NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA, CEMBURU DAN MASALALU

Terlepas dari hari-hari yang canggung, sekolah sudah memasuki masa ujian akhir. Di tengah kesibukannya, Akira tetap bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Yuki selalu datang menemui Akira di sana, setia menunggu sampai jam kerja Akira usai dan berusaha selalu berada di sampingnya setiap saat.

Saat perjalanan pulang menuju rumah Akira, mereka mampir ke sebuah toko buku. Yuki ingin membeli sebuah buku, dan dengan ditemani Akira, mereka mengobrol santai seperti biasa sambil melihat-lihat jajaran buku di rak.

"Akira, sebentar lagi kan mau ujian, gimana dengan belajar mu?" tanya Yuki sambil membalik halaman sebuah buku.

"Kaya biasa, aku akan belajar setelah pulang kerja," jawab Akira datar.

Akira menatap Yuki sejenak lalu bertanya, "Apa yang ingin kamu lakuin nanti, Yuki, di masa depan?"

"Aku ingin menjadi sebuah model," jawab Yuki dengan lembut, mengumbar senyum tipis.

Akira hanya diam sejenak sebelum berkata, "Semangat, semoga impian mu tercapai."

"Kalau kamu mau kaya gimana, Akira?" tanya Yuki balik.

"Aku belum tahu, tapi aku bakal berusaha untuk sesuatu," jawab Akira.

"Semangat, semoga tercapai!" kata Yuki menyemangati.

Yuki teringat sesuatu dan menatap Akira lekat-lekat. "Oh iya, aku Minggu depan mau bekerja," kata Yuki ke Akira.

Akira pun kaget mendengarnya. "Kenapa tiba-tiba mau kerja?" tanya Akira penasaran.

"Dari dulu aku juga udah kerja, tapi karena sesuatu aku berhenti sebentar. Dan kemarin aku memutuskan menghubungi rekan ku lagi, dan mereka menerima nya dengan sangat baik," kata Yuki menjelaskan.

Yuki mengambil sebuah majalah fesyen dari rak dan membukanya. "Coba liat majalah ini, Akira."

Yuki memperlihatkan halaman yang menampilkan desain baju anggun dengan seorang model yang mengenakannya. Akira terpaku dan kaget melihatnya—ternyata dari dulu Yuki sudah menjadi model di sebuah majalah yang sedang naik daun saat ini.

Setelah dari toko buku, mereka berjalan pulang berdua di bawah tiang lampu jalan yang bersinar terang, dilingkupi langit malam yang cerah dan dipenuhi bintang-bintang. Mereka saling bercerita sepanjang perjalanan tentang impian masing-masing.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di seorang pedagang kaki lima untuk membeli permen kapas. Yuki terus melihat ke arah deretan permen kapas yang berwarna-warni itu.

"Permisi Paman, tolong permen kapas nya satu," kata Akira ke penjual tersebut.

Saat hendak menyerahkan gulungan permen kapas itu, si penjual tersenyum goda dan berkata, "Ini satu permen kapas yang manis, gak kalah manis dengan pasangan yang di landa kasmaran."

Akira dan Yuki menyela kaget secara bersamaan, "Tidak, tidak! Kami belum pacaran!"

"Oh iya kah? Maaf, maaf..." kata penjual itu terkekeh geli.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan suasana yang mendadak sedikit canggung akibat perkataan penjual tadi. Saat sampai di persimpangan jalan, Yuki pamit kepada Akira, dan mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Yuki masuk ke kamarnya. Ia merasa sangat malu dan bertingkah serba salah tiap kali teringat perkataan penjual permen kapas tadi.

"Gimana kalau kami berpacaran... apa yang bakal terjadi?" bisik Yuki pada dirinya sendiri. Wajahnya memerah, dan ia terus memutar-mutar badannya di atas tempat tidur dengan gelisah.

Sementara itu, saat tiba di rumah, Akira mendapatkan sebuah telepon dari seseorang yang ingin bertemu dengannya. Namun, Akira tidak terlalu merespons pembicaraan orang di seberang telepon dan mengabaikannya sambil menjawab dengan singkat. Akira lalu mandi, belajar sebentar, dan langsung tidur.

Di tempat lain, Yuki masih susah untuk fokus belajar karena terus terpikir perkataan penjual permen kapas, hingga jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam.

