"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Nadia menutup pintu ruang rapat sebelum siapa pun sempat menyebut nama Titan lagi.
"Mulai sekarang, kata yang kita pakai adalah sampel palsu, sumber belum terverifikasi, dan indikasi alat potong serupa. Tidak ada tuduhan ke perusahaan tertentu tanpa bukti rantai."
Reza masih memegang kartu palsu. "Kalau kita terlalu pelan, mereka jual duluan."
"Kalau kamu terlalu cepat, kamu yang bayar ganti rugi duluan," jawab Nadia.
Raka mengangkat satu pack palsu. Beratnya hampir sama. Bungkusnya sedikit lebih kasar, tetapi di kamera ponsel tidak terlihat. Logo Saga Nusantara melengkung dengan warna yang nyaris benar.
Ini lebih berbahaya daripada tuduhan Titan kemarin.
Tuduhan bisa dijawab dengan dokumen. Barang palsu menyebar di tangan pembeli yang kecewa. Sekali orang percaya AKN menjual sampah, sulit membedakan siapa yang benar-benar bersalah.
"Kita beli sampel," kata Raka. "Bukan sita. Bukan ancam. Semua dicatat."
Farhan mengangguk cepat. Ia sudah membuat format sederhana: nama toko, waktu, harga, foto rak, struk, nomor akun marketplace, kondisi barang, dan siapa yang membeli. Tidak ada pahlawan jalanan. Tidak ada perkelahian dengan penjual. Hanya bukti.
Bima menambahkan dua orang operasional untuk menemani, tetapi Farhan tetap menjadi mata utama. Anak itu tahu cara terlihat seperti pembeli biasa. Ia berdiri di antrean tanpa menarik perhatian, bertanya harga dengan suara rendah, lalu mengirim foto begitu keluar.
Sementara itu, Reza mengurung diri bersama Yusuf dan Dimas.
"Satu pack satu kode," kata Reza sambil menggambar alur di papan. "QR di dalam bungkus, bukan di luar. Saat discan, kartu masuk ke album digital. Kalau kode sudah pernah dipakai, muncul peringatan."
Yusuf langsung memotong. "Data apa yang kita ambil?"
"Akun, waktu scan, lokasi kasar."
"Lokasi kasar untuk apa?"
"Lacak distribusi palsu."
"Kalau tidak perlu untuk layanan utama, jangan ambil."
Reza menatapnya, hampir meledak. Lalu ia menghembuskan napas.
"Baik. Akun dan status kode. Lokasi hanya jika pembeli memilih melapor palsu dan memberi izin."
Yusuf menulis. "Kalau sistem gagal karena sinyal toko jelek?"
"Ada halaman cek manual. Kode bisa dimasukkan nanti. Pack tetap bisa dimainkan fisik."
"Kalau QR disalin?"
Dimas mengangkat tangan. "Maka video edukasi harus bilang QR membantu, bukan jimat sakti."
Reza menunjuknya. "Itu kalimatmu."
"Sayangnya iya."
Dalam dua hari, prototipe Kode QR Asli Saga berdiri. Bekerja. Pack resmi memiliki kode unik yang terikat ke digital binder. Saat pembeli memindai, layar menunjukkan gambar pack, tanggal aktivasi, dan pesan pendek: Produk resmi AKN. Simpan bukti pembelian.
Untuk produk palsu, sistem tidak selalu langsung tahu. Jika kode tidak ada, muncul kanal laporan. Jika kode sudah pernah dipakai, pembeli diminta mengunggah foto dan struk. Semua bahasa dibuat hati-hati: diduga tidak resmi, perlu pemeriksaan, bukan otomatis kriminal.
Raka menyukai bagian itu.
Perusahaan yang panik sering membuat janji terlalu besar. AKN tidak boleh menjadi perusahaan yang berkata "anti palsu total" lalu dipermalukan minggu depan.
Masalah berikutnya lebih menyakitkan: biaya.
Menukar pack palsu dengan basic set resmi berarti AKN membayar kerusakan yang tidak mereka buat. Yusuf menunjukkan angka di layar. Kalau program terlalu luas, kas berdarah.
Bima mengusulkan batas.
"Satu orang maksimal dua basic set pengganti. Harus ada sampel fisik dan bukti pembelian dalam periode resmi berhenti. Kita prioritaskan anak sekolah dan pembeli yang bisa menunjukkan toko."
Nadia menyetujui dengan syarat semua sampel menjadi barang bukti perusahaan, bukan dimusnahkan asal.
Raka menandatangani program itu.
"Mahal," kata Yusuf.
"Lebih murah daripada membiarkan orang pertama kali menyentuh Saga lewat barang palsu."
Hari peluncuran ulang dimulai adalah live pendek dari toko mitra di Bekasi. Dimas memegang kamera. Farhan berdiri di meja kecil dengan tiga pack: satu resmi baru, dua palsu dari sampel pasar.
Komentar sudah panas.
AKN drama lagi.
Kalau asli, kenapa bisa banyak palsu?
Titan pasti ketawa.
