NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Ricki masih berdiri di balik pintu kamar ketika suara Ambar terdengar dari dalam, ada rasa penasaran yang mengganggu pikirannya, apalagi saat namanya tadi disebut.

"Jangan sampai Ricki tahu."

Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan ibu dan anak itu. Namun satu hal sudah jelas, namanya sengaja disembunyikan dari percakapan mereka, dan Ricki benar-benar tidak bisa mengabaikan kejadian ini.

Ricki mundur perlahan. Ia tidak mengetuk pintu. Tidak juga memanggil Alika. Pria itu memilih pergi sebelum keberadaannya diketahui dan sepanjang perjalanan keluar dari rumah keluarga Wijaya, pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Apa yang sedang mereka sembunyikan? Dan kenapa semuanya terdengar seperti berkaitan dengannya?

"Aku harus menyelidiki semua ini, tidak mungkin Alika dan ibunya tidak menyembunyikan sesuatu dariku," gumam Ricki sambil meninggalkan kediaman Wijaya.

Sementara di dalam kamar, Alika masih berdiri di hadapan Ambar. Wajahnya berubah setelah mendengar suara langkah yang menjauh dari luar.

"Mami..."

Ambar menatap pintu.

"Menurut Mami, tadi ada orang?"

Alika mendekat dan membuka pintu sedikit. Lorong sudah kosong.

"Entahlah."

Ambar memeluk kotak tua itu erat, ada perasaan aneh yang menjalar, entah kenapa seperti ada seseorang yang mencintainya.

"Kita harus lebih berhati-hati."

Alika mengangguk. Namun kali ini ia tidak terlihat panik. Justru pikirannya bekerja lebih cepat.

"Mulai sekarang kita tidak boleh lagi membicarakan hasil DNA di rumah."

Ambar menatapnya. "Kenapa?"

"Karena kalau sampai ada orang lain mendengar, kita tidak bisa mengendalikan ceritanya."

Alika berjalan menuju meja rias lalu mengambil ponselnya. "Kita harus membuat semua orang percaya bahwa hasil pemeriksaan itu hanya pemeriksaan medis biasa."

Ambar mengerutkan kening. "Bagaimana?"

"Aku akan secepatnya bicara dengan dokter."

"Kau sudah pikirkan matang-matang?"

"Sudah Mi, dan tenang saja, aku pasti bisa hadapi semua ini."

"Bagaimana caranya Nak? Sementara Dokter tidak mungkin mau menutupi sesuatu yang susah jelas akan hasilnya."

"Aku justru akan mengatakan bahwa aku tidak ingin hasil pemeriksaan itu dibicarakan kepada siapa pun karena aku sendiri belum siap menerima apa pun, pasti dokter akan mengerti tentang psikis."

Ambar terdiam. Dan ternyata anaknya itu lebih cerdas dari yang ia kira, bagaimana mungkin seorang dokter akan tega membongkar rahasia yang jelas itu membahayakan mental pasiennya.

Sementara Alika melanjutkan, "Kalau dokter melihatku sebagai anak yang sedang terguncang, dia tidak akan punya alasan untuk menjelaskan hasil itu kepada keluarga besar."

Ambar mulai memahami rencana putrinya. "Kamu pintar sekali Nak, setidaknya sampai hari pernikahanku dengan Ricki dilaksanakan."

"Nah itu dia, kita ikat dulu lelaki itu, karena aku tidak ingin menanggung semuanya sendirian."

Ambar memeluk anaknya, ia tahu kejadian ini kesalahannya dan tidak seharusnya Alika menanggung semua ini. "Anakku sayang, maafin Mami."

"Jangan meminta maaf dulu Mi, ini sudah terlanjur, sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara mempertahankan namaku di keluarga Wijaya," ucap Alika.

Ambar hanya mengangguk, sekilas ia teringat akan mendiang orang tua Ganjar, entah kenapa tangannya langsung mengepal. Karena bagi Ambar mereka berdualah yang membukakan pintu untuk ibu Amira.