"Gawat, aku segera tidur, takut kesiangan besok!" kata Yuki panik sambil menarik selimutnya.

Keesokan harinya di sekolah, Yuki dihampiri seorang cowok yang tiba-tiba memberinya sebuah surat. Yuki kaget mendapatkan surat tersebut, sementara Akira yang melihat kejadian itu dari kejauhan merasa sangat curiga.

Saat di kelas, Yuki membuka surat itu. Di dalamnya tertulis: _Nanti di jam istirahat aku mau bicara, tolong ketemu di belakang sekolah._

Saat Nana hampir melihat surat yang sedang dibaca Yuki, Yuki refleks menyembunyikannya.

"Surat apa itu, Yuki?" tanya Nana curiga.

"Aaaa ah! Surat gak penting!" kata Yuki sambil ngeles dan tertawa canggung.

Akira yang melihat tingkah Yuki hanya diam dan terus memperhatikan ke arahnya. Tak lama kemudian, Yashiro datang dan mengobrol dengan Akira. Saat itu Yuki sempat melihat ke arah Akira, namun ia buru-buru memalingkan wajahnya.

Ketika bel istirahat berbunyi, Yuki pun pergi ke belakang sekolah. Akira yang melihat Yuki keluar kelas langsung mengikutinya dari belakang dengan langkah kaki yang hati-hati.

Saat tiba di belakang sekolah, cowok itu sudah menunggu di sana. Akira yang bersembunyi di balik dinding terus memantau mereka berdua dari jarak jauh.

"Anu, kenalin aku Najime dari kelas sebelah. Akuu... akuu suka padamu! Tolong kencan dengan ku!" kata Najime dengan badan membungkuk ke arah Yuki sambil mengulurkan tangannya.

Yuki pun kaget. "Ehhh... tiba-tiba?"

Yuki menghela napas pelan lalu menjawab perkataan cowok tersebut dengan tegas. "Maaf, aku gak bisa. Sekarang aku cuma mau fokus ke impian ku, dan aku sudah menyukai orang lain," jawab Yuki.

Mendengar itu, Najime menegakkan badannya kembali.

Akira, yang berada cukup jauh di balik tembok, tidak bisa mendengar jelas perkataan mereka. Tiba-tiba, mata Yuki kemasukan debu dan ia meringis kesakitan. Najime yang melihatnya langsung mendekati Yuki dan mencoba meniup mata Yuki agar tidak terlalu perih dan debunya bisa keluar.

Namun, dari sudut pandang Akira, posisi mereka terlihat sangat dekat. Akira kaget luar biasa—dia berpikir mereka sedang berciuman.

Di situ, perasaan Akira terasa hancur seketika. Dia tidak tahu harus bagaimana, panik, dan langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan hati yang patah.

Saat pelajaran berlanjut, Akira tidak ada di kelas. Yuki yang melihat kursi Akira kosong mulai merasa khawatir dan memikirkannya. Yuki bertanya kepada Yashiro dan Nana, tetapi mereka berdua menjawab tidak tahu di mana Akira berada.

Sementara itu, Akira berada di sebuah gudang kosong sekolah. Ia duduk diam termenung sambil melihat ke arah langit-langit.

_Kalau Yuki berpacaran, berarti aku gak perlu lagi dekat sama dia..._ kata Akira di dalam hati dengan tatapan kosong.

Yuki yang terus mencari Akira ke sana kemari mulai kehabisan napas. Tempat terakhir yang Yuki tuju adalah atap sekolah. Ia berlari ke sana dengan napas yang sesak, namun ketika sampai di atas, Akira tetap tidak ada.

Jam pelajaran pun selesai dan waktu untuk pulang tiba. Yuki kembali ke kelas dan bertanya lagi kepada teman-temannya. Kata mereka, Akira baru saja pulang.

Yuki dengan cepat mengambil tasnya dan berlari mengejar Akira, tetapi ia tetap tidak menemukannya. Yuki lantas bergegas menuju apartemen Akira, namun Akira juga belum pulang ke sana.

Yuki pun pergi mencari ke tempat kerja paruh waktu Akira. Saat ia menanyakan keberadaan Akira, orang-orang di sana menjawab bahwa Akira belum datang. Padahal, Akira sebenarnya bersembunyi di dalam dan mewanti-wanti rekan kerjanya, "Jangan kasih tau aku berada di sini."

