NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: KETUKAN PALU DAN CAHAYA DI BALIK RERUNTUHAN

Suara ketukan palu hakim bergema tiga kali di dalam ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Suasana yang tadinya tegang bagaikan busur panah yang siap dilepaskan, mendadak berubah hening murni. Setiap pasang mata—mulai dari majelis hakim, tim kuasa hukum, hingga para insan pers yang berjejal di barisan belakang—tertuju lurus ke depan.

Di sebelah kanan, Sheila Kusuma terduduk lemas di kursi penggugat. Gaun hitam mewahnya tak lagi mampu menyembunyikan kerapuhan dan ketakutan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Kacamata hitamnya telah dilepas, menyingkap mata yang merah dan sembap akibat panik yang meluap. Di sampingnya, tiga pengacara kawakan yang disewanya hanya bisa menunduk pasrah, merapikan berkas-berkas klaim yang kini tak lebih dari tumpukan kertas tak berguna.

"Berdasarkan bukti-bukti otentik, saksi ahli, serta dokumen penetapan hukum yang disahkan oleh Pengadilan Negeri belasan tahun lalu..." suara Hakim Ketua menggelegar tenang melalui pengeras suara, "...Majelis Hakim memutuskan: MENOLAK seluruh gugatan Penggugat, Sheila Kusuma, mengenai pembatalan hak wali amanat dan klaim atas dana abadi Pratama Corp!"

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

"Majelis Hakim juga menetapkan bahwa status hukum wali anak atas nama Leo Pratama dan Maya Pratama tetap sepenuhnya berada di bawah hak asuh sah Tuan Aris Pratama dan Nyonya Kirana Pratama!"

Seketika itu juga, desah napas lega membuncah di ruang sidang. Kirana memejamkan matanya rapat-rapat. Airmata hangat menetes perlahan, membasahi pipinya yang mulus. Namun kali ini, air mata itu bukan lagi lahir dari ketakutan, rasa terasing, atau perihnya penolakan. Itu adalah air mata kebebasan—air mata dari seorang wanita muda yang berhasil mempertahankan rumah tangga dan anak-anak yang dicintainya dari jurang kebinasaan.

Sebelum Kirana sempat menyapu air matanya, sebuah tangan tegap dan hangat merengkuh jemarinya. Aris membungkuk, mendaratkan kecupan lembut yang lama di kening Kirana di hadapan seluruh peserta sidang.

"Terima kasih, Kirana... Terima kasih karena tidak menyerah padaku," bisik Aris dengan suara parau yang bergetar penuh emosi. Matanya yang biasa dinaungi keangkuhan kini hanya menyisakan pendar ketulusan dan penghormatan setinggi langit untuk wanita di sampingnya.

Kirana menatap wajah suaminya. Di dalam garis-garis tegas wajah Aris, tidak ada lagi bayangan pria dingin yang dulu memandangnya dengan jijik di hari pernikahan mereka. Pria yang dulu menganggapnya wanita oportunis pemburu harta kini berdiri tegak sebagai pelindung sejati, menundukkan egonya demi memeluk ketulusan yang pernah diragukannya.

"Ibu! Papa!" Maya melompat dari kursi barisan depan, diikuti oleh Leo. Kedua anak itu langsung menubruk pelukan Aris dan Kirana.

Kirana berlutut, merengkuh kedua buah hatinya erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di antara bahu mungil Leo dan Maya, menghirup aroma khas anak-anaknya. "Anak-anak Ibu... Ibu tidak akan pernah pergi lagi. Ibu janji," bisiknya di antara isak bahagia.

Leo menatap Kirana dengan mata bulatnya yang berbinar penuh kebanggaan. "Leo tahu Ibu nggak bakal tinggalkan kita. Leo dan Maya cuma mau Ibu jadi Ibu kita selamanya!"

Pemandangan dramatis dan penuh kehangatan itu tak luput dari bidikan puluhan kamera wartawan. Lampu kilat menyambar-nyambar, mengabadikan momen di mana sebuah keluarga yang hampir hancur oleh konspirasi dan prasangka, justru bangkit lebih kuat berkat ketulusan seorang ibu tiri.

Di sudut lain, dua petugas kepolisian berpakaian dinas melangkah mendekati Sheila Kusuma.

"Saudari Sheila Kusuma," ujar salah satu petugas tegas seraya menunjukkan surat perintah penangkapan. "Anda kami tahan atas dugaan tindak pidana pemerasan, pengancaman, serta pencurian dan pembocoran dokumen medis rahasia secara ilegal berdasarkan laporan pihak Pratama Corp."

Sheila tersentak, mundur beberapa langkah hingga menabrak meja pengacaranya. "Tidak! Ini jebakan! Aris, kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku ini mantan istrimu! Aku ibu dari anak-anak itu!" teriak Sheila histeris, suaranya melengking memenuhi ruang sidang.

