Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"BELLA ANASTASIA!"
Bu Ratna, guru BK, menerobos kerumunan siswa dengan wajah kemenangan yang dipenuhi amarah. Beliau menunjuk tepat ke wajah Bella dengan telunjuk yang gemetar.
"Sudah kuduga! Semua sikap rapimu minggu ini hanyalah kamuflase belaka!" teriak Bu Ratna menggema, terdengar memastikan seluruh siswa di gerbang saat mendengarnya. "Kalian diam-diam merencanakan perusakan fasilitas sekolah dan mendeklarasikan perang geng! Ini adalah vandalisme tingkat berat!"
Bella tidak memundurkan posisinya satu sentimeter pun. Ia menatap telunjuk Bu Ratna, lalu menatap mata guru tersebut.
"Selamat pagi, Ibu Ratna. Mohon turunkan nada suara Anda, kita berada di ruang publik dan Ibu berisiko memicu histeria massal di kalangan siswa," balas Bella dengan ketenangan yang kontras dengan kepanikan di sekitarnya. "Apakah Ibu menuduh saya dan tim saya sebagai pelaku vandalisme ini?"
"Tulisan itu membawa nama geng kalian yang kampungan itu! Apalagi buktinya?!" sentak Bu Ratna. "Kalian semua, ikut saya ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga! Saya akan memastikan Pak Surya menandatangani surat skorsing kalian hari ini juga!"
Dion maju selangkah berniat membantah, namun Bella mengangkat tangannya untuk menghentikan pergerakan seluruh anggotanya.
"Baik, Bu Ratna," jawab Bella patuh. "Mari kita eskalasikan masalah ini ke tingkat eksekutif. Namun, sebelum itu izinkan saya memberikan satu instruksi operasional kepada bawahan saya."
Bella menoleh ke arah Tono dan Bono. "Tono, Bono. Kalian adalah Staf Observasi, ingat materi Pemetaan Blind Spot CCTV yang saya tugaskan di minggu pertama?"
Tono mengangguk cepat. "Ingat, Bos! Posisi kamera satpam nyorot ke tengah gerbang, tapi ada blind spot (titik buta) di area tembok ujung dekat pohon beringin."
"Tepat," Bella memberikan instruksi dengan nada rendah namun mematikan. "Sementara saya dan Dion menghadap manajemen sekolah, lakukan investigasi lapangan. Sisir area blind spot itu dalam radius sepuluh meter dan cari bukti fisik apa pun, baik berupa kaleng cat semprot, jejak alas kaki di tanah basah, atau puntung rokok. Jangan sentuh barang buktinya secara langsung, foto menggunakan ponsel sebagai dokumentasi awal. Eksekusi sekarang."
"Siap, laksanakan, Bos!" Tono dan Bono langsung berbalik dan berlari menuju area samping gerbang.
Bella kemudian menoleh kembali ke arah Bu Ratna yang menatap interaksi itu dengan bingung.
"Mari, Ibu Ratna," kata Bella, mempersilakan guru BK itu untuk berjalan lebih dulu. "Ruang sidang sudah menunggu kita."
Ruang Kepala Sekolah terasa lebih tegang dari biasanya. Pak Surya duduk di kursinya dengan wajah muram, memijat pelipisnya. Di depan meja, Bu Ratna berdiri sambil melipat tangan di dada. Sementara Bella duduk di kursi tamu, diapit oleh Dion dan Rindi yang berdiri di belakangnya layaknya pengawal.
"Vandalisme, Bella," Pak Surya memulai, nada suaranya memancarkan kekecewaan yang dalam. "Saya baru saja memberikanmu otonomi, dan dalam waktu kurang dari seminggu, tembok depan sekolah kita dirusak dengan deklarasi perang atas nama kelompokmu. Apa penjelasanmu?"
