NovelToon NovelToon
Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Update santai sesuai mood Othor 😋

Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

#35

Nafas mereka masih terengah, setelah pergulatan selama beberapa puluh menit yang lalu. “Kamu— benar-benar, ya?” gerutu Lizie, rasanya pinggangnya hampir patah, setelah digempur suaminya beberapa ronde. 

“Benar-benar suka?” ledek Zion. 

Lizie memanyunkan bibirnya, hingga Zion kembali gemas ingin meraup kembali bibir sang istri yang masih merah dan bengkak itu. “Jadi kamu nggak suka?” tanyanya setelah ciuman mereka berakhir. 

Telapak tangan Lizie mengusap pipi Zion dengan lembut, ia menggeleng, “Sayangnya aku suka,” kekehnya, lalu menenggelamkan kepalanya ke pelukan sang suami. 

“Masih kuat berjalan? Kalau tak kuat, aku yang akan jemput Zea.” 

“Baiklah, tolong jemput Zea untukku,” gumam Lizie, kedua matanya mulai berat, tubuhnya lelah, kini kantuk datang menyusul setelah pelepasan mereka berdua. 

Zion tersenyum kecil sebelum mendekap erat tubuh istrinya, tangannya membelai punggung dan kepala Lizie yang masih lembab karena keringat percintaan mereka. 

Tanpa sengaja telapak tangannya menyentuh bekas luka tembak yang kini sudah mengering sempurna. Suka atau tidak Zion kembali mengingat peristiwa paling menakutkan dalam hidupnya saat itu. 

Kini Zion hanya bisa bersyukur dan terus bersyukur setiap harinya, sebab masih bisa berbagi kemesraan dengan wanita ini. Bahkan mereka sudah merencanakan kembali memiliki anak, agar cinta mereka terjalin semakin erat. 

“Istirahatlah, Sayang. Terima kasih karena kamu selalu berhasil memuaskan kebutuhan ragaku.” 

Zion menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, dan memeluk lebih erat lagi tubuh Lizie. 

“Giliran Othor berhasil masuk, acaranya dah selesai, aaaarrgghhh!!” 😤🤯😡

•••

“Papa!” 

Zion Berjongkok menyambut Zea yang baru keluar dari gerbang sekolahnya. “Kok, Papa yang jemput, mama mana?” 

“Jadi nggak suka Papa jemput.” 

“Cuka— tapi—”

“Yuk, jajan, kita beli oleh-oleh buat Mama.” Zion tak mau memperpanjang pembahasan, jadi ia langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka. 

“Otce!” Zion tak mengira bahwa putrinya akan berubah menjadi jelmaan Mayra di waktu kecil, apapun urusannya, apapun beban persoalannya, penyelesaiannya bisa cepat jika ada jajan. Mungkin ini doa Mayra yang saat kecil dan cadel dulu suka diejek olehnya. 

Pria itu menggendong Zea, dan membiarkan putrinya berceloteh sepanjang jalan menuju parkiran mobil. 

“Papa tadi Bu Gulu biyang, tak yama yagi, mau ada acala pentas seni,” celoteh Zea. 

“Pentas lagi? Perasaan baru kemarin pentas seni.” 

“Iya pentas, habis itu, Zea bica naik kelyas.” 

“Oowww—” sahut Zion. Setahunya naik kelas harus melalui ujian, ini harus melalui pentas. Senangnya dunia anak-anak. 

“Tapi, Papa. Nanti aku jadi kesatlia bawa pedang.” 

“Waduuh! Kan, Zea anak perempuan, Sayang.” 

“Iya, Zea jadi kesatlia pelempuan, cepelti Onty Mayla yang bica ciat! Ciat! Ciat!” 

Zion hanya tersenyum saja, rupanya putrinya bukan mirip Mayra tapi mirip mamanya yang pemberani. 

“Horeee! Anak Papa akan jadi kesatlia pelempuan pembelani.” Zion bersorak menyemangati apapun cita-cita putrinya. Itu adalah cita-cita, sewaktu-waktu masih bisa berubah. Yang paling penting adalah bagaimana ia dan sang istri bisa mendampingi serta membersamai Zea agar tetap berjalan di jalur yang benar. 

“Holyee!! Boyeh, kan, Papa?” 

“Boleh, dong. Tapi, sekolah tetap nomor satu.” 

“Ciap!” 

Perjalanan mereka berlanjut ke supermarket, Zion hendak membantu istrinya berbelanja beberapa kebutuhan dasar dapur, seperti telur, daging, susu, roti, serta beberapa sayuran untuk salad, dan tak lupa buah-buahan. Tak lupa pajak jalan untuk Zea, berupa jajan. 

Keluar dari supermarket, Zion mendatangi salah satu restoran favorit sang istri, guna membeli makanan yang paling sering dipesan istrinya bila mereka ke sana. Jadi Lizie tak perlu memasak setelah bangun tidur nanti. 

•••

Di tempat lain. 

Siang itu, akhirnya Zira berkesempatan pergi berdua dengan Zain, tentunya mengurus kasus kebakaran yang terjadi malam sebelumnya. Tapi, bukannya bahagia, keduanya justru saling adu mulut. Masing-masing pihak alot mempertahankan argumen dan kesimpulan mereka. 

“Kita tak bisa menjatuhkan vonis hanya karena mendengar salah satu ucapan dari satu saksi saja.” 