"Sial, memang sudah mati pun kalian masih membuatku susah," batin Ambar.

☘️☘️☘️☘️

Keesokan paginya, Alika kembali ke rumah sakit sendirian. Ia tidak langsung menuju ruang perawatan Ganjar. Langkahnya justru berhenti di depan ruang dokter.

Ia mengetuk. "Silakan masuk."

Alika membuka pintu. Dokter yang menangani pemeriksaan kemarin menoleh.

"Nona Alika?"

"Iya, Dok."

"Bagaimana keadaan Anda?"

"Saya baik."

Alika duduk. "Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan kemarin."

Dokter mengangguk. "Tentu."

Alika menarik napas. "Saya tidak ingin hasil pemeriksaan itu dibicarakan kepada keluarga besar."

Dokter memperhatikannya. "Karena hasil tersebut menyangkut hubungan biologis?"

Alika mengangguk. "Saya tahu hasilnya sudah jelas."

Dokter tidak menjawab, sementara Alika terus melanjutkan keinginannya.

"Tapi saya ingin meminta waktu."

"Untuk apa?"

Alika menundukkan wajah. "Untuk menerima kenyataan."

Nada suaranya berubah lirih. "Saya baru mengetahui bahwa selama ini ada sesuatu yang berbeda dengan apa yang saya yakini sejak kecil. Saya belum siap semua orang mengetahui hal itu."

Dokter terdiam beberapa saat. "Secara medis, kami memang menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan pasien."

Alika mengangkat wajah. "Jadi hasil itu tidak akan diberikan kepada siapa pun?"

"Selama tidak ada alasan medis atau permintaan resmi dari pihak yang berwenang, informasi medis pasien tetap bersifat rahasia."

Alika mengangguk perlahan. "Terima kasih, Dok."

Ia berdiri. Namun sebelum keluar, Alika berhenti. Dok."

"Ya?"

"Kalau keluarga saya bertanya, tolong jangan menyimpulkan apa pun di depan mereka."

Dokter memandangnya. "Saya hanya akan menyampaikan informasi yang memang diperlukan."

Alika tersenyum. "Itu sudah cukup."

Ia keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, ekspresi sedih di wajahnya berubah, sejak hasil DNA keluar, Alika merasa memiliki kendali.

Ia tidak perlu memalsukan hasil atau memaksa dokter berbohong apalagi menghapus bukti. Ia hanya perlu memastikan bahwa bukti tersebut tidak menjadi konsumsi semua orang.

Tetapi Alika belum tahu bahwa seseorang sedang menunggunya di ujung lorong.

Ricki.

Pria itu berdiri beberapa meter dari sana, entah sejak kapan Ricki mulai mengikuti dirinya dan Alika terkejut melihat semua ini.

"Ricki?"

Ricki tersenyum kecil. "Aku ingin menjemputmu."

Alika menatapnya beberapa saat. "Kamu datang sendiri?"

"Iya."

Ricki mendekat. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."

Jantung Alika berdegup lebih cepat. "Apa?"

Ricki menatap matanya. "Kenapa kemarin kau menjalani pemeriksaan DNA?"

Alika terdiam. Untuk sesaat, pikirannya kosong.

Namun hanya sesaat. Kemudian ia tersenyum.

"Pemeriksaan DNA?"

"Iya."

"Aku tidak tahu kenapa rumah sakit menyebutnya seperti itu."

Ricki mengerutkan kening. "Jadi?"

Alika menghela napas. "Dokter hanya memeriksa data keluarga karena ada perbedaan catatan lama."

Ricki tidak langsung percaya. "Perbedaan catatan?"

"Iya."

Alika menatapnya dengan wajah tenang. "Aku juga bingung."

Ricki memperhatikan wajah calon istrinya itu.

Tidak ada kepanikan bahkan gerakan mencurigakan pun tidak terlihat. Hanya wajah seorang perempuan yang terlihat lelah setelah menghadapi masalah keluarganya.

"Begitu?"

Alika mengangguk. "Iya."

Ricki masih diam untuk mencerna semua ini akan tetapi Alika dengan cepat menggenggam tangannya.

