NovelToon NovelToon
MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH TINGKAH

Alena membuka mata namun Pandangannya masih sedikit kabur, tapi perlahan mulai terlihat jelas langit-langit putih ruang rawat inap. Badannya terasa pegal, dan ada rasa perih samar di bagian lutut serta telapak tangannya.

"Kamu sudah bangun?"

Suara berat dan lembut terdengar dari samping. Alena menoleh kaget. Di sana berdiri seorang pria yang berpakaian agak lusuh, wajahnya terlihat cemas namun tersenyum lega melihatnya sadar.

"Kamu... kamu siapa?" tanya Alena dengan suara parau.

Pria itu segera mendekat, menarik kursi dan duduk di tepi tempat tidur.

"Maafkan saya ya. Saya yang tidak sengaja menabrak kamu tadi sore di jalan," jawab pria itu dengan penuh penyesalan. "Saya sangat merasa bersalah. Kamu tiba-tiba jatuh lalu pingsan, jadi saya langsung bawa kamu ke sini."

Alena mengingat kejadian tadi, lalu mengangguk pelan.

"Jadi kamu yang menolong saya..." gumamnya pelan.

"Iya. Saya tidak bisa pergi begitu saja sebelum tahu keadaanmu baik-baik saja. Saya harus bertanggung jawab," ucap pria itu tulus. Ia menatap mata Alena lekat-lekat. "Apa kamu masih merasa pusing? Atau ada bagian tubuh yang sakit sekali?"

"aku hanya merasa sedikit pusing saja, tidak terlalu parah," jawab Alena pelan. "Terima kasih ya sudah menolong saya."

"Sama sekali tidak perlu berterima kasih. Ini salah saya karena mengendarai motor agak terburu-buru," pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat sungkan. "Ngomong-ngomong, boleh saya minta nomor telepon suami kamu? Saya mau memberi kabar, sekalian meminta maaf secara langsung."

Pertanyaan itu membuat Alena terdiam Matanya menatap kosong ke jendela kaca, ada rasa perih yang tiba-tiba menyayat hatinya.

Pria itu melihat perubahan wajah Alena, ia langsung merasa bersalah. "Maaf...kalau saya bertanya terlalu jauh?"

Alena menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang.

"Tidak apa-apa... Hanya saja... suami saya sudah menikah lagi," ucapnya pelan namun jelas. "Kami sudah tidak bersama lagi."

Wajah pria itu langsung berubah merah padam karena malu. Ia menunduk dalam.

"Maafkan saya... Saya tidak tahu... Saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," katanya dengan suara sangat lembut.

"Tidak apa-apa, itu sudah berlalu," jawab Alena mencoba tersenyum tipis.

Belum sempat mereka bicara lebih jauh, pintu ruangan terbuka dan dokter wanita yang tadi memeriksa masuk sambil membawa berkas.

"Selamat sore Bu," sapa dokter itu ramah sambil mendekat ke tempat tidur. Ia melihat ke arah pria itu, lalu tersenyum. "Syukurlah Bapak setia menunggu di sini. Kondisi istri Bapak sekarang sudah jauh lebih baik. Guncangan tadi tidak berpengaruh buruk pada kandungannya, jadi Bapak tidak perlu khawatir lagi."

Alena melongo tak percaya mendengar kata-kata dokter itu. Matanya terbelalak menatap dokter, lalu beralih menatap pria di sebelahnya.

"Istri... maksudnya apa Dok?" tanya Alena terbata-bata.

Dokter itu tertawa kecil. "Lho, tadi Bapak yang mengantar kemari bilang Bapak suaminya. Lagipula hasil pemeriksaan tadi menunjukkan Ibu sedang hamil muda kan?"

Pria itu yang tadi diam saja kini wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia menunduk tak berani menatap Alena, merasa sangat salah tingkah.

"Ah... itu... tadi..." pria itu terbata-bata tak tahu harus menjawab apa.

Dokter hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang terlihat manis menurutnya.