"Ini sangat jelas, Pak Surya!" Bu Ratna menyela sebelum Bella sempat membuka mulut. "Gadis ini memanipulasi Bapak, ia membuat kita lengah agar kelompoknya bisa berbuat ulah. Sesuai tata tertib Pasal 12 tentang perusakan fasilitas sekolah, hukumannya adalah skorsing selama dua minggu atau D.O. mutlak!"
Bella menarik napas panjang secara terukur, menormalkan ritme detak jantungnya.
"Bapak Surya, Ibu Ratna," Bella mulai berbicara dengan intonasi formal dan jernih, memposisikan dirinya layaknya seorang pengacara perusahaan yang sedang mematahkan klaim palsu. "Saya menyangkal seluruh tuduhan tersebut. Kelompok kami tidak memiliki keterlibatan operasional maupun manajerial dalam insiden vandalisme pagi ini."
"Bukti nama geng kalian tercetak sebesar dua meter di tembok!" bentak Bu Ratna.
"Hanya karena nama sebuah perusahaan dicatut dalam sebuah penipuan, bukan berarti perusahaan tersebut adalah pelakunya," balas Bella telak, membuat Bu Ratna kembali terbungkam. "Mari kita gunakan logika bisnis yang sederhana, Bapak dan Ibu. Motif."
Bella menatap Pak Surya. "Setiap kejahatan terencana membutuhkan motif atau Return on Investment (ROI) yang jelas. Saat ini, organisasi saya sedang menargetkan pencairan Bonus Kinerja Bulanan yang mensyaratkan 0% pelanggaran kedisiplinan. Jika saya yang menyuruh anggota saya merusak tembok tersebut, itu artinya saya dengan sengaja menghancurkan KPI kami sendiri, membatalkan bonus kami, dan tentu membuang kepercayaan mutlak yang baru saja Bapak berikan kepada saya. Dari sudut pandang strategis dan finansial, tindakan itu adalah kebodohan tingkat tinggi dengan ROI negatif. Saya adalah seorang perencana, Pak Surya, bukan orang bodoh."
Pak Surya terdiam, logika deduktif yang dilontarkan Bella sangat kokoh dan rasional. Tidak masuk akal bagi seseorang yang baru saja merancang sistem kedisiplinan internal yang brilian untuk menghancurkannya sendiri keesokan harinya.
"Tapi... siapa lagi yang mau repot-repot menulis nama Bone Breakerz?" gumam Pak Surya, mulai ragu.
"Kompetitor (Competitor), Pak," jawab Bella. "Ini adalah tindakan sabotase dari Geng Serigala. Tujuannya adalah character assassination (pembunuhan karakter) agar manajemen sekolah menghukum kami."
Tepat saat Bu Ratna hendak membantah lagi dengan argumen bahwa itu hanyalah alibi, terdengar ketukan keras dari pintu. Tono dan Bono masuk dengan tergesa-gesa. Keringat membasahi dahi mereka.
"Permisi, Pak Kepala Sekolah... Maaf ganggu," Tono mengatur napasnya. Ia menoleh ke arah Bella. "Bos, laporan observasi lapangan selesai. Kami menemukan barang buktinya."
Bella mengangguk. "Presentasikan temuanmu kepada forum, Tono."
Tono mengeluarkan ponselnya, lalu meletakkan sebuah kantong plastik bening di atas meja Kepala Sekolah. Di dalam plastik itu terdapat dua kaleng cat semprot berwarna merah dan hitam yang sudah kosong.
"Kami menyisir area titik buta CCTV sesuai SOP dari Bos Bella," lapor Tono dengan bahasa yang agak kaku namun rapi, meniru gaya bicara atasannya. "Kami menemukan kaleng cat ini disembunyikan di bawah tumpukan daun kering dekat tembok samping. Dan ini buktinya, Pak."
Tono membuka galeri ponselnya dan menunjukkan sebuah foto resolusi tinggi yang di- zoom pada bagian bawah kaleng cat tersebut.
