NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Jatuh ke tebing bersama

Keempat pria dari Paviliun Xiaoyao sudah tidak mampu berdiri. Tubuh mereka terbakar dan sebagian tertutup es tipis dari energi biru yang dilepaskan Bei Mingye.

Salah satu dari mereka masih bernapas. Dia mengangkat kepalanya dengan susah payah dan menatap Bei Mingye dengan ketakutan.

“Tidak... tidak mungkin... ini seharusnya... kondisi terlemahmu...”

Setelah mengucapkan kalimat itu, kepalanya terkulai dan tubuhnya tidak bergerak lagi.

Bei Mingye memang sangat kuat, tetapi mereka telah menerima informasi bahwa beberapa hari ini adalah waktu ketika racun dinginnya kambuh dan membuatnya sangat lemah.

Itulah sebabnya mereka berani memburunya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Chongyue berdiri di sana dengan terkejut. Dia yakin tidak salah dengar.

Pria yang sekarat itu mengatakan bahwa ini seharusnya merupakan saat terlemah pria itu.

Tetapi jika dia sekuat ini bahkan pada saat terlemahnya, sekuat apa dia pada saat terkuatnya?

Chongyue menelan ludahnya.

Namun, siapa yang peduli pada kekuatan orang lain?

Yang terpenting baginya sekarang adalah memikirkan cara untuk melarikan diri.

Tepat ketika Chongyue sedang memikirkan pelariannya, Bei Mingye berbalik dan menghadapinya.

Chongyue yang sejak tadi menatapnya seketika membeku.

Rambut hitam pria itu menari lembut tertiup angin. Fitur wajahnya yang sangat tampan tampak seolah-olah setiap goresannya dibuat dengan cermat.

Di bawah alisnya yang melengkung alami, terdapat sepasang mata abu-abu keunguan yang aneh, seperti titik-titik cahaya ungu cemerlang yang memancar dari kegelapan malam, seolah mampu menarik jiwa seseorang ke dalam jurang hanya dengan sekilas pandang.

Di bawah hidungnya yang mancung dan lurus, bibir tipisnya terkatup rapat, seolah sedang menahan rasa sakit.

Walaupun sudah membunuh musuhnya, cahaya biru pucat masih berkilauan di tangan kanannya.

Chongyue menarik nafas panjang.

Mengira pria itu akan mengalihkan serangannya kepadanya, dia segera mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Um, Tuan Tampan, aku hanya lewat saja. Sungguh, aku tidak melihat apa-apa.”

Melihat kepanikannya, Bei Mingye menyeringai. "Kau benar-benar tidak melihat apa-apa?"

Chongyue mengangguk cepat, "Aku benar-benar tidak melihat apa-apa!"

"Tapi aku melihatmu," kata Bei Mingye sambil tersenyum.

Chongyue terdiam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

"Sebenarnya..."

Tepat ketika Chongyue merasa frustrasi, Bei Mingye menyeringai dan melanjutkan, "Tidak masalah apakah kau melihatnya atau tidak, karena terlepas dari kau melihatnya atau tidak, hasil akhirnya adalah kematian!"

Dia melesat dari tempatnya dan muncul tepat di depan Chongyue.

Chongyue membungkuk dan menyelinap di bawah tangannya yang terangkat, lalu langsung berlari lurus ke depan.

Mata Bei Mingye menggelap.

Sebuah cambuk muncul di tangannya. Hanya dengan jentikan pergelangan tangannya, cambuk itu terbang melesat ke arah Chongyue dan melilit pinggangnya.

Bei Mingye lalu menariknya kembali ke arahnya.

Tepat ketika Chongyue hendak terlempar ke dalam pelukannya, Bei Mingye tiba-tiba memuntahkan seteguk darah.

Chongyue tidak tahu apa yang terjadi. Ditarik begitu kuat membuat tubuhnya terlempar balik dan menabrak dada Bei Mingye.

Jika dalam kondisi biasa, Bei Mingye tidak akan terpengaruh hanya karena benturan seperti itu. Namun, dia sudah menderita efek racun dingin dan baru saja menggunakan kekuatannya untuk membunuh orang-orang tadi.

Sekarang, racun dinginnya semakin melonjak liar di dalam tubuhnya, memaksanya mengerahkan energinya untuk menekannya, yang kemudian bertabrakan dengan Chongyue.

Bei Mingye meringis dan terhuyung mundur beberapa langkah lagi. Namun, tangannya masih memegang pinggang Chongyue dengan erat.

Saat itu juga, keduanya yang sudah berdiri di bibir tebing kehilangan keseimbangan dan jatuh ke bawah bersama-sama.

"Astaga!"

Chongyue melihat ke bawah dan melihat jurang tak berdasar di bawah mereka, sementara bungkusan yang dipegangnya terlepas dan jatuh lebih dulu ke dalam jurang.

Dia sangat marah dan ingin mengutuk leluhur Bei Mingye hingga delapan belas keturunan.

"Dasar gila, lepaskan!"

Dia harus mencoba memanjat kembali sebelum jatuh terlalu jauh.

"Jangan berisik," ucap Bei Mingye lalu tidak mengatakan apa-apa lagi. Kini, racun dinginnya telah menyebar ke seluruh tubuhnya.

Chongyue menyadari ada yang aneh dengan suaranya. Selain itu, kehangatan tangan yang memeganginya juga terasa berkurang drastis.

