Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8_Awal penderitaan (bagian akhir)
*GRAUUU*
Orc itu mulai menyerang duluan dengan melakukan pukulan membabi buta ke arahku. Tanah bergetar tiap pukulannya jatuh.
*DUG! DUG! DUG!*
Tiba-tiba saja saat aku bergerak rasanya otot-otot di dalam tubuhku semuanya seakan-akan robek lalu pulih kembali dengan sangat cepat.
*Kretak!*
Yang membuat aku bisa berlari dan menghindar dengan sangat cepat dari pukulan-pukulan Orc tersebut.
_otot ku semuanya.. sangat sakit, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup, aku tidak mengerti?? apa yang terjadi dengan tubuhku??_ Aku memejamkan mataku karena menahan sakit yang menusuk sampai ke tulang.
Lalu aku pun membuka mataku kembali dengan napas memburu dan memasang wajah serius.
_tapi.. jika itu membuat ku menjadi lebih kuat.. maka akan kutahan semua rasa sakit ini, berapapun harganya_ Aku pun berlari mengelilinginya untuk mencari celah saat dia menyerang.
Orc itu pun berbalik melihat pergerakanku sambil terus melancarkan pukulannya ke arahku dengan raungan.
Saat menemukan celah aku langsung berhenti dan mengambil ancang-ancang siaga menyerang.
[KILAS BALIK]
Aku terus mengayunkan pedang kayu ku ke arah ibuku tapi semuanya berhasil ditangkis dengan mudah.
*Tak! Tak! Tak!*
Lalu ibuku mulai melancarkan serangan balik dengan menyerang pergelanganku dan langsung melempar pedang kayu ku ke udara.
*Tap!*
Aku langsung membungkuk untuk memberi penghormatan dengan napas terengah.
"Ahh.. sepertinya aku dikalahkan lagi oleh ibu" sambil merengut kecewa.
Ibuku langsung tertawa kecil ketika melihatku cemberut.
"itu artinya kai masih harus banyak belajar agar bisa seperti ibu" sambil berlagak sombong di depanku dengan tangan di pinggang.
Aku langsung duduk dan menundukkan kepala ku karena pasrah, bahuku turun.
"sepertinya mustahil orang tidak berbakat seperti ku untuk menjadi kuat"
Ibu ku langsung memeluk diriku dengan erat, hangat, sambil berbisik ke padaku.
"itu tidak benar kai.."
Dia langsung melepaskan pelukannya dan memegang erat pundak ku, menatap mataku lekat-lekat.
"dengar ibu kai, kekuatan itu bukan hanya dari fisik saja" Ibu ku langsung menempelkan tangannya di dadaku yang berdebar.
"tapi juga berasal dari hati"
Aku langsung menempelkan tanganku ke dadaku juga, bingung.
"dari hati??"
Ibuku langsung berdiri dan berjalan ke tengah lapangan latihan lagi dengan senyum.
"benar.. selama orang itu memiliki hati yang tangguh, maka dia sudah membuktikan bahwa dirinya kuat" Dia langsung mengambil pedang dan menunjuk ke arah ku dengan lembut.
"baiklah.. kalau begitu mari kita lanjutkan latihannya"
Aku langsung tersenyum lebar, semangatku kembali.
"baiklah ibu" Aku berlari ke arah ibuku dengan senyum yang lebar saat itu.
"Baiklah karena kai sudah ceria lagi akan ibu ajarkan teknik pedang ibu beserta teknik tebasan kebanggaan ibu kepada mu" sambil mengambil ancang-ancang menyerang.
[AKHIR KILAS BALIK]
Aku langsung menerjang ke arah Orc itu dengan memanfaatkan posisi tangannya yang masih di tanah dan berlari ke arah pinggangnya yang terbuka.
[INGATAN MASA LALU]
"Jika kau berhadapan dengan lawan yang besar usahakan langsung menyerang ketika sudah menemukan celah dengan cepat"
[AKHIR INGATAN MASA LALU]
Aku langsung menebas bagian samping Orc itu sampai-sampai seluruh tubuhku berlumuran darahnya yang panas dan amis.
*SRETT!!*
*GRAUUU*
Orc itu pun langsung meraung karena kesakitan, suaranya memecah lembah, lalu dia langsung membalas ku dengan terus memukul ke arahku tanpa henti, membabi buta.
[INGATAN MASA LALU]
"Dengar kai setelah menyerang lawanmu usahakan terus bergerak apapun yang terjadi untuk mengurangi resiko serangan balik"
[AKHIR INGATAN MASA LALU]
Aku pun menghindar terus menerus dari serangannya yang mulai mengganas, kakiku hampir terpeleset oleh darah.
