menyakitkan ini. Biarlah aku saja yang menanggung semuanya, pikirku. Di tengah kemewahan dan keramaian tamu-tamu itu, aku justru merasa sepi sekali, seakan terasing di tempat sendiri.

 

Dari kejauhan aku memperhatikan Ibu dan Paman Samudra yang sedang berbincang. Tak jarang terdengar tawa kecil dari mereka berdua. Ibu terlihat tenang, bahkan sesekali tersenyum tulus. Melihat itu, pikiranku perlahan berubah. Ternyata... ternyata Paman Samudra tidak seburuk yang kubayangkan selama ini. Mungkin saja sikapnya kemarin memang terasa kasar, tapi mungkin itu sekadar kesan pertamanya saja. Mungkin selama ini aku yang terlalu berlebihan memikirkannya, terlalu banyak berasumsi tanpa tahu sebenarnya bagaimana sosok aslinya. Aku menunduk pelan, merasa sedikit bersalah sudah menilai orang sembarangan. Siapa tahu memang pernikahan ini membawa kebahagiaan bagi Ibu. Siapa tahu.

 Ibu melambaikan tangan dari kejauhan, senyumnya merekah indah memanggilku mendekat. "Nduk, kemari sebentar dong. Kita berfoto bersama Ayah baru kamu ya."

Aku melangkah mendekat perlahan, menyusuri pelataran pelaminan yang megah itu. Begitu sampai di samping mereka, Samudra tersenyum ramah lalu merangkul bahuku pelan, sementara Ibu segera menggenggam erat tanganku. Aku pun ditarik ke tengah-tengah, berdiri tepat di antara mereka berdua. Tangan kananku digenggam lembut oleh Ibu, tangan kiriku disambut hangat oleh Samudra. Kami bertiga berdiri rapat, seakan satu keluarga utuh yang tak terpisahkan.

Fotografer menyiapkan kameranya, menyuruh kami sedikit merapat dan tersenyum. Samudra mengusap pelan punggung tanganku dengan ibu jarinya, tatapannya lembut menatapku dan Ibu bergantian. "Cantik sekali keluarga kita," ucapnya pelan, cukup kami bertiga yang mendengar.

Aku menatap wajah mereka berdua bergantian. Ibu bahagia, terlihat jelas dari matanya yang berbinar. Dan Samudra... di dekatnya begini, ia terasa hangat dan baik hati, sama sekali tak menyeramkan seperti kesan pertamaku. Mungkin benar, aku yang terlalu berlebihan selama ini.

"Senyum cantik ya! Satu, dua, tiga!"

Lampu kamera menyala. Aku tersenyum tulus, membiarkan momen ini terabadikan selamanya. Semoga saja, semoga kebahagiaan ini benar-benar nyata dan abadi bagi Ibu.

 Setelah sesi berfoto bersama selesai, aku turun perlahan dari pelaminan dan memberi kesempatan kepada tamu-tamu yang ingin berfoto bergantian bersama Ibu dan Paman Samudra. Mereka berdatangan satu demi satu, tersenyum bahagia, memuji kecantikan Ibu serta kebahagiaan pasangan pengantin baru itu. Aku berdiri agak menyisih, membiarkan mereka berbagi momen indah itu.

Saat mataku menyapu ruangan mencari sosok ketiga istri Samudra tadi, ternyata mereka sudah tak terlihat lagi. Entah kapan pergi dan ke mana arahnya, aku pun tak tahu. Jujur saja, kepergian mereka tanpa pamit ini justru membuatku lega. Selama tadi keberadaan mereka terasa seperti beban di pundakku, menatap dengan tatapan dingin yang membuatku tak nyaman. Sekarang hilang entah ke mana, ya sudah, tak perlu kupedulikan lagi. Biarlah mereka pergi, yang penting Ibu bahagia di sana, pikirku.

Aku menarik napas panjang, menyaksikan Ibu yang tersenyum lebar menyambut setiap tamu. Mungkin memang benar, tak semua hal tampak seperti kelihatannya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, hatiku mulai tenang sedikit demi sedikit.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!