Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Beep. Beep. Beep.
Suara mesin monitor detak jantung terdengar berirama teratur di telinga Bayu.
Bau obat-obatan dan karbol yang sangat menyengat perlahan menusuk indera penciumannya.
Bayu perlahan membuka kelopak matanya yang terasa amat berat dan lengket.
Cahaya lampu neon putih di langit-langit ruangan langsung membuatnya harus menyipitkan mata beberapa kali.
"Di mana aku sekarang?" batin Bayu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang asing itu.
Ia menyadari dirinya sedang berbaring lemas di atas ranjang besi bersprei putih polos.
Sebuah selang infus menancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan bening setetes demi setetes.
Tes. Tes. Bayu mencoba menggerakkan tangan kanannya, tapi seluruh ototnya terasa kaku dan nyeri bukan main.
"Ah, badanku rasanya seperti baru saja habis digilas truk tronton," keluh Bayu dengan suara yang sangat serak.
Sebuah layar biru neon tiba-tiba muncul tepat melayang di depan wajahnya.
[Sistem Batu Waktu dalam mode pemulihan.]
[Energi Waktu: 1/10]
[Kondisi Fisik: Kelelahan ekstrem, dehidrasi, dan cedera otot ringan berhasil distabilkan.]
"Setidaknya aku masih hidup dan tidak jadi cacat permanen gara-gara peluru itu," batin Bayu merasa sangat lega membaca pemberitahuan sistem.
Cklek.
Suara gagang pintu diputar membuat Bayu spontan menoleh ke arah sumber suara.
Pintu kayu bercat putih itu terbuka dan menampilkan sosok gadis berkacamata bulat.
Anya melangkah masuk ke dalam kamar rawat sambil membawa sebuah kantong plastik putih berisi beberapa kotak makanan.
Langkah Anya terhenti sejenak saat melihat mata Bayu yang sudah terbuka menatapnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar juga, dasar pemuda tukang tidur," sapa Anya dengan nada lega namun sengaja dibuat sedikit ketus.
Anya berjalan mendekat lalu meletakkan kantong plastik itu di atas meja kecil di samping ranjang Bayu.
"Berapa lama aku pingsan di luar sana?" tanya Bayu sambil berusaha susah payah untuk duduk bersandar pada bantal.
Anya menarik sebuah kursi plastik berwarna biru dan duduk di dekat ranjang pasien.
"Hampir empat belas jam penuh kamu tertidur pulas seperti orang mati," jawab Anya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku terpaksa memanggil ambulans puskesmas desa untuk mengangkut tubuhmu yang berat itu ke mari."
Bayu tersenyum kikuk dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Terima kasih banyak ya, Anya. Kamu benar-benar malaikat penolongku hari ini," ucap Bayu dengan nada tulus.
Anya mendengus pelan mendengar pujian murahan dari pemuda misterius di depannya ini.
"Jangan mencoba merayuku untuk mengalihkan topik, Bayu Rahaja," ancam Anya dengan tatapan menyelidik dari balik kacamatanya.
"Kamu berhutang banyak penjelasan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi di halaman rumahmu semalam." Bayu menelan ludah kasarnya, ia sudah menduga gadis jenius ini tidak akan melepaskannya begitu saja tanpa interogasi.
"Penjelasan tentang apa? Aku cuma kelelahan setelah beres-beres rumah tua seharian penuh," elak Bayu memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Lalu aku jatuh pingsan di halaman karena belum makan nasi dari pagi, sesederhana itu kok."
Anya mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap wajah Bayu semakin tajam tanpa berkedip.
"Bohong," tembak Anya tanpa ragu sedikit pun mematahkan kebohongan itu.
"Saat aku menemukanmu, ada jejak ban mobil meledak, pecahan kaca, dan rumput yang hangus di sekitar sana." Anya membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot turun di hidungnya.
"Selain itu, suhu tubuhmu mencapai empat puluh derajat celcius, tapi anehnya dokter bilang tidak ada infeksi bakteri apa pun," lanjut Anya merinci fakta.
"Dokter jaga juga bilang sistem sarafmu mengalami syok berat yang gejalanya mirip seperti tersengat listrik tegangan tinggi."
Bayu merutuki kecerdasan Anya di dalam hatinya yang terlalu memperhatikan detail-detail kecil di lokasi kejadian.
"Gadis ini kenapa teliti sekali sih, dia pantasnya jadi detektif kepolisian bukan mahasiswi jurusan fisika," batin Bayu merasa sangat frustrasi.
"Itu pasti cuma kebetulan saja, mungkin ada anak kampung jahil yang main petasan besar di dekat rumahku," sangkal Bayu memberikan alasan asal-asalan.
Anya menggelengkan kepalanya dengan kuat menolak teori bodoh tersebut.
"Tidak ada sisa sobekan kertas petasan atau bau belerang sama sekali di pekaranganmu, Bayu," bantah Anya dengan nada menang.
"Yang ada hanya bau ozon yang sangat kuat, bau khas dari reaksi pelepasan energi ionisasi di udara terbuka."
Bayu menghela napas panjang, ia akhirnya menyerah berdebat soal fisika dan kimia dengan ahlinya.
"Oke, anggap saja semua analisismu itu benar seratus persen, lalu apa kesimpulanmu Nona Detektif?" tantang Bayu mencoba memancing reaksi Anya.
Anya terdiam sejenak, wajahnya tampak serius memikirkan rentetan kejadian aneh sejak mereka bertemu di minimarket.
"Kamu menyembunyikan sesuatu kekuatan yang melanggar hukum alam dasar, Bayu," tuduh Anya dengan suara pelan tapi sangat tegas.
"Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya, tapi aku yakin sepenuhnya bahwa kamu yang memanipulasi kejadian di sekitarmu." Bayu tertawa hambar untuk menutupi rasa gugupnya yang perlahan semakin memuncak di dalam dada.
"Kamu terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah di bioskop, Anya," kata Bayu terus membela diri dari tuduhan itu.
"Aku ini cuma pemuda pengangguran biasa yang kebetulan sedang bernasib sial saja beberapa hari terakhir ini."