"Ya sudah, karena kondisinya sudah membaik, saya sarankan Ibu menginap satu malam saja di sini untuk pengamatan. Besok pagi kalau tidak ada keluhan lagi, sudah boleh pulang," kata dokter itu sebelum berbalik keluar ruangan.

Suasana di dalam ruangan menjadi hening sejenak.

"Maaf ya..." ucap pria itu pelan memecah keheningan. "Tadi dokter bertanya apakah saya suamimu, saya bingung harus menjawab apa. Saya takut kalau saya bilang bukan, tidak ada yang mau mengurusmu. Jadi saya jawab iya saja demi keamananmu."

Alena tersenyum tipis, rasa kagetnya perlahan hilang berganti rasa hangat di dada.

"Tidak apa-apa... Terima kasih sudah memikirkan saya," jawab Alena tulus.

"Kalau begitu saya pamit sebentar ya," kata pria itu sambil berdiri. "Saya harus ke kantor sebentar membereskan pekerjaan yang tertunda. Tapi saya janji, nanti malam saya akan kembali lagi ke sini."

"Iya... terima kasih ya," Alena mengangguk.

Pria itu tersenyum manis sebelum melangkah keluar.

Malam harinya saat lampu ruangan mulai diredupkan, pintu terbuka perlahan. Pria itu masuk membawa kantong plastik berisi beberapa bungkus makanan dan minuman hangat.

"Maaf ya baru bisa datang," katanya sambil meletakkan barang-barang di meja kecil. "Saya tidak tahu kamu suka apa, jadi saya beli sedikit macam-macam. Ada bubur ayam, roti, buah-buahan, dan susu hangat."

Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sudah sangat lama tidak ada orang yang peduli dan memperlakukannya sebaik ini.

"Kamu repot sekali..." ucap Alena lemah.

"Sama sekali tidak repot. Lagian ini kewajiban saya sebagai orang yang menabrakmu," pria itu duduk di kursi sambil menyodorkan bubur yang sudah dibuka tutupnya. "Ayo dimakan dulu ya, biar tenagamu pulih. Kamu harus makan yang banyak demi kesehatanmu dan calon bayimu."

Alena menerima sendok itu dengan tangan gemetar. Saat menyuap makanan itu, rasanya terasa sangat nikmat, jauh lebih lezat dari apa pun yang pernah ia makan belakangan ini.

"Terima kasih..." ucap Alena dengan suara bergetar.

Pria itu hanya tersenyum lembut menatapnya.

"Kamu tenang saja ya. Selama saya di sini, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

BANTU LIKE DAN KOMENT YA TEMAN TEMAN

 

1
Thewie
jangan keluarkan airmatamu buat suami keparat itu ya alena
Thewie
terlalu lemah kau Alena. jadi agak gak suka lihat otor🤣🤣
Thewie
kapan Alena bahagia thorrrrr...
Nuna_Pena: ditunggu aja ya hehe,
total 1 replies
Thewie
5 tahun Alena... salut buatmu hidup dengan caci maki keluarga mertua .. luarbiasa kamu Alena..
Nuna_Pena: sprti diriku 7 tahun lbih bertahan dn sekarang menjauh dulu dri mereka😌😌😌.. hehe ngemeng2 makasi sudah mampir
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Cha Libra
jngan biarkan s alena d tindas mlu thour scpetnya cerai..semoga ja ada karma buat keluarga dajjal
Nuna_Pena: 😁😁😁... sabar sayang...
total 1 replies
Cha Libra
thour klo bsa hruf kapitalnya yg biasa ja jdi enak bacanya..
Nuna_Pena: makasi sudah mampir, nanti saya buat huruf biasa aja
total 1 replies
..
keren!
..
Hai kak, semangat yah. aku sudah bom like karya kamu. jangan lupa like balik karya aku juga yah. mari saling dukung!
Himna Mohamad
lanjut
..
semangat, kak. jangan lupa like balik dan saling dukung yah💪💪💪
SRIANA
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!