Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 24
Rara bergegas turun ke bawah. Ia membukakan pintu untuk menyambut kepulangan Nadia dan Rio dari liburan.
"gimana kak liburannya ?" tanya Rara berdiri di teras. Nadia keluar dari mobil yang sudah terparkir di depan garasi. Mereka berdua lalu berpelukan hangat.
"seru," jawab Nadia singkat.
"ini kakak belikan oleh-oleh buat kamu. Yah sebagai permintaan maaf ke kakak nggak ngajak kamu liburan," ucap Nadia sambil menyerahkan sebuah paper bag yang didalamnya terdapat kain pantai bermotif cerah dan bernuansa tropis.
"terima kasih ya ka," ucap Rara dengan senyum dan menerimanya.
Rio berjalan ke arah mereka. Rara pun segera bersalaman dengannya.
"gimana ra, aman dirumah sendiri ?" tanya Rio.
"aman mass, ya udah ayo masuk," jawab Rara.
Nadia dan Rio berjalan bersama Rara masuk ke dalam rumah. Saat melihat keadaan ruang tamu yang bersih, Nadia langsung menyanjung Rara yang sudah membersihkannya. Begitu juga Rio, ia tampak tersenyum senang melihat dalam rumah yang bersih.
Rara berjalan masuk ke kamarnya untuk meletakkan paperbag oleh-oleh dari kakaknya. Beberapa menit kemudian, ia turun untuk berkumpul ke meja makan.
Diperjalanan pulang, Nadia menyempatkan berhenti sebentar untuk beli hidangan makan malam. Ia memilih mengantri di resto yang menyajikan menu sate kambing. Ia membeli 3 porsi agar semua kebagian. Kini hidangan itu telah ia letakkan ke atas meja makan. 1 orang dapat 1 bungkus sate.
Rara membuka bungkusan kertas coklat yang ia letakkan ke atas piring. Sate kambing itu masih terasa hangat. Kepulan asap tipis dan aroma harum bakaran daging kambing yang berpadu sempurna dengan gurihnya bumbu kacang, menyambut indra penciumannya. Ia pun segera menyantapnya bersama kakak dan kakak iparnya.
Kini suasana meja makan kembali hangat dan penuh kebersamaan. Di sela sambil menikmati makan malam, mereka juga saling ngobrol. Dari pembahasan liburan dipantai hingga Rara yang membersihkan rumah.
"oh ya, terus gimana mas soal pertanyaan aku dimobil tadi. Kira-kira diijinkan nggak," kata Nadia ke Rio setelah menyelesaikan makannya lalu meminum segelas air.
"soal diijinkan apa ka ?" tanya Rara penasaran.
"tadi dijalan kakak dapet telpon dari teman kakak, katanya dia lagi butuh teman buat ngajar di SD. Ya mungkin saja kakak bisa ngelamar disana, daripada hasil kuliah kakak nganggur," jelas Nadia.
"kalau kakak ngajar, terus yang ngurus toko kue warisan mama siapa ?" tanya Rara setelah minum air putih.
"ya kamu ra," jawab Nadia.
"kenapa aku kak ?" tanya Rara bingung. Ia juga menyadari belum pernah diajari mengurus toko kue oleh ibunya.
"ya kan kamu siang cuman dirumah aja. Mudah ra ngurus tokonya, kamu nggak perlu harus stand by disana terus, tapi sesekali kunjungan kesana. Besok kakak ajari," jawab Nadia berharap adiknya mengerti.
Rara memilih mengabaikannya. Ia melanjutkan kembali makannya sambil menyimak obrolan Nadia dan Rio.
"gimana mas boleh nggak ?" tanya Nadia dengan penuh harapan suaminya mau mengijinkannya.
"hmm, kalau aku sih nggak keberatan, yang terpenting semuanya berjalan dengan baik. Termasuk operasional toko kue jangan sampai mandeg. Itukan usaha yang sudah lama dirintis," jawab Rio pelan dan jelas.
"gimana ra ? Mau ya ra ngurus toko kue warisan mama ?" tanya Nadia ke Rara.
Setelah dipikir-pikir oleh Rara, memang nggak masalah juga jika ia ngurus toko kue. Apa yang dikatakan kakaknya memang fakta. Kalau siang hari ia tidak punya kegiatan dan kebanyakan nyantai dikamar atau buat konten untuk diunggah di akun media sosial.
Semenjak tinggal dirumah kakaknya, Rara juga mengamati bagaimana Nadia mengurus toko. Kakaknya itu selalu berangkat ke toko kue tidak harus ada jadwal. Melainkan, bisa berangkat pagi, siang ataupun sore dan disana juga tidak terlalu lama. Hal ini lah yang dipertimbangkan Rara.
"ya boleh lah ka. Tapi aku butuh waktu, sampai paham kinerja toko," jawan Rara.
"tenang ra, besok kakak ajarin," ucap Nadia dengan senyuman. Rio pun ikut tersenyum tipis ke Rara.
Tidak lama kemudian, makan malam bersama usai. Setelah semua dibereskan, Rara kembali ke kamar begitu juga dengan Nadia dan Rio. Mereka ingin istirahat setelah perjalanan panjang.