NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PECAHNYA CERMIN ALIANSI

Udara di dalam Paviliun Sunyi mendadak membeku, lebih dingin daripada malam musim dingin di dasar tebing setahun yang lalu. lilin di sudut ruangan bergoyang hebat, melemparkan bayangan tubuh Shen Xianle dan Long Junwei yang memanjang di dinding kayu yang lapuk. Jasad Bibi Song yang masih hangat tergeletak di antara mereka, menjadi bukti nyata bahwa tirai rahasia telah terkoyak sepenuhnya.

Belati perak di tangan Xianle bergetar samar, bukan karena ketakutan, melainkan karena amarah yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Setiap kenangan manis cara Junwei menyelamatkannya, mengobati tulang-tulangnya yang patah, hingga tatapan intens di bawah rembulan kini berubah menjadi racun yang membakar jiwanya.

"Mengapa, Junwei?" desis Xianle, suaranya terdengar sangat rendah namun sarat akan dendam. "Selama ini, aku hanya boneka yang kau gerakkan untuk membalaskan dendammu sendiri? Kau memanfaatkan kebencianku pada Li Feng dan Shen Meili agar kau bisa melangkah ke puncak kekuasaan tanpa menodai tanganmu sendiri?!"

Long Junwei menatap ujung belati perak yang mengarah tepat ke dadanya. Wajahnya yang tegas tampak kaku bagai pahatan batu giok hitam. Tidak ada kepanikan, tidak ada bantahan, juga tidak ada penyesalan di sepasang mata elangnya yang pekat.

"Jika aku hanya menganggapmu sebagai boneka, Xianle, aku tidak akan membiarkanmu menduduki singgasana naga emas itu," ucap Junwei, suara baritonnya yang berat terdengar sangat tenang. "Aku bisa saja membunuhmu begitu kau membuka pintu perbendaharaan di Pegunungan Terlarang. Fakta bahwa kau masih mengenakan mahkota itu hari ini adalah buktinya."

"Kau membiarkanku hidup karena darahku adalah kunci hidup untuk Gerbang Surga Terlarang!" Xianle melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aura membunuh yang pekat meledak dari tubuhnya, menghempaskan tirai-tirai usang di sekeliling mereka. "Pelayan tuaku mati karena jarum beracun milik Pasukan Bayanganmu! Kau membungkamnya karena dia tahu kau adalah pimpinan Faksi Naga Perak pembunuh ibuku!"

Junwei menghela napas pendek. Tangan kanannya perlahan bergerak menuju gagang pedang kunonya, namun ia tidak menarik senjata tersebut. Ia hanya menggenggamnya, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Xianle yang kini telah diselimuti kegelapan.

"Bibi Song tidak berbohong tentang identitasku, Xianle. Aku memang pimpinan tertinggi Faksi Naga Perak saat ini," Junwei mengakui hal tersebut tanpa ragu, membuat jantung Xianle serasa dihantam gada besi. "Namun, dia salah tentang satu hal. Belasan tahun lalu, orang yang memerintahkan meracuni Selir Lin bukanlah faksi kami. Perdana Menteri Shen dan Permaisuri menggunakan nama faksi kami untuk menutupi jejak kejahatan mereka sendiri dari kejaran para pengawal barat."

"Kau pikir aku akan memercayai kata-katamu lagi?!" raung Xianle.

Tanpa menunggu lebih lama, Xianle menerjang maju. Teknik Langkah Bayangan Tanpa Jejak membuatnya menjelma menjadi bayangan hitam yang melesat dalam sekejap mata. Belati peraknya mengayun membentuk busur yang mematikan, mengincar urat leher Long Junwei.

Tring!

Junwei menangkis serangan kilat itu menggunakan sarung pedang kunonya yang masih terikat di pinggang. Benturan energi internal yang padat memicu gelombang kejut yang meretakkan pilar kayu paviliun di samping mereka.

Xianle tidak memberi jeda. Menggunakan kelenturan tubuhnya, ia memutar arah serangan, belatinya menusuk ke arah ulu hati Junwei. Gerakannya begitu cepat, didorong oleh kebencian yang murni. Namun, setiap serangannya berhasil dibaca dengan sempurna oleh pria yang telah mengajari dirinya selama setengah tahun di Pegunungan Utara.

Tring! Cring! Brak!

Junwei terus bertahan, hanya menggunakan sarung pedangnya untuk menepis setiap tikaman mematikan dari Xianle. "Hentikan, Xianle! Jika aku ingin membunuh ibumu, aku tidak akan menghabiskan waktu bertahun-tahun melindungimu dari kejaran pembunuh bayaran istana sejak kau masih bayi di Paviliun Anggrek!"

"Bohong!" Xianle melompat mundur, napasnya terengah-engah dengan mata yang berkilat kejam. "Malam ini, hanya ada satu di antara kita yang akan keluar dari paviliun ini hidup-hidup!"

Xianle mengumpulkan seluruh sisa energi internal di dalam tubuhnya, membuat ujung belati peraknya mulai memancarkan pendaran cahaya putih yang tajam bagai kristal es. Ia siap melepaskan teknik terlarang Tarian Teratai Berdarah, sebuah serangan satu pukulan yang bisa menghancurkan meridian musuh namun juga membahayakan nyawanya sendiri.

Melihat Xianle yang sudah kehilangan kendali emosinya, Junwei tahu ia tidak bisa lagi hanya bertahan. Jika ia membiarkan Xianle melepaskan teknik tersebut, tubuh wanita itu yang belum sepenuhnya pulih dari luka perang akan hancur dari dalam.

Wuuush!

Junwei menarik pedang kunonya dari sarungnya. Pendaran cahaya biru keperakan seketika menerangi seluruh ruangan, menekan aura putih milik Xianle. Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan presisi, Junwei melewati pertahanan belati Xianle, bukan untuk melukainya, melainkan untuk mengetuk titik akupunktur di pangkal leher sang putri menggunakan pangkal gagang pedangnya.

Puk.

Gerakan Xianle mendadak terkunci di udara. Pendaran cahaya putih di belatinya meredup dalam sekejap. Sepasang matanya yang jernih menatap Junwei dengan tatapan penuh kebencian dan rasa dikhianati yang amat sangat, sebelum akhirnya kesadarannya mengabur dan tubuh ringkihnya tumbang ke depan.

Junwei dengan cepat menangkap tubuh lemas Xianle sebelum menghantam lantai, mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya. Ia menatap wajah porselen sang maharani yang kini tampak tenang dalam pingsannya, seolah kembali menjadi gadis rapuh dari Paviliun Anggrek.

"Maafkan aku, teratai kecilku," bisik Junwei dengan nada suara yang sarat akan kesedihan yang mendalam. "Rahasia ini terlalu berat untuk kau pikul sendiri saat ini. Namun, badai yang sesungguhnya sudah tiba di depan gerbang kota."

Tepat saat itu, Mo Reng melompat masuk melalui jendela dengan pakaian yang dipenuhi noda darah, wajahnya tampak sangat pucat. "Yang Mulia Pangeran! Situasi di luar kendali! Jenderal Lu dan Jenderal Zhao... mereka telah membawa seluruh kavaleri Barak Barat untuk mengepung istana! Mereka mengira Anda telah membunuh Maharani setelah melihat isyarat darurat dari Xiaoyu!"

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!