"Di bagian bawah kaleng cat ini, ada stiker harga dari 'Toko Material Kencana Makmur'," lanjut Tono. "Toko material itu posisinya persis di depan gerbang SMA Swasta Kencana, markasnya anak-anak Geng Serigala. Anak Garuda nggak pernah beli perlengkapan sejauh itu."
Bella menimpali temuan tersebut dengan pukulan akhir (closing argument). "Selain itu, Pak Surya, mari kita lakukan verifikasi silang (cross-verification) terhadap Time and Attendance (Data Absensi). Vandalisme dengan ukuran sebesar itu dan mengingat kondisi cat yang masih setengah basah pada pukul 06:00 pagi, kemungkinan besar dieksekusi antara pukul 04:00 hingga 05:00 subuh."
Bella mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka grup WhatsApp 'Unit Manajemen Krisis'.
"Sesuai peraturan internal kami, setiap pukul 04:30 pagi, seluruh anggota saya wajib melakukan absensi online (Check-In) berupa foto diri sedang melakukan pemanasan fisik di rumah masing-masing, lengkap dengan timestamp (cap waktu dan lokasi GPS)."
Bella meletakkan ponselnya di depan Pak Surya dan Bu Ratna. Di layar tersebut, terlihat foto Dion, Rindi, Tono, serta Bono yang sedang melakukan push-up di teras rumah mereka masing-masing pada pukul 04:30 pagi, dengan latar belakang lingkungan yang sama sekali berbeda dari gerbang sekolah.
"Alibi kami solid, terverifikasi oleh waktu, lokasi, dan saksi keluarga di rumah," pungkas Bella dengan nada final. "Laporan Investigasi Insiden menyimpulkan bahwa Geng Bone Breakerz terbukti secara sah dan meyakinkan tidak bersalah dalam kasus ini."
Skakmat.
Pak Surya menatap bukti-bukti forensik digital dan fisik di mejanya dengan mata membelalak takjub, investigasi yang dilakukan oleh sekelompok remaja ini lebih terstruktur dan komprehensif dibandingkan penyelidikan polisi tingkat polsek.
Bu Ratna mundur selangkah, wajahnya pucat. Seluruh argumennya runtuh lebur tak bersisa. Ia kalah telak oleh data, bukan oleh otot.
"I... ini sungguh..." Pak Surya menggelengkan kepalanya perlahan, tertawa pelan saking tidak percayanya. "Baiklah, Bella. Bukti-bukti yang kalian presentasikan tidak dapat dibantah. Kalian bebas dari segala tuduhan. Sekolah yang akan mengurus penghapusan grafiti tersebut. Bu Ratna, tolong hentikan asumsi-asumsi tidak berdasarmu mulai dari sekarang."
"Terima kasih atas keadilan dan objektivitas yang Bapak berikan," ucap Bella sopan, sedikit menundukkan kepala.
Ia berdiri, memberi isyarat kepada keempat anggotanya untuk keluar ruangan. Saat berjalan melewati Bu Ratna, Bella berhenti sejenak, melirik guru BK itu melalui sudut matanya.
"Di dunia profesional, Ibu Ratna," bisik Bella dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "sebuah tuduhan tanpa audit dan bukti empiris disebut sebagai fitnah (Defamation). Dan fitnah memiliki konsekuensi hukum, jadi saya harap Ibu lebih bijaksana dalam melakukan Quality Control terhadap opini Ibu."
Bella melangkah keluar, diikuti oleh anggota gengnya yang menahan senyum bangga luar biasa. Serangan Kampanye Hitam dari Geng Serigala tidak hanya gagal menghancurkan mereka, tetapi justru memperkuat posisi mereka di mata Kepala Sekolah. Geng Serigala telah salah memilih lawan, mereka pikir mereka sedang berperang melawan preman jalanan. Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja membangunkan seekor naga berwujud Manajer HRD Senior yang tidak pernah kalah dalam persidangan mana pun.