NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: DINDING MEMORI TERLARANG

Kegelapan di dasar jurang bawah tanah Puncak Tianjian begitu pekat hingga mampu menyerap cahaya biasa. Hawa dingin melayang dari batuan basah berlumut hitam, menyebarkan aroma tanah purba dan sisa esensi darah yang mengering selama berabad-abad.

Shen Rui, Lian Yue, dan Qing Luo mendarat perlahan di atas lantai batu bundar di kedalaman ribuan zhang. Pijar perak keemasan dari Pedang Zhaoyang dan pendar lembut esensi Lian Yue menjadi satu-satunya sumber cahaya yang mengikis kegelapan tempat itu.

"Tempat apa ini..." bisik Qing Luo seraya mengepalkan jemarinya. Siluman ular hijau itu mengusap lengan bajunya, merinding merasakan tekanan mistis yang bergema di sepanjang dinding gua raksasa.

Di hadapan mereka membentang sebuah lorong bundar yang maha luas. Dinding-dinding batunya tidak kasar, melainkan terukir rapi oleh ribuan relief kuno yang dipahat menggunakan qi spiritual tingkat tinggi. Relief-relief itu tidak memancarkan warna emas atau perunggu khas Paviliun Tianjian, melainkan memendarkan cahaya merah darah yang berdenyut redup serempak dengan detak jantung Lian Yue.

"Dinding Memori Terlarang..." gumam Shen Rui. Matanya yang tajam membaca pahatan demi pahatan di atas dinding batu saat mereka melangkah perlahan menyusuri lorong.

Lian Yue melangkah meniti ubin batu. Tangannya terangkat tanpa sadar, mengelos permukaannya yang dingin. Begitu jemari halusnya menyentuh ukiran relief pertama, sebuah getaran spiritual hebat meledak di dalam kepalanya, memancarkan proyeksi gambar bergerak yang terpantul langsung ke dalam benak mereka bertiga.

Ukiran pertama memperlihatkan masa seribu tahun yang lalu.

Bukan Paviliun Tianjian yang berdiri di atas Puncak Gunung Tianjian, melainkan sebuah Mata Air Keabadian yang dipenuhi oleh ribuan siluman dan manusia yang hidup berdampingan dalam kedamaian. Di pusat mata air tersebut, sesosok Ular Putih raksasa bersisik perak pualam melingkar anggun, menjaga keseimbangan energi antara bumi dan langit.

"Itu... wujud asliku di masa lalu," bisik Lian Yue dengan suara bergetar.

Namun, ukiran berikutnya berubah menjadi kelam dan berdarah.

Sosok pria muda mengenakan pakaian keagungan Langit—yang memiliki paras mirip dengan Guru Xuan He sewaktu muda—datang membawa perintah hukum terlarang. Pria itu menancapkan tombak penyegel ke pusat Mata Air Keabadian, menyerap energi alam murni tersebut demi memperkuat diri dan mendirikan Paviliun Tianjian.

Untuk memastikan aliran energi tersebut tak pernah habis, Xuan He merekayasa Kutukan Tiga Kehidupan.

Ia memanipulasi takdir Shen Rui—seorang ksatria muda pemegang Pedang Zhaoyang—agar percaya bahwa Ular Putih adalah malapetaka dunia. Setiap kali Shen Rui menumpahkan darah Lian Yue dengan Pedang Zhaoyang, pedang tersebut bukan memusnahkan sang Ular Putih, melainkan memotong sepertiga inti jiwanya dan menguncinya di dalam dinding batu ini untuk dijadikan 'baterai' keabadian perguruan.

"Tiga makam... tiga pemotongan jiwa..." Shen Rui mencengkeram gagang pedangnya hingga jemarinya memutih. Air mata amarah membakar pelupuk matanya. "Setiap kali aku mengayunkan pedangku karena percaya pada keadilan guruku... aku hanya dijadikan alat untuk membantai belahan jiwaku sendiri."

Lian Yue menatap relief terakhir di ujung lorong. Di sana, terukir gambar sesosok perempuan bergaun langit berselubung cahaya emas yang berdiri membelakangi mereka, memegang benang takdir berdarah yang menghubungkan jantung Shen Rui dan Lian Yue.

"Ling Su..." bisik Lian Yue, menyebut nama yang selama ini hanya muncul dalam mimpi buruknya.

Di bawah pendar merah Dinding Memori Terlarang, tabir kebohongan seribu tahun kini terkelupas sepenuhnya. Sejarah asli Paviliun Tianjian bukanlah tentang pahlawan pembasmi iblis, melainkan perampokan jiwa yang dibungkus oleh nama keadilan suci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!