_aku tidak punya banyak stamina lagi, aku sudah kehilangan lumayan banyak darah sebelum bertarung dengannya, pandanganku mulai kabur_
Tiba-tiba pukulannya muncul tepat ke arahku dan..
*DUMNN*
Tanah di sekitar hancur dan debu berterbangan kemana-mana menutupi area sekitar.
*Wusshh...*
Aku langsung melompat ke udara dan berdiri di batu besar tepat di depannya. Lalu mengangkat pedangku dengan tinggi, kedua tanganku gemetar.
Dia yang sadar akan diriku langsung berbalik menyerang ke arahku dengan amarah.
Sebelum menyerang aku seperti melihat sosok ibuku yang muncul di samping ku sembari tersenyum hangat dan berbisik kepadaku.
"jika lawanmu menyerang dengan gegabah, disitu lah kau harus menyerangnya"
Mana di dalam tubuhku mulai keluar dari tubuhku, hitam pekat, dan mulai menyatu dengan pedangku, berdenyut.
_apa-apaan dengan tekanan ini?? Berat sekali.. Aku tidak ingat pernah memiliki kekuatan sebesar ini?? Tubuhku seperti mau remuk_
*KRAKK.. KRAKK*
Tulang-tulang ku mulai patah karena tidak kuat menahan tekanan dari pedangku.
_bertahanlah tubuhku.. aku.. aku.. tidak boleh kalah di sini_
Aku mulai mengayunkan pedangku ke arah Orc itu dengan sisa tenaga dan teriakan putus asa.
"Tidakk ingin matii!!"
*SWOSHH*
Dalam sekejap tubuh Orc itu langsung terbelah jadi dua akibat terkena tebasanku. Darahnya menyembur.
*SPLAT!!*
"Aku menang??" Nafasku masih terengah-engah, jantungku masih berdetak kencang, tubuhku masih tidak bisa bergerak karena tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"aku berhasil mengalahkannya"
*DUK.. DUK*
Lalu batu-batu kecil mulai berjatuhan dari atas tebing, dan tiba-tiba longsor pun terjadi akibat pertarungan ku dengan Orc tersebut.
*Gruuuk... Ruk...*
Aku tersenyum tipis dengan bangga meski darah menetes dari bibirku dan langsung terjatuh dari atas batu tersebut karena tubuhku sudah sangat kelelahan karena terlalu dipaksakan.
_jika aku bisa keluar hidup-hidup dari longsor ini, aku harap bisa bertambah kuat lagi_
Aku pun mulai terjatuh berbarengan dengan batu-batu yang jatuh dari atas.
Kerajaan Eiden.
Ibu kota Vain.
Tahun suci 1558.
Malam.
Tia sedang memandangi bulan melalui jendela kamarnya. Angin malam masuk pelan, dingin. Dia terus memikirkan kejadian yang terjadi di ibu kota kerajaan beberapa hari yang lalu.
"apa yang kupikirkan.. aku menghina orang yang paling ku kagumi, dan sekarang aku harus kehilangan dirinya" Air matanya keluar dan jatuh tanpa henti, membasahi pipinya.
"Jika saja kai melihat ku melakukan itu kepada ibunya, apakah kami masih bisa berteman baik seperti dulu lagi" Dadanya sesak, napasnya tercekat.
Tia langsung membalikkan mejanya karena kesal dan rasa bersalah yang menumpuk.
*BRAK!!*
"arghhh.. andai saja.. andai saja ayah tidak memaksa ku dengan ancamannya. Mungkin saja.. aku tidak harus melakukan itu kepada nyonya flora" Dia menangis sesenggukan karena penyesalan begitu dalam atas tindakan yang ia lakukan, bahunya bergetar hebat.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar lorong. Suaranya pelan tapi jelas di keheningan malam.
*Tap... tap...*
"itu tadi.." Tia langsung keluar dari kamarnya dan langsung bergegas berjalan dengan jantung berdebar.
Setelah sampai di tempat suara itu dia langsung mengecek sekitar dan menemukan ada beberapa jejak kaki yang mengarah ke taman istana yang gelap.
_mungkinkah penyusup?? Aku harus memastikannya_
Dia langsung pergi ke taman secara diam-diam, untuk menghindari penjaga istana yang sedang berpatroli.
