Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Brian menyunggingkan senyuman miring yang begitu mematikan di balik bayangan, pria itu merendahkan wajahnya dan mendaratkan kecupan-kecupan halus yang hangat di sepanjang garis leher Kyra, membuat sekujur tubuh gadis itu meremang hebat.
"Ucapan terima kasih tidak cukup hanya dengan kata-kata, Kyra," bisik Brian seraya membalikkan tubuh Kyra secara perlahan agar mereka saling berhadapan.
Mata gelap Brian menatap tajam ke dalam manik mata Kyra dan mengunci seluruh pergerakannya, "Secara perlahan kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dan sekarang... bukankah saatnya kau memberikan hakku sebagai suami,"
Napas Kyra tercekat seketika, kalimat itu meluncur dari bibir Brian dengan nada rendah yang menghanyutkan dan membuat seluruh pertahanan mental yang ia bangun runtuh dalam sekejap. Di balik tatapan tajam dan dominasi mutlak yang selalu dipamerkan pria itu, tersimpan sebuah keinginan mendalam yang tidak bisa lagi ditolak oleh logika.
Kyra tidak menjawab, ia hanya menunduk dan merasakan jemari hangat Brian dengan lembut menyentuh sisi wajahnya, membelai pipinya yang mulai memerah panas.
Tanpa menunggu persetujuan Kyra, Brian mengangkat tubuh Kyra dengan mudah ke dalam dekapannya. Kyra terkesiap kecil, kedua tangannya dengan otomatis melingkar erat di leher suaminya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang berdegup kencang.
Dengan langkah lebar dan penuh wibawa, Brian membawa istrinya menuju ranjang berukuran king size di tengah kamar yang temaram. Ia membaringkan Kyra dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti wanita yang kini telah resmi menjadi bagian hidupnya itu.
Brian menindih pelan tubuh Kyra, kedua tangannya menumpu di sisi kepala wanita itu, mengurung Kyra di bawah tatapan matanya yang membara.
"Brian...," panggil Kyra dengan suara bergetar halus, sarat akan ketegangan dan keraguan yang belum sepenuhnya hilang.
"Ssttt...," bisik Brian lembut dan menempelkan telunjuknya tepat di bibir Kyra.
"Mulai malam ini... Kau adalah milikku dan aku sepenuhnya milikmu," ucap Brian, suaranya yang bariton terdengar begitu menghipnotis dan meruntuhkan sisa-sisa benteng es di dalam dada Kyra.
Brian langsung membungkam bibir Kyra dengan ci*man yang dalam dan memabukkan, menuntut balasan yang membuat Kyra kehilangan akal sehatnya. Sentuhan tangan Brian yang awalnya tegas dan agresif, perlahan-lahan berubah menjadi begitu sabar dan penuh kelembutan saat ia merasakan tubuh Kyra yang sempat menegang.
Brian menci*m setiap inci wajah Kyra, kelopak mata yang terpejam rapat, pipi yang merona, hingga turun ke leher jenjangnya. Setiap sentuhan tangan Brian terasa bagai aliran listrik panas yang membakar sekujur saraf tubuh Kyra, menghapus segala memori buruk, rasa sakit dan pengabaian yang diterimanya dari masa lalu.
Udara di dalam kamar tidur utama terasa semakin pekat, dipenuhi oleh kehangatan tubuh yang bersatu dan aroma parfum milik Brian yang bercampur dengan wangi alami Kyra. Lampu tidur bersumbu keemasan meredupkan sudut ruangan, menyisakan bayangan siluet dua insan yang tengah larut dalam pusaran emosi yang tak lagi bisa ditahan.
Brian mengangkat sedikit tubuhnya, matanya yang gelap menatap lekat-lekat ke arah Kyra. Napas pria itu memburu, namun tatapannya menyiratkan ketulusan yang luar biasa, sebuah bentuk perlindungan dari seorang pria yang telah mendedikasikan seluruh kekuasaan dan dunianya untuk wanita di bawah kurungannya.
"Kau milikku, Kyra. Hanya milikku," bisik Brian sekali lagi, suaranya serak namun sarat akan penegasan mutlak.