Dia mengerutkan kening dan berkata dengan kesal, “Hei, kau kenapa? Kumohon, jangan sampai terjadi apa-apa padamu!”

“Kau mengkhawatirkanku?” Bei Mingye bertanya dengan suara berat.

Mendengar ini, Chongyue rasanya ingin meninjunya.

“Mengkhawatirkan apa? Jika terjadi sesuatu padamu dan kau mati, aku juga akan mati!”

Jatuh dari ketinggian seperti ini, tubuhnya akan hancur berkeping-keping!

"Kau tidak tahu Teknik Tubuh Cahaya?" Bei Mingye tampak terkejut.

Teknik Tubuh Cahaya adalah teknik meringankan tubuh.

"Apakah aneh jika aku tidak tahu?" Chongyue membalas tajam.

"Menurutmu bagaimana?" Bei Mingye mengernyit.

"Baik... itu memang agak aneh!" Chongyue merasa frustrasi. Bukan karena dia tidak ingin menguasai teknik itu, tapi karena dia tidak tahu cara mempelajarinya.

"Siapa namamu?" tanya Bei Mingye lagi.

"Aku tidak punya nama," kata Chongyue dingin.

Dia akan bodoh jika memberitahukan namanya. Bagaimana jika dia ternyata tidak mati setelah jatuh? Bukankah pria ini bisa menemukannya hanya dengan mencari namanya?

Mengetahui dia waspada padanya, Bei Mingye tersenyum tipis, "Bei Mingye, itu namaku."

Chongyue mendengus kesal, "Siapa yang peduli pada namamu!"

Dia melihat ke bawah dan samar-samar melihat sebuah batu besar.

"Ahhh! Aku akan mati!" teriaknya panik.

Jika jatuh menghantam batu itu, dia benar-benar akan mati lagi.

Bei Mingye melihat ke bawah dan memang melihat batu besar di bawah sana, namun tidak jauh dari sana, ada air yang tampaknya berupa sebuah kolam.

Dalam kondisi seperti sekarang, tidak mungkin baginya untuk mendarat dengan selamat sambil membawa Chongyue.

Tanpa berpikir panjang, Bei Mingye memutar tubuhnya di udara dan mengarahkan mereka menuju permukaan kolam yang terlihat jauh di bawah.

Dia mengerahkan kekuatannya sekali lagi.

Rasa sakit yang menusuk dari dalam tubuhnya membuat wajahnya seketika menegang. Racun dingin yang ditekannya kembali mengamuk.

Byurrr~

Dua dentuman air terdengar hampir bersamaan ketika tubuh Bei Mingye dan Chongyue jatuh terhempas ke dalam kolam.

Begitu masuk ke dalam air, Chongyue segera menahan napas dan berenang menuju permukaan, lalu menghirup udara dalam-dalam setelah berhasil muncul ke atas.

​Bei Mingye menggertakkan giginya dan perlahan berenang naik ke atas juga.

​Untungnya, kolam itu ternyata adalah mata air panas, sehingga untuk sementara mampu meredakan rasa dingin yang membeku di tubuhnya.

​Namun sebelum mencapai permukaan, Bei Mingye melihat Chongyue yang baru saja berenang naik tiba-tiba kembali menyelam dan bersembunyi di dalam air, seolah-olah ada sesuatu yang berbahaya di atas sana.

​Dia mengerutkan kening, berenang mendekati sisi Chongyue, lalu menariknya keluar dari air.

Barulah setelah kepalanya keluar ke permukaan, dia mengerti mengapa Chongyue kembali ke dalam air lagi. 

​Karena, ada seekor harimau di dekat mata air panas itu.

Harimau itu bukan binatang tingkat tinggi, melainkan hanya seekor binatang spiritual tingkat dua yang, bagi Bei Mingye, sama sekali bukan lawan yang perlu dikhawatirkan.

Namun bagi Chongyue yang saat ini tidak memiliki kekuatan, keberadaan binatang spiritual itu merupakan ancaman yang sangat berbahaya baginya.

"Aku akan naik, kau jangan naik dulu."

Setelah mengatakan itu, Bei Mingye menggunakan kekuatannya untuk melayang keluar dari air dan mendarat di tanah.

Harimau yang berada di dekat mata air panas segera menyadari kehadirannya dan mundur dua langkah dengan waspada.

Tetapi beberapa saat kemudian ia mengeluarkan raungan keras sebelum melompat menerkam ke arah Bei Mingye.

Bei Mingye tetap tenang menghadapi serangannya dan dengan gerakan cekatan melompat ke atas punggung harimau, membuat binatang itu semakin marah sehingga ekornya yang besar langsung mencambuk ke arahnya.

Pada saat yang sama, ia membuka mulutnya dan melepaskan sebuah bola api yang melesat lurus ke arah Chongyue yang masih berada di dalam kolam.

Melihat bola api itu, Chongyue buru-buru menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air sehingga serangan itu melintas di atas permukaan kolam dan meledak dengan suara keras.

Bersamaan dengan itu, sebilah pedang panjang berwarna merah darah muncul di tangan Bei Mingye. Dia melompat ke udara sebelum menebaskan pedangnya ke bawah dengan satu gerakan tajam.

Slash~

Tebasan itu memenggal kepala harimau hingga terputus dari tubuhnya.

Setelah membunuhnya, pedang merah darah di tangan Bei Mingye menghilang, tetapi tubuhnya yang sudah berada di ambang batas justru kehilangan tenaga dan jatuh berlutut di tanah.

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!