"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK KAKI DI ATAS RERUMPUTAN BASAH
Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pohon pinus di kawasan perbukitan utara, membiaskan garis-garis cahaya keperakan di atas jalanan tanah yang masih basah oleh embun. Suara bising ibu kota dan gema gertakan para petinggi klan di ruang rapat Alveric Tower terasa kian menjauh, tergantikan oleh desir angin pegunungan yang menenangkan.
Zavier menghentikan laju motor besarnya di sebuah kedai kopi kecil beratap kayu yang menghadap langsung ke lembah hijau. Di sampingnya, Nayla perlahan turun dari jok belakang, melepas helm full-face yang menutupi wajahnya, lalu menghirup udara segar yang memenuhi paru-parunya dengan rasa bebas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Genggaman tangan Zavier saat menariknya keluar dari ruang rapat dua jam lalu masih menyisakan kehangatan yang menjalar di jemari Nayla.
"Kita benar-benar sudah keluar dari gedung itu, Zav?" bisik Nayla pelan, menatap lurus ke hamparan lembah di hadapan mereka dengan binar mata yang campur aduk antara tidak percaya dan kepuasan yang membuncah.
Zavier melepaskan sarung tangan kulitnya, meletakkannya di atas meja kayu luar kedai, lalu memutar tubuhnya menghadap Nayla. Raut wajahnya yang biasanya kaku dan penuh perhitungan kini nampak lebih rileks, meski sisa-sisa wibawa tegasnya tetap memancar utuh.
"Langkah pertamamu sudah selesai saat kamu merobek draf dokumen itu di depan Papi dan Om Alexander, Nay," jawab Zavier dengan suara bass-nya yang hangat dan mantap. "Mereka mungkin masih memegang aset dan nama besar, tapi kendali atas hidupmu sudah sepenuhnya kembali ke tanganmu."
Nayla menyunggingkan senyum tulus, sebuah senyuman lepas tanpa beban berpura-pura yang selama bertahun-tahun selalu menghiasi wajahnya di Istana Alveric. Ia mendudukkan dirinya di bangku kayu, memandangi Ujung sepatu ketsnya yang ternoda sedikit lumpur basah.
"Ayah pasti sangat murka, Zav," tutur Nayla seraya merapikan rambutnya yang berantakan ditiup angin. "Gatan Rain juga tidak akan tinggal diam setelah likuiditas Barito kau bekukan lewat Vanguard Capital. Apa yang akan dilakukan Papi Kael sekarang?"
Zavier memesan dua cangkir teh hangat pada pemilik kedai sebelum ikut duduk di seberang Nayla. Ia menyandarkan punggungnya santai, menatap gadis di hadapannya dengan manik mata kelam yang amat tajam.
"Papi adalah seorang pebisnis sejati, Nay," ujar Zavier rasional. "Saat dia melihat aku berhasil mematikan langkah Barito Group tanpa menggunakan sepeser pun uang Mahendra Group, Papi tahu kalau ancamannya untuk membuangku sudah tidak punya nilai tawar lagi. Papi mungkin marah karena egonya terluka, tapi dia menghormati kekuatan yang nyata."
Nayla mengangguk pelan, menyerap setiap kata yang diucapkan Zavier. "Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Setelah ini... apa rencana kita?"
Zavier mengulurkan tangannya di atas meja kayu yang kasar, menyambut jemari Nayla dan menggenggamnya rapat-rapah. Sentuhan itu tidak lagi sembunyi-sembunyi seperti di tangga darurat sekolah atau di balik bayangan balkon kamar; kali ini, genggaman itu berdiri terbuka di bawah naungan langit luas.
"Langkah selanjutnya adalah hidup sebagai dirimu sendiri, Nayla," kata Zavier dengan nada suara yang begitu dalam dan menembus ke dasar hati Nayla. "Pendaftaran jurusan Seni Rupa Murni yang kamu inginkan dibuka bulan depan. Aku sudah menyiapkan studio kecil di daerah selatan yang tidak terdaftar atas nama klan Mahendra atau Alveric. Kamu bisa melukis di sana tanpa ada pengawal yang mencatat tiap goresan kuasmu."
Air mata hangat menetes menyusuri pipi Nayla, namun kali ini bukan karena duka atau rasa tertekan, melainkan rasa lega yang teramat sangat. Di balik pualam megah dan intrik triliunan rupiah yang berusaha merantai mereka, Zavier tidak pernah berjanji untuk memberinya istana baru, pria itu hanya berjanji untuk berdiri bersamanya saat mereka meruntuhkan temboknya sendiri.
"Terima kasih, Zavier..." bisik Nayla lirih, menyapu air matanya dengan sudut lengan bajunya. "Untuk tidak pernah membiarkanku menyerah pada nasib yang mereka buat."
Zavier menyunggingkan senyum tipisnya yang langka, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Nayla. "Aku tidak pernah membuatmu bertindak, Nay. Keberanian itu selalu ada di dalam dirimu... aku cuma memegang lentera agar kamu tidak tersesat di dalam kegelapan rumahmu sendiri."
Uap teh hangat melayang dari dua cangkir di meja mereka, menyatu dengan embun pagi yang perlahan menguap disapu sinar matahari. Di atas tanah basah pegunungan itu, dua jejak kaki mereka telah terukir berdampingan menandakan awal dari babak baru yang tak lagi ditulis oleh pena para penguasa, melainkan oleh keberanian dua jiwa yang memilih untuk merdeka bersama.
~Di antara megahnya tembok pualam dan intrik takhta, keberanian terbaik kita adalah memilih untuk saling menggenggam dan merdeka bersama.~
kekny zavier ini tipe aku 🤭