NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang dari Selatan

Kabar mengenai kematian Perdana Menteri Shen dan pesan berdarah yang ditinggalkannya menyebar bagai api tertiup angin di antara faksi-faksi atas istana. Atmosfer ibu kota yang baru saja merayakan kemenangan atas Kekaisaran Zhao, kini kembali diliputi oleh mendung kecemasan. Di bawah langit malam yang pekat, Aula Belajar Utama diterangi oleh puluhan lilin merah besar yang meneteskan lilin yang mencair ke atas lantai giok, mencerminkan ketegangan yang mendalam.

Shen Xianle berdiri di depan sebuah peta besar yang membentang di dinding. Peta itu menunjukkan seluruh bentang alam Kekaisaran Han, dari pegunungan utara yang bersalju hingga wilayah pesisir selatan yang subur namun penuh labirin sungai. Jemarinya yang pucat menelusuri garis perbatasan selatan, berhenti tepat di wilayah bernama Provinsi Wu, tempat di mana Pangeran Keempat, Shen Chia, mengonsolidasikan kekuatannya selama bertahun-tahun masa pengasingan.

"Pangeran Keempat bukan seperti Li Feng," ucap Xianle, suaranya terdengar rendah namun bergema dengan dingin di dalam ruangan yang sunyi. "Li Feng digerakkan oleh keserakahan yang dangkal dan ambisi militer yang terburu-buru. Namun, Shen Chia... dia adalah ular yang tahu bagaimana cara menunggu di balik semak-semak hingga mangsanya benar-benar lengah."

Long Junwei melangkah mendekat, berdiri di sisi kanan Xianle. Pedang kunonya yang memancarkan pendaran biru keperakan tipis kini tersampir tenang di pinggang jubah hitam bersulam naga peraknya. "Jaringan informasiku di selatan melaporkan bahwa Shen Chia telah memobilisasi Pasukan Angkatan Laut Naga Hitam miliknya sejak tiga hari lalu. Mereka tidak bergerak melalui jalur darat yang terjaga ketat, melainkan menyusuri jalur sungai pedalaman yang langsung menusuk ke jantung logistik ibu kota."

"Jalur sungai pedalaman?" Xianle mengernyitkan dahinya. Jalur itu adalah titik buta pertahanan Barak Barat. Kavaleri ringan Jenderal Lu sangat perkasa di medan terbuka, namun mereka tidak akan bisa bertarung dengan efektif di atas air atau di wilayah rawa-rawa selatan yang berlumpur.

"Benar," Junwei mengangguk, wajahnya yang tegas mengeras penuh perhitungan. "Dan yang lebih buruk, Perdana Menteri Shen sebelum kematiannya ternyata telah mengosongkan lumbung padi di wilayah selatan, menyembunyikannya di pangkalan rahasia Shen Chia. Jika kita terlibat dalam perang berlarut-larut, ibu kota akan mengalami kelaparan dalam waktu satu bulan."

Xianle mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Dia sengaja memotong pasokan makanan kita agar rakyat berbalik membenciku. Strategi yang sangat kejam."

Ia berbalik, menatap kunci perunggu kuno bersimbol naga berkepala dua yang masih terletak di atas meja kerja kayu cendana. Kunci menuju perbendaharaan rahasia dinasti terdahulu di bawah tanah Pegunungan Terlarang.

Di dalam situasi terjepit seperti ini, senjata rahasia dan bubuk mesiu tingkat tinggi yang tersimpan di sana adalah satu-satunya kartu as yang bisa membalikkan keadaan dalam sekejap.

"Kita tidak punya pilihan, Junwei," Xianle menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik Long Junwei. "Kita harus membuka perbendaharaan rahasia di Pegunungan Terlarang malam ini juga. Kita membutuhkan bubuk mesiu dan teknologi perang dinasti terdahulu untuk menghancurkan armada kapal naga milik Shen Chia sebelum mereka mencapai gerbang air ibu kota."

"Pegunungan Terlarang dipenuhi oleh jebakan mekanisme kuno yang mematikan, Xianle," Junwei memperingatkan, ia maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka. "Bahkan dengan kunci ini, satu kesalahan kecil dalam melangkah di dalam labirin bawah tanah itu akan mengubur kita hidup-hidup."

"Aku sudah pernah merangkak keluar dari kuburan di dasar jurang, Junwei. Jebakan batu tidak akan bisa menghentikanku," jawab Xianle dengan mata yang berkilat penuh tekad yang tidak kenal takut.

Junwei menatap wajah porselen wanita di hadapannya, lalu seulas senyuman tipis yang penuh wibawa terukir di bibirnya. "Bagus. Aku suka keberanianmu. Siapkan penyamaranmu. Kita akan bergerak hanya berdua dengan Mo Reng sebagai pemandu luar. Semakin sedikit orang yang tahu tentang perbendaharaan ini, semakin aman takhtamu."

 

Dua jam kemudian, di bawah guyuran kabut tebal yang menyelimuti Pegunungan Terlarang di sisi barat ibu kota.