“Tapi saksi itu tetangga dekat, kita tak bisa mengabaikannya. Ditambah lagi dia sendiri mendengar pertengkaran mereka!” Dengan nada tinggi Zira kembali mengulang ucapan yang mendukung argumennya. 

Zain yang kesal, tiba-tiba berhenti melangkah, “Hei, sebenarnya disini yang polisi itu, aku atau kamu, sih?” 

“Kan, aku cuma berniat membantu, kalau nggak suka, ngapain tadi ngajakin aku kembali ke TKP!?” 

Mingkem, Zain tak bisa membantah. Memang dia yang mengajak Zira pergi, tapi tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi, dan kecurigaan tentang siapa pelaku sebenarnya. Eh, ujung-ujungnya malah bertengkar. 

“Dasar pemarah, pantas saja Zion nggak betah berpacaran denganmu.” 

“Eh, kok, kamu jadi bawa-bawa masa lalu, sih?” 

Zain mengangkat kedua pundaknya. “Nggak papa, hanya bersyukur saja.” 

Zain baru saja mengibarkan bendera perang, tak mungkin hanya dianggap angin lalu oleh Zira. “Bersyukur? Maksud yang ditangkap oleh telingaku, kamu ini sebenarnya sedang mengejek bukan bersyukur. Dasar kulkas!” 

“Apa?!” tanya Zain kaget. “Maksudmu apa?”

Zira melengos, “Nggak ada maksud apa-apa.”

Malas melanjutkan perdebatan, wanita itu langsung berjalan cepat menuju pantry, mencari minuman dingin atau apapun yang bisa mendinginkan isi kepalanya. Inginnya sih, dekat dengan Zain, tapi baru saja hampir mendekat, mereka sudah adu pendapat tak ada yang mau mengalah. 

“Kenapa kamu?” sapa Gara. 

“Nggak papa,” jawab Zira ketus. Gara tak tahu apa-apa, tapi karena bertanya ia malah kecipratan imbasnya. 

“Wanita memang kadang-kadang aneh,” gumam Gara. 

“Bukan kadang-kadang, memang dia saja perempuan aneh di bumi ini,” sahut Zain yang baru saja menyusul masuk. Eh, tapi ia baru sadar jika salah ruangan. “Kenapa aku disini?” Zain pun berbalik arah kembali ke kantornya sendiri. 

Zain baru saja duduk di depan mejanya, tangannya membawa sekaleng soda serta seporsi bakso untuk makan siang, baru saja teman-temannya memasak bakso dadakan di pantry, Zain baru datang lantas di tawari, siapa yang bisa nolak? 

Lumayan, melampiaskan kekesalan hati pada semangkuk bakso pedas dan panas, benar-benar menggugah selera. 

Namun, baru juga ia menyeruput kuah bakso, ponselnya kembali berdering. 

“Iya, halo.”

“Pak Polisi, tolong!” kata orang itu dengan suara panik. 

Yang menghubungi Zain adalah pak RT di lingkungan tempat kejadian perkara kebakaran. “Iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu?” Zain menggigit bakso, sambil menunggu Pak RT berbicara. 

“Pak, suami istri yang rumahnya terbakar, baru saja tewas dengan luka tusuk di perut.” 

“Uhuk!” Zain yang kaget tiba-tiba tersedak, hingga bakso yang baru saja masuk ke mulut, kembali melompat keluar. “Apa, Pak?!” 

“Begitulah, Pak. Ini para tetangga sedang heboh di sekitaran rumah sementara yang mereka tempati.” 

“Oke, saya kesana sekarang, pastikan tidak ada yang masuk ke dalam rumah!” 

“Sudah saya instruksikan demikian, Pak.” 

Zain terpaksa meninggalkan baksonya yang masih mengepulkan asap serta beraroma pedas. “Lho, Zain, mau kemana lagi?” tanya rekan-rekannya di pantry. 

“Salah satu ikut aku ke TKP kemarin, pemilik rumah yang terbakar kemarin, baru saja ditemukan tewas.” 

Tak perlu saling dorong, atau saling tunjuk, salah satu rekan kerja Zain langsung berdiri dan mengikuti Zain ke TKP. 

Labih baik ganti partner, demi kewarasan. 

•

•

•

Yang nunggu onty mayla, nanti sorean ya, Othor mau lanjut jadi inem dulu.

Oh iya, mas Azam dan mbak Dina hari ini libur dulu 😘 besok langsung gas sampai eps 20 😬🤓

1
Shee_👚
wah kayanya zea bakalan punya adik inu
Shee_👚
ini kalau udah gese persis mayra kayanya, atau lebih2 dari mayra
Shee_👚
kayanya ada dendam tersembunyi zea sama Romeo🤣
Shee_👚
ampun bu gulu sampai hapal😂
Dozky 2 Crazy
😁😁😁 jgn cpt gede y Zea gemesss deh
Dozky 2 Crazy
😁😁😁 gemess deh
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sepertinya kalian berdua hamil 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantap nih 🤤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
wah 🤣🤣🤣
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
tertarik*
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
akhirnya nambah up jg🤭
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸: SEMANGAT KAK OTHOR 💪💪💪
total 4 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
semangat up othor
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Habisin dulu baksonya,ga enak kl dingin 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul banget🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤣🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
wowwwwww🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪💪❤️❤️❤️❤️❤️
🌷Vnyjkb🌷
👍👍🙏🙏❤️❤️❤️❤️❤️
Shee_👚
siap
Shee_👚
zain itu baksonya boleh buat aku gak🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!