Aris bangkit berdiri, merangkul bahu Kirana secara protektif sambil menatap Sheila tanpa pendar belas kasihan sedikit pun.

"Kamu bukan ibu mereka, Sheila," jawab Aris dingin, suaranya menusuk bagaikan sembilu. "Ibu sejati tidak akan pernah menumbalkan kesehatan mental dan masa depan anak-anaknya hanya demi menguasai harta. Kamu hanyalah masa lalu yang kelam, sementara Kirana adalah masa depan keluarga ini."

Dengan tangan terborgol dan wajah tertutup riasan yang luntur oleh air mata frustrasi, Sheila diseret keluar dari ruang sidang oleh petugas kepolisian, diiringi kilatan kamera pers yang mencecar setiap langkah kejatuhannya.

Malam harinya, Kediaman Pratama diselimuti keheningan yang berbeda. Bukan lagi keheningan yang dingin, hampa, dan penuh prasangka seperti bulan-bulan awal pernikahan Kirana, melainkan keheningan yang hangat dan damai.

Hujan gerimis membilas kaca jendela kamar utama. Di dalam kamar berarsitektur modern-klasik itu, lampu-lampu utama telah dimatikan, menyisakan pendar redup dari lampu tidur di samping tempat tidur.

Aris duduk di tepi tempat tidur, mengenakan kemeja kasual yang tidak terkancing di bagian lehernya. Tangannya memegang kotak kayu jati tanpa kunci—kotak yang selama ini menyimpan surat-surat peninggalan almarhum Kakek Hendra dan rekam medis rahasianya.

Kirana melangkah mendekat setelah memastikan Leo dan Maya tertidur pulas di kamar mereka. Ia duduk perlahan di samping Aris, meletakkan tangannya di atas lutut suaminya.

"Mas Aris..." panggil Kirana lembut.

Aris menoleh, lalu menghela napas panjang. Ia mengambil tangan Kirana dan membawanya ke pangkuannya, mengelus jemari lentik wanita itu satu per satu.

"Dulu, Kakek Hendra menyembunyikan semua ini dariku karena dia tahu betapa rapuhnya harga diriku," ujar Aris pelan, matanya menatap kosong ke arah kotak kayu itu. "Ketika Sheila meninggalkanku bertahun-tahun lalu, aku berpikir itu karena aku kurang sempurna sebagai suami. Aku melampiaskan kekecewaanku dengan bekerja tanpa henti, membangun benteng keangkuhan, dan menutup hatiku rapat-rapat. Dan saat Kakek memaksaku menikahimu..."

Aris menghentikan kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata bening Kirana. Ada rasa bersalah yang teramat dalam berkilat di sana.

"...aku melampiaskan seluruh kebencian dan prasangkaku kepadamu, Kirana. Aku mencapmu sebagai wanita oportunis. Aku membiarkanmu menangis sendirian di rumah ini. Aku membiarkan Leo dan Maya bersikap dingin padamu... Padahal kamu hanyalah wanita muda polos yang dipaksa masuk ke dalam neraka yang kubuat sendiri."

Kirana menggeleng cepat, air mata menetes halus di pipinya. Ia meraba pipi tegap Aris, mengusap bekas gurat kecemasan yang masih tersisa di sana. "Jangan katakan itu lagi, Mas. Semua itu sudah berlalu..."

"Tidak, Kirana. Biarkan aku mengatakannya," potong Aris tegas, memegang tangan Kirana yang berada di pipinya. "Takdir benar-benar sedang menertawakanku. Takdir menyindirku dengan cara paling tajam: pria tangguh yang merasa memegang kendali atas segalanya ini, ternyata diselamatkan oleh ketulusan wanita yang pernah dihina dan diragukannya."

Aris merengkuh tubuh Kirana, menarik istrinya ke dalam pelukan yang hangat dan erat. Wajahnya dibenamkan di leher Kirana, menghirup aroma harum tubuh istrinya yang selalu menjadi penenang di saat jiwanya terguncang.

"Malam ketika kamu pergi membawa tas kecilmu menembus hujan lebat..." suara Aris terdengar berat, terkikis oleh emosi. "...duniaku benar-benar berhenti berputar. Saat itulah aku menyadari... harta, tahta, dan nama besar Pratama Corp tidak ada artinya jika kamu tidak ada di sisiku. Aku tidak memedulikan status biologis atau apa kata dunia, Kirana. Kamu adalah takdir terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk membakar habis kesombonganku dan mengajariku arti cinta yang sesungguhnya."

Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup teratur. Rasa hangat merayapi seluruh sel tubuhnya. Semua luka, air mata penolakan, dan perjuangan sunyinya sebagai ibu tiri kini terbayar lunas oleh pengakuan dan ketulusan suami yang sangat dicintainya.

"Aku mencintaimu, Mas Aris," bisik Kirana tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku mencintaimu, Leo, dan Maya melebihi nyawaku sendiri. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi."