Kyra mengangguk pelan, air mata haru tanpa sadar menetes di sudut matanya, bukan karena rasa sakit atau ketakutan, melainkan karena kelegaan yang teramat sangat. Di pelukan pria inilah ia merasa untuk pertama kalinya dihargai, diinginkan dan dicintai seutuhnya setelah seumur hidup hanya mendapati pengabaian dari keluarga kandungnya sendiri.
Brian dengan lembut menyapukan ibu jarinya, menghapus jejak air mata di pipi Kyra. Pria itu kemudian menunduk, memberikan ci*man penuh pemujaan di setiap jengkal wajah istrinya, dari dahi, kelopak mata yang terpejam, hidung mancung, hingga turun ke bibir yang membengkak karena ci*man panjang sebelumnya.
Sentuhan tangan Brian yang tadinya terasa menuntut, kini berubah menjadi sebuah tarian kelembutan yang memabukkan. Setiap belaian di kulit sensitif Kyra terasa bagai sengatan listrik yang menghanyutkan akal sehat, ketika pakaian terakhir mereka terlepas, menyisakan kulit yang bersentuhan langsung tanpa ada batasan, des*h tertahan lolos dari bibir Kyra.
Brian membimbing istrinya melewati ritme demi ritme yang dirancang dengan penuh kesabaran. Ia memastikan setiap sentuhan, setiap dekapannya, mampu meredupkan trauma masa lalu yang sempat menyelimuti batin Kyra. Di tengah malam yang kian larut, suara des*h napas, gesekan kain seprai, dan bisikan-bisikan cinta yang dalam melebur menjadi satu simfoni keint*man yang sakral.
Brian tidak hanya mengambil haknya sebagai suami, melainkan menyembuhkan luka-luka tak kasat mata di jiwa Kyra. Ia memberikan kepastian mutlak bahwa di dunia yang kejam ini, Kyra tidak akan pernah sendirian lagi. Dan Kyra, dengan seluruh kepasrahan dan rasa nyaman yang baru tumbuh itu, menyerahkan benteng pertahanan terakhirnya dan tenggelam sepenuhnya ke dalam dekapan hangat sang predator yang kini telah jinak di hadapannya.
Waktu seolah berhenti berputar selama beberapa jam di balik pintu tertutup itu. Ketika akhirnya fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan bias cahaya kebiruan ke dalam kamar, kedua insan itu masih terlelap dalam posisi saling berpelukan erat.
Kepala Kyra bersandar nyaman di atas dada bidang Brian, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama tenang. Jemari kokoh Brian masih melingkar protektif di pinggang langsing istrinya, seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, wanita itu akan kembali hilang dari dunianya.
Hingga beberapa saat kemudian, matahari telah sepenuhnya meninggi, merayap malas menembus celah-celah tirai kamar dan menghangatkan hamparan seprai sutra tempat mereka berbaring. Namun, bagi Brian, waktu seolah berhenti di detik di mana ia membuka mata dan mendapati Kyra masih berada di dalam dekapannya.
Pria yang dikenal kejam dan dingin pada siapapun itu, kini tampak begitu sabar. Jemari kokohnya dengan telaten menyelipkan helaian rambut hitam Kyra yang menutupi wajah cantiknya. Kulit mulus istrinya yang terekspos akibat selimut yang melorot memperlihatkan sisa-sisa keint*man mereka semalam. Sebuah pemandangan yang alih-alih membuatnya iba, justru kembali memicu gelombang ga*rah asing yang mendominasi nuraninya.
Brian menunduk, mengecup lama bahu telanj*ng Kyra. Hawa hangat napasnya membuat Kyra terusik dalam tidurnya.
"Eungh...," Kyra mengerang pelan, bulu matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Kyra menyipitkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi, sebelum mendapati wajah Brian berada hanya beberapa sentimeter darinya.
"Pagi, istriku," bisik Brian serak, suaranya sarat akan rasa lapar yang belum terpuaskan.
Sebelum Kyra sempat mengumpulkan kesadarannya atau sekadar membalas sapaan itu, Brian telah menangkup tengkuknya, menariknya kedalam sebuah ci*man pagi yang menuntut namun penuh pemujaan. Ci*man itu begitu dalam, merenggut napas Kyra dan seketika mencairkan sisa kantuk di tubuhnya.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