Yuki keluar dari kafe tersebut dengan gulat rasa cemas. Ia berjalan pulang sambil terus memikirkan ke mana Akira pergi dan kenapa dia mendadak menghilang.

Di kafe, teman-teman kerja Akira bertanya-tanya ada apa dengannya, tetapi Akira hanya menjawab seadanya dan tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya.

Sesampainya di rumah, Yuki mencoba menghubungi Akira berulang kali, tetapi tidak ada respons sama sekali. Akira yang melihat ponselnya berdering hanya mengabaikan pesan dari Yuki dan melanjutkan pekerjaannya.

Saat pekerjaannya selesai, Akira bersiap-siap pulang. Di perjalanan, ia masih terus teringat kejadian siang tadi.

_Apakah mereka resmi berpacaran, atau aku hanya salah paham? Tidak, tidak... udah jelas mereka pacaran,_ bisik Akira pada dirinya sendiri.

Setibanya di rumah, Akira langsung melempar tubuhnya dan terjatuh di kasur, lalu tertidur dalam keletihan mental yang luar biasa.

Keesokan harinya, Akira selalu menghindari Yuki. Setiap kali melihat Yuki di koridor, ia langsung menghindar dan bersembunyi. Bahkan di dalam kelas pun Akira berusaha keras menjauh.

Yuki terus bertanya-tanya dalam hati, _Kenapa dia menghindar? Apakah aku ada salah?_

Yashiro dan Nana yang menyadari kejanggalan itu menghampiri Yuki. "Kenapa dengan kalian berdua, Yuki? Apakah lagi gak enakan?" tanya Nana.

"Aku tidak tau... tiba-tiba kami merasa asing kaya gini," jawab Yuki sedih.

Yashiro kemudian berjalan menghampiri Akira. Saat berdiri tepat di depan meja Akira, Yashiro berhenti.

"Kenapa menghindar dari Yuki?" tanya Yashiro.

"Bukan urusanmu," jawab Akira dengan wajah yang sangat dingin sambil menatap Yashiro.

Yashiro kaget melihat aura Akira yang mendadak kembali seperti dahulu—saat dia baru pertama kali pindah ke sekolah ini. Saat itu juga, Akira berubah total. Ia kembali ke dirinya yang dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya. Orang-orang di kelas pun menyadari perubahan Akira yang kembali menjadi sosok yang sukar didekati.

Yuki yang tidak tahan ingin berbicara dengan Akira memberanikan diri mendekat untuk bertanya. Namun tiba-tiba, Najime datang ke kelas mereka dan menghampiri Yuki untuk mengabarkan rapat OSIS.

"Yuki, ayo ke ruang rapat, kita ada rapat sesuatu dengan OSIS," ajak Najime.

Akira yang melihat kedatangan Najime langsung berjalan melewati mereka berdua begitu saja dengan aura yang sangat dingin. Yuki terus menatap Akira dengan tatapan penuh tanda tanya, begitu pula teman-teman sekelasnya. Yuki akhirnya pergi ke ruang rapat bersama Najime.

Di koridor, Akira yang berjalan menuju atap sekolah tidak sengaja bertemu dengan Megumi.

"Ehh, Akira! Mau ke mana?" tanya Megumi.

Akira mengabaikan Megumi begitu saja dan terus berjalan lurus. Melihat sikap dingin itu, Megumi merasa heran.

"Ini pasti gara-gara gadis itu..." gumam Megumi kesal. Gadis yang dimaksud Megumi tidak lain adalah Yuki.

Saat Yuki selesai rapat dan berjalan di koridor, tiba-tiba Megumi datang menghampirinya dengan raut wajah marah.

"Apa yang telah kau lakukan, Yuki?!" bentak Megumi dengan suara keras.

Yuki kaget tiba-tiba disemprot seperti itu. "Apa maksud mu, Megumi?" jawab Yuki bingung.

"Pura-pura gak tau?! Yang kamu telah lakukan dengan Akira, sampai dia kembali ke dirinya sendiri lagi seperti dahulu!" bentak Megumi lagi.

"Akuu tidak melakukan apa-apa!" bela Yuki.

