Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN YANG TIDAK BISA KAMI AMBIL BERSAMA
Pagi itu Alya datang ke rumah ibunya seorang diri.
Raka sebenarnya ingin mengantar, tetapi Alya menolak.
“Ini urusan keluarga saya.”
Raka hanya mengangguk.
“Kalau kamu butuh saya, telepon.”
Alya tersenyum.
“Pasti.”
Namun sejak semalam, perasaan Alya tidak tenang.
Ibunya tidak pernah memintanya pulang dengan nada seperti itu.
Terlebih setelah bertahun-tahun masalah keluarga Mahendra mendominasi kehidupan mereka, Alya mulai takut ada sesuatu yang baru.
Ketika sampai, pintu rumah sudah terbuka.
Ibunya menunggu di ruang tamu.
Ada satu map cokelat di atas meja.
Dan seorang pria yang tidak dikenalnya duduk di sana.
Alya berhenti.
“Bu?”
Ibunya berdiri.
“Duduk dulu.”
Alya duduk perlahan.
“Siapa beliau?”
Pria itu berdiri.
“Nama saya Adrian.”
Dia menyerahkan kartu nama.
Adrian Pratama — Managing Partner, Pratama Holdings.
Alya menatap kartu itu.
“Kenapa ada orang perusahaan di rumah?”
Ibunya menarik napas.
“Karena ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Alya menatap ibunya.
“Bicaralah.”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Rumah ini dan tanah di belakangnya bukan sepenuhnya milik Ibu.”
Alya mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Sebagian tanah ini adalah warisan dari kakekmu.”
“Lalu?”
“Dan kakekmu membuat perjanjian yang selama ini tidak pernah Ibu ceritakan.”
Alya menatap map di meja.
“Perjanjian apa?”
Adrian membuka map tersebut.
“Tanah itu dijadikan aset penjamin untuk sebuah perusahaan keluarga.”
Alya terdiam.
“Perusahaan apa?”
Adrian menjawab,
“Perusahaan yang dulu dimiliki ayahmu.”
Alya membeku.
Ayah.
Kata itu sudah lama tidak dibicarakan di rumah mereka.
“Bukankah perusahaan itu sudah tidak ada?”
“Secara operasional, iya.”
Adrian mengeluarkan dokumen lain.
“Tapi secara hukum, masih ada kewajiban yang belum selesai.”
Alya membaca dokumen itu.
Ada angka yang membuatnya terdiam.
Rp 4,8 miliar.
Alya mengangkat wajah.
“Ini utang?”
Ibunya mengangguk.
“Ibu tidak pernah tahu?”
“Ibu tahu sebagian.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena jatuh temponya bulan depan.”
Alya menutup map.
“Kenapa saya harus tahu?”
Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Karena kalau kewajiban itu tidak diselesaikan, rumah ini bisa disita.”
Alya terdiam.
Selama ini dia bekerja keras karena ingin membantu keluarganya.
Dia tidak pernah tahu ada masalah sebesar ini menunggu di belakangnya.
TIDAK ADA YANG MENYELAMATKAN ALYA
Alya pulang menjelang siang.
Raka sudah menunggunya di rumah baru mereka.
Begitu melihat wajah Alya, dia langsung tahu ada masalah.
“Apa yang terjadi?”
Alya meletakkan tas.
“Keluargaku punya utang.”
Raka diam.
“Berapa?”
“Empat koma delapan miliar.”
Raka menghela napas.
“Bagaimana?”
“Tanah rumah menjadi jaminan.”
Raka tidak langsung menawarkan uang.
Alya justru merasa lega.
Dia tidak ingin masalah ini diselesaikan dengan satu transfer dari Raka.
“Aku tidak akan meminta kamu membayarnya.”
Raka menatapnya.
“Saya tidak berpikir kamu akan meminta.”
“Bagus.”
“Tapi kita harus mencari jalan keluar.”
Alya mengangguk.
“Ya.”
Raka duduk di sampingnya.
“Apa pilihanmu?”
“Menjual rumah.”
Raka langsung menggeleng.
