Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA BAGIAN 2
Hari-hari setelah kejadian itu berjalan biasa saja—setidaknya bagi Bunda. Ibunya masih bangun pagi seperti biasa, menyiapkan sarapan, mengurus rumah, dan sesekali bertanya ringan tentang kegiatan sekolah Yovana.
Namun bagi Yovana, tak ada lagi yang terasa sama. Setiap pagi ia terbangun dengan rasa cemas yang mengimpit dada. Setiap kali mendengar suara engsel pintu berderit, jantungnya berdegup kencang secara refleks. Dan setiap kali mendengar langkah kaki Zain, tubuhnya otomatis menegang dan mencari cara untuk menghindar.
Rumah yang dahulu hangat kini terasa sempit dan mengungkung. Bahkan kamar tidur yang dulu menjadi tempat paling nyaman baginya, kini berubah menjadi benteng terakhir untuk bersembunyi.
Suatu sore, Yovana pulang sekolah lebih awal. Ia berharap Bunda ada di rumah untuk menemaninya. Namun saat melangkah masuk, suasana rumah begitu sepi dan lengang.
"Bun?" panggilnya pelan.
Hening. Hanya ada selembar kertas kecil di atas meja makan: Bunda ke rumah Bu Sari sebentar ya, Nak. Jangan lupa makan.
Yovana menghela napas panjang. Dengan sigap ia masuk ke kamar, memutar kunci pintu rapat-rapat, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke luar jendela.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, terdengar suara derum mesin kendaraan berhenti di depan rumah. Yovana sangat mengenali suara itu—mobil Zain. Tubuhnya seketika kaku. Ia meremas ponsel di genggamannya erat-erat.
Suara pintu depan terbuka, disusul langkah kaki berderap masuk. Hening sejenak. Yovana berdo'a dalam hati agar Zain hanya mengambil barang yang tertinggal lalu pergi lagi. Namun, derap langkah itu justru berbelok menuju lorong kamarnya.
Semakin dekat. Semakin jelas. Hingga akhirnya terhenti persis di balik pintunya.
Tok. Tok. Tok.
Yovana membisu, menahan napas.
"Yovana," panggil Zain dari luar.
Yovana tetap bergeming.
"Buka pintunya."
Masih tidak ada jawaban.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam sebelum suara Zain terdengar lebih berat dan rendah, "Jangan bikin semuanya jadi sulit."
Yovana memejamkan mata erat-erat, berjuang menguasai suaranya yang gemetar. "Aku... aku mau sendiri."
"Buka."
"Enggak." Untuk pertama kalinya, Yovana memberanikan diri menolak secara terang-terangan.
Suasana di luar kamar mendadak sunyi. Lalu, suara Zain kembali terdengar, begitu tenang namun sarat ancaman. "Kamu pikir pintu tipis itu bisa melindungimu?"
Air mata Yovana mulai menetes. "Aku tidak pernah bikin masalah..."
"Saya juga tidak bilang kamu bikin masalah," potong Zain santai. Ketenangan pria itulah yang justru membuat Yovana semakin teror.
"Om..." cicit Yovana lirih. "Tolong pergi..."
Tidak ada jawaban lagi. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki Zain perlahan menjauh. Namun, Yovana tetap terduduk kaku di tempatnya, tidak berani bergerak sedikit pun sampai mendengar pintu depan kembali tertutup.
Saat Bunda pulang menjelang malam, Yovana baru memberanikan diri keluar dari kamar. Bunda yang menyadari wajah pucat putrinya langsung bertanya heran, "Kamu kenapa, Nak?"
Yovana menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, Bun."
"Tadi Zain sudah pulang?"
Yovana terdiam sejenak sebelum menjawab, "Iya... tadi sebentar."
Bunda tersenyum tipis sambil mengusap bahunya. "Kamu jangan terus-terusan mengurung diri di kamar dong. Nanti makin lesu."