"Aku sedang banyak masalah, Ricki." Nada suaranya melembut. "Aku tidak ingin kau ikut terbebani."

Ricki menatap jemari mereka. "Aku calon suamimu."

"Aku tahu."

"Kalau ada masalah, seharusnya kau cerita."

Alika menundukkan kepala. "Aku akan cerita kalau aku sudah siap."

Ricki tidak memaksa. "Baik."

Alika mengangkat wajah. "Terima kasih."

Ricki mengangguk. Namun ketika Alika berjalan lebih dulu, tatapan pria itu berubah. Ia masih tidak percaya. Bukan karena Alika terlihat berbohong. Justru karena perempuan itu terlalu tenang.

Dan ketenangan itu membuat Ricki semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Sementara itu, di ruang perawatan, Ganjar sudah dapat duduk meskipun masih dibantu beberapa bantal.

Amira berdiri di samping ranjang."Papi mau makan?"

Ganjar menggeleng. "Aku belum lapar."

Amira tersenyum. "Dokter bilang Papi harus makan."

Ganjar memandang putrinya. "Kau selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Memperhatikan orang lain."

Amira tertawa kecil. "Memangnya kenapa?"

Ganjar terdiam. Ia menatap wajah Amira lebih lama. Dulu wajah itu selalu ia hindari. Sekarang justru wajah yang sama membuat dadanya terasa sesak.

"Amira."

"Iya?"

"Papi ingin bertanya sesuatu."

Amira mendekat.

"Kenapa kau tetap datang?"

Amira tidak tahu harus menjawab apa, baginya Ganjar adalah orang tuanya meskipun pria itu selalu menciptakan jarak untuk dirinya.

"Setelah semua yang Papi lakukan?

Pertanyaan itu membuat senyum Amira menghilang. Ia menatap pria di hadapannya.

"Karena Papi tetap ayahku."

Ganjar menundukkan kepala. "Padahal Papi tidak pernah menjadi ayah yang baik."

Amira menggeleng. "Jangan bicara seperti itu."

"Itu kenyataan."

Ganjar menatap kedua tangannya. "Selama ini Papi terlalu sibuk menghukum masa lalu sampai lupa bahwa kau tidak pernah salah."

Mata Amira mulai berkaca-kaca, ia mendengar ayahnya mengakui kesalahannya tanpa alasan.

Ganjar mengangkat wajah. "Kalau kau bersedia... " Ia berhenti.

"Apa?"

"Setelah Papi keluar dari rumah sakit, Papi ingin mengenalmu."

Amira membeku, entah kenapa ucapan Ganjar barusan layaknya doa-doa yang baru terjawab sekarang.

Sementara Ganjar hanya tersenyum lemah. "Sebagai ayah."

Air mata Amira akhirnya jatuh, tidak butuh waktu lama ia langsung mengangguk.

"Baik, Pi."

Di luar ruangan, tanpa mereka sadari, Ambar berdiri beberapa langkah dari pintu. Ia mendengar semuanya entah kenapa ketakutan terbesar Ambar bukan lagi hasil DNA.

Melainkan kenyataan bahwa Ganjar mulai membuka kembali hatinya untuk Amira. Karena semakin dekat Ganjar dengan Amira, semakin besar kemungkinan masa lalu yang selama ini dikuburnya ikut terbuka.

Sementara di tempat lain, Ricki sedang membuka ponselnya. Ia baru saja menerima sebuah pesan dari seseorang yang ia minta mencari informasi tentang pemeriksaan di rumah sakit.

Hanya ada satu kalimat di layar. "Saya menemukan sesuatu tentang nama Alika Wijaya."

Ricki menatap pesan itu lama.

Kemudian ia mengetik satu balasan. "Kirim semuanya."

Ia belum tahu bahwa pencarian itu akan membawanya jauh lebih dekat kepada rahasia yang selama ini disembunyikan keluarga Wijaya. Dan mungkin... kepada pria yang wajahnya ada di dalam foto lama milik Ambar.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!