Suasana di koridor menjadi canggung dan penuh emosi. Megumi diselimuti kemarahan, sementara Yuki diliputi rasa bingung. Semua siswa yang lewat mulai memperhatikan keributan mereka.

Najime yang melihat kejadian itu langsung mendekat. "Apa yang terjadi, Yuki?" tanya Najime khawatir.

"Siapa dia, Yuki?" tanya Megumi sinis.

"Dia teman ku, sekalian kami abis dari ruang rapat OSIS," jawab Yuki.

Megumi tersenyum pahit. "Sekarang aku paham... kalau tidak bisa menjaga perasaan seseorang, jangan banyak tingkah!" bentak Megumi menusuk hati Yuki.

Yuki terdiam seribu bahasa. Tiba-tiba Nana datang memisahkan keributan tersebut dan menyuruh Megumi pergi. Megumi pun melangkah pergi meninggalkan Yuki dan Nana di tengah bisik-bisik para siswa.

Saat kembali ke kelas, Nana bertanya pada Yuki tentang apa yang sebenarnya terjadi. Yuki menjelaskan semuanya, tetapi ia sendiri masih tidak mengerti apa maksud tuduhan Megumi tadi. Wajah Yuki dipenuhi tanda tanya—baik tentang perubahan Akira maupun maksud dari perkataan Megumi.

Sementara itu, Akira sedang duduk di atap sekolah, menikmati angin yang berhembus tenang. Tiba-tiba Megumi datang menyusul dan menyapanya.

Megumi langsung bertanya kepada Akira tentang Yuki dan masalah yang sedang terjadi.

"Bukan urusanmu, Megumi. Jangan ikut campur," jawab Akira dengan tatapan mata yang sangat tajam. Ia berdiri dan berniat berjalan melewati Megumi.

Namun, Megumi tidak tahan lagi. Saat Akira melangkah di sampingnya, pertahanan Megumi runtuh.

"Ada apa sama mu, Akiraaa?! Apa yang kurang dari aku?! Apa yang kurang dari aku, Akiraa?! Kenapa kamu mengabaikan kuu?! Kenapa kamu tidak pernah melihat ke arah kuu?! Apa yang harus ku lakukan... apa yang harus aku lakukan sekarang agar kamu bisa melihat ke arah aku?!" teriak Megumi histeris sambil menangis terisak.

Akira yang mendengar teriakan itu seketika menghentikan langkahnya. Suasana menjadi sangat canggung—Akira bingung harus merespons apa, sementara Megumi menangis tergugu di belakangnya.

"Apa yang kurang, Akira... apa? Aku harus kaya gimana, Akira?" tangis Megumi pecah.

Akira membalikkan badannya dan berlari kecil mendekati Megumi. Saat berhadapan, Megumi menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat.

"Aku suka kamu, Akira... aku suka kamu..." bisik Megumi di antara isak tangisnya.

Akira menghela napas berat. "Maaf Megumi, aku tidak pernah melihat ke arah mu. Maaf atas semuanya, dan maaf aku gak bisa membalas perasaan mu. Aku tidak tau bagaimana cara membalas perasaan mu."

Mendengar penolakan itu, Megumi mendongak menatap Akira dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku minta maaf Megumi, aku gak bisa membalas nya. Dan orang yang aku cintai masih RIYUMI ASUMA dan gak bakal tergantikan," tegas Akira.

Mendengar nama itu, Megumi masih menangis di hadapan Akira. Namun tak lama kemudian, ia menyapu air matanya dan mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri.

"Emang benar ya, perasaan dan suka gak bisa kita paksakan," kata Megumi menatap langit. "Sekarang aku udah lega karena aku udah menyampaikan perasaan ku ke kamu, Akira."

Megumi tersenyum tipis lalu berbalik pergi meninggalkan Akira sendirian di atap.

Tak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi. Akira kembali ke kelas untuk membereskan peralatan sekolahnya ke dalam tas. Yuki tiba-tiba datang berdiri di depan meja Akira dan mencoba bertanya tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua.