“Bukan karena saya tidak setuju. Tapi kamu yakin?”
Alya menghela napas.
“Itu rumah keluarga.”
“Jadi?”
“Saya tidak mau kehilangan.”
Raka menatapnya.
“Kalau begitu jangan menjualnya.”
Alya tertawa kecil.
“Masalahnya uangnya tidak sedikit.”
“Saya tahu.”
“Dan saya tidak mau berutang lagi.”
“Bagus.”
Alya menatapnya.
“Kamu tidak akan bilang punya uang?”
“Tidak.”
“Tidak menawarkan pinjaman?”
“Tidak.”
“Tidak menyuruh perusahaan membayar?”
“Tidak.”
Alya tersenyum.
“Kenapa?”
Raka menjawab tenang,
“Karena kamu tidak butuh orang yang menyelesaikan hidupmu.”
Dia menggenggam tangan Alya.
“Kamu butuh seseorang yang membantu kamu berpikir.”
Alya terdiam.
“Jadi kita cari solusi.”
MALAM ITU
Alya membuka semua dokumen.
Dia membaca perjanjian lama.
Ada satu hal yang menarik perhatiannya.
Utang tersebut sebenarnya bukan utang pribadi keluarganya.
Itu adalah kewajiban perusahaan lama.
Dan ada aset lain yang tercantum sebagai jaminan.
Sebuah gudang tua di kawasan industri.
Alya langsung menghubungi Adrian.
“Pak Adrian.”
“Ya?”
“Saya sudah membaca dokumennya.”
“Baik.”
“Kalau aset gudang itu dijual, berapa nilainya?”
Adrian diam sebentar.
“Sekitar tiga miliar.”
“Berarti masih kurang.”
“Benar.”
Alya berpikir.
“Bagaimana kalau perusahaan lama itu diaktifkan kembali?”
Adrian terdiam.
“Secara hukum bisa.”
“Dan kalau saya mengambil alih kewajibannya?”
“Itu mungkin.”
Alya mulai melihat jalan.
Bukan menjual rumah.
Bukan meminjam uang.
Tetapi menghidupkan kembali perusahaan lama keluarganya dan mengubah aset yang mati menjadi bisnis baru.
Raka yang mendengarkan dari samping berkata,
“Itu lebih masuk akal.”
Alya menoleh.
“Kamu pikir bisa?”
“Kalau model bisnisnya benar.”
Alya membuka laptop.
“Berarti saya harus membuat bisnis yang menghasilkan setidaknya lima miliar dalam waktu tertentu.”
“Tidak harus langsung.”
“Tapi bunga dan kewajiban berjalan.”
Raka mengangguk.
“Berarti kita butuh investor.”
Alya menatapnya.
“Bukan kamu.”
Raka tertawa.
“Saya belum menawarkan.”
“Bagus.”
“Jadi apa rencanamu?”
Alya menatap dokumen.
“Saya akan mencari investor sendiri.”
TIGA HARI KEMUDIAN
Alya mulai bergerak.
Dia tidak membuat bisnis baru dari nol.
Dia melihat aset yang sudah dimiliki keluarganya.
Gudang.
Tanah.
Jaringan lama.
Kemudian menemukan satu peluang.
Gudang tersebut berada di kawasan yang sedang berkembang menjadi pusat distribusi Bali.
Beberapa perusahaan membutuhkan tempat penyimpanan.
Alya menyusun proposal.
Bali Smart Distribution Hub.
Bukan perusahaan besar.
Bukan sesuatu yang glamor.
Tetapi bisnis yang bisa menghasilkan pendapatan tetap.
Dia menghabiskan tiga malam menyusun proyeksi.
Raka tidak ikut campur.
Dia hanya membantu ketika Alya meminta pendapat.
Pada hari keempat, proposal selesai.
Alya mengirimkannya kepada lima calon investor.
Empat menolak.
Satu meminta presentasi.
Pratama Holdings.
Perusahaan milik Adrian.
Alya menatap email tersebut.
“Ini bukan kebetulan.”
Raka menggeleng.
“Mungkin mereka memang melihat potensinya.”