Saat tiba di taman dia melihat ada beberapa orang yang sedang masuk ke dalam sebuah pintu rahasia menuju bawah tanah. Dan beberapa diantara orang yang masuk tersebut mengenakan gelang budak yang berkarat.
_budak?? Berarti orang-orang yang di belakang mereka kemungkinan adalah bandit ataupun penjual budak, tapi.. apa yang mereka lakukan dengan mengumpulkan budak sebanyak itu di dalam istana??_
Setelah para budak masuk ada seseorang yang muncul dari balik bayang-bayang.
"oii.. semuanya sudah dimasukan kan??"
Orang-orang itu langsung ketakutan ketika mendengar suara orang itu.
"tentu saja bos.. kami juga sudah membereskan para penjaga dengan sedikit uang"
Tia terkejut, matanya membelalak lebar, tangannya menutup mulut.
_bukankah itu.. Rangga Astrea?? Apa yang dilakukan anak seorang Duke dengan para budak itu di istana_
Dia langsung tersenyum kepada bawahannya dengan senyum licik.
"kerja bagus.. sekarang kalian bisa pergi, dan ingat.. Jangan sampai ada orang yang masuk ke tempat ini"
Bawahannya langsung memberi hormat kepadanya.
"baik bos.. tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja"
Lalu dia masuk ke dalam pintu itu, dan para bawahannya langsung menutup pintu itu dengan sihir.
*Wussh...*
Setelah pintu tertutup mereka langsung pergi dari tempat itu juga.
Tia yang dari tadi melihat mereka pun keluar dari semak-semak dan mulai membuka pintu itu lagi dengan sihirnya, tangannya gemetar.
"aku harus mengecek apa yang terjadi di dalam sana"
Saat dia turun dia mulai menuruni anak tangga yang gelap dan melewati lorong yang cukup gelap dan kotor. Baunya lembab dan anyir.
"aku baru tahu jika istana memiliki lorong seperti ini"
Di ujung lorong terlihat sebuah cahaya obor dari sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka.
Tia pun mengintip dari celah itu untuk melihat apa yang terjadi di dalam, napasnya ditahan.
Dia kaget setengah mati karena melihat sebuah laboratorium dimana banyak sekali mayat berserakan dimana-mana, dan terlihat seorang manusia sedang ditaruh di sebuah kapsul di dalamnya.
_tempat apa ini?? Mengerikan sekali_ sambil menahan muntah, perutnya mual.
Di dalam dia melihat dua orang yang salah satunya adalah Rei Astrea sedang berbicara dengan satu orang yang tidak terlihat jelas karena terlalu gelap.
"Hoii.. pak tua, aku membawakan beberapa barang lagi sesuai perjanjian kita" sambil menarik sebuah rantai yang mengikat para budak yang menangis ketakutan.
Sosok itu tersenyum lebar, giginya terlihat di kegelapan.
"dengan ini aku bisa melanjutkan penelitian ku untuk membuat sebuah manusia yang memiliki kekuatan yang besar untuk kerajaan ini"
Rei melihat ke arah kapsul tersebut.
"tapi dari banyaknya puluhan budak yang kubawa, kau baru berhasil membuat beberapa"
Sosok itu pun langsung tertawa kecil.
"Hehe... karena proses perpindahan jiwa ini sangatlah rumit asal kau tau, salah sedikit saja mereka bisa tewas. Aku tidak ingin mengulangi hal merepotkan seperti ini"
Para budak itu ketakutan, mereka menangis dan mulai gemetar setelah mendengar itu. Tapi karena mulut mereka sudah disumpal dengan tali terlebih dahulu, suara mereka jadi tidak terdengar sama sekali.
Lalu sosok itu mulai keluar dari balik kegelapan dan mulai berjalan ke arah salah satu kapsul yang sudah diisi oleh wanita berambut hijau.
"tapi aku berhasil menciptakan humanoid yang sempurna dari wanita tidak berguna itu"
Tia langsung gemetar seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, kakinya lemas.
_tidak mungkin.. Paus Lumbergh_
Rei langsung tersenyum ke arahnya.
"oii.. jangan bilang wanita itu adalah"
Paus Lumbergh langsung memegang kapsul itu dengan bangga.
"tentu saja dia adalah... Flora"
Tia yang mendengar itu pun benar-benar terkejut, napasnya tercekat, dan langsung keluar dari tempat itu secara diam-diam, setelah sudah sampai diatas ia langsung menutup pintu masuknya dan berlari ke kamarnya karena ketakutan setelah mendengar itu, air matanya jatuh lagi.
"tidak mungkin.. nyonya flora"