NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diam

Koridor lantai 3

Koridor itu sepi. Hanya terdengar suara langkah sepatu Cheyrin yang tergesa menyusul.

Di tangan kirinya, buku tebal bersampul biru itu masih ia genggam erat. Sampai buku itu terasa panas di telapak tangannya.

Di depan sana, punggung Jayden terlihat semakin menjauh. Berjalan dengan cepat. Tangan nya di masukkan ke saku.

"Jay."

Tidak ada jawaban. Jayden menuli-kan pendengaran nya.

"Jayden!"

Suara Cheyrin pecah sedikit. Ia mempercepat langkah, lalu tanpa sadar menarik ujung lengan kemeja Jayden.

Jayden berhenti mendadak.

Tapi ia tidak langsung menoleh. Bahunya naik turun sekali, seperti menahan napas. Baru setelah 3 detik, ia berbalik.

Wajahnya datar. Terlalu datar.

Cheyrin melangkah maju hingga kini mereka berhadapan. Jaraknya cuma sejengkal. Terlalu dekat untuk orang yang sedang bertengkar, terlalu jauh untuk orang yang biasanya nyender di bahu satu sama lain.

"Lo..." Tenggorokan Cheyrin tercekat. Ia menelan ludah dulu.

"Lo kenapa?"

Jayden mengerutkan dahi. Seolah benar-benar tidak paham dengan pertanyaan itu.

"Kenapa? Emang gue kenapa?"

Nadanya ringan. Terlalu ringan. Ringan yang dibuat-buat.

"Jangan gitu." Suara Cheyrin mengecil. "Lo aneh banget dari tadi pagi. Lo diemin gue"

Jayden menyilangkan tangan. Matanya berkeliling, menghindari tatapan Cheyrin.

"Gue emang lagi gak mood aja."

"Gue ada bikin salah, kah?"

Pertanyaan itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan.

Saat itulah mata Jayden bergerak turun. Sekilas.

Tepat ke buku di tangan kiri Cheyrin. Buku yang 10 menit lalu diambilkan oleh orang lain.

Rahang Jayden mengeras.

Cheyrin masih menatap nya. Jantungnya mencelos. Ada keberanian aneh yang muncul.

"Apa karena... malam itu gue—"

"UDAH." Potongan Jayden tajam.

Cheyrin terdiam. Bahunya sedikit tersentak karena bentakan itu.

"Gue gak mau bahas itu." lanjut Jayden dengan nada yang sedikit lebih rendah.

Hening. Sementara Cheyrin masih mendongak menatap nya. Tidak berkedip, tapi matanya mulai berkaca-kaca.

Jayden juga diam.

Seakan baru saja tersadar.

Ia menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Satu tangannya naik, mengusap wajahnya kasar. Seperti benci pada dirinya sendiri.

"...Sorry." Suaranya serak. Nada nya rendah. Hampir tenggelam di koridor.

"Gue gak bermaksud bentak lo."

Jayden memejamkan mata lagi.

"Gue lagi gak bisa ngomong sekarang, Chey."

Cheyrin masih diam. Belum sempat menjawab.

Tapi Jayden sudah berbalik lagi.

Tanpa menunggu jawaban, tanpa menoleh.

Langkahnya menjauh, cepat, Meninggalkan Cheyrin berdiri sendiri di tengah koridor, masih memegangi buku itu sampai buku itu terasa akan remuk di genggamannya.

.

.

.

Jam di tembok lapangan sudah menunjukkan pukul 16.00.

Waktu pulang.

Biasanya jam segini Jayden sudah berada di parkiran. Jaket menggantung di bahu, helm di tangan, hanya tinggal nunggu Cheyrin keluar gerbang. dan mereka pulang bersama. Seperti biasa.

Tapi tidak hari ini.

Jayden, Juno, dan Steven masih berada di lapangan. Masih latihan.

Bola basket dipantulkan kencang ke lantai. "Duk duk duk" nya menggema.

Ini memang jadwal latihan mereka. Meski begitu, biasanya Jayden akan angkat tangan. Dan meminta izin untuk mengantar Cheyrin.

Hari ini? Ia seolah menempel di lapangan itu. Seakan kalau ia berhenti, ia harus menghadapi sesuatu yang tidak mau ia hadapi.

Mahasiswa satu per satu melewati lapangan dan berjalan menuju gerbang. Cheyrin termasuk di antaranya.

Ketika melewati lapangan, Cheyrin sempat melirik ke arah Jayden. Namun Jayden hanya fokus pada latihannya. Rambutnya basah oleh keringat, seolah baru saja keramas.