Alya mengangguk.
“Kalau begitu saya akan presentasi.”
HARI PRESENTASI
Ruang meeting Pratama Holdings penuh.
Adrian duduk di tengah.
Dua direktur lainnya berada di samping.
Alya berdiri di depan layar.
Tidak ada Raka.
Dia sengaja meminta Raka tidak datang.
Ini adalah proyeknya.
“Perusahaan lama keluarga saya memiliki aset yang selama ini tidak produktif.”
Layar menampilkan gudang.
“Saya tidak ingin menjual aset tersebut untuk menutup kewajiban.”
Slide berganti.
“Saya ingin mengubahnya menjadi pusat distribusi regional.”
Salah satu direktur bertanya,
“Berapa kebutuhan modal?”
Alya menjawab.
“Dua koma dua miliar.”
“Dan proyeksi pengembalian?”
Alya menjelaskan.
“Dengan asumsi okupansi 60 persen dalam enam bulan pertama, titik balik modal diperkirakan tiga puluh bulan.”
Direktur lain menggeleng.
“Terlalu lama.”
Alya tidak panik.
“Kalau hanya menyewakan gudang, benar.”
Slide berikutnya muncul.
“Tapi saya tidak hanya menjual ruang.”
Dia menjelaskan sistem pengelolaan inventaris, distribusi, layanan fulfillment, dan kerja sama dengan perusahaan e-commerce.
Ruangan mulai serius.
Satu jam kemudian, presentasi selesai.
Adrian menutup laptop.
“Saya punya satu pertanyaan.”
Alya menunggu.
“Kenapa Anda tidak meminta bantuan Raka?”
Alya tersenyum.
“Karena kalau saya berhasil, saya ingin keberhasilan ini menjadi milik saya.”
Adrian mengangguk.
“Jawaban yang bagus.”
Dia menatap dua direktur lainnya.
“Kita investasi.”
Alya terkejut.
“Pak?”
Adrian tersenyum.
“Dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Anda yang memimpin.”
Alya mengangguk.
“Saya siap.”
ENAM MINGGU KEMUDIAN
Proyek berjalan.
Gudang direnovasi.
Kontrak pertama ditandatangani.
Kemudian kontrak kedua.
Kemudian ketiga.
Pendapatan mulai masuk.
Tidak besar.
Tetapi stabil.
Untuk pertama kalinya, Alya melihat jalan keluar.
Namun saat semuanya mulai membaik—
masalah baru muncul.
Satu pagi, Adrian menelepon.
“Alya, kita punya masalah.”
“Apa?”
“Kontrak terbesar kita dibatalkan.”
Alya membeku.
“Kenapa?”
“Klien menerima penawaran dari perusahaan lain.”
“Siapa?”
Adrian menyebut nama perusahaan.
Alya langsung mengenalinya.
Mahendra Logistics.
Alya terdiam.
Perusahaan milik Raka.
“Raka?”
Adrian menggeleng.
“Bukan hanya dia.”
“Apa maksudnya?”
“Perusahaan itu menawarkan harga di bawah biaya operasional.”
Alya mulai curiga.
“Itu tidak masuk akal.”
“Benar.”
“Siapa yang mengatur?”
Adrian menjawab,
“Kami belum tahu.”
Alya langsung membuka data.
Jika Mahendra Logistics sengaja menurunkan harga untuk menghancurkan bisnis barunya—
berarti seseorang sedang mencoba membuat proyek Alya gagal.
Dan kali ini masalahnya bukan hubungan pribadi.
Ini perang bisnis.
MALAM
Alya mendatangi Raka.
Dia meletakkan dokumen di meja.
“Jelaskan.”
Raka membaca.
Wajahnya berubah.
“Saya tidak tahu.”
“Perusahaanmu menawarkan harga yang tidak masuk akal.”
“Saya tidak menyetujui ini.”
“Siapa yang bisa?”
Raka membuka sistem internal.
Dia memeriksa persetujuan.
Kemudian terdiam.
“Ada yang menggunakan nama saya.”
“Apa?”