Namun, Akira hanya bersikap cuek dan dingin. Sebelum Yuki sempat bicara lebih banyak, Najime datang mengajak Yuki untuk pergi ke ruang rapat lagi. Akira memanfaatkan kesempatan itu untuk langsung pulang, sementara Yuki berjalan ke ruang rapat bersama Najime dengan hati berat. Nana dan Yashiro yang melihat keadaan itu hanya bisa diam, tidak mau terlalu ikut campur.

Saat di perjalanan pulang, ponsel Akira berdering dari nomor yang tidak dikenal. Sebuah pesan masuk, memintanya untuk datang ke sebuah taman. Akira yang membaca pesan tersebut lantas mengubah arah langkahnya menuju taman yang dimaksud.

Sesampainya di taman, Akira kaget luar biasa melihat sosok yang menunggunya. Orang itu adalah ibunya.

Melihat ibunya, Akira refleks memutar badan dan ingin segera pergi. Namun, ibunya cepat-cepat menghentikannya dan memanggil namanya, memohon agar Akira mau berbicara sebentar.

Nama ibu Akira adalah Sarah Riyuma. Mereka duduk di kursi taman, dan Sarah mencoba mengajak Akira untuk pulang dan kembali tinggal bersama keluarga.

Mendengar ajakan itu, emosi Akira yang selama ini terpendam mendadak meledak.

"Apaa?! Pulang?! Kenapa gak dari duluu?! Kenapa gak dari waktu aku kecill?! Kenapa harus sekarang, kenapaaaa?!" teriak Akira dengan emosi, air mata mulai menetes di pipinya. "Saat aku diterlantarkan, saat aku tidak pernah dilihat, saat aku tidak pernah didengar... apa kalian pernah peduli kepada kuu?! Apa kalian pernah mengerti perasaan aku sedikit pun?!"

"Kenapa kalian terus mengabaikan aku? Bukankah dulu kalian tidak pernah menginginkan aku lahir di dunia ini?! Bukankah kalian selalu berkata aku anak tidak diinginkan?!" bentak Akira melepaskan seluruh rasa sakitnya. "Kenapa sekarang kalian baru mau aku? Dari dulu aku selalu sama Nenek. Setelah Nenek tidak ada, aku hidup sendirian tanpa sedikit pun kasih sayang dari orang-orang, apa lagi sedikit pun kasih sayang dari keluarga!"

Sarah menangis sejadi-jadinya mendengar curahan hati anaknya tersebut. Ia terus mengatupkan tangan dan meminta maaf.

"Apa kalian pernah memikir berapa banyak rasa sakit yang aku rasakan?! Betapa banyaknya kehilangan, berapa banyak air mata yang keluar, berapa banyak luka yang tidak bisa aku sembuhkan?!" tangisan Akira pecah sepecah-pecahnya di hadapan ibunya. "Sekarang saat baru kalian mencari aku dan kalian mulai peduli ke aku... kenapa tidak dahulu saat aku butuh sosok orang tua, kenapa Mama, kenapa?!"

Sarah tidak sanggup lagi menahan rasa bersalahnya. Ia langsung merengkuh dan memeluk erat anak laki-lakinya itu, menangis tersedu-sedu di pelukan Akira. Akira yang sudah lelah secara emosional hanya bisa pasrah dalam pelukan itu, sementara ibunya terus bergumam meminta maaf atas segala tindakan kejamnya dan sang ayah di masa lalu.

Setelah tangis dan emosi mereka mereda, mereka berdua mulai mengobrol dengan kepala dingin.

Sarah akhirnya menceritakan alasan di balik semuanya. Ayah Akira dari dulu memang tidak menginginkan kehadiran Akira, dan Sarah selama ini selalu diancam oleh suaminya sendiri setiap kali berusaha mendekati Akira.

"Ibu selalu memperhatikan kamu, Akira... selalu ingin bertemu dengan mu, selalu ingin memeluk mu... tapi Ibu gak bisa ngapain-ngapain karena ancaman dari ayah mu. Kalau Ibu ketemu kamu, dia bakal bikin urusan dengan kamu. Jadi Ibu tidak bisa melawannya... Ibu takut kamu kenapa-napa," kata Sarah dengan suara gemetar dan air mata yang kembali menetes di samping Akira.

Mendengar kenyataan pahit yang dialami ibunya selama ini, dinding pertahanan Akira runtuh. Akira gantian memeluk ibunya dengan erat dan tulus memaafkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!