Cheyrin hanya melewati nya dan berjalan ke arah parkiran. Tidak berharap Jayden akan bergerak mengambil motor nya di parkiran dan mengantar nya. Itu tidak perlu, Cheyrin sudah cukup menyadari status mereka. tidak ada kewajiban untuk Jayden mengantarkan Cheyrin.

Jayden juga sempat melirik ke arah Cheyrin. Tatapannya tajam. Namun sedetik kemudian ia kembali fokus melempar bola.

"SCREEN! JAKE SCREEN!"

Bola dilempar keras ke ring. "Teng!"

Seakan Cheyrin bukan sesuatu yang harus diperhatikan.

Steven menghentikan dribble-nya. Ia menatap Jayden lalu bertanya,

"Lo gak nganter Cheyrin?"

Pertanyaan itu menggantung di udara panas.

Jayden langsung menoleh. Napasnya belum stabil masih ngos-ngosan. Mata Jayden menyipit.

"Kenapa? Lo mau nganter dia? Anter aja."

Hening.

Steven terdiam. Bola di tangannya berhenti. Ia menatap Jayden lama. Menimang kata-kata itu.

"...Oke." jawabnya pelan.

Sementara itu, Cheyrin telah berdiri di trotoar menunggu angkot. Cuaca sangat panas hari itu hingga ia harus memicingkan matanya.

Tidak lama kemudian, Lisa yang baru keluar dari gerbang berhenti di depan Cheyrin. Di belakang Lisa, Dara duduk di atas motornya.

Lisa bertanya, "Lo pulang sama siapa, Chey?"

Cheyrin menoleh. "gue..." Ia melirik Dara sekilas, lalu menjawab cepat, "gue ada yang jemput".

"Ohh yaudah." Lisa mengangguk. "Hati-hati ya."

Lalu motornya melaju, meninggalkan Cheyrin sendirian di pinggir jalan.

Ia menghela napas panjang, menatap ujung jalan yang kosong. 

Tiba-tiba, suara mesin motor berhenti tepat di hadapannya. 

Sebuah ninja 250R Hitam dof.

Cheyrin tahu itu motor Jay tanpa perlu melihat plat nomornya. 

Jayden membuka kaca helm full face-nya perlahan. Lalu melirik ke Cheyrin sekilas.

“Naik,” katanya singkat, suaranya tetap datar seperti tadi. 

Cheyrin menatapnya lama. 

Tidak menjawab, hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. 

Jayden menghela napas tanpa menoleh. 

Ia menurunkan standar motor, turun dari tempat duduknya, lalu mengambil helm cadangan yang tergantung di stang. 

Dengan gerakan hati-hati, ia memakaikan helm itu ke kepala Cheyrin. 

Cheyrin tetap diam, tetapi pandangan nya tetap mendongak menatap Jayden. 

Ada sesuatu di sorot matanya yang membuat Jayden berhenti sejenak. 

“Jangan liatin gue kaya gitu,” ucap Jayden pelan, suaranya melembut tanpa sadar. 

“Gue jadi nggak tega.”

Mata Cheyrin sempat berlinang. 

Ia buru-buru berkedip, menahan agar air matanya tidak jatuh. 

Tanpa bicara lagi, Jayden menarik pelan lengan Cheyrin, membantunya naik ke belakang motor. 

Ia menyalakan mesin, memastikan Cheyrin sudah berpegangan dengan benar. 

Tidak ada obrolan di sepanjang jalan. 

Hanya suara mesin motor dan angin sore yang menemani mereka pulang bersama.

...

Di perjalanan, tidak ada yang bicara. 

Jayden tidak mengajak Cheyrin bicara, dan Cheyrin juga memilih diam. 

Sore itu sangat tenang. Hanya ada suara mesin motor dan angin yang lewat di telinga mereka. 

Jayden hanya fokus ke depan, matanya lurus menatap jalanan. 

Ia berusaha mengabaikan kehadiran Cheyrin di belakangnya, berusaha membuat dirinya terlihat biasa saja. 

Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar pelan di pinggangnya. 

Cheyrin memeluknya dari belakang, perlahan, seolah takut jika ia menarik tangannya, Jayden akan semakin menjauh. 

Jayden menyadari hal itu. 

Ia menunduk sekilas melihat tangan yang melingkar di perutnya, lalu kembali menatap jalan. 

Egonya besar. Terlalu besar untuk ia menoleh dan bertanya apa yang Cheyrin rasakan saat ini. 

Suara Cheyrin akhirnya pecah, pelan dan bergetar di belakangnya. 

“Jangan diemin gue."

Jay tidak menjawab. 

Ia hanya menggenggam stang motornya lebih erat, menahan sesuatu yang rasanya ingin meledak di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!