“Proposal ini memakai tanda tangan digital saya.”
Alya membeku.
“Berarti ada orang yang memalsukannya.”
Raka mengangguk.
“Dan orang itu punya akses tingkat tinggi.”
Alya menatap layar.
Mereka saling memandang.
Sekali lagi, seseorang mencoba memanfaatkan perusahaan Raka.
Tetapi kali ini targetnya bukan Mahendra Group.
Targetnya adalah Alya.
Raka langsung mengambil ponselnya.
“Saya akan hentikan kontrak ini.”
Alya menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Kalau kamu menghentikannya sekarang, semua orang akan menganggap saya mendapatkan perlakuan khusus.”
Raka terdiam.
Alya menunjuk dokumen.
“Cari orang yang melakukan ini.”
“Dan kamu?”
“Saya tetap menjalankan bisnis saya.”
“Kamu yakin?”
Alya mengangguk.
“Kalau seseorang ingin menghancurkan bisnis saya, saya tidak akan memberinya kesempatan.”
Raka tersenyum.
Itulah Alya yang dia kenal.
Bukan perempuan yang menunggu diselamatkan.
Tetapi perempuan yang berdiri ketika keadaan menjadi sulit.
DUA HARI KEMUDIAN
Alya menemukan kejanggalan.
Perusahaan yang mengambil kontraknya memiliki pemegang saham yang sama dengan salah satu perusahaan yang pernah terlibat dalam kasus Leonard.
Alya langsung menghubungi pengacara.
Dan jawabannya mengejutkan.
Leonard masih bergerak.
Meskipun kasusnya belum selesai, jaringan bisnisnya masih aktif.
Dia tidak lagi menyerang Raka secara langsung.
Dia menyerang sesuatu yang jauh lebih mudah—
bisnis Alya.
Alya menutup laptop.
Dia menelepon Raka.
“Kita punya masalah baru.”
“Apa?”
“Leonard.”
Raka terdiam.
“Kamu yakin?”
“Saya menemukan koneksinya.”
Raka menarik napas.
“Berarti dia belum selesai.”
Alya tersenyum tipis.
“Kalau begitu kita juga belum.”
Malam itu, Alya berdiri di depan gudang yang baru saja dibangunnya.
Lampu-lampu menyala.
Beberapa pekerja masih bekerja.
Ini adalah sesuatu yang benar-benar dia bangun sendiri.
Raka datang dari belakang.
“Takut?”
Alya menoleh.
“Sedikit.”
“Menyerah?”
“Tidak.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Alya menatap gudang di depannya.
“Dulu saya pikir masalah terbesar dalam hidup saya adalah mencintai bos saya.”
Raka tertawa.
“Dan sekarang?”
“Sekarang saya sadar…”
Alya menatapnya.
“Masalah terbesar adalah orang yang tidak suka melihat kita berhasil.”
Raka berdiri di sampingnya.
“Kalau begitu kita hadapi.”
Alya mengangguk.
Namun kali ini mereka tidak akan menunggu musuh menyerang.
Alya membuka laptop.
“Saya sudah punya rencana.”
“Apa?”
“Kita balik keadaan.”
Raka menatapnya.
“Bagaimana?”
Alya tersenyum.
“Besok saya akan membeli perusahaan yang mencoba menghancurkan bisnis saya.”
Raka terdiam.
Kemudian tertawa.
“Kamu serius?”
“Serius.”
“Berapa modalnya?”
“Belum tahu.”
“Dan kalau terlalu mahal?”
Alya menutup laptop.
“Kita cari cara.”
Raka menggeleng sambil tersenyum.
“Sekarang saya benar-benar tahu kenapa dulu saya jatuh cinta pada kamu.”
Alya mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena setiap kali hidup memberi kamu masalah…”
Dia menggenggam tangan Alya.
“Kamu justru mencari cara untuk membuat masalah itu menyesal sudah datang.”
Dan untuk pertama kalinya dalam cerita mereka, Alya bukan lagi seseorang yang terseret oleh konflik.
Dia yang mulai menciptakan langkah berikutnya.