Raka tidak muncul dulu. Ia sengaja membiarkan Farhan yang membuka.
"Saya pembeli Saga juga," kata Farhan. Suaranya masih agak gugup, tetapi jelas. "Saya akan tunjukkan cara cek, bukan cara menuduh toko."
Ia membuka pack resmi. Kamera menyorot QR di bagian dalam. Ponsel memindai. Layar menampilkan tanda resmi, nama produk, dan album digital kosong yang siap diisi.
Komentar bergerak.
Oke, ini keren.
Scan lagi.
Farhan mengambil sampel kedua. Bungkusnya mirip. Ia membuka, mencari kode. Tidak ada.
"Kalau tidak ada kode, jangan langsung ribut di toko," katanya. "Simpan barang, foto struk, lapor lewat kanal ini."
Dimas menampilkan alamat laporan.
Sampel ketiga lebih licik. Ada QR tercetak, tetapi saat dipindai muncul pesan: kode sudah pernah digunakan pada tanggal lain.
Komentar meledak.
Palsu banget.
Yang jual kemarin kayak gini.
Aku kena.
Di saat yang sama, tim marketplace yang sudah diberi paket bukti mulai bergerak. Nadia tidak mengirim tuduhan liar. Ia mengirim daftar akun, foto produk, perbandingan fisik, dan bukti bahwa official channel sedang berhenti saat barang itu dijual. Dalam dua jam, puluhan listing turun.
Tidak semua. Tetapi cukup untuk membuat penjual palsu panik.
Salah satu akun menaikkan harga lalu mengubah judul menjadi kartu koleksi fanmade. Akun lain menghapus semua foto logo. Beberapa toko yang kemarin berani memajang pack palsu tiba-tiba menyembunyikan stok.
Di live, Dimas membaca komentar dari pembeli.
"Min, toko dekat sekolah saya jual yang tanpa kode."
Farhan tidak menyebut nama toko di udara. Ia meminta pengirim masuk kanal laporan.
Reza, yang berada di belakang kamera, menatap Farhan dengan ekspresi aneh. Anak itu justru karena tidak berteriak, orang percaya.
"Dia bagus," gumam Reza.
Bima mendengar. "Baru sadar?"
"Saya sadar sebelum kamu bicara."
"Tentu."
Menjelang sore, toko mitra resmi kembali membuka penjualan terbatas. Kali ini bukan booster random dulu. Basic set non-random menjadi pintu utama. Anak-anak yang datang bisa membeli paket yang sama, memahami kartu dasar, dan masuk komunitas tanpa merasa harus mengejar keberuntungan.
Pendapatan hari itu jauh di bawah ledakan sepuluh ribu pack.
Yusuf memasang angka di layar: penjualan rendah, refund turun, komplain palsu masuk tetapi terstruktur, laporan marketplace meningkat, waiting list basic set naik stabil.
Reza melihat angka itu lama.
"Tidak seksi," katanya.
"Tapi hidup," jawab Raka.
Di luar toko, antrean tidak menggila seperti hari pertama. Tidak ada orang dewasa membawa kantong besar untuk dijual ulang. Ada tiga siswa yang membandingkan kartu basic set di lantai dekat warung. Salah satu dari mereka kalah dua kali, lalu tertawa karena akhirnya mengerti kenapa Nelayan Tua berguna.
Dimas merekam dari jauh.
"Ini lebih bagus daripada unboxing rare," katanya.
Reza tidak langsung menjawab. Kemudian ia berkata pelan, "Untuk komunitas jangka panjang, iya."
Kalimat itu hampir membuat Dimas menjatuhkan kamera.
Malamnya, Nadia membawa laporan dari pengacara. Pola kertas, ukuran potong, dan jenis laminasi pada beberapa sampel memang mengarah ke pemasok yang pernah bekerja dengan pihak luar, termasuk vendor yang juga pernah menerima pekerjaan mockup Titan. Tetapi tidak ada bukti bahwa Titan memerintahkan produksi palsu.
"Kita kirim surat preservasi bukti ke vendor," kata Nadia. "Minta mereka menyimpan data pesanan, rekaman pengiriman, invoice, dan komunikasi. Tidak ada konferensi pers menuduh Titan."
Reza tampak tidak membantah.
Raka menandatangani surat itu.
Kemenangan hari itu tidak berupa musuh jatuh berlutut. Kemenangan hari itu lebih praktis: barang palsu mulai turun, pembeli punya cara memeriksa, dan toko resmi kembali punya antrean yang tidak dikuasai calo.
Saat kantor mulai sepi, Raka mengirim undangan rapat kepada Reza.
Judulnya singkat.
Evaluasi 30 hari proyek Saga.
Reza membaca di ponsel. Wajahnya rahangnya mengeras.
Di grup internal, seseorang menulis tanpa nama di formulir evaluasi: Reza pintar, tapi terlalu berbahaya. Lebih baik dicopot sebelum merusak perusahaan.
Raka menutup layar.
Kode QR bisa membedakan pack asli dan palsu.
Besok, ia harus membedakan talent yang perlu dibuang dari talent yang harus ditempa.