Tempat ini begitu sunyi, hanya terdengar suara lolongan angin malam dan gesekan ranting-ranting pohon tua yang menyerupai jemari iblis yang mencakar langit. Xianle yang kini mengenakan jubah hitam ringkas tanpa atribut kekaisaran berjalan dengan langkah kaki yang sangat ringan menggunakan teknik Langkah Bayangan Tanpa Jejak.

Di sampingnya, Junwei memimpin jalan menggunakan pedang kunonya yang berpendar biru tipis sebagai satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan hutan yang lebat.

Mereka berhenti di depan sebuah dinding tebing batu raksasa yang tertutup oleh jalinan akar pohon rambat yang sangat tebal. Mo Reng yang mengawal dari belakang segera maju, mengibaskan belatinya untuk memotong akar-akar tersebut, memperlihatkan sebuah lubang kecil berbentuk lingkaran dengan mekanisme kuno di tengah tebing batu.

Xianle menarik kunci perunggu kuno dari balik bajunya. Dengan perlahan dan hati-hati, ia memasukkan ujung kunci itu ke dalam lubang mekanisme kuno tersebut.

Klek. Krak... Krak...

Suara bergesekannya batu-batu raksasa yang sangat berat bergema memecah kesunyian malam pegunungan. Dinding tebing batu di hadapan mereka perlahan bergeser ke samping, membuka sebuah lorong bawah tanah yang gelap gulita dan menguapkan udara pengap yang sudah ratusan tahun tersimpan di dalamnya.

"Hati-hati, udara di dalam mungkin beracun," ucap Junwei, menarik lengan baju Xianle agar tetap berada di belakangnya saat mereka melangkah masuk ke dalam lorong batu yang gelap.

Namun, baru saja mereka melangkah sejauh sepuluh langkah ke dalam lorong perbendaharaan rahasia tersebut, sebuah suara desingan halus dari arah langit-langit lorong mendadak terdengar.

Syuuutt! Syuuutt! Syuuutt!

Bukan jebakan mekanisme batu kuno yang menyerang mereka, melainkan puluhan anak panah beracun berwarna hitam pekat yang dilepaskan dari balik kegelapan lorong terdalam!

"Ada penyusup! Lindungi Maharani!" teriak Mo Reng dari arah pintu masuk.

Junwei dengan refleks militernya yang luar biasa langsung memutar pedang kunonya, menciptakan pusaran angin internal yang memantulkan sebagian besar anak panah beracun tersebut hingga hancur membentur dinding batu. Namun, dari balik kegelapan lorong yang pekat, bermunculan belasan sosok pendekar yang mengenakan pakaian zirah berwarna biru laut gelap dengan lambang naga hitam di dada mereka pasukan pembunuh elit milik Pangeran Keempat!

"Hahaha! Shen Xianle, Long Junwei... kalian benar-benar bodoh!" sebuah suara tawa yang sangat tenang namun sarat akan intrik terdengar menggema dari balik kerumunan pasukan pembunuh tersebut.

Sesosok pria muda berpakaian jubah sutra biru mewah dengan kipas bulu bangau di tangannya melangkah keluar dari kegelapan lorong perbendaharaan. Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan namun memiliki sepasang mata yang sipit dan licik dialah Pangeran Keempat, Shen Chia, sang Naga Sejati dari Selatan.

Xianle membelalakkan matanya, memegang belati peraknya dengan erat di tengah kepungan musuh. "Shen Chia?! Bagaimana mungkin kau sudah berada di tempat ini?!"

Shen Chia terkekeh pelan, mengibaskan kipas bulu bangaunya dengan gaya yang sangat meremehkan. "Adikku yang manis... apakah kau benar-benar berpikir bahwa keluarga Jenderal Li adalah satu-satunya faksi yang mengetahui tentang kunci perbendaharaan ini? Ayahanda Kaisar yang lama telah memberikan salinan kunci ini kepadaku bertahun-tahun lalu sebagai jaminan kekuasaanku di selatan. Aku sudah berada di sini sejak kemarin untuk menjemput seluruh bubuk mesiu dan cetakan senjata rahasia ini."

Pangeran Keempat mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat kepada puluhan pemanah elitnya yang kini telah mengepung pintu keluar lorong tebing batu dari luar. "Kalian telah masuk ke dalam kantong kematianku sendiri. Malam ini, Pegunungan Terlarang ini akan menjadi makam bagi Maharani baru dan Pangeran Bayangan yang sombong!"

Atmosfer di dalam lorong perbendaharaan rahasia tersebut seketika berubah menjadi sangat mematikan. Gerbang keluar telah dikepung, di dalam lorong di hadang oleh Pangeran Keempat dan pasukan elitnya, sementara teknologi senjata rahasia yang mereka butuhkan kini berada di bawah kendali musuh sepenuhnya.

Xianle melirik ke arah Long Junwei, sepasang mata mereka saling bertemu di tengah temaram pendaran biru pedang kuno, menyadari bahwa situasi malam ini telah bergeser dari rencana intrik menjadi pertarungan hidup dan mati yang paling kritis bagi masa depan Dinasti Magnolia Baru.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!