Yovana hanya bisa mengangguk pelan. Ia ingin sekali berteriak bahwa bukan kamar yang membuatnya ingin mengurung diri, melainkan sosok pria yang kini tinggal bersama mereka. Namun, kata-kata itu kembali tertahan di tenggorokannya.
Malamnya, saat Yovana duduk bersandar di balik pintu kamar, ia mendengar percakapan Bunda dan Zain di ruang tengah.
"Yovana belakangan ini kok makin pendiam ya?" ujar Bunda penuh rasa khawatir.
"Mungkin lagi banyak tugas sekolah atau ada masalah sama temannya," sahut Zain santai.
"Entahlah... Bunda merasa ada yang beda dari dia."
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti juga baik lagi."
Yovana mendengarkan setiap patah kata itu dari kegelapan kamarnya. Hingga kemudian suara Zain kembali terdengar merendah. "Kamu percaya sama saya, kan?"
Dan Bunda menjawab tanpa ragu sedikit pun, "Tentu saja percaya."
Yovana memejamkan mata saat air matanya menetes makin deras. Jawaban Bunda terasa menancap seperti duri. Kepercayaan ibunya yang begitu polos pada Zain adalah tembok besar yang menghalangi Yovana untuk menyuarakan kebenaran.
Beberapa hari kemudian, Zain sengaja mencegat Yovana saat lorong rumah sedang sepi.
"Kita perlu bicara," potong Zain menghalangi jalannya.
Yovana refleks mundur beberapa langkah. "Aku tidak mau!"
Zain menatapnya tajam. "Jangan sampai saya harus mengingatkanmu lagi."
Yovana menahan tangisnya agar tidak pecah di depan pria itu. "Aku tidak akan cerita ke siapa-siapa! Aku janji!"
"Bagus," ujar Zain singkat. Ia melangkah mendekat satu pukulan jarak. "Karena kalau kamu berani bicara, Bunda yang paling pertama hancur."
Yovana mendongak, menatap mata pria itu. "Bunda harus tahu siapa Om sebenarnya!"
Zain malah tersenyum tipis—senyuman licik yang sangat dibenci Yovana. "Kamu yakin? Kamu pikir setelah tahu semuanya, Bunda akan baik-baik saja? Kamu mau lihat pernikahan ibumu hancur lagi gara-gara kamu?"
Raut wajah Yovana seketika berubah pasi. Zain tahu persis titik lemah yang paling melumpuhkannya.
"Jangan libatkan Bunda..." bisik Yovana lirih, kehabisan daya.
"Kalau begitu, tutup mulutmu dan bersikap biasa saja," tegas Zain sebelum akhirnya berlalu pergi.
Yovana berdiri sendirian di lorong yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat. Ia membenci dirinya sendiri karena begitu rapuh dan tak berdaya. Namun di saat yang sama, ia sadar bahwa rasa takut ini sengaja dirancang oleh Zain untuk menguncinya.
Malam itu, Yovana kembali membuka buku catatannya di bawah lampu tidur.
Aku ingin pergi dari rumah ini.
Jemarinya terhenti lama, lalu lanjut menggoreskan pena dengan gemetar.
Tapi aku tidak bisa meninggalkan Bunda sendirian. Aku tidak tahu sampai kapan aku sanggup bertahan.
Ia menutup buku itu erat-erat dan menyembunyikannya kembali di bawah tumpukan baju. Yovana kemudian menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.
Dari luar kamar, suara langkah kaki kembali terdengar. Berhenti sebentar di depan pintunya, lalu perlahan menjauh.
Yovana menatap daun pintu yang terkunci rapat. Malam itu, ia akhirnya menyadari sebuah kenyataan pahit: kunci dan pintu kayu tidak akan pernah cukup untuk melindunginya. Karena yang sebenarnya memenjarakannya saat ini bukanlah dinding kamar, melainkan rasa takut dan kasih sayangnya pada sang ibu.