Aris melepaskan pelukannya perlahan, menatap bibir pucat Kirana yang kini mulai merona. Dengan penuh kelembutan dan kehangatan yang meluap, Aris membungkuk dan mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya—sebuah ciuman yang menjadi ikrar abadi dari penyatuan dua jiwa yang pernah terluka.

Tiga bulan kemudian.

Sinar matahari pagi terpancar cerah menyinari halaman belakang Kediaman Pratama. Rumput hijau yang terhampar luas tampak segar dibasahi embun. Di bawah naungan pohon gazebo kayu jati, sebuah meja panjang dihiasi oleh berbagai hidangan sarapan pagi dan bunga-bunga segar.

Tawa riang Maya dan Leo bergema memenuhi udara pagi. Kedua anak itu sedang sibuk mengejar seekor anak anjing golden retriever baru yang dibelikan Aris sebagai hadiah atas keberhasilan mereka di sekolah.

"Ibu! Lihat, Milo mau merebut rotiku!" seru Maya sambil berlari kecil menghampiri Kirana yang sedang menata cangkir teh di atas meja gazebo.

Kirana tertawa renyah, memperlihatkan lesung pipitnya yang menawan. Wajahnya kini tampak segar, berisi, dan memancarkan kecantikan murni seorang wanita bahagia. "Maya, Milo kan belum sarapan. Jangan digoda terus, Sayang."

Leo berlari mendekat, membawa mangkuk makanan anjing. "Tenang, Ibu! Leo yang urus Milo!"

Dari arah dalam rumah, Aris melangkah keluar. Pria itu kini jarang mengenakan jas kaku jika berada di rumah; ia hanya mengenakan kaus polos putih dan celana santai. Wajah tegapnya selalu dihiasi senyuman hangat—sebuah perubahan drastis dari sosok bos dingin yang dulu ditakuti oleh seluruh karyawan dan pelayannya.

Aris melangkah mendekati Kirana dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya, lalu mengecup lembut pipi Kirana.

"Selamat pagi, Nyonya Pratama," bisik Aris penuh kemesraan di telinga Kirana.

Kirana menyandarkan punggungnya di dada hangat Aris, menyunggingkan senyum. "Selamat pagi, Mas. Anak-anak sudah lapar dari tadi."

"Biarkan saja mereka bermain dulu," ujar Aris pelan, matanya menatap pemandangan indah di depannya—kedua anaknya yang tertawa gembira dan istri tercintanya yang berada di dalam pelukannya.

Pak Wijaya melangkah mendekat dengan nampan berisi surat kabar pagi dan beberapa dokumen kantor. Pria tua itu tersenyum cerah melihat suasana hangat keluarga majikannya.

"Tuan Aris, Nyonya Kirana... surat kabar pagi ini merilis artikel khusus tentang kesuksesan program yayasan pendidikan anak yang baru dibentuk oleh Pratama Corp di bawah pimpinan Nyonya Kirana," puji Pak Wijaya penuh hormat.

Aris mengambil surat kabar tersebut, membaca tajuk utama yang menampilkan foto Kirana yang tersenyum anggun bersama anak-anak panti asuhan. Pria itu menatap istrinya dengan pendar kebanggaan yang tak tersembunyi.

"Istriku memang luar biasa," puji Aris tulus, membuat wajah Kirana merona merah.

Namun, di tengah kehangatan pagi yang sempurna itu, Pak Wijaya memiringkan tubuhnya, berbisik pelan dengan nada ragu di dekat telinga Aris.

"Tuan... ada satu hal lagi. Pengacara keluarga Kusuma baru saja menghubungi kami dari lembaga pemasyarakatan. Sheila Kusuma mengajukan permohonan kunjungan khusus... Dia mengklaim memiliki satu rahasia terakhir peninggalan almarhum Kakek Hendra yang belum sempat terungkap di pengadilan."

Gerakan tangan Aris yang sedang menggenggam cangkir teh mendadak terhenti. Dahi pria itu berkerut tipis. Kirana yang merasakan perubahan aura pada suaminya menatap Aris dengan pandangan bertanya.

"Rahasia apa, Pak Wijaya?" tanya Aris, suaranya kembali memberat oleh kecurigaan.

Pak Wijaya menggeleng pelan. "Sheila menolak membeberkannya kepada pengacara. Dia menegaskan... dia hanya mau berbicara jika Nyonya Kirana bersedia datang menemuinya secara pribadi di penjara."

Kirana tersentak pelan. Tatapannya tertuju pada Aris, sementara di kejauhan, gelak tawa Leo dan Maya masih terdengar riang membumbung ke udara.

Rahasia terakhir apakah yang disimpan oleh almarhum Kakek Hendra? Dan racun baru apakah yang mencoba disebarkan oleh Sheila dari balik jeruji besi untuk menguji kembali benteng cinta Kirana dan Aris?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!